Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Mendapat informasi lagi


__ADS_3

Setelah selesai makan malam bersama, Ibu Dita tak langsung masuk kedalam kamar. Ia masih duduk di meja dapur bersama Bapaknya Dita. Frank sudah langsung masuk kamar karna ingin mengerjakan tugas sekolahnya.


Ibu Dita memandang sang suami dengan serius lalu menghela nafas.


"Pak..! tadi Dita bertanya soal masa lalu keluarga Mba Wani..,"


Sang suami tiba-tiba batuk tersendak teh kopi yang baru di seruputnya.


Uhhuk..! uhhuk..!


"Apa bu, Dita nanya soal keluarga Mas anwar??" tanyanya terkejut.


"Ia pak...! apa mungkin Dita mengenal seseorang yang kemungkinan anak bungsu mereka ya pak!???" tanya ibu Luis dengan penasaran.


"Ah...! ibu ngawur. Di kota sana kan luas bu, bagaimana mungkin bisa bertemu begitu saja bu.!" jawab pak freddy tidak percaya.


"Tapi anak itu tidak pernah menanyakan itu pak. Jadi, ibu berpikir kalau Dita mengenal seseorang yang berhubungan dengan itu." kata sang isteri sangat serius.


Pak fredy berpikir sejenak, tiba-tiba ia teringat akan Barry, teman sang anak yang beberapa waktu lalu dikenalkan Dita pada mereka.


"Eh!! mungkin juga Bu..! ingat gak teman Dita yang bernama Barry itu!?"


"Ya!! ibu ingat, kenapa pak...!"


"Ibu perhatikan gak kalau wajahnya sangar mirip dengan Reno, anak mas anwar yang paling bontot..!!"


Ibu Dita berpikir sejenak, mengingat wajah Barry yang hanya dua hari menginap di rumah lalu membandingkannya dengan wajah Reno yang sudah setahun belakangan tak pernah ia lihat.


Sejak Reno tamat dari SMA, Reno langsung melanjutkan kuliahnya di Kota. Reno hanya pulang pada saat tahun baru dan itupun jarang keluar rumah.


"Mama lupa Pak, ibu gak mudah mengingat wajah nak Barry yang hanya dua hari menginap disini. Dan, Reno udah lama gak pernah lagi ibu lihat. Jadi, gak bisa bayangin kalau mereka mirip apa gak."


"Ah ibu gimana sih!. Tapi bu, bapak perhatikan mereka ada miripnya walau pun hanya sekilas..!"kata pak fredy meyakinkan dirinya jika apa yang diperhatikannya tidak salah.


"Jadi, maksud bapak, anak yang hilang itu pacar anak kita Dita....!!" tanya sang isteri tercengang, menyimpulkan jika memang Barry dan Reno mirip dan Dita sudah bertanya soal masa lalu keluarga mereka. Itu artinya Barry, yang sudah diketahui adalah pacar sang anak gadisnya.


"Ya! bapak gak tahu bu, bapak cuma bilang mereka mirip saja." ujar sang suami jadi merasa hal yang dibicarakan mereka semakin membingungkan mereka.


"Kalau betul gimana pak..! kita jadi Besanan dengan mba Wani dan mas Anwar."


"Ah...! ibu ngawur...!! malah membayangkan kesana. Ibu bepikir terlalu jauh!!.

__ADS_1


Ibu wani malah merasa bingung, dan membayangkan yang tidak-tidak.


"Udah ah bu!!! pamali ngomongin orang. Bapak mau tidur duluan." kata sang suami meninggalkan isterinya di dapur yang masih terdiam melamun.


***


Barry mengajak Dita makan siang bersama setelah mereka selesai mengikuti ibadah disebuah Gereja. Dita juga sudah memberitahukan Barry jika ia sudah mendapat informasi dari Ibunya tentang keluarga Lyli.


Barry memesan menu makan siang sesuai permintaan Lyli. Sembari menunggu hidangan datang, Barry membuka obrolan.


"Jadi, gimana Dita?. Ibu kamu cerita apa tentang keluarga kak Lyli." tanyanya dengan sangat serius. Ia menunggu jawaban Dita dengan seksama.


Dita menghela nafas, menatap Barry dengan penuh arti.


"Kata Ibu,... Ehmm! kata ibu, memang benar Barr kalau kak Lyli sebenarnya lima bersaudara."


"Lohh! bukankah emang mereka ada lima bersaudara ya Dit..?" tanya Barry tak terkejut mendengar hal itu. Karna ketika pertama kali Lyli pernah mengajaknya makan siang bersama, Lyli sempat bilang jika mereka memang lima bersaudara.


"Loh!! kok kamu tahu mereka lima bersaudara Barr. Kan selama ini semua orang tahu jika mereka hanya empat bersaudara." tanya Dita heran.


"Kak Lyli sendiri yang cerita padaku." jelas Barry membuat Dita bingung. Setahunya Lyli adalah wanita yang tak mau memberitahukan seluk-beluknya pada orang lain.


"Kok kak Lyli bisa kasih tahu soal itu ya pada kamu Barr, padahal padaku saja kak Lyli gak pernah bilang kalau mereka sebenanrnya lima bersaudara.


"Ehm, ibu bilang..., memang benar Barr kalau belasan tahun yang lalu, salah satu adik bungsu mereka hilang di kota ini. Saat itu Om dan Tante Lyli sedang menjenguk mertua Bu wani. Namun saat di stasiun Bus, mereka kehilangan bayinya. Kata Ibu, usianya se-usia aku Barr...., ini persis seperti yang dikatakan oleh Kakek!!." jelas Dita.


Barry terdiam, ia berusaha mencerna setiap apa yang dijelaskan oleh Dita. Tapi, rasanya Barry tiba-tiba merasa pusing dan lemas. Aliran darahnya kembali mengalir kencang. Dadanya terasa nyeri.


"Dit!! dadaku saakitt..!" keluhnya memegangi dadanya. Dita terkejut langsung menghampiri Barry.


"Kenapa Barr!!! kok bisa sakit...???" Dita mendekap Barry dengan erat, tak peduli apa yang orang lain lihat di restoran itu.


"Barr!!!" ucapnya memanggil Barry. Dita tahu pasti Barry tak bisa mengontrol pikirannya mengetahui bahwa semuanya memang sudah di takdirkan. Barry pasti sedang berpikir kacau tak bisa menerima itu semudah mungkin walaupun ia sudah berusaha untuk menerima kisah hidupnya.


"Barr..! jangan gini dong, aku kan ada disini. Kamu harus bisa mengontrol pikiranmu. Ayolah Barr..!! jangan bikin aku panik." kata Dita mulai ketakutan tak sanggup melihat Barry harus menahan rasa sakit.


"Ada apa Mba!!. Pacarnya kenapa???" beberapa orang yang juga berkunjung ke restoran itu mulai mendatangi meja mereka dengan panik.


"Gak papah Mas..., hanya saja dia memilki riwayat sesak. Sebentar lagi juga akan mendingan." jawab Dita masih saja mendekap tubuh Barry.


"Owh begitu ya Mba. Kami hanya berusaha melakukan pertolongan pertama." ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Ia Mas.., makasih atas kepeduliannya. Maaf sudah merepotkan." kata Dita.


Perlahan pengunjung yang memerhatikan Dita pun mulai berkurang.


Barry berusaha menetralkan kembali pikirkannya. Ia menarik nafasnya berkali-kali dan Dita masih mengelus kepala Barry agar membuat Barry menenangkan pikirannya.


"Maaf membuatmu khawatir lagi Dit..," kata Barry masih lemah.


"Gak papah Barr. Hanya saja, kamu berusahalah mengontrolnya. Aku gak bisa selalu ada bersamamu disaat kamu nanti tak mampu menjaga kondisimu."


Perlahan perasaan Barry mulao tenang, nyeri dadanya mulai hilang. Hanya sedikit merasa pusing. Dita kembali pada kursinya.


Melihat suasana sudah lebih baik, petugas restoran itu membawa hidangan makan siang mereka.


"Maaf tadi tidak langsung mengantarkan makan siang anda Mba.., saya tadi melihat kalian dalam suasana panik. Jadi saya menunggu kalian tidak sibuk." kata pelayan itu lalu meletakkan semua makanan diatas meja mereka.


"Ia Mba gak papah, maaf juga sudah membuat suasana di restoran anda sedikit terganggu." kata Dita menundukkan kepala sebagai permohonan maafnya.


"Tidak apa-apa Mba, namanya Mas nya sedang sakit. Itu hal wajar. Baiklah, silahkan dinikmati menu makan siang dari kami." kata pelayan itu dengan ramah sembari ia juga membungkuk dan meninggalkan meja Dita dan Barry.


Barry masih terlihat lesu setelah berusaha memperbaiki kondisi fisik dan aura alam bawah sadarnya.


"Kamu masih selera untuk makan siang kan Barr!??" tanya Dita prihatin.


"Sedikit saja ya Dit, rasanya perutku sudah penuh." jawab Barry lemas.


"Baiklah gak papa. Yang penting kamu makan " kata Dita lega.


"Makasih ya Dita, aku sayang sama kamu." tatap Barry pada Dita dengan penuh sayang.


"Ia Barr. Sama-sama." jawab Dita membalas tatapan itu.


"Aku berharap akan selalu bersamamu sampai tua. Kamu yang terbaik Dita." ungkap Barry lagi.


"Barr..., kita makan dulu. Lain kali saja memujinya." kata Dita sembari ia memasukan nasi kemulutnya.


"Dekapanmu membuatku benar-benar merasakan kasih sayangmu Dita. Ini bukan memuji, ini tulus ungkapan hati aku ke kamu Dit. Aku merasakan dekapanmu sampai pada aura alam bawah sadarku. Dan semua aliran ditubuhku memerintahkan aku untuk mengungkapkan ini."


Dita terdiam, ia menghentikan sejenak proses memasukkan makanan kemulutnya. Ia meneguk air putih lalu menatap Barry lagi.


" Makasihnya ke Tuhan saja Barr, bilang makasih ke Tuhan karna udah mengirimkan aku untukmu. Dan aku juga bilang makasih ke Tuhan karna aku bisa jadi seseorang yang berarti di hidup kamu."

__ADS_1


Mereka berdua saling menatap, seakan mengibaratkan jalinan kasih itu mengalir di kedua pasang mata mereka. Bahkan rasanya waktu itu berhenti sejenak dan menikmati dua sejoli yang saling mengasihi.


__ADS_2