Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Mencoba memberi tahu


__ADS_3

Bu Sarah terbangun dari tidurnya, ia melihat jam dinding dikamar sudah menunjukan pukul 06:14 Wib. Bu sarah terbangun karna sejak tadi malam taj bisa tidur karna sudah dua hari ia tak melihat anak bungsunya.


Sedangkan Pak Anwar masih tidur pulas karna sudah larut malam ia menunggui Sam yang katanya pergi mencari adiknya malah tak pulang juga.


Bu Sarah bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya. Bu Sarah menengadah kearah kamar kedua anaknya, bertanya dalam hati apakah mereka sudah pulang atau belum.


Bu sarah pun mengecek kamar tersebut, namun nihil. Tak ada Barry atau pun Samuel didalam kamar. Itu artinya mereka sama-sama tidak pulang.


"Kemana sih mereka?? kenapa Sam malah ikut gak pulang kerumah." gumam Bu sarah dengan sedih. Ia tak tenang memikirkan hal itu.


Bu sarah berbalik bermaksud turun kembali kebawah dan menuju pintu bagian rumah depan.


"Apakah Saya sudah keterlaluan kepada Barry sampai-sampai mereka membenci saya?. Mungkinkah jika aku melarang Barry ini dan itu, akibatnya seperti ini. Apakah Ucapan Pak Rudi tentang rezeki dan suasana rumah ini tenang atau tidak, tergantung pada Barry bersama kami atau tidak..."


Bu sarah menghela nafas setelah tiba didepan rumah. Ia membuka pintu dan menatap suasana komplek yang masih sepi. Pagi masih sedikit gelap, Bu sarah duduk di kursi teras.


Tiba-tiba sebuah mobil mendorong pagar besi rumah itu. Lalu mobil berwarna putih milik Samuel memasuki garasi.


Bu sarah menoleh kearah mobil itu merasa yakin jika itu adalah Samuel. Namun jauh didalam hatinya, ia berharap Sam pulang bersama sang adik.


Samuel pun keluar dari mobil itu bersama dengan Barry yang diam dan tertunduk.


"Samuel....? Kristian Barry....?" ucapnya tercengang senang.


"Mah....!!" kata Barry langsung menghampiri sang Mama bahkan memeluk erat tubuh Mamanya itu.


"Tian....,?" ucap sang mama membalas pelukan itu lebih erat.


"Maafin Tian mah.., maaf udah gak pulang dua hari kerumah." kata Barry.


"Mama rindu kamu nak...! maafin mama juga udah terlalu kelewatan pada kamu. Maafin mama udah marah-marah dan melarang kamu ini itu. Janji sama mama jangan pergi dari rumah lagi....," Bu sarah menatap Barry dengan penuh penyesalan dan seakan tak ingin jauh dari sang anak lagi.


Barry terdiam mendengar ucapan sang mama yang ternyata malah tak bisa jauh darinya. Bagaimana mungkin Barry bisa menjelaskan pada mamanya jika ia malah ingin memilih untuk tinggal bersama orangtua kandungnya.


Sam menatap Barry seakan tahu apa yang dipikirkan oleh adiknya itu. Ia menghela nafas seakan mengatakan jangan khawatir.


"Ayo masuk kedalam..., kalian udah sarapan??" ajak sang mama dengan menarik bahu Barry masuk kedalam rumah.


Sang Ayah yang sudah mendengar ada obrolan juga keluar dari kamarnya.


"Sam...? Kristian Barry...?? kalian baru pulang??" tanyanya masih mengusap mata.


"Selamat pagi Ayah." Sapa keduanya sambil menunduk.

__ADS_1


"Duduk dulu," kata Sang Ayah datar, mengarahkan keruang tamu.


Mereka semua pun duduk disana berhadap-hadapan seakan sang ayah ingin menginterogasi mereka.


Sam dan Barry saling tatap saat menunggu sang Ayah mengusap matanya dengan air putih yang diberikan oleh Bibi.


"Jadi, Sam kenapa kamu malah pulang pagi-pagi seperti ini??? bukankah Ayah menyuruhmu mencari Barry semalam?"


Sam tersentak malah ditanya pertama kali oleh sang Ayah. " Ehm-mm! maaf Yah," jawab Sam menunduk. Ia sudah berusaha bersikap merendah karna sudah dibujuk oleh Barry untuk tidak emosi ketika menjelaskan alasan mereka pulang dipagi hari.


"Kamu nemuin Barry dimana??"


"Ehm-mm dirumah temennya Yah."


"Siapa!???"


Sam dan Barry saling tatap mencari jawaban.


"Ehm, sebenarnya gini...! Sam menemui Barry dirumah pacar Barry, Lyli Yah."


Barry terkejut Samuel langsung jujur perihal masalah itu. Barry tak tahu Sam senekad itu.


Kedua orangtua mereka kaget mendengar jawaban Samuel.


Barry menghela nafas, jika Sam bisa nekad, itu artinya ia juga bisa. "Ah, lihat reaksi Ayah dan Mama saja."ucapnya dalam hati.


"Ehmm, karna Lyli itu kakak kandung aku Yah, jadi wajar saja aku pergi kerumah kakak kandungku ketika aku mau." jawab Barry menghelas nafas.


Kedua orangtua itu saling tatap. Waktu seakan terhenti dan langsung menusuk hati mereka.


"APPAHH...!!??" tanya sang Mama tercengang. Mereka tentu tak menduga apa yang diucapkan oleh Barry.


"Apa maksudh kamu soal kakak kandung Tian...!?" tanya sang Ayah meninggikan nada bicaranya.


"Barry yang seharusnya bertanya pada Ayah dan Mama...??? APAKAH AKU ANAK KANDUNG KALIAN APA GAK???"


Sang Ayah langsung melangkah menghampiri Barry yang ada tepat didepannya.


PLAAKK...!!


"Diam kamu....!!!" satu tamparan dengan cepat melayang di pipi Barry.


Tentu Sam tak membiarkan hal itu dan langsung berdiri membela sang adik.

__ADS_1


"AYAH...!! CUKUP...!" katanya menatap tajam dengan penuh emosi. Ia sudah tak bisa mengontrol dirinya melihat satu tamparan melayang pada Barry.


"Kalian tahu apa soal itu...!! Kamu jangan mengada-ada Tian. Kamu karna lari dari rumah jadi merasa anak pungut gitu....!!"


Barry yang awalnya menunduk merasa sang Ayah masih saja tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya.


"Ayah, aku udah tahu yah kalau aku bukanlah anak kandung Ayah dan Mama. Aku hanya mau pengakuan kalian saja gak lebih kok." kata Barry membujuk sang Ayah agar tidak emosi lagi.


"Udah lah Barr, kamau kayak gak tahu Ayah aja.., yang penting sekarang Ayah dan Mama sudah tahu jika ternyata Barry tahu siapa dirinya sendiri tanpa harus kalian....


PLAK...!!!


Satu tamparan berasal dari sang Mama tepat di pipi Samuel membuat Samuel tak dapat melanjutkan ucapannnya.


"Aku benar kan Mah..., kenapa harus ditampar!!" tanya Sam kaget langsung memegangi pipinya.


"Kamu jangan jadi kurang ajar Sam, dari dulu kamu selalu tidak pernah sopan!. jaga bicaramu sama orangtuamu!!" kata sang Mama sangat marah. Kemarahan seperti itu baru pertama kalinya di rasakan oleh Sam dan Barry.


Samuel terbelangak kaget melihat reaksi mamanya sendiri. Akhrinya Samuel terdiam, ia melihat Barry juga sudah seakan kehabisan kata. Sepertinya mereka salah mengambil sikap dan situasi.


"Ayah gak mau ini terjadi lagi! Ayah harap hal ini jangan dibahas lagi. Dan, kamu Tian, jangan pernah berpikir lagi jika kamu bukan anak kandung dirumah ini!!. Dapat pemikiran dari mana sih kalian bisa sama-sama berpikir seperti itu..!" kata sang Ayah tak ingin memandang kedua pria muda yang jauh lebih tinggi darinya.


"Ia, Ayah kalian benar..., jangan pernah berpikir seperti ini lagi. Kalian jangan sampai melewati batas. Apa sih yang kurang pada kalian selama ini hah...! kalian kurang kasih sayang??? GAK kan...!!" lanjut sang Mama mengungkapkan kekesalannya.


Barry dan Samuel tertunduk, mereka benar-benar kehabisan jawaban.


"Kamu lagi Sam!! umur sudah 27 tahun..., dan sikap kamu masih seperti ini." lanjut sang Ayah seakan kecewa.


"Ayah memarahi kalian supaya bisa bersikap bijaksana dalam bertindak, berpikir dan memilih, bukan seperti ini. Ayah mendidik kalian sama seperti kedua saudara kalian yang merantau jauh negeri orang dan di kota orang. Mereka bisa bersikap lebih baik! kenapa kalian gak...." lanjut sang Ayah lagi.


Sam berbisik pada Barry seakan mengisyaratkan sesuatu.


Barry ternyata menangkap isyarat itu dengan baik. Mereka saling menatap lalu kembali tertunduk.


Melihat sikap kedua anaknya malah memilih diam, sang Ayah menghela nafas panjang.


"Ah sudahlah!! kalian Ayah anggap sudah mengerti. Pergi kekamar dan mandilah." kata sang Ayah meninggalkan mereka dan masuk kekamar.


Sang Mama mengikuti Pak Anwar, namun ia terhenti dan menoleh kearah Samuel.


"Kamu gak kerja??"


"Sengaja libur, lagian kalau mau kerja jam segini tentu udah telat." jawab Sam sedikit cuek.

__ADS_1


"Hmmm..." kata sang mama lalu meninggalkan mereka.


__ADS_2