Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Kesal...


__ADS_3

Barry mendatangi kos Dita setelah selesai menyelesaikan kegiatannya dan setelah mengantarkan Salsa pulang. Barry ingin membahas bagaimana langkah selanjutnya tentang masalahnya. Ia pun memarkirkan mobilnya didepan kos Dita. Barry lega, melihat sepeda motor Dita sudah terparkir di teras. Segera Barry melangkah lalu ia pun dengan santai mengetuk pintu kamar Dita.


"Dita..? Selamat malam Dita..!?" ucapnya sambil tangannya mengetuk pintu.


Mendengar suara itu adalah Barry, Dita kesal dan cemberut. "Ngapain sih dia kesini!!! bikin makin kesel aja..!" ucapnya malah membaringkan tubuhnya dibalik selimut.


Barry masih saja mengetuk dan memanggil Dita walaupun Dita tak sekalipun menyahut.


"Dita...!? kamu didalam kan, buka pintunya dong Dit. Aku mau ngobrol." kata Barry.


Tiba-tiba Rani, tetangga kamar Barry keluar dan melirik pada Barry.


"Mas...! diketuk berapa kali pun, Ditanya gak akan keluar. Dita gak dirumah Mas."


"Hah, masa sih Mba, tapi itu motornya ada disana..?" jawab Barry bingung, lalu menunjuk motor Dita.


"Ya elah Mas, kan kalau motornya disitu, ya bisa juga dong orangnya gak disitu. Dita tadi pergi keluar sama Riko, teman satu kami. Mungkin lagi cari makan." jelas Rani.


Dita yang mendengar akting temannya itu tertawa sendiri didalam kamar. Untung saja Dita pandai berasalan dengan mengirimi Rani pesan agar membantunya menyuruh Barry pulang, karna tak ingin bertemu dengannya. Rani juga dengan senang hati melakukannya.


"Pinter juga Rani memilih alasan..,! biar aja sekalian kesal tuh Barry. Emang dia aja yang bisa jalan sama wanita lain..!!" kata Dita masih saja menguping mendengar kebohongan yang di ciptakan oleh Rani.


"Apa mereka sering beli makan sama Mba..?" tanya Barry merasa kecewa.


"Ia Mas...! Riko itu kan kos nya juga deket sini. Jadi, wajar dong sering-sering mengajak Dita. Apalagi Riko ini, laki-laki yang selalu buat Dita tertawa."lanjut Rani semakin mengada-ada. Ia dengan santai mengelabui Barry sambil bersadar ke pintu kamarnya.


Barry terdiam, rasa kecewanya membuat Rani senyam-senyum tipis.


"Udah Mas, pulang aja..!! disini pun Mas ngapain. Udah malem loh."


"Ya, udah deh Mba. Barry pamit. Nanti bilang sama Dita ya kalau Barry kesini. Jangan lupa loh Mba bilangnya." kata Barry memutuskan untuk pulang.


Ia pun meninggalkan kos Dita dengan lemas. Ia merasa tidak semangat mengetahui Dita pergi dengan teman laki-laki.


Dita keluar dari kamarnya setelah merasa mobil Barry sudah jauh dari rumahnya. Ia berlari menuju kamar Rani dengan tertawa geli.


"Hahahah...! emang ya, kamu pinter banget...!!" kata Dita memeluk Rani diatas kasur.


"Ia dong...! hal begituan aku ahlinya...!" jawab Rani ikut tertawa.


"Hahahha....! gak sia-sia kamu di jadiin jadi tetangga kamar aku Ranii...!!"


"Aduhhh Dita....! jangan peluk kenceng dong. Gak bisa napas nihh!!" Rani berusaha menghindari dari pelukan Dita tapi malah semakin erat Dita memeluk.


***


Barry menelepon nomor Dita yang sudah seharian tidak aktif. Hari semakin sore, dan akibat bosan Barry keluar rumah untuk menemui Dita.

__ADS_1


Kali ini Barry yakin kalau Dita sudah pulang kerja dan kalau pun Dita tidak dirumah, Barry akan menunggu Dita sampai pulang.


Dita yang baru saja memarkirkan motornya di teras bermaksud langsung masuk kedalam kamar. Namun, ia mendengar suara mobil Barry berhenti dihalaman kos nya. Segera Dita memastikan. Benar saja, itu adalah Barry.


"Ngapain lagi sih dia kesini. Aku masih kesal..!" gumamnya. Barry ternyata sudah melihat Dita dari jauh. Segera Barry menghampiri Dita. Terpaksa Dita meladeninya.


"Ada apa...!!" jawab Dita ketus.


"Ihh kok cuek banget sih Dit...?" jawab Barry heran.


"Ia jawab aja, ada apa!!" Dita membuang pandangannya.


"Aku mau mengobrol sama kamu Dita. Kita makan diluar yuk..!?" ajak Barry semangat. Bermaksud agar lebih santai mengobrol.


"Gak lihat apa aku baru pulang kerja. Belum juga simpan tas dan helm."


"Oke. Aku tungguin kamu mandi ya. Siap-siap gih.!"


"Gak bisa! aku capek. Mau langsung istirahat.!" jawab Dita buang muka.


"Wih, galak banget. Kamu kenapa sayang. Ada masalah apa??"


"Aku lagi gak mau ketemu kamu loh Barr!! ngerti gak sih.."


Barry semakin tak mengerti kenapa bisa Dita kesal padanya. Padahal ia merasa tidak membuat kesalahan fatal.


"Kamu tanya aja sama wanita yang bersamamu kemarin sore. Pergi aja berduaan..!!"


Dita menghempaskan rambutnya didepan Barry lalu dengan kesal ia melangkah ke kamarnya. "Udah ah!! aku mau mandi."


"Siap mandi kita bahas ini. Ada kesalah-pahaman disini. Kamu harus mau. Kalau gak, aku bakal disini sampai kamu keluar kamar." ancam Barry yakin jika Dita akan menurutinya. Ia tahu Dita tak akan tega melihat Barry menghabiskan waktu konyolnya didepan kos itu.


Dita sudah sampai didepan kamar tapi terpaksa melirik lagi pada Barry. "Ihhh, makin kesal tahu gak sih..! ia deh liat nanti aja. Aku mandi dulu!!" jawabnya menutup kamarnya dengan kuat.


Barry tersenyum, walaupun Dita kesal padanya, namun diwajahnya malah jelas Dita sedikit manja padanya agar ketika mengambek harus dibujuk lagi olehnya.


"Dasar wanita," gumamnya. Barry pun memutuskan untuk duduk didalam mobilnya saja. Mendengar musik dan menenangkan pikirannya.


Barry menutup matanya dan merebahkan punggungnya pada kursi mobil.


Tiba-tiba terlintas sesuatu dipikiran Barry. Ia seakan merasa ada wajah Ayahnya di pikirannya. Ayahnya yang sedang mengobrol dengan Pria tua yang rasanya pernah dilihat olehnya disebuah rumah. Tapi ia tak tahu pasti dimana.


"Kok bisa aku malah membayangkan dua sosok orangtua yang sepertinya aku pernah lihat. Tapi... dimana ya!!?" tanya Barry pada dirinya sendiri.


"Ah, mungkin hanya halusinasi aja!!" gumamnya lagi.


Dita pun muncul mengetuk kaca mobilnya. Ia sudah tampak lebih segar setelah mandi. Barry terpana memandangi Dita sampai lupa harus membuka pintu.

__ADS_1


"Barry....!! buka dong. Gimana aku mau masuk. Jelas gak sih!"


"Eh ia... maaf! maaf!" ucapnya gugup lalu membuka pintu mobil.


Dita pun masuk kedalam mobil dan langsung duduk didepan tanpa memandang kearah Barry.


"Kamu cantik banget Dit...!?" kata Barry tak mengedipkan matanya.


"Bisa gak sih jangan memandang aku kayak kamu mata keranjang saja..!"


Barry langsung tersadar dan mengusap matanya.


"Ihh..! memuji pacar sendiri saja masa gak bisa sih..! kamu makin ngambek gitu makin gemes tahu gak sih!" goda Barry tersenyum.


"Barryyy...!! aku turun nih. Mau!"


"Eh.! eh.! jangan dong!!" kata Barry lalu ia menyalakan mobilnya dan memilih diam saja. "Cantik-cantik galak banget." gumamnya.


Dita melotot pada Barry sepertinya ia mendengar kata-kata itu.


"Appa lihat-lihat..!!" kata Dita malah membuat Barry tertawa. Barry pun menyetir dan fokus pada jalan raya.


Beberapa menit tak ada percakapan didalam mobil itu, tapi setiap Barry. melihat Dita, ia malah tertawa. Ia merasa senang mengganggu Dita yang lagi kesal pasanya. Semakin Dita kesal, semakin Barry gemas pada kekasihnya itu. Begitulah wanita, ketika marah pun masih saja rasanya ingin selalu di perhatian kekasihnya bahkan kalau bisa harus tetap menggodanya agar rasa kesalnya itu berubah jadi rasa manja.


"Tahu gak Dita, kamu selalu bikin aku bahagia." ucap Barry masih senyam-senyum.


"Kenapa..!" jawab Dita masih jutek.


"Ia kalau kamu ngambek gini, rasa sayang aku semakin besar.


"Jadi kamu mau aku terus marah sama kamu!! biar ada alasanmu untuk dekat dengan wanita itu."


"Salsa maksud kamu..? dia itu temen kampus aku Dita gak lebih. Ih.. cemburuan banget sih.." Barry malah tertawa.


"Oh Salsa namanya, jadi kenapa bawak dia ketemu sama dosenmu. Haruskah!!?" Dita menatap tajam.


"Itu dosennya juga Dita, ya sekalian aja gitu. Karna Salsa juga mau lihat skripsi aku. Kan sesama teman harus saling bantu. Kan kamu yang ajarin Dita..."


"Kan gak harus berduaan gitu dong. Kamu gak tahu perasaan aku pas lihat kamu hanya berdua didalam mobil dengannya." Dita semakin cemberut dan mengerutkan bibirnya kedepan.


"Uhhh cemburu tandanya sayang. Ia maaf deh kalau gitu. Jangan Marah lagi ya. Kita makan enak hari ini. Bebas kamu mau apa aja." bujuk Barry tak tega melihat Dita terus seperti itu.


"Ia aku maafin. Kali ini ajah!! besok-besok gak mau lagi!!" ucap Dita membuat Barry dengan spontan menggenggam tangan kanan Dita. Sembari ia juga fokus pada jalan raya.


"Makasih sayang, kamu masih mau menemani aku melewati masalah hidupku kan.. jangan beri aku patah semangat lagi. Ku mohon..!" kata Barry dengan lembut.


Hati Dita langsung luluh, ia menghela nafas panjang. Ia menatap Barry dengan penuh makna. Tak ada kata-kata yang terucap darinya. Tapi Barry bisa menyimpulkan bahwa Dita akan tetap bersamanya dan akan selalu menemaninya.

__ADS_1


__ADS_2