
Barry baru saja selesai mandi pagi. Cuaca cerah membuat hatinya juga segar dan menikmati pagi itu dengan bersiul-siul. Menatap Taman rumah tetanggnya dengan membuka jendela kamar nya. Atap rumah komplek itu jelas terlihat dari atas dimana kamarnya. Kamar yang berdampingan dengan Samuel itu memantulkan cahaya sehingga nampak Samuel masih tertidur pulas.
"Pulang jam berapa dia semalam jam segini masih tidur" tanya nya dalam hati sembari ia memetik gitar dan duduk di jendelanya. "Apa dia gak kerja?" tanyanya lagi.
Samuel sudah bekerja selama 2 tahun disebuah perusahaan milik negara setelah ia lulus kuliah di Universitas ternama di kota Medan. Darisanalah juga ia mengenal Lyli kekasihnya itu. Sebenarnya Mamanya membujuknya untuk melanjutkan S2 nya di luar negeri bersama dengan Kakak pertama mereka Jeriko namanya. Jeriko sudah bekerja disana 3 tahun yang lalu. Mereka termasuk anak-anak cerdas di keluarga itu karna kedua orangtua mereka sangat mendukung prestasi mereka sejak kecil. Satu lagi Kakaknya Bobby sudah mantap tinggal di Jakarta dan sudah menikah tahun lalu dengan wanita asli penduduk Jakarta. Jeriko dan Bobby sangat sayang pada Sam dan Barry. Karna Barry paling kecil, kedua Kakaknya itu lebih menyayanginya.
"Bisa diam gak sih.!!" Tiba-tiba Samuel berteriak kearah jendela. Ia tau Barry sedang bermain gitar dan itu mengganggu tidurnya. Barry terkejut lalu menghentikan alunan gitarnya.
"Kan pelan,, Lagian udah jam 9 masih aja tidur. Kakak apa gak kerja!?" tanyanya.
"Bukan urusanmu." kata Samuel singkat lalu menarik bantal gulingnya dan tidur kembali. Barry kesal dan tak berniat bermain gitar lagi. Diletakkannya gitarnya lalu menutup pintu kamarnya. Kali ini ia ingin melihat kegiatan apa yang dilakukan oleh mamanya. Ia menuruni anak tangga lalu berjalan menuju dapur disebelah kiri rumah itu. Disana mamanya sedang memasak bersama dengan bibi nya.
"Masak apa Mah..?" tanyanya dari jauh lalu menghampiri mamanya yang sudah menoleh.
"Masak Arsik kesukaan Ayahmu,," jawabnya mamanya.
"Owh,, enak dong. Pantesan wangi bumbunya sampai kekamar" jawabnya.
"Gimana Skripsi mu Bar,,? Udah kelar." tanya sang Mama membuat Barry tersendak saat diam-diam mencicipi bumbu Masakan itu.
"Dalam waktu dekat Mah,,"
"Yakin.?? lalu,, semalam sekalian ngurus Skripsi gak?? Kan semalam kamu seharian keluar rumah."
Barry menggaruk kepalanya. "Ehm,, gak Mah. Semalam dari rumah temen. Temen aku sakit jadi harus di temenin seharian."
"Cewek apa cowok temennya??"
"Hmmm,, Cewek mah" kata Barry ragu.
__ADS_1
"Ingat ya Bar. Mama udah berapa kali bilang sama kamu kalau nanti siap Wisuda kamu langsung berangkat ke London buat lanjutin S2 disana. Bahasa inggris kamu kan bagus." Kata mamanya masih saja sambil sibuk melengkapi masakannya. Sementara bibinya hanya mengikuti saran sang Majikan apa yang harus dikerjakan.
"Dipertimbangkan dulu Mah. Belum bisa aku pastikan niat kesana apa gak"
"Barry.., Harus dong. Kan demi masa depan kamu. Daripada disini kan sayang semua prestasi kamu itu jadi gak berguna. Disana skill bahasamu dan kemampuanmu dalam Hukum kan bagus. Targetkan kamu bisa dibagian Kedutaan indonesia." Jelas sang Mama membuat Barry menganggukan kepalanya.
Ia sedang menyukai seseorang sekarang. Bagaimana bisa ia lepas dari wanita yang sudah ia sukai itu. Dita tak akan setuju dengannya jika harus menjalin hubungan nantinya jika terpisah jarak.
"Mama gak mau kamu pacaran dulu saat ini. Fokus sama Skripsi kamu dan Wisuda kamu. Nanti soal Jodoh bisa seperti Samuel mengenal Lyli ketika udah sama-sama kerja di Perusahan yang sama" Lanjut sang mama. Hal itu membuat Barry terdiam kaku. Ia tak mampu menjawab omongan mamanya.
"Aku balik kamar dulu ya Mah..,"katanya Lalu berjalan menjauh meninggalkan dapur itu. Ia berpapasan dengan Ayahnya yang juga ingin kedapur menemui Mamanya.
"Loh kok balik Bar,,?" tanya Ayahnya.
"Ia Pah. Nanti aja turun lagi kalau Masakan Mama udah siap" kata Barry meninggalkan Ayahnya lalu menaiki tangga dan masuk kedalam Kamar.
"Obrolin apa Mah tadi sama Barry??" tanya Ayah Patar pada Istrinya itu.
"Ada apa sih Pah,,?" Tanya istrinya setelah tiba dikamar dalam keadaan masih berdiri.
"Kenapa Mama mengotot sekali agar Barry keluar negeri. Disini aja kenapa emangnya Mah??"
"Pah. Mama udah berapa kali bahas ini sama Mama, Kalau Mama gak mau Barry suatu hari kalau disini ia akan bertemu dengan orang yang mengenal masa lalunya. Ngerti gak sih Pah,,?" jelas sang istri menatap tajam suaminya itu.
"Bukankah Mama sayang sama Barry. Kalau dia diluar negeri apa bisa Mama tahan Rindu tak bertemu dengannya sehari ajah??"
"Lebih baik Mama menahan rindu tapi yakin bahwa Barry bersama-sama dengan kita daripada sekali dia tahu semuanya Barry tak akan kembali lagi Pah."
Ayah Patar terdiam tak bisa menjawab penjelasaan istrinya itu. Ia merasa apa yang dikatakan istrinya itu adalah benar. Mereka sangat menyayangi Barry dan sudah membuat Keluarga mereka selalu sejahtera. Bagi Mereka Barry adalah anak yang sangat istimewa.
__ADS_1
"Apa yang Ayah dan Mama bahas ya tentang Barry" tanya Sam yang tak sengaja melewati kamar Ayah dan Mamanya karna melihat tak ada Mamanya didapur. Ayah dan Mamanya seakan tau jika seseorang sedang mendengar pembicaraan mereka. Mereka saling pandang dan berjalan keluar. Dilihatnya Samuel sudah menjauh dari kamar itu dan menuju ke depan rumah. Ayah dan Mama mereka lega merasa Samuel tak mendengar apa-apa.
Samuel tahu jika Ayah dan Mamanya memerhatikan langkahnya dan ia hanya melirik kebelakang. "Ehmm..," Gumamnya.
Samuel balik ke lantai 2 rumah itu bermaksud menemui Barry dikamarnya. Ia masih kesal dengan adiknya itu setelah melihat Mobil yang dipakai Barry kemarin belum juga di isi bensin. Padahal sudah jam 10 pagi.
"Woi..! Kristian!!" teriaknya.
"Apaah,,?" jawab Barry dengan teriak juga.
"Kamu janji apa semalam hah..! Isi bensin mobil sana cepett!!" bentak Samuel dengan menatap tajam Barry.
"Biasa aja dong,, gak usah ngegas gitu ngomongnya!!" balas Barry dengan kesal.
"Aku mau kerja.!! Ngerti gak sih!!"
" Ya udah sekalian keluar kan bisa sekalian isi bensinnya. Ribet amat,,!"
"Tapi aku buru-buru belum lagi mandi, makan pagi,,! Kamu kan gak ada kerjaan dan gak kemana-mana, isi dulu sana nanti balik aku udah siap pakaian baru langsung gerak..," kata Samuel.
"ia bentar...,!"jawab Barry kesal lalu bergerak dari tempat tidurnya.
"Buruan..," Kata Samuel mendorong Barry dengan bahunya saat Barry ingin keluar dari kamarnya itu sementara Samuel berdiri disana. Tentu Barry kesal lalu menatap tajam mata Samuel.
"Biasa aja dong. Udah minta tolong masih aja nyolot..,"
Ayah dan Mamanya mendengar Sikap kedua anak nya itu lalu saling tatap tatapan di meja makan yang kebetulan sudah duduk disana menunggu bibi menyajikan makanan pagi mereka.
"Baryy...! Samuel..! bisa gak sehariii aja kalian gak adu mulut..!" Teriak Ayahnya.
__ADS_1
"Maaf Ayah..," Hanya itu yang dikatakan oleh Barry sementara Samuel berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan siap-siap dan mengacuhkan ucapan sang ayah.
"Aku isi bensin mobil dulu bentar Yah baru makan pagi. Duluan aja Yah,Mah" kata Barry bergegas ke garasi mobil dan meninggalkan rumah sebentar. Ayahnya hanya menggeleng-geleng kepala. Mamanya menghela nafas yang pusing melihat sikap Samuel tak pernah akur sengan Barry adiknya.