
Matahari bersinar terik membuat Barry mulai kepanasan. Ia terlihat lelah berdiri samping sepeda motornya. Ia sedang menunggu seseorang. Ia menghempas-hempaskan kerah bajunya agar mengeluarkan angin berpikir agar sedikit adem. Keringatnya mulai bercucuran dari dahinya. Ia sudah beberapa kali menoleh jam tangannya. "Udah jam 1 siang gak datang juga.." Gumamnya gelisah. Ia mulai gerah dan memerhatikan seluruh parkiran tak ada orang lain yang bertingkah sepertinya kecuali tukang parkir yang memerhatikannya aneh.
"Mungkin Dita masih sibuk. Masa sih Minggu juga sibuk,, padahal Dita udah janji ketemu disini...," Cerutu Barry berharap masih ada harapan kalau Dita akan datang menemuinya.
Akhirnya sosok itu pun muncul. Wanita yang ditunggu-tunggu oleh Barry datang dengan motor matic nya dan berhenti tepat di depan Barry. Ia seakan mendapat energi baru melihat Dita datang dengan Gaun Hijau dan wajah senyum itu menenangkan hatinya.
"Hai Bar..., Maaf ya Bar agak lama. Tadi aku ibadah dulu. Sory gak bilang yaa, gak sempet tadi karna ponsel aku mati." kata Dita melepas helmnya dan merapikan rambut lembut yang semakin membuat Barry terbelangak kagum. Barry hampir tidak berkedip seakan menghayal Dita dan dirinya disebuah acara pernikahan dan Dita datang dengan Gaun indah.
"Hallooo,, Barry!??" Dita melambaikan tangan tepat diwajahnya.
"Eh..eh Dit-a,,,??" Barry tersadar dan Mengedip-kedipkan kedua matanya.
"Udah lama Bar. Langsung kedalam taman aja yuk. Disini panas banget sumpah!" kata Dita setelah merapikan penampilannya. Barry masih terpelongo mengikuti saja.
Dita melihat sebuah meja tak berpenghuni dan Ia mengajak Barry duduk disana. Dita menyadari sikap Barry akan dirinya. Ia hanya tersenyum dan merasa Barry masih saja sama ketika pertama kali bertemu dengan dirinya. Mereka pun berjalan kesana dan duduk disana. Barry menetralkan pikirannya lalu mulai menghela nafas.
"Mau air kelapa Dit? atau yang lain,,?"
"Air kelapa aja. Kamu juga sekalian,, Liat tuh keringat kamu. Maaf ya Bar nunggu lama,,!"
"Ia gak apa-apa kok. Kamu...,," Barry sejenak menghentikan ucapannya lalu memandang Dita dengan lembut. Dita seakan menunggu kelanjutan ucapan itu. "Yah,,?" tanyanya
"Kamu Cantik..." Barry tersenyum lega mengungkapan apa yang ia rasakan. Dita tersenyum memalingkan pandangannya kearah Taman tapi tak ingin menjawab pujian itu.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kapan Wisuda Bar,,?"
"Tahun depan mungkin Dit,, Kenapa kamu mau jadi pendamping wisuda aku??" Lagi-lagi Dita tidak menjawab dan menunduk, meneguk air kelapa yang sudah ada dihadapannya.
"Dit,, Kamu masih sama ya. Setiap ditanya,, sikapnya seperti itu. Kamu bikin aku penasaran tau gak."
"Penasaran gimana maksudnya Bar??"
"Penasaran ingin mengenalmu lebih dekat."
"Yah..mm boleh. Ini udah dekat"Balas Dita singkat.
"Mau lebih dekat ke hati kamu,,!" Jawab Narry. Dita terdiam lalu menunduk.
"Aduh Dit.., Jadi kamu masih banyangin hal itu. Dit kita ini sama kok. Apa bedanya coba,,?" Barry tak menyangka ternyata Dita bersikap seperti itu seakan merendahkan dirinya.
"Beda dong Bar,, Kamu terlahir dari keluarga berada. Apa-apa bisa kamu dapatkan semau kamu. Kamu Sekolah di Universitas ternama dan terbaik dikota ini. Apalagi Bar,,?" Obrolan mereka cukup serius sekarang.
"Ah Dita. Itu semua milik orangtuaku. Aku gak punya apa-apa. Aku masih menebeng dengan orangtuaku. Gak kayak kamu sudah bisa menghasilkan uang dengan jerih payahmu sendiri." Kata Barry membuat Dita terdiam merasa bahwa Barry benar. Ia hanya terlalu kwatir laki-laki yang dihadapannya itu mempermainkan perasaannya kelak. Hal itulah yang juga dipikirkan Dita tahun lalu makanya Ia meninggalkan Barry tanpa kabar.
"Apa kamu berpikir hal yang sama seperti tahun lalu makanya kamu gak ada ngabarin aku kalau gak kerja di tempat Les itu??"Tanya barry kembali. Dita memalingkan wajahnya kembali. Berfokus pada anak kecil yang sedang bermain ditaman bersama dengan ayah ibunya. Namun sikap itu jelas membuat Barry paham bahwa Dita mengatakan ya akan pertanyaan itu.
"Berjanjilah untuk tidak memikirkan hal itu lagi Dit. Aku ingin lebih dekat lagi pada kamu." Barry menatap mata Dita penuh keseriusan walau Dita seakan tak mampu berkata apa-apa.
__ADS_1
"Sudah lah Bar. Biar waktu yang menjawab."Balas Dita.
Melihat Hari hampir gelap Barry dan Dita memutuskan untuk meninggalkan Taman itu. Cuaca mendung membuat langkah mereka semakin cepat ke area parkir.
"Coba aja Dita gak naik motor kesini. Udah aku antar Dia pulang dan menghabiskan waktu dijalan bersamanya"Gumam Barry memperhatikan Dita menyalakan motornya. Dita tak ingin dianggap wanita manja, itu sebabnya Ia memilih menemui Barry dengan motornya.
****
Waktu menunjukan pukul 07:45 Wib. Rina yang sedang bersiap-siap pergi bekerja tampak sibuk dengan barang bawaannya. Ia menarik pintu kamarnya lalu mencabut kunci dari engsel pintunya. "Beres. Saatnya Gerak..!" Ucapnya semangat. Rina melirik kekamar Dita karna untuk menuju pintu gerbang Kos itu Ia harus melewati kamar Dita.
"Ya ellah,, Kapan siapnya sih Dita? Udah tutup aja kamarnya. Pasti dia udah sampe di kantor duluan nih.!"ucapnya dalam hati. "Aku selalu kalah darinya. Aku tak bisa meniru kebiasaan Dita yang tepat waktu sampe Kantor."
Ternyata pemikirian Rina salah. Dita sama sekali belum keluar kamar. Ia belum pergi ke kantor seperti dugaannya. Sepertinya ada sesuatu didalam kamar itu. Dita yang mendengar beberapa temannya sudah bergerak beraktivitas melewati kamarnya.
"Udah jam berapa ini,,?"tanyanya lemah. " Hah. Jam 08:15,,?"Dita terkejut melihat jam tanganya. Dita mulai Was-was dengan berusaha bangun dari tidurnya. Namun saat ia bergerak, Ia menyadari tubuhnya tal mampu berdiri. Dita merasa pusing dan lemas. Ia sepertinya sedang Sakit. Badannya terasa Panas. Ia mulai gelisah dan tak tau harus minta bantuan pada siapa karna ia tau jam segitu kost-an disana sudah sepi karna semuanya pergi bekerja.
Ia meraih ponselnya yang terletak diatas meja dengan lemas. Kamar yang sempit itu semakin membuat suasana panas. Kebetulan kipas anginnya sedang rusak. Dita bermaksud ingin mengabari Rina jika diri nya Sakit. Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi dan 1 pesan diterima tertulis dilayar ponselnya itu.
"Hai Dita. Selamat pagi. Kamu Sudah berangkat Kerja??"Begitulah pesan itu dibaca oleh Dita dan pesan itu berasal dari Barry. Perlahan Dita berusaha membalas pesan itu dengan lemas.
"Aku gak masuk kerja Bar. Aku sakit" balasnya singkat. Lalu meletakkan ponsel itu kembali di meja kecil itu. Dita merebahkan kembali tubuh lemasnya berharap Demamnya akan hilang jika ia tidur. Membaca pesan itu Barry sangat terkejut dan mulai khawatir. Tanpa berpikir panjang Barry keluar dari kamarnya. Meraih jaket yang tergantung dibalik pintu kamarnya. Lalu ia menuruni anak tangga dengan cepat. Ia melihat mamanya sedang menonton Televisi di ruang tengah.
"Mah... Aku keluar ya!" Teriaknya bergegas dan meraih Kunci mobil yang biasa terletak di lemari hias tak jauh dari tempat mamanya menonton.
__ADS_1
"Mah,, mobil aku pakai ya." Ucapnya lalu meraih tangan kanan mamanya lalu menciumnya. Mamanya tak sempat menjawab, anak itu sudah tiba di garasi mobil. Sang mama hanya menghela nafas. "Anak muda zaman sekarang suka dengan hal buru-buru"ucapnya dalam hati lalu melanjutkan pandangannya ke Televisi.