
Kakek yang bernama Nurdin itu mendekat pada Barry yang duduk sekitar 1 meter dari si Kakek. Jalannya yang sudah membungkuk memperlambat langkahnya. Sang kakek duduk tepat disamping Barry di kursi yang terbuat dari bambu.
Dita dan Samuel duduk berlawanan arah namun sama-sama menghadap Barry dan Sang kakek.
"Jadi, kamu kesini mau nanya siapa diri kamu sebelum kamu diangkat jadi anak di keluarga Anwar Brahmoto???" tanya sang Kakek setelah memperhatikan lama wajah Barry. Barry yang sedikit bingung membiarkan kakek itu melakukannya.
Barry kaget Kakek nurdin langsung pada topik utama.
"Apah kek...!!? kakek tahu siapa saya..!?
"Yah..., kepada sayalah dulu Ayahmu bercerita bagaimana kamu bisa diangkat jadi anak bungsu dikeluarganya." sambung kakek Nurdin santai.
Lalu si kakek pun menjeleaskan semuanya pada Barry dengan sangat detail.
Barry adalah anak yang ditemukan disebuah Stasiun Bus ketika berumur 3 tahun. Ketika itu pak Anwar dan bu Sarah baru pulang dari sebuah tempat dimana tujuannya adalah ingin berdoa agar di tambahkan rezeki. Kehidupan pak Anwar yang selalu pas-pas an membuat kedua orangtua itu harus melakukannya. Ditambah lagi ketiga anak mereka harus tetap sekolah dan perlu kebutuhan sehari-hari. Setelah berjumpa dengan Barry, saat itu juga pak anwar merasa bahwa Barry adalah jawaban atas doa mereka. Barry akan menjadi pembawa rezeki bagi kehidupan mereka. Barry kecil saat itu terpisah dari Ayah dan Ibunya ketika sedang berkunjung kesebuah pesta adat di kota. Namun ketika ingin kembali ke kampung halaman, saat di Stasiun, mereka malah kehilangan sang anak ketika si Ibu hanya meninggalkan sekejap saja ke toilet.
Barry yang menangis, memanggil ibunya. Ketika itulah pak anwar melihat Barry lalu membawa Barry pulang bersama-sama dengan mereka.
Menurut apa yang diketahui oleh sang kakek, selama Barry dibesarkan dengan kasih sayang dan menjadikan anak yang baik, rezeki akan selalu mengalir dikeluarga pak anwar. Semua itu terbukti, tahun demi tahun, pak anwar semakin sukses dengan pekerjaannya dibidang kontraktor. Bisnisnya dimana-mana selalu berjalan dengan lancar. Hingga tahun kedelapan saat Barry tamat sekolah dasar, saat itu pak anwar memutuskan untuk membeli rumah di Perumahan elit. Itulah rumah yang sampai saat ini masih ditempat oleh Barry dan keluarganya.
Mendengar penjelasan si Kakek, Barry terdiam, ia tak menyangka ternyata kenyataannya sangat menyakitkan. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi kecuali memegangi dadanya yang mulai sesak.
Dita memerhatikan sikap lain Barry dan mulai khawatir.
"Barr, kamu gak papa!??"
"Ehm, gak papa Dit..," jawabnya berusaha sedikit menahan.
"Nak Barry tak usah khawatir, nanti ketika semua sudah menjadi lebih baik, rasa sakit yang beberapa minggu terakhir ini kamu rasakan akan hilang dengan sendirinya. Pandai-pandailah mengontrol." nasehat sang Kakek membuat Samuel tercengang. Bagaimana bisa si kakek tahu semua tentang Barry dan tahu apa yang sedang Barry rasakan. Bahkan tahu apa yang akhir-akhir ini menimpa sang adik.
"Kakek kok bisa tahu semunya tentang adik saya...! bagaimana bisa..?"
Si kakek tersenyum menghela nafas panjang. "yah, begitulah. Kakek pun bingung kenapa bisa mengetahui ini semua. Tapi, kakek merasa mungkin saya dipilihkan untuk membantu kalian.
"Kenapa kakek baru kasih tahu ini semuanya sekarang, kenapa gak dari dulu. Kan dulu Barry sering main kesini buat jajan." tanya Samuel lagi.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin.., saat itu Barry masih kecil. Tentu akan sulit memahami apa yang saya beritahu. Jadi kalau sekarang kan, anak ini sudah dewasa, bahkan sudah memiliki kekasih yang cantik dan setia, jadi sudah lebih matang dalam memilih keputusan dan mengatasi masalah." jelas kakek membuat Dita tersipu malu. Samuel menggeleng-geleng kepala merasa takjub akan pengetahuan si kakek.
"Kakek luar biasa..," jawabnya.
Kakek Nurdin hanya menganggukan kepala, lalu memerhatikan Barry yang masih berusaha agar ia bisa mengontrol dirinya.
"Bagaimana nak, apakah masih sakit, dan carilah cara agar kamu bisa mengontrol itu dengan mudah. Kamu butuh kosentrasi dan perasaan tenang dalam mengatasinya."
Barry memandang si kakek, lalu memandang Dita yang jelas begitu mengkhawatirkan dirinya seakan berbisik untuk merasa lebih tenang.
"Saya bisa mengontrolnya kalau ada Dita Kek, melihat Dita saya merasa perasaan saya lebih tenang. Apalagi kalau Dita menyentuh tangan saya ketika sedang seperti ini. Rasanya perlahan sakitnya mulai hilang."
"Benar sekali Kek, kata Barry, sudah 2 kali Dita menyentuh tangannya ketika Barry tak bisa mengontrol dirinya. Nah, pas ada Dita, Barry perlahan membaik Kek." ucap Samuel memperjelas pemahaman si kakek bahwa Dita adalah gadis yang juga membawa keberuntungan untuk Barry.
"Kamu tidak memilih gadis yang salah Nak. Saya melihat bahwa Dita memang akan menjadi jodohmu kelak. Percayalah..," kata kakek tersenyum.
"Kakek jangan memuji saya seperti itu. Saya hanya ingin yang terbaik untuk Barry."
Si kakek ersenyum, namun ia memandang kearah Samuel yang juga ikut tersenyum. Beliau tahu bagaiamana sifat Samuel. Si kakek menghela nafas, seakan tak ingin memberitahukan apa yang ia tahu. Namun setelah berpikir keras, si kakek memutuskan untuk memberitahukannya.
Sam terkejut ditanya tentang hal kehidupan pribadinya. Sam merasa bingung dan bertanya-tanya dalam hati.
"Ehm, ada kek. Doain aja tahun depan kalau Barry udah wisuda, Sam akan menikahi wanita pilihan Sam." jawab nya malah sangat jujur. Padahal ia belum memberitahukan rencananya itu pada siapapun termasuk Barry.
Barry terkejut, " Kok gak bilang-bilang kak..,?" katanya polos.
"Ah masih hanya rencana..," jawab Sam tertawa.
"Semoga kamu tidak merusak rencanamu dengan sikapmu nanti nak..," ucap si kakek membuat Samuel terdiam. Ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh kakek Nurdin. Bahkan Barry dan Dita juga saling tatap-tatapan.
"Ia nak, hanya itu yang bisa saya sampaikan. Kamu harus bisa menerima keadaaan bahwa Barry bukan adik kandung kamu."
"Ah... kalau itu, saya terima itu kok Kek. Bagaimana mungkin saya bisa ada disini bersama mereka kalau bukan karna saya ingin yang terbaik untuk Barry. Mengetahui Barry bukan adik kandung saya, bukan berarti menghilangkan rasa bahwa saya sudah menganggap Barry adik saya seperti biasanya. Saya mendukungnya." jawab Samuel dengan tegas dan percaya diri.
"Dukung lah sampai tuntas." lanjut sang kakek.
__ADS_1
"Baik Kek." jawab Samuel.
Dita dan Barry seakan tahu apa yang dimaksud oleh sang Kakek. Barry tahu maksud ucapan si kakek adalah bagaimana sikap Samuel nantinya jika tahu bahwa dirinya adalah adik kandung dari kekasihnya. Dan bagaimana sikap Lyli sang kekasih nantinya pada Sam mengetahui bahwa Barry adalah adik kandungnya.
Apakah Samuel masih akan mendukung Barry atau malah kembali membenci dirinya seperti dulu. Dan apakah ia masih bisa menerima Lyli.
Hari semakin gelap, Obrolan mereka belum juga selesai. Ningsih anak bungsu si kakek pun sudah menutup seluruh jendela agar angin malam diluar tidak masuk kedalam.
"Jadi Kek, apakah Ayah saya akan memberitahukan yang sebenarnya pada saya tentang masa laluku yang tersembunyi ini..?" tanya Barry perlahan mulai mengatur pernafasannya.
"Tergantung, jika kamu tidak menuruti apa yang mereka mau, mungkin saja kekesalan pada diri Ayah dan Mama mu perlahan akan membuat mereka tanpa sengaja akan memberitahukannya."
"Yah, kakek benar. Akhir-akhir ini memang Ayah dan Mama terlalu banyak melarangku ini dan itu, mereka kesal karna aku tidak selalu menurutinya. Hingga beberapa kali aku melihat mereka sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Itu sebabnya perlahan aku mulai mencari tahu."
"Itu suatu petunjuk bahwa kamu lambat laun akan mengetahui semuanya."
"Aku hanya berharap, jangan sampai kelak Ayah dan Mama melarangku bertemu dengan orangtua kandungku dan tidak menjauhkanku dari mereka."
"Yah, kita semua mengharapkan itu nak." jawab Sang kakek, lalu kembali mereka sama-sama terdiam.
Melihat jam sudah pukul 21:00 Wib. Dita menghela nafas merasa jika sudah harus menyudahi obrolan dan kembali pulang.
"Kalau begitu Kek, kami pamit untuk pulang ya..., terimakasih atas info dan penjelasan dari kakek. Kakek sangat luar biasa." ucap Dita beranjak berdiri. Melihat Dita sudah berdiri, Barry dan Sam mengikutinya.
"Betul sekali Kek, sebenarnya ingin kami berlama-lama disini. Namun, hari semakin malam, kami harus pulang Kek." lanjut Barry.
"Ia Kek, kakek harus tetap sehat ya.., harus rajin makan. Terimakasih atas waktunya Kek." sambung Samuel.
Sang Kakek tersenyum ramah. Ia menyambut tangan ketiga pemuda yang memberinya jabat tangan.
Sang Kakek lega akhrinya setelah sekian lama menunggu agar Barry datang mengunjunginya pun terwujud. Waktu tak pernah bilang terlambat ataupun terlalu cepat. Semua waktunya tepat sesuai ketentuan Yang Maha Kuasa.
Sang Kakek melambaikan tangan pada Mobil yang sudah berputar haluan didepannya dengan berdiri sedikit membungkuk. Ningsih yang menemani sang Ayah juga melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Hati-hati....!" teriaknya setelah Mobil merah itu mulai menghilang dari halaman rumah.
__ADS_1