
Setelah merasa waktunya sudah tepat, Dita pun mengajak Barry untuk ikut pulang ke desa bersamanya. Dita sengaja menggunakan satu cuti tahunannya hanya untuk mengenalkan Barry kepada orangtuanya. Dita awalnya merasa hal ini terlalu cepat dan buru-buru, namun tak salah baginya untuk mencoba meminta pendapat ibu dan bapaknya tentang pria yang sekarang menjadi kekasihnya itu. Dita pun mempersiapkan keperluan yang akan dibawa ke kampung halamannya.
Barry juga melakukan hal yang sama. Ia tampak semangat menyusun beberapa pakaian yang akan ia gunakan selama 2 hari di desa Dita. Sang mama tampak ikut sibuk mengurus perlengkapan anaknya itu. Mamanya semangat mengurus pakaian Barry bukan karna Barry jujur bahwasannya ia pergi ke desa Dita kekasihnya. Tentu hal itu mustahil baginya, sehingga Barry harus mencari alasan logis lain agar mamanya setuju. Barry beralasan untuk pergi kemah bersama beberapa teman kampusnya selama 2 hari. Itulah mengapa sang mama semangat membantu perlengkapan anaknya itu. Sambil memasukan pakaian pilihan sang anak kedalam koper, mamanya memberi Barry nasehat.
"Nanti, disana hati-hati ya nak, jaga ucapan dan kebersihan selama kemah. Mama gak mau kamu kenapa-kenapa hanya karna hal kecil."
"Iah mama sayang, aman,!" Barry mendengarkan dengan sangat baik. Tak lupa Barry memasukan jaket tebal kedalam kopernya, karna Dita bilang jika di desanya sangat dingin.
Setelah semua selesai, Barry mengangkat koper dan keluar dari kamarnya. Sang mama mengikuti Barry dari belakang, sembari memegang jaket yang akan dipakai Barry selama perjalanan. Mereka pun menuruni tangga dan berjalan menuju garasi dimana Barry sudah memutuskan untuk membawa mobilnya.
Hanya sang mama yang mengantarkan Barry kegarasi karna ayahnya sedang pergi keluar kota mengecek beberapa proyek yang di tangani oleh sang ayah. Sementara Sam tentu sudah berangkat kerja.
"Hati-hati ya Tian, ingat pesan mama,!!"nasehat mama nya lagi saat Barry mencium telapak tangan kanan mamanya untuk pamit.
"Iah mama sayang,!!" jawabnya.
"Kabari mama kalau ada apa-apa. Mobilnya dititip di tempat yang aman dan terpercaya ya Bar,,!"
"Siap bosku..! daaaah mama!!" Barry mashk kedalam mobil dan menyalakan klakson mobilnya. "Tiinn..!! tiin!!"
Sang mama melambaikan tangan dan memerhatikan Barry sampai keluar dari gerbang rumahnya lalu menghilang.
Barry sangat semangat dan tak sabar segera tiba di desa Dita. Ia ingin sekali melihat pemandangan indah disana. Barry sengaja membawa mobilnya agar Dita tidak kedinginan ataupun kepanasan saat diperjalanan.
Barry pun tiba didepan kost Dita dan dengan semangat ia keluar dari mobilnya. Barry melihat Dita sudah menunggunya didepan teras kost itu. Sekilas Barry heran mengapa Dita hanya membawa tas ransel kecilnya.
"Ayok Dit,?!" tanyanya semangat. Dita menepuk jidatnya melihat tingkah polos Barry. Ia lupa memberitahukan jika desanya adalah desa kecil.
"Barr, desa aku itu pelosok dan mobil tak bisa masuk kesana,,!" katanya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Hah, kalau gak naik mobil, kita naik apa kesana Dit??" Barry heran, rasa semangatnya sedikit berkurang.
"Naik motor,, aku pikir kamu datang kesini pakai motor kamu. Maaf aku lupa kasih tahu kamu hehe,,!" Dita malah tersenyum pada Barry.
"Jadi, aku harus balik kerumah lagi dan bawa motor aku kesini,!??"
"Ehmm.., gimana ya. Kalau kamu balik, jam berapa lagi kita sampai do desa." keluh Dita memerhatikan jam tangannya sudah pukul 09:00 Wib. Ia menepuk-nepuk kaca jam tangan itu sembari berpikir. Barry hanya memerhatikan Dita menunggu keputusan darinya.
"Ya udah deh, naik motor aku aja,!!"
"Hah, yakin???" tanya Barry. Dita mengangkat kedua bahunya antara yakin dan tidak yakin.
"Lalu mobil aku gimana Dit, kita titip dimana?? trus kan kesana jauh tuh, helm aku gimana???" pertanyaan itu membuat Dita pusing, merasa sangat repot membawa Barry ke desanya. Kepolosan Barry membuatnya harus berpikir keras. Maklum saja Barry tumbuh dan besar dikota. Ia tidak memilki keluarga yang tinggal di desa. Keluarga dari sang ayah dan sang mama semuanya adalah penduduk asli kota itu. Dita berusaha mencari ide, padahal biasanya setiap pulang kampung ke desanya Dita tak pernah se-repot saat ini.
"Ribet banget sih anak ini,,!" gumamnya sembari ia mencari solusi. Barry ikut berpikir mencoba mencari jalan tercepat.
"Ehm-mm gimana kalau mobil kita titip aja di tempat penitipan mobil. Kebetulan aku ada kenalan penitipan mobil. Lalu helm yang akan aku pakai, Eh-m kita pinjam punya temen kamu yang tinggal disini aja !! Gimana ??!" Barry lebih dulu mendapat ide cemerlang yang membuat Dita terbelangak mendengar ide tersebut.
"Setuju,!??"
"Tentu!!" jawab Dita langsung membagi tugas. Akhirnya Barry pun pergi membawa mobilnya ketempat penitipan mobil. Dita berbicara kepada temannya Rini untuk meminjamkannya helm. Kebetulan helm Rini berwarna hitam, jadi cocok untuk dipakai laki-laki.
Barry kembali saat Dita sudah selesai menyiapkan perlengkapan perjalan mereka. Barry terpaksa naik ojek online untuk kembali ke kost Dita. Ia melihat kopernya tak ada disana, sehingga ia mencarinya.
"Loh Dit, koper aku mana!??"
"Udah aku simpan dikamar, lagian kita kan naik motor, mau ditaruh dimana koper kamu. Kita kan cuma 2 hari Barry." jawab Dita santai. Barry masih belum mengerti maksud Dita.
"Lalu, aku pakai apa selama disana Dita??"
__ADS_1
"Aduh Barry,,!! kamu banyak nanya deh!! tenang, aku udah buat 3 pasang pakaianmu di ransel aku yang lain. jadi kamu pakai ransel ini saja, disini semua pakaianmu ada." Dita kesal tak sabar menjawab semua pertanyaan kekasihnya itu sambil menunjukan ransel yang diberikan pada Barry.
"Cukup 3 pasang pakaian Dit,!!?" Barry masih saja memiliki pertanyaan baru.
"Aduh Barry!! kapan geraknya ini,,!? udah keburu siang!! jam berapa lagi sampainya Kristian Barry!!?"
"Hmm.., ya udah dehhh! let's go!!" kata Barry mengakhiri pertanyaannya.
Barry pun menyalakan motor Dita yang akan dikendarainya. Dita memasang ransel berisi pakaian dipunggungnya, begitu juga Barry. Saat Dita mau memakai helmnya, tangan Barry menghampiri dengan cepat.
"Biar aku pasang,!" ucapnya menatap Dita. Seketika Dita gugup dan terpana. Mereka saling pandang lalu Dita membiarkan Barry memasang helm menutupi rambut yang di ikat dengan indah itu.
"Makasih Barr,!" gumamnya lembut. Barry tersenyum manis. Dita pun naik pada motor itu. Mereka pun siap melakukan perjalanan panjang mereka.
"Aman semuanya Dit!!?" tanya Barry sekali lagi memastikan Dita nyaman duduk dibelakangnya.
"Aman Barr,!" ucap Dita semangat.
Mereka pun keluar dari kost Dita, dan siap melakukan perjalanan 4 jam mereka. Dita akan menjadi penunjuk arah bagi Barry, sehingga Dita harus siap menjawab semua pertanyaannya.
Perjalanan sudah sekitar setengah jam dan Dita masih saja belum menyentuh Barry sedikit pun. Tentu hal itu membuat Barry kesal lalu menoleh memandang wajah Dita yang ikut serius memerhatikan laju motor.
"Ada apa Barr, lihat nya gitu amat,!?"
"Yakin nih gak mau pegangan,?"tanya Barry bermaksud usil. Dita malah menghela nafas panjangnya seakan tak mendengar. Tiba-tiba Barry menekan rem dengan mendadak.
"Barrr!!!?" teriak Dita terkejut dan spontan memeluk Barry. Kedua tangannya melingkari perut Barry. Barry tertawa lepas.
"Gitu dong!!? jangan lepas lagi!!" perintahnya. Dita terdiam tahu akan ke-usilan kekasihnya itu. Barry menahan tangan Dita agar tidak lepas.
__ADS_1
"Licik,,!" gumam Dita. Barry hanya tersenyum. Waktu pun berjalan, saat Barry fokus menyetir motor, memandang arah jalan dan melepas genggamannya, Dita malah tak melepas rangkulan itu. Ia merangkul Barry dengan erat. Hal itu membuat Barry memerhatikan Dita dengan senyuman hangat. " Aku mencintaimu." ucapnya dalam hati.
Barry sangat menyukai perjalanan mereka. Setiap perjalanan menuai decak kagum baginya. Padahal bagi Dita itu hal biasa. Pemandangan yang tak pernah ia lihat selama di kota kelahirannya. Hampir setiap perjalanan terdapat pepohonan dipinggir jalan, rerumputan hijau dan sawah yang menjulang luas menambah keindahan perjalanan mereka.