Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Hari ke-2


__ADS_3

Dita sedang duduk didepan teras bersama dengan adiknya Frank, Dita tampak fokus pada telepon genggamnya. Barry yang baru selesai mandi pagi pun datang menghampiri saudara yang sangat mirip itu. Ibu dan Bapak Dita sedang pergi pekan, hal yang biasa dilakukan oleh kedua orangtuanya setiap pagi. Biasanya mereka akan pulang pada siang hari jelang makan siang. Barry memerhatikan Frank yang sedang asyik menyiram bunga dihalaman rumah mereka.


"Loh.., Dit!? kok kamu biarin Frank yang nyiram bunga sementara kamu duduk santai menikmati androidmu." kata Barry membuat Dita menoleh dengan santai.


"Emangnya kenapa,? Frank sangat suka menanam bunga, semua bunga disini adalah hasil dari kegemarannya menanam bunga. Ia kan Frank,,?" tanya Dita pada adiknya meyakinkan Barry akan ucapannya.


"Ehm,,!" jawab Frank masih saja tampak sibuk dengan bunga-bunga yang ada di hadapannya. Jika dihitung, sudah ada berkisar 30 jenis bunga di halaman itu. Keluarga Dita malah sudah sering disebut si banyak bunga sejak tiga tahun terakhir Frank semakin menyukai kegemarannya itu.


"Wah,,!! aku sangat menyukai hobby kamu ini Frank." Barry menghampiri Frank sembari melihat apa yang dilakukan Frank. Mereka pun semakin kompak, Barry sangat suka mengajak Frank mengobrol. Dita senang melihat pemandangan didepan matanya. Sesekali Frank dan Barry bercanda dengan lepas.


Tiba-tiba Barry terdiam, ia memandangi rumah-rumah tetangga Dita, baik dari sebelah kiri rumah ataupun sebelah kanan. Sepertinya ia sedang mencari salah satu rumah yang ada didalam hatinya.


Barry berjalan menghampiri Dita, hal itu membuat Dita sedikit bertanya-tanya dalam hati. Mengapa Barry dengan seksama melihat seisi kampung itu dan mengapa Barry seakan ingin mencari sesuatu.


"Kamu kenapa Bar..?" tanya Dita.


"Ehm, kamu kan pernah bilang kalau rumah kak Lyli tak jauh dari rumahmu. Ehm, yang mana Dit rumah kak Lyli!!?"


Dengan cepat Kedua mata Lyli mengarah kesebuah rumah yang lebih bagus dari rumah Dita. Rumah yang memiliki pagar berwarna coklat dan semua bangunannya sudah berbahan beton. Rumah yang diberi chat dinding berwarna hijau. Cukup indah dipandang mata dengan pohon mangga yang tampak sedang berbunga di dekat pagar.


"Itu Bar,! yang warna hijau. Kamu penasaran banget ya??" tanya Dita hanya ingin tahu. Barry mengaruk kepalanya dengan memusingkan sedikit wajahnya pada Dita.


"Ehm, ya gitulah. Disatu sisi aku ingin melihat keadaan rumah dari calon kakak iparku. Disisi lain, aku ingin semakin dekat dengan kak Lyli karna dia adalah kakak kamu juga."


Dita merasa tak cukup kuat alasan Barry untuk menunjukan sesuatu, jika hanya hal biasa seperti itu.


"Tapi, kamu kok pengen banget sih dekat dengan kak Lyli. Rasanya kamu ingin lebih.!!?"


"Maksud kamu, lebih gimana Dita!!?"Barry malah heran dengan apa yang disimpulkan Dita tentangnya ingin dekat dengan Lyli.


"Seakan ada sesuatu hal yang mengganjal di diri kamu yang ingin kamu gali kembali.!" kata Dita membuat Barry terdiam, menatap Dita seakan mencari jawaban di wajah Dita. Barry merasa apa yang dikatakan Dita ada benarnya. Sebab, semakin ia dekat dengan Lyli semakin ada rasa ingin mencari tahu sesuatu dalam dirinya.

__ADS_1


"Entah lah Dita,,! aku bingung. Kadang aku gak tahu apa yang sedang aku pikirkan. Frank yang masih asyik memerhatikan bunga, ternyata mendengar dan mengikuti percakapan kakak perempuan satu-satunya itu.


"Mau aku ajak kesana Kak Barry!??" katanya.


"Eh apa, kemana Frank!?" Barry malah balik bertanya.


"Yah kerumah kak Lyli,! kebetulan disana ada Ibu dan Bapak kak Lyli. Mereka sangat baik dan ramah."kata Frank sembari matanya tertuju pada rumah hijau sebelah kiri mereka.


"Boleh,!! Ayok!"


"Eh, gak baik pagi-pagi gini bertamu kerumah orang. Mereka pasti masih sibuk sekarang."bantah Lyli.


"Trus, kapan!!?" Barry bertanya balik pada Dita.


"Nanti malam aja kita kesitu. Bentar lagi Ayah dan Ibu pulang dan kita makan sama lagi disiang hari." kata Dita membuat Barry sedikit kehilangan semangat. Rasanya ingin sekali ia berkenalan dengan kedua orangtua Lyli yang memiliki adik yang mirip dengannya itu.


"Ya udah deh." jawabnya singkat lalu menghampiri Frank dan berbisik padanya.


"Frank, adik kak Lyli yang namanya Reno, sekarang dimana??"


Barry kembali menemui Dita lagi yang duduk dikursi teras itu.


"Apa sih Bar, bolak-balik kayak kurang kerjaan aja deh,!" kata Dita.


"Kamu kok gak bilang sih, adik kak Lyli juga ada di Medan dan kuliah disana."


"Lah, kamu gak pernah nanya. Lagian apa pentingnya untuk kamu?" Dita tidak memahami maksud Barry.


Ia menatap Barry yang sepertinya berpikir keras. "Sejak kapan kamu ingin tahu banget soal keluarga kak Lyli!?? Apakah kak Samuel menyuruhmu menyelidikinya??"


"Hah,! kok bawa-bawa Sam, kalau aku sih, hanya ingin tahu ajah. Aku suka dengan pribadi kak Lyli. Itu ajah,!" jawab Barry asal saja. Dita memandangi kekasihnya itu dengan seksama.

__ADS_1


"Kamu suka sama kak Lyli..!? ingat Barr, itu pacar kakak kamu. Lagian kamu kok gak menghargai aku sih,!" Dita malah merasa cemburu, membuat Barry bingung.


"Hah, kok malah pikirannya kesana sih Dit, suka bukan berarti maksudnya untuk hal lain-lain. Aduh kok jadi salah paham gitu.!" Barry menepuk jidatnya.


"Lalu..!?"


"Nanti aku kalau aku udah menemukan jawabannya, aku akan cerita sama kamu Dit. Untuk sekarang, aku ajah masih belum tahu apa yang sedang ku pikirkan." Barry menghela nafas, berbicara dengan sangat serius sembari ia menatap jalan raya didepan rumah Dita yang bisa dihitung berapa kendaraan yang lewat disana. Bahkan karna jalanan sepi, anak-anak desa itu sering bermain bola dan bulu tangkis seadanya ditengah jalanan.


"Baiklah Barr, kalau ada yang mengganjal dihatimu, ceritakan padaku. Mungkin aku bisa membantumu sedikit meringankannya." Dita menyentuh tangan Barry yang diletakan di kursi sebagai pembatas dirinya dan Dita.


"Aku mau nanya sesuatu, boleh??" Kata Barry melihat Frank sudah masuk kedalam rumah untuk membersihka tangannya yang kotor akibat memegangi tanah didalam pot bunganya itu.


"Sejak kapan nanya dilarang Barr??"


"Owh baiklah, Ehm!! kak Lyli bersaudara berapa orang??"


Dita masih saja tak mengerti mengapa Barry ingin sekali tahu tentang keluarga kakak angkatnya itu. Tapi ia berusaha untuk membantu.


"Baiklah biar kujelaskan,,! kak Lyli itu anak kedua dari 4 bersaudara. Anak pertama laki-laki, lalu kak Lyli, anak ketiga perempuan dan anak keempat laki-laki juga."


"Trus, yang tinggal sekarang bersama Ibu dan Bapak kak Lyli siapa saja??"


"Untuk sekarang gak ada, hanya Bibi dan Paman saja. Mereka tinggal berdua." jawab Dita. Barry berdiri dan menatap Dita dengan memohon.


"Ayolah Dita, aku ingin sekali bertegur sapa dengan mereka."


Namun, tiba-tiba saja kedua orangtua Dita datang dengan mobil yang memiliki bak dibelakangnya. Mobil tua yang hanya berukuran kecil sehingga jika memasuki desa mereka sudah menutup jalan disana. Barry dan Dita pun menoleh.


Setelah mengobrol beberapa menit saja, mereka semua masuk kedalam rumah. Dita dengan sigap menyiapkan makan siang untuk mereka. Hal itu biasanya dilakukan oleh Frank jika Dita sedang diperantauan. Bapak dan ibu Dita merebahkan punggung mereka kedinding sembari Dita menyiapakan makanan.


Barry ikut membantu Dita menyiapkan, namun didalam hatinya sedikit rasa kecewa karna batal mengajak Dita kerumah orangtua Lyli. Lagi-lagi Barry tak mendapat kesimpulan dari keganjalan yang ada dalam dirinya.

__ADS_1


"God,, bantu aku untuk tahu apa dan mengapa aku merasakan ada keganjalan dalam diriku."


Mereka pun makan siang bersama, disisi lain, Barry menyukai suasana rumah Dita yang hangat. Keluarga itu sangat akrab dan selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Barry dan keluarganya sudah lama tidak pernah makan bersama, baik itu sarapan, makan siang ataupun makan malam. Semakin dewasa, mereka semakin menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing.


__ADS_2