
Barry tampak semangat untuk bangun pagi. Ia melihat cahaya pagi dibalik jendelanya begitu cerah. Suasana hatinya yang kini sudah lega membuatnya menatap keluar jendela dan berdiri disana.
"Baru sadar, langit dipagi hari begitu indah walau matahari membuatnya sedikit tertutup.
Tiba-tiba ia teringat pada Dita yang kini sedang berada dirumahnya. Terlintas dibenaknya untuk keluar kamar dan melihat apakah Dita sudah bangun apa belum. Barry berjalan menuruni anak tangga lalu berpura-pura menuju dapur.
Namun ternyata malah Dita ada didapur dan sedang asyik membantu bibi masak. Barry bersembunyi dibalik tembok agar Dita tak melihatnya.
"Hah! ngapain Dita bantuin bibi masak??" tanyanya terkejut.
"Kapan anak itu bangun??" gumamnya malah Barry senyam-senyum. Barry merasa kagum melihat sosok Dita yang selalu membuatnya jatuh hati setiap saat.
"Ternyata Dita pribadi yang sederhana dan sepertinya ia pandai memasak. Aku suka wanita yang pandai memasak!." gumamnya lagi memerhatikan Dita yang asyik mengobrol dengan bibi sembari mengajari si bibi memasak menu sarapan pagi.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Barry membuat pria berumur 22 tahun itu kaget dan langsung menoleh.
"Astaga!! Mama!?" katanya menekan volume suaranya.
"Kamu ngapain ngintip-ngintip begitu, lihatin siapa?" tanya sang Mama penasaran.
"Ehm, itu mah, Dita lagi memasak sama Bibi. Gak enak ganggu, jadinya lihat dari sini." jawab Barry mencari alasan.
Sang Mama pun memerhatikan Dita yang asyik memasak dan tampak sangat ramah dengan si bibi. Bu sarah merasa kagum dan senang akan sikap kekasih anak bungsunya itu.
"Wah, gadis itu bangun lebih cepat untuk membantu bibi masak. Mama suka gadis itu nak!" puji sang Mama membuat Barry lega dan senang.
"Ia Mah! Barry juga." jawab Barry lalu mengajak sang mama menemui Bibi dan Dita ke dapur.
Dita terkejut melihat mereka menghampirinya dan langsung menunduk.
"Ehm! maaf Tante, Dita terbiasa bangun pagi cepat jadinya Dita bantuin Bibi memasak."
"Gak papah nak, kamu pandai memasak??" tanya sang mama dengan raut wajah senang.
"Ehm....
Belum selesai Dita menjawab tapi si Bibi langsung memotong pembicaraan.www q
__ADS_1
"Ia Bu, nak Dita ini sangat pandpandai Bsdlai memasak!. Ini masakannya baru saja selesai. Bibi dari tadi diajarin nak Dita, rasanya sangat enak Bu!" puji Bibi dengan semangat menunjukan hasil masakan yang dibuat oleh Dita.
Dita tersipu malu dan tertunduk dan Barry menatapnya dengan penuh rasa suka.
"Baiklah berarti kita bisa makan bersama." ucap sang Mama.
Mereka pun mempersiapkan sarapan pagi bersama. Tercipta kekompakan dan keharmonisan disana. Barry sangat bahagia melihat Mamanya dekat dengan Dita. Barry merasa lega setelah semua yang ia perjuangkan, mamanya masih tetap menyayanginya. Sang mama masih tetap seperti sebelumnya, masih peduli dan menganggapnya seperti anak bungsunya.
Mereka pun makan bersama termasuk Sam dan sang Ayah.
Makan bersama itu sudah jarang terjadi, Barry memerhatikan dengan bersyukur bisa berkumpul di meja makan bersama keluarga yang ternyata ia bukanlah darah daging sang Ayah.
Sam juga merasakan hal yang sama, ia bangga pada kedua orangtuanya yang masih tetap bisa tertawa walaupun sudah tahu jika anak bungsunya mengetahui siapa dirinya.
"Ehm Barr, kamu enak ya kamu melangkahi aku bisa membuat Dita makan bersama dengan kita. Sementara aku udah tiga tahun bersama dengan Lyli belum pernah membawanya makan di meja ini." ucap Samuel bercanda.
Barry berpikir apa yang dikatakan oleh sang kakak ada benarnya juga. Mereka semua malah tertawa.
"Yah, aku hanya bercanda." ucap Samuel.
"Ngomong-ngomong soal Lyli, Ayah sempat mendengar jika orangtuanya adalah Ayah dan Mama kandung kamu Barr?. Apakah Lyli sudah tahu masalah ini??" tanya sang Ayah membuat Barry berhenti memasukan nasi kemulutnya.
"Kamu sudah yakin jika keluarga mereka adalah keluarga kandungmu??" tanya Pak anwar ragu.
"Kak Lyli sudah tahu Yah, cuma kalau langsung ke keluarga nya, belum Yah."
Sang Ayah terdiam sejenak, ia juga berhenti memasukan nasi kemulutnya. Ia menghela nafas setelah memandang sang isteri.
"Bagaimana, jika Kita semua kerumah kedua orangtua kandungmu. Kita buat acara keluarga bahwasannya kamu sudah kembali kepada mereka."
Mendengar perkataan sang Ayah, Barry begitu bahagia. Ia tak menyangka dibalik Ayahnya yang malah awalnya bersikeras menutupi masa lalunya kini memberinya pilihan yang sangat ia syukuri.
"Oh! benarkah Ayah...., makasih Ayah. Ayah sangat baik!!" jawab Barry melipat tanganya didepan sang Ayah.
Mereka semua saling pandang, semuanya tampak setuju atas apa yang disarankan oleh Pak anwar.
"Sekalian, kami juga mau minta maaf, selama ini sudah menjauhkanmu dari orangtua kandungmu nak, Mama merasa inilah saatnya kamu melihat kedua orangtua kandungmu." lanjut sang Mama.
__ADS_1
"Baik Mah! Barry sangat bahagia. Kalian yang terbaik." kata Barry memuji.
Kedua orangtua itu kembali saling menatap. Mereka sudah berdiskusi begitu lama dikamar sampai tidur larut malam. Keputusannya, apa pun yang terjadi ketika mereka mempertemukan Barry kepada kedua orangtuanya akan diterima. Walaupun kenyataannya, merekalah yang sangat bersalah pada saat kejadian itu.
Ketika itu, Mereka sebenarnya diam-diam memanggil Barry kecil ketika ibunya sakit di stasiun Bus. Bahkan sebenarnya 10 tahun kemudian ketika Barry duduk dibangku kelas satu SMA, kedua orangtua kandung Barry mendatangi rumah mereka dengan alasan mencari tahu soal keberadaan anak mereka yang hilang.
Pak Anwar dan Bu Sarah menjawab jika Barry adalah anak kandungnya. Orangtua kandung Barry yang mendapat informasi dari mulut kemulut jika keluarga Anwar Septian, memiliki seorang anak angkat yang persis seusia anak mereka yang hilang. Mereka kecewa dan hilang semangat mendapat jawaban jika anaknya tidak berada dirumah itu dan salah alamat.
Sepasang suami istri itu pun pulang dengan tangan kosong. Padahal seluruh kampung sudah tahu jika mereka pergi ke kota untuk menjemput anak kandung mereka yang hilang.
Padahal ketika keluar dari rumah itu, pasangan itu melihat Barry remaja baru saja pulang sekolah.
Sang isteri memandanginya dengan seksama, dan rasanya benar jika itu adalah Valentino anak mereka yang hilang. Anak itu sangat mirip pada kakaknya yang bernama Reno.
Saat itu juga Barry memerhatikan Ibu dan Bapak yang memandanginya, bahkan Barry masih memberi senyum kepada mereka karna Barry merasa jika mereka adalah tamu dari sang Ayah.
"Kapan kita kesana Yah...?" tanya Barry memecah pandangan kedua orangtuanya.
Sang Ayah sedikit kaget atas pertanyaan itu.
"Ehm, terserah kalian saja." jawab sang Ayah.
"Bagaimana jika hari Minggu???" usul Samuel semangat.
"Ia Yah, kan kalau hari biasa, Kak Sam kerja begitu juga dengan kak Lyli dan Lagian Dita rencananya ikut juga. Hanya di hari itu kita semua libur." lanjut Barry..
"Baiklah, Hari Minggu." ucap sang Ayah.
Semua setuju, lalu mereka pun melanjutkan memakan hidangan sarapan pagi buatan Dita.
"Hmm!! enak sekali..." kata Barry memandang Dita.
"Yah, enak sekali masakan ini..." lanjut sang Ayah.
"Itu masakan khas di Desa kami Om," jawab Dita tersenyum.
"Wah, berarti Ibu aku juga akan masakin aku seperti ini. Aku sudah tak sabar bertemu dengan mereka!!." kata Barry sangat semangat.
__ADS_1
Sang Ayah dan Mamanya kembali saling pandang. Mereka tak tahu apakah orangtua kandung Barry masih mengingat mereka atau tidak.