
Samuel melihat Barry termenung di teras rumah. Barry terlihat memangkukan kaki kanannya sembari bersandar ke kursi yang selalu terpajang di teras berlantai keramik putih. Samuel bermaksud ingin langsung masuk kedalam rumah setelah lelah pulang dari kantor.
"Kenapa...!?" tanya Sam singkat.
"Kenapa, apa nya kak??" Barry balik bertanya.
"Ia kamu..., kenapa murung begitu??" tanya Sam lalu akhirnya duduk dikursi kosong didekat Barry.
"Kamu, kok melamun??"
"Biasalah kak, aku lagi suntuk dikamar. Mumet otak aku mikirin hidup ini."
"Coba cerita padaku." tawar Samuel.
"Apakah aku tak usah bilang siapa aku ini kak!?"
Sam tak menjawab. Ia mencoba ikut berpikir.
"Ehm, kalau bisa sih,, ya cari waktu yang tepat aja baru kasih tahu."
"Tapi, aku takut kak!!?"
"Takut kenapa!!?" tanya Sam mendekatkan wajahnya pada Barry.
"Aku akan ada ketidaksempurnaan di kelaurga kita. Aku takut, diluar sana nantinya Ayah dan Mama akan malu dan orang-orang akan menghujat."
"Kenapa orang-orang harus menghujat kita!!? kalau kenyataannya seperti itu, mau gimana lagi... biarkan orang-orang tahu."
Barry sedikit lega, apa yang diucapkan sang kakak ada benarnya. Sam beranjak berdiri ingin masuk kedalam rumah.
"Nanti kita bahas lagi. Aku mau mandi dulu."katanya
"Oh! baiklah kak."
"Mana Ayah dan Mama!!?" katanya melirik kedalam rumah dan sepertinya tak ada orang didalam.
"Mama itu lagi didapur sama Bibi, kalau Ayah... tadi pagi pergi ke luar kota. Katanya ada kerjaan mendadak."
"Owhh... baiklah.! tunggu aku disini." kata Sam berjalan kedalam rumah. Barry menunduk menjawab. Ia kembali menyandarkan punggungnya ke kursi dan menikmati hari menjelang magrib.
Baru 5 menit berselang setelah Samuel masuk kedalam rumah, tiba-tiba mobil yang biasa digunakan Ayahnya masuk ke dalam garasi mobil. Barry tahu jika itu memang Ayahnya.
Sang Ayah keluar dengan menutup pintu mobil dengan kuat. Barry bermaksud ingin tersenyum menyapa, namun ternyata wajah sang Ayah kali ini berbeda. Raut wajah itu terlihat geram dan seakan sudah memendam amarah. Barry mengerutkan keningnya karna merasa ada yang aneh pada sang Ayah.
Langkah pria paruh baya itu semakin cepat menuju kearah Barry. Tangannya dikepal dengan kuat, lalu....
PLAAAK....!
Satu tamparan melayang di pipi kanan Barry yang tak sempat menghindar.
Barry terkejut, belum pernah selama hidupnya, Ayah yang dibangga-banggakannya menamparnya dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Ayah....., ada apa!???" jawab Barry memegangi pipinya yang sudah memerah.
PLAAAAK....!!!
Satu tamparan lagi dibagian pipi kiri Barry. Seketika Barry merasa melayang dan tak mengerti akan tindakan yang dilakukan sang Ayah.
"Ayah..., kenapa nampar aku?? kenapa!!?" tanyanya berusaha mengingat apakah sudah melakukan kesalahan fatal, sampai harus ditampar dua kali oleh sang Ayah.
"Kamu berbohong pada Ayah...!!" bentak sang Ayah.
"Bohong apa Yah...!??"
"Kamu ingat saja dulu...!!"
"Ia aku gak tahu kalau Ayah gak bilang. Ada apa Ayah!!!?" kata Barry kecewa masih merasakan sakit di kedua pipinya.
"Kamu kemarin kemana!!!?? kamu bilang kamu berkemah dengan temanmu!!! ternyata....."
Barry terkejut lalu terdiam, ia hanya berpikir kenapa bisa Ayahnya tahu soal itu.
"Ayah tahu dari mana!??"
"Kamu cukup jawab Ayah...!!" teriak sang Ayah semakin meninggikan suaranya menatap Barry dengan penuh marah.
" Barry pergi kerumah teman Barry." jawab Barry sedikit takut.
"Kerumah orangtua gadis yang sekarang menjadi kekasihmu itu..., hah..!!?"
"Ayah tahu dari mana semua itu!??"
"DIAM..!! kamu sudah membuatku kecewa. Kamu ternyata tidak bisa di percaya lagi..!"
"Jawab Barry dulu, Ayah tahu dari mana...?"
"Kamu tak perlu tahu dari mana aku tahu kebohonganmu. Intinya nanti setelah kamu wisuda, kamu harus pergi ke London...!!" teriak sang Ayah membentak lalu berjalan menuju pintu.
"Apaah..? kenapa tiba-tiba Ayah seperti ini? kenapa Ayah berubah 180 derajat.!? Kenapa....!" teriak Barry. Namun sang Ayah tak menoleh, beliau meninggalkan Barry begitu aja dan menghempaskan tangan kanannya.
Barry terdiam tak mengerti, bagaimana mungkin Ayahnya tahu semua tentang dirinya dan Dita. Padahal mereka tidak memberitahukan pada siapapun.
AHHHKKK...!
"Apalagi ini Tuhan...!" ucapnya memegangi kepalanya.
Tiba-tiba Barry merasa pusing, kepalanya terasa sakit. Aliran darahnya tiba-tiba mengalir dengan cepat. Sepertinya ia tak bisa mengontrol dirinya. Aura alam bawah sadarnya muncul, tentu ia tak bisa kendalikan karna pikirannya terasa kacau.
Dadanya terasa sesak dan nyeri. Barry memegangi dada itu dan merintih kesakitan.
ACCHHHK...
Samuel datang dengan santai namun akhirnya malah langsung panik. Ia terkejut melihat Barry sudah tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Barrr!!! kamu kenapa!!?"
"Dadaku sakit kak...!!! tolong aku. Kumohon??"
Sam bingung tak tahu harus berbuat apa, lalu ia berteriak.
"Mama...! Bibi....!???!!"
"Mana sih mereka...!!"
"Barry pingsan ini Mah....!!!??"
Samuel tak sabar menunggu Mamanya datang lalu ia mengangkat Barry dengan perlahan masuk kedalam rumah. Ia letakan Barry di sofa, sehingga sang mama dan bibi menoleh.
"Astaga....!! Tian Barry...!????" teriak mamanya langsung datang menghampiri. Meninggalkan pekerjaannya didapur, begitu juga dengan bibi yang panik langsung berlari.
"Panggil Dita kesini Kak...! cuma dia yang bisa sembuhin aku.., tolong panggilin Dita kak. Aku udah gak kuat kak. Sa......kit..!!" tiba-tiba Barry pingsan dan menutup matanya.
"Maksudnya apa Bar....!! woiii!! Barry....!?? teriak Samuel berusaha agar Barry bisa bertahan.
Namun, seketika tubuhnya lemas dan tak berdaya. Kejadian yang sama terjadi lagi pada Barry. Ia tak sadarkan diri, dan Mamanya langsung panik.
"Barry...!! kamu kenapa lagi...?? jangan gini dong Nakk...!!!?"teriak mamanya sangat kuat. Beliau langsung menangis sejadinya.
Tampa pikir panjang, Samuel bergerak. Ia tinggalkan Barry bersama dengan mama dan bibinya. Samuel ingin menjemput Dita sesuai permintaan Barry. Walaupun Samuel tak mengerti maksud dan tujuan adiknya itu, ia tetap melakukannnya.
"Kamu kemana Sam....! jangan tinggalin Barry seperti ini... ayo bawa kerumah sakit lagi.!!!?"
"Tunggu Mah!! Sam pergi sebentar aja. Nanti balik lagi. Barry biar aja disini, aku akan manggil dokternya saja...!" kata Samuel berbohong agar mamanya tak memperlama waktunya.
Sang Ayah keluar dari kamarnya dan terkejut melihat Barry sudah terkulai lemas di pelukan Mamanya. Segera pak Anwar belari menuju ruang tamu dengan panik. Dilihatnya Barry sudah pingsan dan wajahnya pucat.
"Loh Mah....! Barry kenapa??"
"Gak tahu Yah, tiba-tiba aja Tian pingsan. Sam yang membawanya dari teras. Ayah tolong Barry...!?"" teriak bu Sarah.
"Kamu lagi, Bibi...!! jangan lihatin aku aja..! ambilkan Barry air hangat....Cepat!!"
"Baik bu!! segera.."katanya gugup lalu beranjak berdiri dengan cepat.
"Apakah karna aku marahin tadi ya...!?" kata Sang Ayah merasa dirinya sudah keterlaluan pada Barry karna sampai berani menampar kedua pipinya. Hal itu membuat bu Sarah menatap tajam sang suami.
"Apah...! kamu apakan dia tadi...!!!?"
"Hanya omongan singkat ajah, gak lebih ...!"
"Papah...!!! apakah kamu tak bisa mengendalikan dirimu..!!
Bu sarah tampak kesal dan kecewa pada pak Anwar. Bahkan saat pak Anwar ingin membantu menggsok punggung Barry berusaha agar anaknya itu bisa siuman. Namun dilarang oleh sang istri.
"Jangan sentuh!!! kalau papa gak bisa kendalikan amarahmu.!!!
__ADS_1
Sang ayah terdiam. Ia memerhatikan Barry, mencoba mencari alasan mengapa sudah 2 kali anak bungsunya itu mengalami kesakitan yang sama.