Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Ingin kerumah Lyli


__ADS_3

Setelah makan siang, Barry dan Dita disuruh oleh pak Fredy ke pasar untuk membeli oleh-oleh khas desa mereka. Dita merencanakan akan kembali ke Perantauannya besok pagi sehingga sebelum pulang mereka disuruh sekalian menikmati pemandangan desa itu. Barry merasa sangat dengan semangat mereka pun pergi. Barry benar-benar takjub dengan keindahan desa yang jauh dari polusi udara dan kebisingan kendaraan. Pepohonan disepanjang jalan dihembus angin menambah kesejukan desa itu. Banyak rumput-rumput hijau tumbuh disepanjang jalan sehingga rasanya seperti berada disebuah taman wisata.


"Dit, nanti kalau nikah tinggal disini aja yah!!" ungkapnya menoleh pada Dita dengan tersenyum. Dita menghela nafas dengan hal konyol Barry.


"Nikah, nikah,!! enak aja bahas nikah sekarang!" jawabnya.


"Kamu gak serius sama aku,,!"


"Ia serius, cuma jangan bahas nikahnya sekarang dong, alay tahu!"


"Yaudah deh, intinya sering-sering ajak aku kesini lagi yaa!" kata Barry tersenyum.


"Ia deh ia,!!" Dita mengalihkan pandangannya tak sanggup ditatap Barry dengan senyuman manisnya.


Mereka pun tiba di pusat pasar didesa itu. Disana sangat ramai, banyak masyarakat berjualan dengan pengetahuan seadanya. Ada juga yang menjanjakan jualannya dengan menawarkan langsung pada Barry. Dengan gugup Barry tak tahu cara menolak bujukan agar dagangannya dibeli oleh Barry.


"Aduh Mas, saya gak merokok! jadi gak mungkin saya beli rokok itu." jawabnya menolak dengan tangannya. Dita dengan sigap menarik tangan Barry untuk menjauh dari tipe penjual seperti itu.


"Makanya jangan dipandangin gitu Barr, jadi mereka kira kamu akan membeli dagangannya."


"Maaf,, aku gak tahu." jawab Barry polos.


Dita akhirnya selalu menggengam tangan kanan Barry agar tak terpisah. Terkadang mereka harus berhimpitan dengan orang-orang pembeli dan penjual disana. Barry bahkan sudah beberapa kali didorong oleh orang yang bahkan ia tak tahu kapan didorong. Dita dengan sigap mencari celah agar bisa keluar dari banyaknya kerumunan masyarakat yang melakukan proses beli dan jual di pusat pasar itu. Maklum saja, puncak pusat pasar itu sangat ramai pada akhir pekan. Semua dari segala desa datang kesana untuk belanja dan berjualan dan semua itu hanya dilakukan sekali dalam seminggu.


Barry beruntung bisa ada disana dengan pengalaman yang unik. Biasanya ia berbelanja di Mall dan supermarket jika harus menemani Mamanya.


Barry dan Dita tiba dirumah dengan membawa 3 jenis oleh-oleh khas daerah disana. Karna sangat lelah, Barry meminta izin pada Dita dan keluarganya untuk istirahat sejenak. Hal yang tak biasa ia lakukan membuatnya benar-benar tak biasa. Dita memaklumi hal itu dan menyuruh Barry untuk tidur.


Bapak dan Ibu Dita menonton televisi diruang tengah yang hanya diisi oleh beberapa sofa sederhana. Frank pergi bermain bola ke lapangan bersama teman-temannya. Dita bingung tak tahu berbuat apa.

__ADS_1


Sebenarnya Dita ingin sekali mengunjungi rumah Bibinya, orangtua Lyli. Tapi Dita tak bilang pada Lyli jika ia sedang pulang kampung. Bahkan membawa Barry kedesa. Ia tak ingin Lyli tahu hal itu lalu nanti akan memberitahukan semuanya pada Sam. Barry sudah bilang jika ia tak ingin Sam mengetahui kemana Barry pergi.


Jika sam tahu Barry berada jauh dari rumah, ia akan memberitahukan pada Ayahnya dan tentu Ayah dan Mamanya akan memarahi Barry.


"Bagaimana jika nanti malam Barry mengajak aku kerumah Bibi, gimana ya nolaknya." gumam Dita duduk diteras sambil ia menikmati sore itu. Ia perhatikan kearah rumah keluarga Lyli. Pintu rumah itu terbuka namun tak ada orang yang terlihat.


Petang pun tiba, Dita masuk kedalam rumah bermaksud untuk memasak makan malam untuk keluarga. Tiba-tiba Barry keluar dari kamar, sepertinya ia sudah bangun.


"Dit, ayo kerumah kak Lyli!?" katanya membuat Dita terkejut.


"Udah bangun Barr!!?"


"Jadi, siapa yang didepan kamu ini, kalau aku masih tidur."


Dengan berat hati, Dita mengajak Barry kedepan rumah dan duduk diteras.


"Kak Lyli gak mungkin bilang ke Sam, kalau kamu telepon duluan kak Lyli kalau kamu pulang kampung bersamaku. Aku tahu kak Lyli akan mendukungku." kata Barry serius. Dita menghela nafas mencoba mengambil keputusan yang baik. Setelah berpikir lama dan selalu dipandangi oleh Barry. Dita akhirnya setuju.


"Ya udah, ayok!!" katanya.


"Langsung sekarang nih!!"


"Lah ia iya dong Barr, besok pagi kan kita udah pulang. Kamu mau apa gak nih!?" tanya Dita menarik tangan Barry.


Barry dan Dita pun berjalan menuju rumah orangtua Lyli. Entah mengapa Barry merasa jantungnya berdetak sangat kencang. Ia sedikit bingung akan dirinya. Tiba-tiba Dita berhenti sekitar 5 langkah sebelum rumah itu.


"Apa alasanku nanti ke Bibi, kan mereka gak kenal kamu Bar?"


Barry berhenti sejenak lalu berpikir. "Bilang aja aku temen kamu dari kota yang ingin melakukan survey tentang tugas akhir skripsi gitu, atau semacamnya. Jangan bilang aku kenal dengan kakak Lyli."

__ADS_1


"Oke, baiklah,!" jawab Dita singkat. Mereka pun berjalan, Barry melangkahkan kakinya dirumah berwarna hijau itu. Barry merasa tegang dan gugup. "Ada apa denganku,?" tanyanya dalam hati.


"Bi..!? Paman..!!?"Sapa Dita dengan nada memanggil. Dita mengajak Barry masuk karna pintu rumah itu dalam keadaan terbuka. Seseorang menyahut dari arah dapur.


"Ya..!? masuk aja, siapa!!?"


"Sepertinya itu suara Bibi, bentar ya Barr. Aku kedapur dulu. Kamu tunggu disofa aja, duduk aja dulu. Liat-liat foto mereka atau apalah terserah kamu."perintah Dita langsung menghilang kedapur seperti merasa bahwa itu adalah rumahnya. Dita tahu seisi rumah karna ia sering bermain kesana waktu masih sekolah. Bapak mereka sangat dekat, membuat kedua keluarga itu sudah seperti keluarga.


Barry menurut, ia duduk di sofa yang sepertinya masih baru itu. Yah benar saja, sofa itu adalah pemberian Lyli ketika ulang tahun Bapaknya. Barry memerhatikan seisi rumah itu. Ia berdiri dan berjalan melihat foto-foto yang terpajang rapi didinding rumah berwarna putih.


Dengan seksama Ia melihat satu per satu foto-foto itu. Ia berfokus pada foto lama karna foto lama seakan memberinya satu jawaban atas pertanyaan yang mengganjal baginya.


Dinding rumah berbentuk datar itu membuat Barry sangat menikmati foto-foto itu. Ia tak bisa menyimpulkan siapa-siapa saja yang ada didalam foto itu tanpa bertanya pada sang Tuan rumah.


Tiba-tiba saja mata Barry tertuju pada satu foto lama, seorang bayi kecil yang digendong oleh seorang ibu. Pelukan hangat itu membuat Barry terharu. Sejenak ia berpikir jika ia tak memiliki foto seperti itu dirumahnya. Diperhatikannya foto itu dengan seksama. Lalu ia berpindah pada foto disebelahnya, dua bersaudara berdiri didepan teras sambil tersenyum. Kedua bersaudara itu sama-sama menggunakan topi dan baju kotak-kotak yang disukai anak-anak pada zaman itu.


Tertulis disana kapan foto itu diambil, 12-12-2003. Mata Barry tertuju pada saudara yang lebih tinggi sekitar 10 CM dari adik laki-lakinya.


"Yang bernama Reno yang mana yah disini!!?" tanyanya penasaran. Ia menyentuh dahunya sembari memerhatikan foto lain untuk mencari jawabannya. "Kalau mereka empat bersaudara, masa sih Kakak pertama kak Lyli hanya beda 10 CM dengan Reno. Ditahun yang sama disini ada laki-laki yang sudah remaja." kata Barry lagi berpindah pada foto yang lain.


Tiba-tiba Dita mengagetkan Barry dengan menyuruh Barry menyapa orangtua Lyli itu. "Bar, ayo kasih salam sama Bibi.!"


Barry pun menoleh, kedua pasang mata itu saling pandang. Seakan waktu berjalan lebih lambat. Barry melangkah dengan perlahan lalu memperkenalkan dirinya.


"Hallo Bi, nama saya Kristian Barry. Saya teman Dita Bi." kata Barry sopan dengan mencium tangan kanan orangtua yang biasa dipanggil Ibu Wani itu. Tiba-tiba saja aliran darah Barry berjalan dengan cepat saat tangannya menyentuh telapak tangan Ibu Wani tersebut.


Belum juga menjawab, Ibu wani seakan tak sanggup untuk disentuh oleh wajah Barry yang menunduk didepannya. Ibu wani seakan merasakan sesuatu yang tak biasa dalam dirinya.


"Nak Kristian Barry ya, salam kenal buat kamu nak."jawabnya setelah terhenti beberapa detik. Ibu Wani menatap Barry dengan seksama dari ujung kepala sampai ujung rambut. "Ka-kamu ..!?" ucapnya dalam hati, seakan mendapati sesuatu yang berbeda pada anak berusia 20 tahun itu.

__ADS_1


__ADS_2