Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Bagaimana, jika...


__ADS_3

Samuel dan Barry tiba dirumah setelah mengantar Dita pulang terlebih dahulu. Mereka sampai sudah pukul 23:15 Wib. Hal itu membuat sang Mama curiga pada kedua anaknya itu. Biasanya mereka tak pernah akur, namun akhir-akhir ini Samuel bahkan sering terlihat bersama dengan Barry.


Melihat Barry dan Sam pulang dengan satu mobil yang sama, Mama mereka mengerutkan kening.


"Darimana jam segini baru pulang, kok bisa bareng..,?" tanyanya heran ketika itu sang Mama memilih menunggui mereka pulang karna merasa baik Samuel ataupun Barry belum ada yang pulang kerumah sejak pagi.


"Lagi main futsal bareng aja Mah..." jawab Sam spontan ketika melihat Barry terlalu lama mencari alasan.


"Tumben sama...!?"


"Tuh kan, deket salah, berantem terus juga salah. Mama gimana sih.!" kata Sam.


"Ayah mana Mah...!?" tanya Barry malah bertanya balik. Hanya Barry yang merasa sang Ayah tidak ada didalam rumah.


"Tadi sore pergi keluar kota, besok siang baru balik." jawab sang Mama singkat.


"Urusan apa Mah, bukannya Ayah sekarang sebenarnya gak harus turun tangan dalam mengatasi proyek yang dikerjakan??. Bukannya Ayah sudah memiliki tangan kanan?" tanya Sam penasaran.


"Itu Mama gak tahu, Ayah kalian bilangnya seperti itu." kata sang Mama mengaruk kepalanya, lalu berjalan menuju kamarnya.


"Sudah gih, kalian masuk kamar saja, kalian mungkin lelah. Mama juga mau tidur, yang penting mama udah lihat kalian pulang."


"Iya Mah..," jawab mereka berdua serempak.


Sam dan Barry saling bertatapan seakan memikirkan hal yang sama.


"Kakak tak perlu ikut kesal sama Mama karna menyembunyikan masa laluku. Bagaimana pun, kakak tetaplah darah daging mereka, tidak sepertiku."


"Ah, kupikir kita memikirkan hal yang sama..! ternyata kamu memikirkan itu."


"Emangnya apa yang kakak pikirkan.?" tanya Barry berhenti didepan pintu kamarnya. Begitu juga dengan Sam.


"Ah, sudah lah tak perlu dibahas. Kamu masuk aja ke kamar. Isrirahatlah!" kata Sam langsung masuk kedalam kamar tanpa menunggu komentar sang adik. Barry terdiam, merenung sejenak. Lalu ia pun masuk kedalam kamarnya.


***


Barry terbangun dari tidurnya karna mendengar nada dering handphone yang baru beberapa hari dibelinya. Maklum saja, handphone sebelumnya sudah tak bisa dipakai karna rusak parah dan layarnya pecah.


"Ia hallo..,!?" ucapnya sedikit bertanya karna nomor telepon itu tidak memiliki nama.


"Ini aku Salsa..., ih Barry kamu gak hapus nomor aku ya..!!" kata Salsa dari seberang dengan kesal.

__ADS_1


"Aduh gak gitu Sa.., handphone aku kemarin rusak, jadi ini yang baru, belum sempet menyimpan semua kontak semula." jawab Barry.


"Hmmmm..!"


"Eh, ada apa pagi-pagi udah nelpon. Kamu rindu yahh!!?" goda Barry sambil berjalan santai menuju jendalanya dan duduk memandangi suasana dibawah kamarnya. Terlihat jelas sang Mama menyirami bunga-bunganya yang semakin banyak bermekaran.


"Ih..! udah punya pacar juga,masih aja godain..!"


"Yodah,, jawab dong, ada apa nih..!"


"Itu, Dosenmu nyuruh kamu kerumahnya sekarang. Pak Gatot terpaksa ngabarin aku karna nomor kamu susah dihubungin."


"Benarkah..!? apa kata Pak Gatot?? apa aku disuruh revisi lagi??" tanya Barry heran.


"Gak tahu juga, aku gak berani nanya. Abis Pak Gatot kayak buru-buru gitu."


"Yaudah, nanti aku kesana ya Sa.., makasih loh udah ngabarin cepet." kata Barry bermaksud bersiap-siap.


"Ia sama-sama. Eh, perlu aku temanin gak. Aku juga mau lihat model skripsi kamu, soalnya aku takut di revisi nanti sama dosen pengujiku."


Barry sedikit berpikir, dan akhirnya meng-iya kan ajakan Salsa.


"Mau kemana Barr..!?" tanya sang Mama yang berada didepan teras.


"Mau jumpain dosen Mah..," jawab Barry sibuk memanaskan mobilnya.


"Ingat loh, siap wisuda.., kamu harus pergi ke London."


Tiba-tiba semangat Barry hilang, ia tak suka ucapan itu. Barry merasa Mamanya kini mulai berbeda padanya, bukannya memberi semangat, malah mematahkan semangat Barry.


Barry tak menjawab, ia menyalakan mobilnya.


"Mah, Barry pergi dulu..," jawabnya singkat. Rasa ingin mencium tangan sang Mama seakan hilang setelah Barry tahu jika sang Mama bukanlah orang yang melahirkannya. Barry juga mulai merasa janggal untuk memeluk sang Mama seperti yang biasa ia lakukan. Hal yang bahkan lebih sering dilakukanya dari ketiga saudaranya yang bahkan merupakan anak kandung sang Mama.


Sang Mama memandangi Barry sampai keluar dari gerbang. Ia ingin melambaikan tangannya, namun Barry dengan cepat menghilang.


"Anak itu sekarang sangat berbeda.., Apa salahnya kalau disuruh ke London, kan bagus, karirnya juga bagus. Ini nih, kalau pria muda sudah jatuh cinta, berabeh semuanya." keluh sang Mama masuk kedalam rumah untuk mencuci tangannya.


Barry tiba dirumah Salsa, rumah yang sudah beberapa kali dikunjunginya bersama beberapa temannya yang lain. Salsa sudah menunggu didepan gerbang rumahnya. Melihat Barry datang, Salsa langsung menutup gerbangnya dan masuk kedalam mobil Barry.


"Ayok..!" ucapnya setelah memasang sabuk pengaman. Barry tersenyum menginjak pedal gas.

__ADS_1


"Sini aku lihat Skripsi kamu Barr..!" kata Salsa menaruh tangannya didepan wajah Barry. Salsa adalah salah satu teman dekat Barry bersama dengan ketiga teman kompaknya yang lain.


"Itu dikursi belakang..," jawab Barey fokus pada jalan raya.


"Ih kok letaknya disitu, gimana mau ngambil cobak, sekalian kamu nyetir, ku mau cek-cek skripsi kamu." kata Salsa menoleh kekursi belakang mobil itu dan tak bisa meraih buku yang cukup tebal itu.


"Yaudah ia deh, aku ambilin. Bentar aku berhentiin ini mobil. Bawel..!" kata Barry mengejek Salsa. Hal yang biasa ia lakukan.


"Barry...!! ngejek aja terus. Itu aja dibilang bawel.!" jawab Salsa kesal.


Barry tiba-tiba berpikir, melihat sekitar dimana ia memberhentikan mobilnya. Daerah dimana ia dan Dita pernah berjumpa di sebuah toko langganan Dita.


"Mati aku, ini kan daerah Dita kerja. Kalau Dita lihat aku gimana..!" ucapnya dalam hati, mengurungkan niatnya keluar dari mobil itu.


"Loh, kok gak jadi ambil Barr..?" tanya Salsa heran.


"Kamu aja gih..!" kata Barry ragu.


"Ih gak sopan banget sih Barr, masa nguruh aku yang keluar mobil cuma ambilin buku itu. Kamu dong...!" kata Salsa membuat Barry bingung. Akhrinya Barry menurut. Ia membuka pintu mobilnya lalu mengarah pada pintu mobil bagian belakang.


Benar saja, ternyata Dita ada disekitar itu, dengan memusatkan pandangannya dari seberang jalan, Dita tahu yang didalam mobil itu adalah kekasihnya, Barry.


Melihat Barry keluar dari mobil itu hanya beberapa detik saja, lalu masuk kembali, membuat Dita penasaran.


"Apa yang dilakukanya disini..!?" tanya Dita heran.


Tiba-tiba saja, ada yang menjanggal baginya, Barry tak sendirian. Ada sosok wanita panjang rambut yang tidak begitu jelas membuat Dita kesal.


"Siapa tuh...!!" kata Dita mulai merasa sakit hati. Yang ia tahu, Barry pergi menemui dosennya. Barry tak mengabari Dita kalau ia pergi bersama dengan orang lain.


Mobil itu pun pergi, setelah Barry kembali masuk kedalam. Rasa sakit hati Dita tak bisa ia tutupi. Padahal ia sudah merasa bahwa Barry itu adalah pria yang mudah dipercaya. Ternyata salah. Air mata Dita tiba-tiba mengalir walau sudah ia tahan.


Barry merasa lega tak merasa ada Dita disekitar ia berhenti.


Ia kembali mengendarai mobilnya dengan santai bersama Salsa. Sesekali ia memandang Salsa yang begitu serius membaca skripsinya, ia menghela nafas.


Barry hanya berharap Dita tidak mengetahuinya jika ia bepergian bersama dengan wanita lain. Bahkan Salsa juga mengajak Barry untuk makan siang bersama setelah selesai menemui Dosennya.


"Masa gak ada ucapan selamatnya, kamu kan udah berhasil mengumpulkan 4 tanda tangan Dosen. Dan tak ada revisi-revisi lagi. Ajak makan siang dong...!" begitulah Salsa mengajaknya. Barry hanya bisa menurut dan menggeleng kepala melihat sikap temannya yang satu itu.


"Untung udah anggap sahabat..!!" ucap Barry dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2