Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
END


__ADS_3

Waktu Tuhan pasti yang terbaik.....


Terdengar suara nada dering ponsel Barry yang diletakkannya di meja kamar tidurnya. Ia berjalan meraih meja untuk memeriksa siapa yang menelepon dirinya malam hari. Barry cukup lelah karna seharian ia melayani tamu di acara syukuran. Waktu istirahat sedikit terganggu karna bunyi ponsel tersebut.


"Mamah?!!"gumamnya lalu ia mengangkat telepon itu.


"Ia, Hallo Mah..?" tanya Barry.


"Kamu sudah beberapa hari di rumah orangtuamu. Apakah kamu gak kembali kesini lagi Tian??" tanya sang Mama.


Barry terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan sang Mama. Sebenarnya Barry masih sedikit kesal pada orangtua angkatnya itu. Hal itu membuatnya tak ada niat ingin cepat kembali ke kota. Jika bukan karna sebentar lagi ia akan melangsungkan acara wisuda, Barry ingin berlama lama bersama dengan keluarga kandungnya.


"Ehm, Hari rabu Barry akan pulang Mah kesitu. Hari jumatnya, Barry akan wisuda. Barry sudah selesaikan semuanya sebelum Barry kesini."


"Jadi kamu udah selesai sidang dan yudisiumnya,,, dan gak bilang sama Mama?!!." teriak sang Mama sedikit menekan nada bicaranya. Barry terdiam, ia sengaja melakukan itu karna beberapa hari menjelang sidang dan yudisiumnya, ia sedang kecewa kepada mereka.


"Sudahlah Mah, tak usah diperpanjang. Yang jelas, Barry akan pulang hari rabu dan akan membawa keluarga besarku dari sini untuk ikut di acara wisuda nanti."


"Loh! lohh! kok gitu??!. Apa kata orang-orang jika nanti mereka bertanya soal jati diri kamu Tian...?!" sang Mama malah kesal dan membentak anak angkatnya itu, karna merasa tak suka jika keluarga akan merasa malu jika tahu apa yang sebenarnya.


"Loh, kok gitu sih Mah,,, malah Barry berharap orang-orang tidak salah paham dan tahu siapa sebenarnya orangtua kandungku. Aku gak malu, aku bahkan senang jika semua orang mengetahuinya."


"Gak bisa!. Mama gak setuju. Tentu Ayahmu juga tak akan setuju. Jangan memperumit suasana Tian...,"


"Rumit dimana Mah, justru bagus dong Mah.., kalian tak perlu malu. Bahkan harusnya kalian bangga dong Mah, tenang saja,,, aku akan tetap jaga nama baik kalian. Percaya sama Barry Mah...,"


"Biar kami diskusikan dulu sama Ayah kamu. Mama tutup teleponnya dulu..!" Bu laras terlihat kesal lalu dengan cepat ia menutup ponselnya lalu ia menyandarkan dirinya ke sofa diruang tamu.


Samuel yang baru pulang kerja sepertinya mendengar sedikit percakapan sang Mama dengan adik angkatnya. Samuel tampak kesal karna tak suka akan sikap Mamanya.


"Mamah kenapa gak setuju kalau orangtua kandung Barry datang ke acara wisudanya. Itu kan bukan hal yang memalukan,?!"

__ADS_1


"Ahm!!, bagi kamu gak Sam tapi bagi kami sebagai orangtua yang selama ini diketahui semua orang bahwa kami adalah orangtuanya,,, apa kata orang-orang nanti jika Barry menunjukan orangtua lain selain kami. Pertanyaan mereka akan sangat menyakitkan." sang Mama tampak mengeluh dan sedih.


"Gak akan Mah,,, percaya sama Sam. Orang-orang gak akan mengatakan hal buruk jika Barry ternyata memiliki orangtua kandung. Jangan langsung pesimis begitu Mah...," bujuk Samuel. Ia tak ingin Mamanya memiliki pemikiran buruk tentang orangtua kandung Barry yang juga kelak akan menjadi besan mereka jika ia dan Lyli menikah. Sam tak ingin ada perselisihan diantara mereka.


"Gak, pokoknya Mama gak suka Sam!." sang Mama masih merasa tak bisa membayangkan apa kata orang tentang mereka.


"Pokoknya Sam gak suka kalau Mama gak menyukai orangtua kandung Barry. Mereka orang baik Mah, keluarga itu keluarga yang luar biasa. Mama kan tahu, jika Lyli juga bagian dari mereka. Aku udah serius sama Lyli Mah, dan aku harap Mama tak merusak suasana diantara keluarga kita dengan mereka."


"Tapi Sam....,


"Bayangin aja Mah..., jika mereka bukan orang baik, mungkin mereka akan menuntut balik sikap Mama dan Ayah beberapa tahun lalu karna sudah berbohong soal keberadaan Barry disini. Jika mereka bukan orang baik, mereka tak akan memuji kalian didepan penduduk desa atas kepulangan Barry disana dan menganggap kalian adalah pembawa berkat bagi Barry hingga Barry bisa sampai se-dewasa itu bisa membawa damai disana."


Bu Laras terkejut atas ungkapan Samuel, ia tak menyangka Samuel mengetahui semuanya. Bu Laras tertunduk tak tahu harus menjawab apa.


"Ka-kamu tahu dari mana soal itu?!"


"Aku tahu semuanya Mah, aku tahu..., sadar gak sih selama ini Mama sudah menyakiti banyak hati mereka, menyakiti hati Barry dan keluarganya. Dan saat ini masih sanggupkah Mama menjauhkan mereka dan menjauhkan mereka dari kebahagian yang tertunda karna masa lalu anak yang Mama bilang sangat Mama cintai itu tersembunyi????"


"Jawab Samuel Mah?, sanggup?!. Enggak kan Mah,,," tanya Sam semakin menekan nada bicaranya, menatap mamanya begitu tajam berharap sang Mama memahami maksud hatinya. Bu Laras menundukan kepala dang mengangguk.


"Ia, Mama gak lagi begitu. Mama jadi merasa bersalah. Sepertinya apa yang kamu bilang itu benar Sam."


Samuel tiba-tiba langsung memeluk sang Mama. Hal yang sangat jarang ia lakukan. Ia melakukan itu karna baru pertama kali melihat Mamanya mengakui kesalahannya.


"Sa-samuel??!." ucap sang Mama terkejut.


"Makasih Mah, aku jadi bangga punya Mama jika bersikap seperti ini..!" kata Samuel.


Kemudian, Samuel kembali menelepon adiknya itu. Samuel berbicara cukup lama dengan Barry, diikuti oleh Bu Laras. Walau sebenarnya merasa ragu dan malu untuk mengungkapkan kesalahan. Bu Laras akhirnya mendapat maaf dari anak yang sudah ia besarkan bertahun-tahun lamanya.


"Aku sangat senang Mama seperti ini..., Mama sangat luar biasa!!. Aku sangat terharu Mah!!" teriak Barry melalui telepon. Ia sengaja menyembunyikan dirinya agar keluarganya tak tahu apa yang ia rasakan.

__ADS_1


"Terima kasih nak,,, Mama benar-benar menyesal sudah melakukan banyak kesalahan pada kamu nak. Mama tak tahu bagaimana membalas kebaikanmu dan ketulusan hatimu anakku. Walaupun kamu bukan darah daging Mama, tapi Mama sangat mencintaimu Tian...,"


Saat itu, ingin rasanya Barry memeluk erat sang Mama, namun karna jarak memisahkan mereka. Barry harus menahannya. Barry sangat terharu dan merasa kini hatinya begitu damai.


Barry merasa jika seluruh tubuhnya seakan ada sebuah aliran yang mengalir begitu indah. Ia merasa hatinya sangat bersukacita dan merasa seakan tak ada beban apa-apa lagi. Ia tak merasa ada lagi yang mengganjal dihatinya. Aura alam bawah sadarnya sekaan di isi gambar hati berwarna merah dan bunga-bunga bermekaran ditaman.


Barry sembuh total, penyakitnya kini telah hilang dan tak akan pernah muncul lagi. Apa yang dulu ia rasakan kini telah terhapus dari tubuhnya. Ternyata permintaan maaf sang Mamalah yang mampu mengobati hatinya yang selama ini ia keluhkan. Barry sangat bahagia dan memberitahukan semuanya pada Dita. Tentu Dita takjub dan tak menyangka jika Mamanya obat dari penyakit aneh yang selama ini dikeluhkan oleh Barry.


***


Akhirnya acara wisuda Barry pun tiba, seluruh keluarga besarnya datang dari Desa. Tak lupa ia juga mengundang orangtua Dita. Barry juga mengundang Kakek Rudi yang sudah banyak memberikan informasi akan jati dirinya. Namun sayang, Kakek itu sudah meninggal sehari setelah Barry mengunjunginya tempo lalu.


Barry mengajak keluarga besarnya berfoto di acara wisudanya. Kini sah, Barry mendapat gelar baru diakhir namanya. Tak lupa ia juga menyuruh Dita mengukir namanya di selempang sarjananya dengan nama yang tentu akan membuat Ibu dan Bapaknya senang, yakni " VALENTINO DEAR.,SH."


Melihat nama itu melingkar di dada bidang Barry yang mengenakan jas terbaik dari Mamanya, Pak Dimas menangis terharu.


"Oh!! anakkku!!. Kamu adalah mujizat terindah yang pernah aku lihat selama aku hidup didunia ini. Ka-kamu sangat luar biasa!!!." ungkapnya memeluk Barry dengan sangat erat. Pak Dimas tak menyangka penantiannya membuahkan hasil yang bahkan diluar nalarnya. Ia tak menyangka anak yang hilang itu sangat menghormati dirinya.


"Ini ku persembahkan untuk Bapak dan Ibu. Ini berkat doa kalian yang setiap hari mendoakanku tanpa lelah." ucap Barry membalas pelukan Bapaknya juga dengan menitikkan air mata. Barry juga dinobatkan sebagai salah satu mahasiswa terbaik di kampusnya dan mahasiswa berprestasi.


"Kamu luar biasa nak..., maafin Ayah dan Mama jika belum bisa menjadi yang terbaik buat kamu." ucap Pak Anwar memeluk Barry bersamaan dengan Mamanya.


"Gak Yah, kalian orangtua yang luar biasa buat Barry. Jangan minta maaf lagi, jika bukan karna kalian, aku juga gak akan bisa sampai pada titik sekarang ini. Didikan dan dukungan kalianlah yang membuatku mendapat ini semua." Barry memeluk erat Ayah dan Mamanya, ia mencium tangan orangtuanya itu. Tangan itu bahkan sudah dibasahi air mata bahagia.


Mereka pun berfoto bersama, baik Ayahnya, Mamanya, Ibu,Bapak dan saudara-saudaranya yang lain yang juga ikut berbahagia disana.


.........................TAMAT............................


Samuel dan Lyli pun menikah tiga bulan kemudian. Acara itu sangat mewah. Kakak laki-laki mereka pulang untuk meramaikan acara pernikahan itu. Kemudian, kakak pertamanya menyusul menikah enam bulan kemudian ditahun yang selanjutnya dan tak kembali lagi keluar negeri.


Sementara Kristian Barry atau Valentino Dear menikahi pujaan hatinya, Dita Anggreni tiga tahun kemudian saat mendapat tugas tetapnya di Pengadilan Negeri kota Medan. Hubungan keluarga itu sangat baik karna kini mereka menjadi keluarga besar dan orang-orang menjadikan keluarga besar itu sebagai salah satu keluarga paling meng-inspirasi di Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2