
Dimas dan Reno memilih untuk kembali kedesa lebih dulu. Apalagi Dimas sudah lama tak kembali ke desa karna pekerjaannya diluar provinsi membuatnya sulit untuk kembali dalam waktu singkat. Ia kini mengambil cuti dari pekerjaannya selama 2 minggu kedepan. Sementara Reno hanya bisa beberapa hari kembali kedesa.
Lyli memberangkatkan kedua saudara laki-lakinya sampai kedepan pintu rumahnya sebelum ia pergi bekerja. Kedua saudaranya pulang kampung menggunakan sepeda motor milik Reno.
"Kak, hati-hati dijalan ya, salam sama Ibu dan Bapak." kata Lyli menatap sang kakak dengan penuh arti.
"Ia dik, kamu cepatlah menyusul. Kamu datang bersama mereka kan???" tanya Dimas sembari ia mengisyaratkan pada Reno untuk mengangkat tas berisi pakaiannya ke sepeda motor.
"Ia kak, nanti aku kabari kapan kami kesana. Buatlah Ibu dan Bapak senang dan jangan kasih tahu dulu semuanya ini sebelum ju kabari kejelasan keberangkatan kami."
"Ia dik, salam sama Valentino dan keluarganya."
"ia kak, nanti aku sampaikan sama Barry kak, eh Valentino." kata Lyli tersenyum.
"Hehe, nanti kita juga akan terbiasa memanggilnya seperti dulu lagi..., kamu membuatku teringat ketika dia kecil." kata Dimas tak ingin terlihat sedih didepan sang adik perempuannya.
Dimas sebagai anak pertama sangat ingat sekali wajah sang adik. Ketika itu ia sudah berusia 13 tahun, ketika Valentino dinyatakan hilang oleh kedua orangtuanya.
"Kesini kamu.... hei Tino!!!" kejar Dimas yang berusia 13 tahun.
Valentino kecil berlari menjauhi sang kakak pertama setelah menarik rambutnya dengan kuat pada saat menonton televisi di ruang tengah rumah yang saat itu masih cukup sederhana.
Reno, Lyli dan Susi sedang sibuk mengerjakan PR sekolah dimeja yang dibuatkan oleh sang Bapak bagi mereka.
Valentino kecil berlari menemui Lyli, dan memeluknya saat Dimas menghampirinya.
"Sini kamu, kamu selalu saja menarik rambutku setiap aku menonton!!" teriak Dimas dengan gemas. Ia memang kesal pada sang adik, tapi ia suka suasana itu karna begitulah sang adik bungsu mengajaknya bermain.
"Jangan..!! jangan tarik aku!!!"teriak Tino menjerit semakin memeluk Lyli.
"Kakak, jangan ganggu aku! aku punya banyak PR...," teriak Lyli merasa itu semua salah sang kakak yang membuat Valentino mendekat padanya.
__ADS_1
"Sini!!! sini kamu cepat!! aku cubit sebelah sini!! dan sebelah sini!!" teriak Dimas menggelitiki sang adik. Mereka bermain begitu semangat walaupun Lyli sudah memperingati mereka untuk tidak bermain disekitarnya.
HAHAHAH... HAHAHAH...!
Valentino tertawa begitu keras, suaranya bahkan membelah malam yang baru saja melewati waktu magrib. Dimas ikut tertawa melihat reaksi si adik kecilnya.
Ibu dan Bapak mereka yang juga sedang asyik menonton televisi terpaksa memperingati mereka.
"Dimas..., jangan buat seperti itu pada adikmu. Nanti dia bisa sakit perut, dan gak baik malam-malam tertawa terbahak seperti itu." ucap sang Ibu mengingatkan mereka untuk diam.
"Ibu..ibu tolong Tino..!" teriak Valentino mencoba berlari kearah sang ibu. Dimas mengejarnya lagi dan sang Ibu langsung menangkap anak bungsunya agar tidak bisa diganggu si kakak.
"Udah ah Dimas, apa PR sudah siap?. Lihat, Reno,Susi dan Lyli sibuk mengerjakan PR, sementara kamu bermain dan menonton saja." tanya sang Bapak karna Valentino juga berpindah kepelukan sang Bapak.
" Udah siap Pak, tadi siang semuanya udah ku kerjakan sepulang sekolah." jawab Dimas. Dimas anak yang cukup rajin dan pintar, ia selalu mendapat ranking satu disekolahnya sejak ia sekolah dasar sampai saat itu sudah berada di kelas dua sekolah menengah pertama.
Dimas menjadi anak yang bijaksana yang selalu mengerjakan PR sekolahnya sepulang sekolah lalu pergi membantu kedua orangtuanya ke sawah. Dimas tak suka mengerjakan PR dimalam hari karna sadar ketiga adiknya membutuhkan meja untuk mengerjakan PR, jika ia ikut disana maka meja itu akan sempit dan ketiga adiknya akan kesulitan mengerjakan PR sekolahnya dan tak mau belajar.
Namun siapa sangka, malam itu adalah malam terakhirnya bermain bersama sang adik bungsu. Ibu dan Bapak mereka mendapat telepon jika Nenek dari si Bapak jatuh sakit.
"Baiklah, besok pagi kami akan kesana melihat Ibu." jawab si Bapak dari via telepon. Si bapak mendapat informasi tersebut dari adiknya yang tinggal bersama ibunya. Kakek mereka sudah lama meninggal.
Sang Bapak pun mengumpulkan kelima anak mereka di tikar tepat nya didepan televisi,ruang tengah rumah itu.
"Bapak besok pergi ke kota, Nenek kalian sakit lagi. Bapak akan pergi bersama Ibu dan Valentino." kata sang Bapak memberitahu.
"Kenapa Valentino ikut Pak, biarlah adik disini bersama kami. Kami semua bisa menjaganya." kata Dimas bermaksud agar Ibu dan Bapaknya tak kewalan menjaga adik kecilnya ketika berada di perjalanan.
"Valentino terlalu kecil untuk kalian jaga. Lagian, besok kalian semua sekolah. Siapa yang jaga Valentino dirumah. Bapak belum bisa melepasnya karna bagaimana kalian memberinya makan." jawab sang Bapak.
"Yah nak, kalian gak boleh absen dari sekolah hanya karna jagain adik kalian. Jadi, biarlah Valentino Ibu bawa. Kalian baik-baiklah dirumah sampai kami kembali." lanjut sang Ibu memberi nasihat.
__ADS_1
"Berapa hari kalian dirumah Nenek Bu??" tanya Susi sebagai kakak perempuan paling besar yang saat itu sudah duduk di kelas satu SMP.
"Kemungkinan tiga hari kedepan nak. Jadi, kalian berbagi tugaslah selama Ibu dan Bapak pergi. Kalian tahu kan apa-apa saja pekerjaan kalian." kata Sang Ibu sembari memerhatikan Valentino yang berlari kesana kemari disekitar punggung ibunya.
"Baik Bu. Kami tahu apa pekerjaan kami." giliran Reno yang menjawab.
Mereka semua menundukan kepala pertanda mereka mengerti dan memahami pesan sang Ibu dan Bapak.
Anak-anak itu pun membantu Ibu dan Bapak mereka menyiapkan pakaian yang akan dibawa untuk beberapa hari dirumah Nenek.
Pagi-pagi sekali kedua orangtua itu bersiap-siap untuk berangkat. Bus yang akan mereka tumpangi akan berangkat ke Kota pada pukul 07:00 pagi hari. Sang Ibu sibuk mengurusi anak bungsunya, mulai dari memandikannya,memasang bajunya yang sedikit lebih bagus karna akan bertemu dengan sang Nenek dan memberinya sarapan agar tahan selama perjalanan. Saat itu usia Valentino kecil adalah tiga tahun, 5 bulan.
Setelah semuanya selesai, Ibu dan Bapak pun mengumpulkan semua anak-anaknya.
"Ibu dan Bapak pergi ya anak-anak. Dimas, kamu paling besar. Jadi tugasmu ganda, kamu jaga baik-baik adik-adikmu. Apalagi Reno dan Lyli ini sering berkelahi. Jangan sampai Ibu dengar kalian berkelahi ya. Dan untuk kamu Susi, kamu si kakak perempuan paling besar. Tugasmu juga ganda, memasaklah untuk adik-adikmu agar jangan sampai ada yang tidak makan. Kalian harus makan teratur." kata Sang Ibu begitu jelas memberi arahan kepada anak-anaknya.
Sebenarnya berat bagi Sang Ibu meninggalkan anak-anak mereka yang belum cukup pandai menjaga diri. Namun bagaimana pun mereka harus bisa belajar mandiri jika suatu hari harus ada urusan mendadak seperti saat itu.
"Dadah kakak-kakak...!" teriak Valentino kecil sembari ia melambaikan tangannya setelah Bus yang membawa mereka tiba.
Ibu dan Bapak juga ikut melambaikan tangan sambil tersenyum pasrah kepada keempat anaknya yang ditinggal dirumah.
"Dadah...! dadah Ibu..." teriak Dimas.
"Dadah... Ayah!!" teriak Reno bergantian.
"Dadah Ibu dan Bapak...!!" serempak Susi dan Lyli berteriak dan juga melambaikan tangan.
"Dadah.... Tinooo!!! kakak akan merindukanmu....!!" teriak mereka berempat dengan serempak.
Valentino kecil tertawa begitu bahagia melihat melambaian keempat kakak-kakaknya. Ia bahkan menginjak-injak Ibunya yang sudah duduk didalam mobil dan mengarahkannya ke kaca mobil agar bisa melihat kakak-kakaknya.
__ADS_1
"Sudah nak, jatuh nanti. Duduk yang bagus di samping Bapak." ucap si Ibu setelah beberapa meter meninggalkan rumah dan tak melihat lambaian anak-anaknya lagi.