Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Mengobrol sampai larut malam


__ADS_3

Barry menatap Dita dengan penuh makna, namun Dita masih membuang wajahnya dari pandangan kekasihnya itu. Walaupun Dita senang dan bersyukur akhirnya Barry mendapat pengakuan dari orangtuanya, ia masih kecewa karna Barry dan Samuel membohonginya.


"Barry?? kamu belum menjawab pertanyaan Mama." tanya sang Mama sekali lagi memperhatikan Barry terfokus pada Dita.


"Ehm!! ya mah?? tadi Mama nanya apah?" tanya Barry menggaruk kepalanya.


"Mama nanya, bagaimana bisa kamu mengetahui ini semua dengan sempurna Barr...?"


"Ehm!! yang mama tuduh sebagai perusak hidupku, yang mama bilang karnanya aku jadi berbeda, Ehmmm!! Dita mah, Dita membantuku menemukan masa laluku." kata Barry tanpa minta izin langsung meraih tangan Dita dan menggenggamnya.


Dita terkejut melihat Barry langsung menarik tangannya. Ia tak sempat mengelak, membuat ia hanya bisa tertunduk.


"Hmm! baiklah, awalnya Mama kecewa merasa kamu berubah karna dia. Tapi, setelah dipikir-pikir, gadis ini membuatmu mengetahui siapa dirimu Barr, mungkin gadis ini ditunjuk untukmu karna sudah waktunya kamu tahu masa lalumu nak."


Barry sangat lega dan bahagia Mamanya kini berhati lembut padanya dan tak berprasangka tidak baik pada Dita.


"Oh, Mah... makasih banyak Mah. Aku sayang banget sama mama!!" Barry memeluk mamanya kembali. Sang mama hanya bisa menghela nafas dan menepuk punggung Barry dengan lembut.


Samuel dan sang ayah tersenyum lega.


"Kak Samuel juga sangat berperan banyak Mah, karna kakak juga ikut membantuku bertanya ke orang-orang tentang masa laluku."


"Oh Sam, ternyata kamu juga ada dibalik ini semua. Kamu senang jika adikmu ini bukanlah adik kandungmu??"


"Gaklah Mah, Sam hanya bertanggung jawab untuk membantu adik Sam yang ternyata tak sedarah denganku. Tapi, tenang saja! masih ada kejutan untuk Mama dan Ayah." jawab Samuel membuat kedua orangtua itu terbelangak.


"Maksud kamu Sam??" tanya sang Ayah heran.


"Ehmmm!!! itu, Barry, Barry adalah adik kandung Lyli Yah..." ungkap Sam berharap Ayah dan Mamanya itu senang.


"Apppah!!!?" kata sang Mama kaget.


"Hah..! kamu jangan bercanda Sam!!?" lanjut sang Ayah.


Barry menghela nafas lalu ia pun menceriterakan semuanya pada mereka.


Lagi, lagi waktu kembali berhenti. Kedua orangtua itu saling tatap, mereka tak menyangka kekasih anaknya yang sudah tiga tahun terakhir ini sering mengunjungi rumah mereka adalah kakak kandung dari anak bungsunya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.

__ADS_1


"Jadi, kalian sudah menyelidiki ini semua sampai ke desa Lyli???" tanya sang Mama setelah Barry menceritakan semuanya.


"Ia Mah, kebetulan Dita adalah adik angkat kak Lyli. Jadi, aku sempat ikut ke Desa Dita. Disana aku singgah kerumah kak Lyli dan disanalah aku melihat salah satu foto itu. Foto yang membuatku bertanya-tanya bagaimana bisa semua itu mirip denganku." lanjut Barry serius.


"Lagi-lagi gadis ini adalah petunjuk bagimu nak!!. Ehm, baiklah maafin tante ya nak sudah menduga kamu yang tidak-tidak...," sang Mama menyodorkan tanganya pada Dita.


Dita pun membalas jabat tangan itu dengan sopan.


"Tak apa tante, maafin Dita udah bikin kesan yang gak baik sama tante setiap ketemu tante dan om." kata Dita ramah dan tetap dengan posisi menunduk.


"Ia nak, makasih ya sudah maafin Tante dan Om. Siapa nama lengkap kamu?" tanya Bu sarah sangat ramah.


"Dita Anggreni Tante,"


"Owh, nama yang cantik." ucap Bu sarah.


Barry dan Samuel saling tatap, merasa lega akhirnya misi mereka selesai dan membuahkan hasil baik.


"Ehm!! Ayah Mamah, bersyukurlah karna walaupun Barry bukan anak kandung kalian, tahun depan Barry akan tetap jadi anggota rumah ini karna rencananya aku akan menikah dengan Lyli. itu artinya Barry akan menjadi adik ipar Sam.


Barry bergerak mendekati sang Mama dan memeluknya lagi.


"Gak papah kok mah, sebenarnya siapa pun orangtua kandung Barry, Mama akan tetap jadi Mama Barry. Barry sangat menyayangi Mama. Mama akan jadi mama terhebat di hidup Barry. begitu juga dengan Ayah. Barry janji akan tetap bersama kalian. Jadi, jangan takut jika kalian rindu Barry, Barry akan tetap ada."


"Oh anak Mama!!" sang Mama kembali meneteskan air mata haru. Sang ayah memandang Barry dengan sangat Bangga.


"Kamu memang anak yang luar biasa. Seandainya Ayah tahu jiwa mu sebesar ini. Ayah tak harus menyembunyikan ini dari dulu nak. Kamu lebih dewasa dari dugaan Ayah."


Barry tersenyum dan terharu atas ungkapan sang Ayah. Barry tak menyangka momen inilah yang sangat ia nantikan. Momen dimana orangtuanya mengakui masa lalunya dan memeluknya dalam ketulusan.


"Maafin Ayah dan Mama kamu yang akhir-akhir ini berubah kasar padamu. Ayah benar-benar minta maaf nak!!" sang ayah memeluk kembali Barry dengan begitu erat.


Aura alam bawah sadar Barry terasa, namun bukan nyeri dan sakit yang ia rasakan. Namun, rasanya alam bawah sadarnya terasa tenang dan damai. Rasanya aliran darahnya menari-nari sehingga membuat tubuhnya terasa segar. Kepalanya terasa sangat ringan, didadanya seakan di tumbuhi bunga-bunga yang bermekaran.


"Ahmmm!!! sudah ah terharu-terharunya. Lihat jam disana!" Sam menghela nafas dan menyuruh semuanya menghadap ke jam dinding yang tepat di atas Televisi.


"Hah! 23:15 Wib!!" Dita kaget melihat jam sudah berada di angka 11, ia tak menduga jika jam yang sebenarnya terasa berhenti itu malah berjalan lebih cepat. Bagaimana ia akan pulang dengan suasana larut malam seperti itu. Apalagi ia membawa motornya kerumah Barry.

__ADS_1


"Udah tak apa nak! kamu menginap disini saja." kata Bu sarah tak tega melihat wajah gelisah Dita.


"Ehm. Tapi tante....


"Udah gak papah dik Dita, kamu bisa tidur di kamar tamu, sebelah sana," tunjuk Sam kesebuah kamar yang tak jauh dari ruang tamu. Dita tak tahu jika rumah besar itu juga memiliki kamar tamu.


"Ia Dita, jangan khawatir ya, besok pagi aku antar kamu pulang." kata Barry.


Dita menundukkan kepala tanda ia bersedia.


Setelah mengobrol beberapa saat, mereka semua pun mulai lelah dan mengantuk. Dita berjalan menuju kamar yang sudah di sediakan untuknya.


Dita masuk kedalam kamar itu dan terkejut melihat isi kamar itu.


"Wow! kamar ini besar sekali. Kamar ini kayak kamar hotel!" gumamnya menuai decak kagum. Ia tak pernah menempati kamar sebagus itu sebelumnya. Kamar yang didalamnya lengkap kamar mandi, tempat tidur yang empuk dan bersih. terdapat meja dan AC dibagian dinding kamar.


"Jika kamar tamu saja seperti ini, berarti kamar Barry lebih besar dari ini.".gumamnya lagi setelah duduk di tempat tidur dan mengayunkan kakinya.


Tiba-tiba nada dering telepon genggam Dita berbunyi. Ternyata berasal dari Barry.


"Udah tidur Dit??"


"Hampir." jawab Dita singkat.


"Kamu marah padaku??"


"Rasain aja sendiri!"


"Maafin aku Dit...,"


"Kita perlu ngobrol besok!" jawab Dita langsung memutus sambungan telepon nya.


Walaupun masih merasa sedikit kesal atas kebohongan yang dilakukan oleh Sam dan Barry padanya, Dita sedikit lega karna akhirnya kedua orangtua Barry setuju padanya. Bahkan berubah 180 derajat setelah semuanya terungkap.


Dita masih merasa tetap harus menjaga jarak dengan kehidupan orang yang berada. Dalam benak Dita terlintas, jika keluarga kaya juga memiliki kisah kehidupan yang sulit dan rumit. Dita berpikir jika orang kaya tentu akan bahagia dengan segala fasilitas yang tersedia.


Dita hanya berharap kelak tak mau terlalu kaya jika bersama dengan Barry. Karna ia melihat Ibu dan Bapaknya didesa hanya biasa-biasa saja namun ia merasa sangat bahagia dan kedua orangtuanya tak menyembunyikan apa pun dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2