
Barry memandang mamanya dengan seksama, ia curiga telah mengatakan sesuatu hal yang menyakiti hati Dita. Hal ini sebenarnya sudah diduga oleh Barry, jika Mamanya tidak akan setuju ketika tahu dirinya memiliki kekasih. Sebenarnya menurutnya juga hari itu bukanlah hari yang tepat diana Dita datang kerumahnya secara tiba-tiba dengan keadaan yang diluar dugaannya. Barry menghela nafas berjalan mengarah pada sang Mama.
"Mah, kenapa temanku langsung ingin pulang begitu? apakah mama mengatakan sesuatu padanya!?" kata Barry berusaha tidak menganggap serius situasi itu.
"Mama gak tahu, tiba-tiba aja dia mau pergi. Wanita itu pacar kamu Tian??" jawab sang Mama ikut cuek pada anaknya. Sepertinya mamanya sedikit kesal pada Barry.
"Kalau ia kenapa Mah, bolehkan??"
"Ya gak boleh dong Bar..!! berapa kali mama bilang untuk jangan pacaran dulu. Kamu gak harus mengenal wanita pada saat ini. Besok-besok kan ada waktu yang tepat." jawab mamanya dengan tegas. Ucapan itu didengar oleh Dita dan membuatnya semakin sakit hati. Ternyata semua orang kaya sama saja.
"Mama, tolong ya, jangan keras-keras. Kasihan Dita dengar ucapan mama seperti itu."ucap Barry memandang ke arah Dita dan tak ingin Dita mendengarnya.
"Biar saja dia dengar Barry, bukan sekali ini mama ngingetin sama kamu. Kamunya aja yang ternyata gak mau dengar ucapan Mama. Dia sakit hati karnamu bukan karna Mama."
Mendengar ucapan itu Dita tak kuasa lalu dengan cepat ia keluar dari rumah itu. Ia berlari dengan keadaan sambil menangis. Diusapnya air matanya lalu ia pergi dengan cepat menggunakan sepeda motornya. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan selain menangis dan menangis.
"Dita...!?? tunggu!!." Barry ingin mengejar, tapi langkah Dita cepat darinya. Dita menghilang, Barry pun kembali kedalam rumah.
Samuel tak tega melihat Dita menagis seperti itu. Lalu ia menemui sang Mama.
"Mah!! apa-apaan sih, kok mama tiba-tiba judes begini. Yah, suka-suka Barry dong kalau mau punya pacar. Kayak anak kecil aja di larang-larang!" kekesalan Sam mewakili hati Barry. Walaupun Barry tak mampu berkata dengan nada tinggi seperti itu pada sang Mama.
"Intinya Mama gak mau.!! Mama gak suka tipe gadis seperti itu. Nanti aja kalau dia udah kerja!." Mamanya bermaksud meninggalkan Barry dan Sam yang memandang dengan kesal.
Mendengar ada yang ribut, sang Ayah keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka.
"Ada apa ribut-ribut?? mama kok marah-marah sih??" tanya beliau ketika istrinya sudah tiba didepan pintu kamar.
"Kenapa Sam, Tian!!?" tanya sang Ayah.
__ADS_1
"Tuh, mama!! masa ada tamu di usir. Gak sopan banget. Gimana pun orang, kalau udah bertamu ya, disambut dong." jawab Sam kesal. Samuel paling tidak bisa menyembunyikan kekesalan nya jika sudah merasa benar-benar kesal.
"Emang siapa yang datang?? kok ayah gak lihat siapa-siapa disini??" kata sang ayah memandang seisi rumah.
"Udah pergi Yah!." jawab Barry menunduk dengan kecewa.
Belum siap sang Ayah bertanya, spontan Barry beranjak dan keluar dari rumah. Ia nyalakan sepeda motornya lalu pergi. Samuel menghela nafas dan berjalan menuju kamarnya. Ia mendukung Barry pergi karna merasa Barry akan mengejar Dita.
Sang Ayah kembali kedalam kabar denga keadaan bingung dan ia menemui istrinya yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar.
Barry mempercepat laju motornya, ia harus mengejar Dita dan memberi Dita penjelasan. Ia tahu Dita sudah kecewa padanya. Barry berusaha menetralkan pikirannya. Ia tak ingin memperburuk keadaan fisiknya yang sebenarnya ia tak tahu apa bisa mengendalikannya dalam keadaan seperti ini.
"Semoga saja Dita langsung pulang, semoga aja Dita maafin aku karna aku dia jadi seperti ini. Aku gak mau Dita kecewa lebih lama. Aku tahu aku yang salah belum ceritakan semuanya pada Mama. Ah gimana ini!" gumamnya sembari ia mengendarari motornya.
Barry sangat mencintai Dita, ia menyayangi Dita sepenuh hatinya. Dan tak mau Dita harus kecewa karnanya. Dita sudah menjadi salah satu bagian yang penting dalam hidupnya.
Barry tiba di kost Dita, ia memarkirkan motornya dihalaman kost itu. Ia perhatikan beberapa motor yang terparkir disana. Barry lega salah satu diantaranya ada motor milik Dita. itu artinya Dita langsung pulang kerumah.
Mendengar suara itu, Dita semakin menangis. Ia sangat kecewa pada Barry yang tak menceritakan padanya jika Mamanya tidak menyetujui Barry berpacaran. Dita marah karna ternyata Barry tidak jujur padanya. Ia kecewa dengan perlakukan orangtua kekasihnya itu. Dita selalu menghapus air matanya.
Barry selalu mengetuk pintu sampai Dita menyapa. "Dita, tolonglah keluar. Aku mau ngasih penjelasan sama kamu. Maafin aku Dit, aku gak mau kamu seperti ini. Please!!" kata Barry memohon. Tiba-tiba dada Barry terasa sesak, ia merasa sesuatu terjadi lagi padanya. Ia merasa pusing dan seluruh aliran darahnya mengalir dengan cepat.
"Dita..! tolong aku, dadaku tiba-tiba sesak!" Barry menepuk dadanya berusaha menahan rasa sakit. Dita terkejut dan langsung keluar. Ia mendengar jeritan Barry dan sepertinya itu tidak bercanda.
Dita segera membuka pintu dan tak kuasa melihat Barry sudah tersungkur didinding. Rasa kecewa Dita berubah menjadi panik.
"Bary!!! Bar...! kamu kenapa??"
"Gak tahu Dit, tiba-tiba dadaku sesak..!" rintihnya kesakitan.
__ADS_1
"Sini, berbaring di tempat tidurku dulu.!!" kata Dita berusaha mengangkat Barry. Barry berusaha berdiri namun tubuhnya terasa berat.
"Barr!! jangan bikin aku takut dong, kamu kenapa Barry!!" Dita menangis tak sanggup melihat Barry kesakitan.
Tetangga kamar Dita keluar karna mendengar suara dan segera membantu Dita.
"Temen kamu kenapa Dit, sini aku bantu!!" kata Rani lalu membantu membaringka Barry di tempat tidur.
"Tolong ambilkan air hangat Ran!!" perintah Dita sembari ia mengusap kening Barry yang mulai berkeringat.
"Barr!! jangan gini dong. Kamu bikin aku panik. Kamu harus netralin pikiran kamu. Aku maafin kamu kok. Janji!!" mohon Dita merasa Barry seperti itu karna memikirkan dirinya. Barry berusaha menarik nafas berulang kali. Menuruti nasihat Dita, ia senang Dita memafkannya.
"ini air hangatnya Dit!!" kata Rani setelah kembali dari dapur. Dita langsung menyuruh Barry untuk meneguk air hangat itu. Perlahan nyeri di dadanya berkurang. Ia masih harus berulang kali menarik nafas. Dita juga mengoleskan minyak kayu putih kedada bidang Barry yang sakit. Rasa peduli dan perhatian Dita membuat Barry tersenyum.
"Makasih Dita, aku sayang kamu." gumamnya lembut. Dita dan Rani saling pandang. Dita sedikit malu pada temannya itu, Namun ia senang Barry memujinya.
"Gak usah memuji. Apakah dadamu masih sakit?? jangan buat aku panik!"
"Sudah mulai normal Dit. Makasih ya, ini karna kamu!!" aliran darahnya mulai normal dan dadanya perlahan tidak sakit. Hanya merasa sedikit pusing dan itu bisa dikendalikannya.
"Oh! syukurlah." jawabnya singkat melepas tangannya dari dada Barry dan juga berhenti mengoleskan minyak kayu putih.
"Sudah bisa aku pergi??" kata Rani merasa dirinya menggangu suasana disana. Dita seakan melarang, namun Barry tersenyum dan berterimakasih.
"Sudah Mba, makasih sudah ikut membantu saya. Maaf merepotkan Mba."
"Ah santai saja!" kata Rani tersenyum lalu keluar dari kamar Dita.
Barry menatap mata Dita dengan penuh makna. Tatapan yang akan membuat jantung Dita berdetak kencang.
__ADS_1
Sudah cukup banyak keganjalan dalam diri Barry yang tak tahu bagaimana lagi menanggapinya, baginya hanya Dita lah yang mampu membuat hatinya tenang. Hanya Dita yang bisa menjadi obat baginya. Buktinya hanya dalam beberapa menit pikiran yang tak bisa ia kontrol bisa terkendali setelah Dita menyentuhnya. Dan itu sudah terjadi dua kali yaitu pertama ketika Barry merasakan keganjalan itu dirumah Dita di Desa.