Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Panik


__ADS_3

Mereka pun tiba di rumah sakit dalam waktu 10 menit. Samuel memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu ruang Instalasi Gawat Darurat. Dengan sigap Samuel membuka pintu mobil dan berlari menuju IGD untuk memanggil suster agar membantunya membawa adiknya itu kedalam ruangan.


"Suster..! Sus!!! tolong, ada pasien butuh pertolongan cepat!!" teriaknya melihat beberapa perawat yang sedang berdiri di ruang IGD tersebut.


"Baik Pak!!" dengan sigap para suster itu pun mengikuti Samuel menuju mobil dengan membawa tandu roda menuju mobil. Samuel melangkah dengan cepat dan ikut membantu sang Mama yang selalu panik dengan kondisi Barry yang masih saja belum sadarkan diri.


"Minggir sedikit Mah, biar Sam bantu susternya mengangkat Barry." kata Sam meraih tubuh tak berdaya Barry dari pangkuan sang Mama. Ayahnya sudah langsung berlari keruang IGD untuk bertemu dengan dokter yang akan menangani anak bungeunya itu.


Setelah dibaringkan di atas tandu. Suster bersama dengan Samuel mendorong tandu itu menuju ruang IGD agar segera di periksa. Sang mama mengikuti mereka dengan panik.


"Langsung ditangani kan Sus..! tolong sedikit lebih cepat!" kata Bu Sarah tak ingin anak bungsunya itu ditangani dengan terlambat. Suster itu mengangguk mendengar ucapan Bu Sarah.


Mereka pun tiba di ruang IGD. Dengan cepat dokter menoleh kearah pasien baru tersebut. "Baik !! langsung bawa keruang pemeriksaan!" perintah sang dokter kepada para suster. Dengan cepat Tandu itu didorong ke sebuah ruangan, dimana disana Barry akan diperiksa. Samuel dan sang mama ikut mengikuti mereka namun, dokter melarang.


"Mohon maaf Bu, Pak, kalian tak perlu ikut kedalam. Sebaiknya, kalian tunggu saja diluar ruangan. Nanti jika sudah mendapatkan hasil akan saya beritahu." lalu dokter pun menutup pintu ruangan itu dengan rapat dan tak mengijinkan Samuel maupun orang tuanya untuk masuk ke dalam.


"Sudahlah Mah, kita tunggu disini dulu. Biarkan Barry diperiksa dulu." kata Samuel melihat Mamanya yang seakan tak ingin jauh dari anaknya.


"Tapi Sam!! Mama mau lihat keadaan Barry.!" kata Mamanya mengangguk.


"Iya Mah, kalau mau melihat sekarang belum bisa. Biarkan dokter periksa dulu. Nanti kalau udah dapat hasil baru kita bisa lihat. Mama yang tenang ya.., kita percayakan semuanya pada dokter. Kita berdoa aja supaya Barry gak kenapa-kenapa. Mama banyak doa aja ya." kata Sam berusaha menenangkan Mamanya yang seperti terlihat lelah selalu menangis ketakutan tak ingin anaknya itu meninggalkan dirinya.

__ADS_1


"Ayah kamu mana,?? mana Ayah kamu Sam!?"tanya mamanya lagi memerhatikan sekelilingnya, tersadar tak melihat sosok sang suami.


"Sam tadi lihat Ayah mengobrol dengan dokter, lalu pergi. Sepertinya Ayah lagi ngurus administrasi."


"Oh benarkah!?" jawab Mamanya.


"Sudah ya,, udah mama duduk di sini dulu. Itu ada kursi tunggu."


Samuel mengajak Mamanya untuk duduk diruang tunggu. Sam memeluk sang Mama mencoba untuk menenangkan hati wanita berusia 51 tahun itu. Sam menghela nafas, ia tak menyangka berada di Rumah Sakit dalam waktu sesingkat itu. Ia tak tahu kejadian yang dialami keluarga nya berada pada puncak rasa panik yang luar biasa.


Samuel melihat jam tangan di tangan kirinya. Pukul 23:35 WIB. Sudah sangat larut malam, seharusnya tengah malam seperti ini mereka sekeluarga tidur nyenyak dan menunggu pagi dengan nyaman. Namun tidak kali ini, adik bungsunya tiba-tiba tak sadarkan diri. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Wajar saja semua mereka tampak panik dan terkejut.


Wanita separuh baya yang belum bisa menerima kenyataan bahwa Barry sedang dalam kondisi tak berdaya. Ia tak menyangka anak bungsunya itu harus mengalami keadaan itu.


"Barry!!!" tiba-tiba wanita paruh baya itu tersadar.


"Mah!! Mama kenapa!!?" tanya Samuel terkejut. Samuel sedang membiarkan sang Mama untuk tidur sebentar sembari menunggu dokter keluar, tapi malah mamanya itu bermimpi.


"Gak!! gak apa-apa Nak. Mama hanya sedikit lelah. Bagaimana hasilnya!!? apa dokternya udah keluar??" tanya Mamanya memerhatian ruangan dimana Barry di periksa. Dan pintu itu masih tertutup rapat.


"Belum mah, belum ada info." jawab Samuel juga tampak lelah dan mengantuk.

__ADS_1


"Sudah hampir 2 jam, tapi kok belum ada info yah? Udah jam berapa ini." Keluh sang Ayah yang juga sudah tak sabar mendengar hasil periksa oleh dokter yang menangani Barry. Ayah empat anak itu tak bisa duduk tenang di kursi. Beliau selalu bolak-balik memutarkan badannya memerhatikan lewat jendela ruang pemeriksaan itu.


Suasana disana sudah semakin sepi, hanya merekalah yang masih terjaga di sekitar kawasan rumah sakit itu. Wajar saja, kini jam sudah menujukan pukul 02:15 WIB dini hari.


Sam hanya bisa menghela nafas, tak tega melihat kedua orangtuanya sepanik itu.


Tiba-tiba terdengar suara langkah dari ruang pemeriksaan. Bunyi pintu ruangan itu mulai terdengar. Dengan sigap Sam langsung beranjak menghampiri, begitu juga kedua orangtuanya.


"Bagaimana hasilnya dokter, apakah anak saya sudah sadar!!?" tanya Bu Sarah menatap tajam sang dokter.


"Ia dokter!! bagaimana?? apa yang terjadi dengan anak saya,,? kenapa Barry bisa sampai tak berdaya seperti itu.?" tanya Pak Anwar bersamaan dengan pertanyaan sang istri.


"Satu-satu dong Yah nanya nya." kata Samuel.


Dokter itu pun menghela nafas panjang, tampak raut lelah diwajahnya setelah melakukan pemeriksaan, ia sedikit menghapus keringat menggunakan tissue yang baru saja membasahi keningnya.


"Begini, untuk sementara pasien akan dibawa keruang ICU, karna sampai saat ini, setelah melakukan beberapa tahap pemeriksaan, pasien belum juga sadarkan diri. Jadi, kami belum bisa pastikan pasien mengalami sakit apa. Jadi, saya harap kalian bersabar saja dulu."


"Tapi dokter udah memeriksa hampir 2 jam!!? jadi ngapain aja tadi didalam!!"keluh Bu Sarah kesal bercampur panik. Air matanya kembali membasahi pipinya. Samuel berusaha menenangkan sang Mama.


Dokter tersebut menggela nafas. "Saya tahu perasaan Ibu, tapi bagaimana pun kami sudah melakukan sesuai tahap yang sepatutnya. Namun beginilah keadaannya sekarang. Banyaklah berdoa. Biarkan kami memawa pasien keruang ICU." kata dokter kembali masuk kedalam ruangan lalu memerintahkan beberapa suster yang ikut menangani Barry untuk memindahkan pasien keruang ICU. Samuel langsung ikut membantu. Sementara kedua orantunya mau tak mau harus mengikuti anjuran dokter. Mereka tampak sedih, tapi bagaimana pun demi keselamatan anaknya, mereka harus menurut.

__ADS_1


Kondisi Barry yang masih terkulai lemah dan tak berdaya di atas tempat tidur pasien semakin membuat Samuel tak kuasa menahan air matanya. Barry dipenuhi dengan beberapa suntikan dibagian dada dan tangan kirinya. Dihidungnya terdapat selang udara, dan cairan infus tergantung diatas tempat tidur.


"Kamu kenapa sih Bar...!" keluh Samuel kesal pada Barry yang tak juga sadarkan diri. Ia merasa semakin tak ingin adiknya itu sampai terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan. Ia bahkan berbisik pada dirinya, akan melakukan apapun demi kesembuhan adiknya itu.


__ADS_2