
Barry kembali kerumah setelah berpamitan dengan Dita didepan Komplek perumahan tempat ia tinggal. Barry sebenarnya ingin mengantarkan Dita pulang dengan mobilnya. Namun Dita menolak karna akan semakin ribet karna Dita memakai motornya dan biaa pulang sendiri.
Barry memasukan motor gedenya kedalam garasi lalu berjalan dengan bahagia masuk kedalam rumah. Ia terkejut Ayah dan Mamanya memandanginya dengan tajam. Sepertinya kedua orangtuanya mendengar Barry memarkirkan motornya.
"Darimana Tian,??" tanya Ayahnya seperti menginterogasinya.
"Dari rumah temen Yah, kenapa mandangnya gitu banget Yah??" tanya Barry heran.
"Sini duduk dulu," lanjut Ayahnya menyuruh Barry duduk di sofa bersama dengan Mamanya. Barry menurut dan duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya itu.
"Ada apa sih Yah, bikin aku jantungan aja,?" tanya Barry kembali.
"Ngapain kamu nitip motor kamu di Pos Satpam?"
"Ehmm-mm itu, tadi main sama temen Yah, jadi naik motor temen. Malas balik kerumah, jadi Barry titip disana."ucapnya. Ayahnya menatap tajam anaknya itu.
"Perempuan??" tanya Ayahnya membuat Barry terkejut. Namun ia berusaha tenang menyikapi. Sepertinya orangtuanya mulai menanyakan hal yang terlalu pribadi.
"Ia Ayah,"jawabnya singkat. Mamanya seakan memandang Ayahnya dengan bahasa tubuh.
"Tuh kan, Pa! Barry sekarang udah mulai berteman dengan gadis yang salah."
"Maksud Mama gadis yang salah siapa Mah..?"Barry kesal dengan ucapan sang Mama.
"Tadi ada yang bilang sama Mama, kalau kamu pergi sama gadis sambil bawak-bawak barang di dalam karton gitu."
"Owh, ia Mah. Memang Barry tadi bantuin dia antar barang ke daerah sini."
__ADS_1
"Gak pacar kamu kan??" tanya Mamanya lagi membuat Barry tidak langsung menjawab. Ia malah mengalihkan pembicaraannya.
"Ehm. Aku mandi dulu deh Mah, Bau banget badan aku. Keburu malem." Barry beranjak berdiri sambil menciumi badannya.
Ayah dan Mamanya saling pandang, membiarkan Barry naik kelantai dua menuju kamarnya.
"Aku yakin, kalau bukan hanya temen, ngapain Tian bantu gadis itu Pah?" cerutu Mamanya.
"Tapi, udah lah Mah, Kristian Barry itu udah gedde, Masa sih dilarang-larang kalau dia punya temen perempuan." Ayahnya terlihat ling-lung. Kadang ia membela pendapat isterinya, kadang juga membela anak bungsunya itu. Ayah Barry adalah tipe Ayah yang tak pandai mengambil keputusan jika mendengar pendapat dari lawan bicaranya. Ayahnya paling tak bisa membantah pendapat orang lain termasuk anak-anaknya. Kadang hal itu membuat isterinya jengkel terhadapnya.
"Papah gimana sih, tadi katanya mau kasih tahu Tian supaya mempertimbangkan pertemanananya sama gadis yang tak jelas itu. Kok, sekarang malah bilang, udahlah sih.!"Mamanya sangat kesal.
"Tapi Mah, Liat Tian, Apa gak Mama liat anak itu sudah besar sekarang. Udah dewasa, ia berhak berteman dengan siapa saja."
"Tapi kan, Liat-liat dong, Tian anak emas kita Ayah. Jangan sampai dia bergaul dengan orang yang salah dan kita terkena imbasnya." Mamanya menekan nada bicaranya dan menurunkan volume suaranya, agar tak ada yang mendengar selain mereka berdua.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang." tanya sang suami sembari memerhatikan ke atas, mengarah ke kamar Barry memastikan Barry berada didalam kamar dan tak mendengar ucapan mereka.
"Kita bahas di kamar saja, sepertinya Samuel sudah pulang, bunyi mobilnya sudah masuk kedalam garasi." potong Mamanya mendengar suara disamping rumah mereka. Tentu itu adalah Samuel, anak ketiga mereka. Baru saja mereka beranjak berdiri, Samuel sudah tiba didepan pintu dan melihat kedua orangtuanya itu.
"Sam, pulang Mah, Ayah,!" ucapnya seakan sudah sadar ada kedua orangtuanya.
"Udah pulang nak, langsung mandi gih, udah malem." jawab Mamanya dengan ramah.
"Ayah dan Mama kamu udah bosen disini dari tadi santai, menikmari sore, sekarang udah malam. Kami masuk kamar dulu." lanjut Ayahnya.
"Owh, Baiklah Ayah. Sam naik dulu."ucapnya lalu berjalan menuju tangga.
__ADS_1
Kedua orangtua itu pun memasuki kamar mereka. "Jadi, Apa yang harus kita lakukan sekarang Mah,?" kembali sang suami bertanya perihal anaknya itu.
"Menurut Mama sihh, cuma satu. Tian harus tetap mengambil S2 di London bersama Dimas. Nantinya disana Tian pasti bertemu dengan jodohnya. Lalu, ketika balik kesini, mereka akan menikah. Tentu jodohnya bukanlah dari orang-orang dari sini, bukan dari daerah kita ini Pah."Mamanya memberi usulan yang masih harus di cerna oleh sang suami. Ayah Barry masih berpikir lama untuk menanggapi hal itu.
"Gimana Yah,?? tanya sang Istri melihat suaminya sangat lama menjawab.
"Ehm, tapi kita kan tahu Mah, Barry gak mau kesana. Anak itu tipe yang jika sekali tidak, tetap gak akan mau."
"Ia sih Pah, cuma mau gimana lagi."
"Aku takut, nanti Barry bisa sakit jika kita memaksakan kehendak kita. Mama kan tahu, terakhir kali kita memaksanya untuk Kuliah disana tiga setengah tahun yang lalu, Tian malah jatuh sakit."
Jelas sang suami membuat Mama Barry itu tertunduk, mengingat kejadian itu.
Ketika Barry beberapa kali menolak hingga akhirnya jatuh sakit dibagian lambungnya. Hal-hal kecil seperti itu sudah sering terjadi sejak Barry kecil. Jika tak dibelikan Sepatu kesukaannya, Barry tiba-tiba mimisan. Jika Mamanya menolak untuk membantu tetangga, tapi Barry sudah menyuruh Mamanya untuk membantu, Barry tiba-tiba sakit perut dan muntah-muntah. Namun seiring berjalannya waktu, setelah Barry kuliah, hal itu mulai jarang terjadi. Membuat Kedua orangtua itu, kadang lupa akan kelebihan dan kekurangan anak bungsunya itu.
Barry jug sudah semakin dewasa, jadi i tak pernah menuntut Ayah dan Mamanya yang aneh-aneh.
"Jadi, gimana Mah,?" tanya Ayahnya mematahkan lamunan sang Isteri.
"Ehm, kalau begitu, Sudahlah Pah, Biar waktu aja yang menjawab. Yang penting kita selalu was-was dan tetap memerhatikan Tian dengan baik. Mungkin kegelisahan Mama selama ini yang bikin Mama berpikir terlalu jauh dan malah jadi semakin rumit." sang istri menghela nafas panjang. Meremas kedua tangannya berusaha menetralkan hati dan pikirannya. Ayah Barry berusaha membantu dengan menepuk punggung isterinya itu dengan lembut.
"Selama ini, Mama udah jadi ibu yang baik kok buat Tian, Jadi tentu anak itu akan menghormati kita lebih dari yang kita bayangkan. Anak itu anak baik, kita didik dengan baik dan memberinya Kasih dan sayang. Apa yang kita dapatkan selama ini, setimpal dengan apa yang kita beri kepadanya."
"Ia Pah, Mama sangat menyayangi Kristian Barry, Mama hanya tak ingin kehilangannya. Mama ingin bersamanya sampai Mama tiada. Ingatkan Mama Pah, jika mama terkadang terlalu egois dan gelisah akan masa depannya.
"Yang perlu Mama perhatikan juga, Sam. Sam dari dulu sering iri padanya. Jadi Mama harus pandai menyikapi sikap cemburu anak kandung kita itu. Jangan sampai hal itu membuat Sam dan Barry berantem terus. Sam semakin dewasa dan tentu suatu saat jika kita jelaskan, Ia juga akan memahami situasi semuanya."
__ADS_1
"Biarkan saja Pah, biasa kok saudara seperti itu, Mama yakin, Sam juga menyayangi adiknya itu. Hanya saja ia malas menunjukannya. Sam kan udah tipe nya seperti itu sedikit egois dan tempramental tinggi, sama seperti Kakeknya, Ayah kamu dulu. Barry itu anak emas, tentu auranya tidak akan membuat Sam membenci Barry sampai dalam." jelas sang istri membuat Ayah dari keempat anak laki-lakinya itu menganggukan kepala, merasa Istrinya sangat membantunya menyimpulkan permasalahan dengan baik.