
Samuel dan Barry kembali ke kamarnya dengan keadaan kecewa bercampur kesal. Usaha mereka memberitahukan pada orangtuanya ternyata gagal. Sulit bagi mereka meyakinkan kedua orangtunya itu.
Sam mencampakkan dirinya ke kasur milik Barry, sedangkan Barry duduk di ujung meja dan menyandarkan pinggangnya pada meja tersebut.
"Kok bisa ya Ayah dan Mama gak percaya ya....!!??" ungkap Samuel.
"Entahlah kak..., aku jadi bingung. Sebenarnya betul apa tidak aku ini anak angkat Ayah..." lanjut Barry.
"Aku yakin jika mereka menyembunyikan kejadian itu Barr dari kita..!!"
"Ia tapi, kenapa Ayah bersikeras menyembunyikannya?? malah menampar kita juga...!" kata Barry benar-benar kecewa. Ia tak habis pikir mengapa bisa kedua orangtuanya itu harus memilih berbohong. Padahal sudah jelas bukti yang mereka temukan selama ini.
"Tapi Barr,, sesuai yang kata Kakek..., kamu emang bukan darah daging Ayah, dan ada disembunyikan sesuatu dari kita. Jika sampai Ayah masih saja bersikeras menyembunyikan itu..., aku sangat kecewa Barr sama mereka." kata Samuel menatap Barry menunjukan kekecewaannya.
Barry terdiam, ia terbayang akan orangtua kandungnya. Lagi-lagi ia harus menunggu waktu agar bisa memeluk mereka. Barry tak tenang sebelum ia bertemu langsung dengan orangtua kandungnya, walaupun ia sudah tahu bahwa itu adalah orangtua Lyli kekasih sang kakak.
"Kakak apa masih punya rencana lain?? aku udah gak tahu gimana lagi." keluh Barry.
"Kita selidiki lagi aja Barr, kita buat Ayah dan Mama ngaku sendiri." usul Sam serius.
"Baiklah..., caranya!?"
"Kita perlu bantuan Dita Barr..."
"Hah..! kok bawa-bawa Dita kak? ini kan masalah dirumah ini." tanya Barry heran. Seketika ia merasa tak tega jika harus melibatkan Dita di keluarganya. Karna sudah jelas jika Ayah dan Mama mereka tak setuju dengan Dita.
"Kita minta tolong sama Dita untuk datang kesini, kan Ayah dan Mama belum setuju dengan hubungan kalian, jadi dengan adanya Dita Ayah dan Mama akan kesal lalu memarahi kamu. Nah, aku yakin dengan kekesalan mereka padamu akan terucap hal yang tak bisa di kontrol Ayah ataupun Mama." Samuel begitu detail menjelaskan sembari ia pakai bahasa isyarat.
Barry berpikir sejenak, mempertimbangkan rencana itu. Bagaimana pun ia tentu tak tega jika harus menjadikan Dita sebagai pemancing kemarahan orangtuanya. Hati Dita pasti akan terluka.
"Jadi, maksud kakak Dita kesini cuma mau buat Ayah dan Mama marah...??"
Sam terdiam, ia tahu jika Barr akan mempertimbangkan rencananya.
"Yah, ehmm..., maksud aku tuh, kamu jangan bilang soal ini sama Dita. Kamu cukup suruh dia datang kesini saja." kata Sam tak yakin, namun berusaha membujuk.
"Aku gak yakin Dita mau kak."
"Coba aja dulu." kata Sam lagi.
"Aku kasihan sama Dita jika harus dimarahi lagi nanti sama Ayah dan Mama." kata Barry ragu.
__ADS_1
"Kalau gak, sini aku yang bicara pada Dita." usul Samuel.
Barry terdiam, seakan menyetujui. Sam pun menelepon Dita untuk datang kerumah setelah Dita pulang kerja. Sam membujuk Dita agar kekasih adiknya itu tidak menolak. Namun akhirnya Dita setuju untuk menghampiri Barry kerumahnya dengan alasan yang cukup logis.
"Kakak kenapa bilang aku masih sakit!!??" tanya Barry serius setelah Sam mengakhiri percakapannya dengan Dita.
"Kalau gak gitu ya Dita gak mau Barr. Udah gak apa-apa kok. Ada kita disini nanti yang membela Dita." jawab Samuel meyakinkan. Ia percaya dan semangat jika rencananya akan berhasil.
Malam pun tiba, Barry dan Samuel sama sekali tak ada keluar dari kamarnya. Sam malah menghabiskan siang sampai sorenya di kamar Barry. Ia hanya pergi ke kamarnya untuk mandi.
Barry tampak sangat gelisah melihat jam sudah menujukan pukul 19:00 Wib. Dita bahkan tak ada mengabarinya apakah sudah diperjalanan atau tidak. Samuel yang memandanginya memberi semangat.
"Udah gak papah kok! aku janji gak akan biarin Dita ditekan-tekan Ayah dan Mama. Kamu tenang saja. Ayo kita turun dan menunggu Dita dibawah." kata Samuel menepuk bahu Barry yang selalu memerhatikan jam dinding dikamar itu.
Barry menghela nafas menuruti Sam. Mereka pun turun kebawah dan berjalan menuju ruang keluarga. Melihat Ayah dan Mamanya yang tampak sangat serius mengobrol bersama membuat dua pasang kaki mereka terhenti.
"Tunggu Barr, lihat Ayah dan Mama lagi berdebat. Kita jangan turun dulu." katanya mencegat dada Barry untuk menghentikan langkahnya di anak tangga kelima dari bawah.
"Udahlah Mah...!! kita jangan bahas ini disini. Lihat....! Barry dan Samuel memerhatikan kita." kata pak Anwar pada istrinya menujuk kearah anak tangga. Bu sarah pun menoleh lalu seakan terkejut.
"Baiklah...!"jawabnya lalu bermaksud meninggalkan ruang keluarga itu.
Sam dan Barry mempercepat langkahnya dan menegur sang mama.
"Bukan urusan kalian. Jangan ganggu mama dulu!" jawab sang Mama sangat ketus.
"Tapi Barry mau ngomong sama Ayah dan Mama." kata Barry membuat sang Ayah yang mengikuti isterinya pun berhenti.
"Ngomong apa lagi Tian...!?" tanya sang Ayah sedikit meninggikan volume suaranya.
Belum sempat menjawab, seseorang muncul didepan teras dan mengetuk pintu.
Sam spontan berlari kearah pintu merasa yakin jika yang datang itu adalah Dita.
"Siapa lagi itu..!" kata sang Mama kesal.
Sam pun muncul kehadapan semuanya dengan membawa Dita.
Seketika emosi kedua orangtua itu meningkat dan menatap sinis pada Barry.
"Mari kita bicara!! kamu mau bicara apa Tian sampai membawa gadis ini lagi kesini..!!" teriak sang Mama tegas mengarahakan semuanya keruang keluarga.
__ADS_1
Dita yang langsung gemetar dan takut membuat Barry mendekat kesampingnya. Dita malah menjauh dari Barry karna merasa sudah dibohongi dengan melihat Barry baik-baik saja.
"Jangan dekat padaku Barr. Menjauhlah!!" bisik Dita pada Barry.
Setelah semuanya duduk di sofa, sang mama membuka suara dengan kesal.
"Jadi!! apa alasan kamu Barry membawa gadis ini kesini lagi???"
"Aku.., Hmm!! aku...
Melihat Barry yang malah kaku merasa tak tahu jawab apa. Sam pun membantunya.
"Ehm!! Barry cuma mau Mama setujuin dia dengan Dita. Ya...!! seperti itu..." jawab Sam menghela nafas.
"Apahhh!!! Tian..., kamu bahkan belum lulus kuliah malah harus direstuin seperti ini!!" teriak sang Mama sangat marah. Sikap itu membuat Dita tersentak kaget. Ia tak tahu jika alasan Barry hanya supaya ia diakui oleh keluarganya. Padahal Dita sudah bilang tak harus sirestui saat ini. Karna waktu untuk mereka masih panjang.
"Aku heran sama kamu Barry.!!! setelah kamu kenal gadis ini, semua kehidupanmu sangat berantakan!!!" lanjut sang Ayah berteriak.
"Aku begini karna kalian terlalu pandai mengubah kehidupanku!" ungkap Barry membuka suara. Rasa kekecewaannya bertambah karna malah menyalahkan Dita akan ini semua.
"Apa maksud kamu..." tanya sang Mama.
"Aku tahu semuanya Mah!! aku tahu Yah...!! tolong jelasin padaku sebenarnya aku ini siapa!!??? siapa Yahhh...." kembali Barry merendahkan dirinya.
"Jelasin apa lagi Tian, udah jelas gadis ini membawa perilaku buruk padamu." jawab sang Mama.
"Tolonglah Mah!! aku tak akan tenang jika kalian tak memberitahukan ku yang sebenarnya terjadi ketika aku kecil..."
"Sudah!! sudah!! sudah. Cukup Barry. Kamu jangan menambahi beban Ayah. Kamu gak tahu jika di pekerjaan Ayah sekarang lagi ada masalah! jangan kamu membuat Ayah sakit!!" ungkap sang Ayah menghempaskan tangannya.
Barry dan Samuel saling tatap. Bagaimana bisa Ayahnya mengalami kendala dipekerjaan padahal selama ini tak pernah hal itu terjadi. Apakah itu karna lambat laun Barry mengetahui semua masa lalu yang disembunyikan kedua orangtuanya.
"Masalah apa maksud Ayah?" tanya Barry tiba-tiba merasa khawatir.
Kini giliran Ayah dan Mamanya yang saling tatap. Mereka sepertinya tak juga ingin memberitahukan apa yang terjadi di kantor sang Ayah.
"Ah! sudahlah kalian tak akan mengerti hal itu." jawab sang Ayah. Lalu dengan cepat sang Mama mengalihkan pembicaraan.
"Hei kamu gadis desa! kamu jangan berharap anak saya tulus sama kamu. Lihat saja pakaianmu, apakah itu pakaian seragam dipekerjaanmu!!?" bentak sang Mama pada Dita sembari memerhatikan pakaian yang dikenakan Dita dari atas sampai kebawah.
Dita tersentak, untuk kesekian kalinya Mama kekasihnya itu menghinanya. Dita langsung menitikan air mata. Ia menggengam jemarinya karna tak mampu menjawab.
__ADS_1
Didalam hatinya hanya kata penyesalan karna sudah datang kerumah itu. Jika saja alasan Samuel bukan karna Barry sakit, ia tak akan mau kesana. Apalagi Dita bela-belaan pulang kerja langsung menuju rumah Barry.