
Hari ini Barry mengajak Dita untuk bertemu dan membawa Dita keliling kota Medan. Membawanya ke pusat perbelanjaan terbesar dikota itu dan membuat Dita Bahagia. Sudah 1 bulan lebih Barry merencanakan Hal itu. Barry membujuk Dita agar mau dijemput didepan kost nya karna untuk beberapa kali bertemu, Dita selalu bertemu ditaman dan ditaman.
Barry memarkirkan Mobilnya di pinggir jalan Kost itu lalu mengabari Dita lewat ponselnya jika ia sudah didepan kost.
Dita pun keluar dari Kamarnya dan mengunci pintu kamarnya tanpa menoleh kearah mobil Barry. Barry keluar untuk menjemput Dita. Ia terbelangak memandangi Dita tampak manis dengan penampilannnya. Dita mengenakan hijau merah dibalut dengan Jaket tipis berwarna merah dan jeans hitamnya. Sepatunya yang berwarna merah menambah penampilan Dita semakin menarik perhatian Barry. Dita tersenyum pad Barry merasa tak harus dijemput sampai kedepan pintunya.
"Gak usah di jemput sampe sini juga Bar,, kan aku bisa datang ke kamu."
"Gak papa Dit. Kamu cantik hari ini" puji Barry tersenyum manis.
"Mulai deh,," balas Dita tahu sikap Barry hampir setiap hari memujinya. Jadi menurutnya sudah hal biasa.
Barry dan Dita pun menghabiskan waktu berdua hampir seharian. Sangat jelas di wajah Dita bahwa ia benar-benar bahagia bersama Barry. Beberapa kali ia merangkul tangan Barry saat memandang Pakaian Cantik seleranya di pusat perbelanjaan itu. Barry selalu memerhatikan hal kecil yang selalu dilakukan oleh Dita dan ia sangat menyukai sisi manja Dita yang sangat nyaman bersamanya. Namun saat Barry menawarkan agar Dita mengambil pakaian mahal itu sesuka hatinya, Dita malah menolak.
"Gak usah Barr,, aku hanya mengaguminya bukan untuk memilikinya."
Barry menyukai jawaban itu dan semakin menyadari bahwa Dita benar-benar berbeda dengan wanita yang beberapa kali mendekatinya.
Waktu menunjukkan pukul 18:00 Wib,Barry dan Dita pun bergerak pulang. Beberapa kali Barry menatap Dita saat sedang menyetir dan Dita memerhatikan tingkah itu. "Perhatikan jalanmu Barry,,!" ucapnya. Barry hanya tersenyum memuji. " Seneng aja liat kamu bahagia"
"Ia deh. Makasih ya Barr seharian ngajak aku jalan-jalan. Aku seneng dan Bersyukur akhirnya bisa juga keliling kota ini tanpa dikejar sama kerjaan." Kata Dita. Ia sudah 2 tahun di kota Medan dan belum pernah mengelilingi kota dengan santai bukan karna pekerjaan. Ia jarang keluar rumah dan teman-temannya juga semua sibuk jadi menghabiskan waktu hanya untuk bekerja lalu kembali ke kos masing masing.
Barry memberhentikan mobilnya 10 meter sebelum kost Dita sampai, tentu hal itu membuat Dita sedikit bingung dan heran. "Kok berhentinya disini Bar...?"
__ADS_1
"Ehmm.., ada mau aku bilangin Dit." Barry menghela nafas panjang dan menatap kedua bola mata Dita penuh makna.
"Nanya apa Bar,,? ada apa?"
"Eh-m Aku,, Aku....hhh " Ucap Barry putus-putus. Baru ini pertama kalinya Ia segugup ini untuk mengatakan cinta pada orang yang disayanginya. Hal itu membuat tangannya gemetar dan sulit berbicara.
"Yah,,,?" tanya Dita balik dan menatap Barry seakan tak memahami tingkah itu. Akhirnya Barry menghela nafas panjang,menetralkan jantungan yg mulai berdetak normal dan berusaha menatap Dita tanpa gugup.
"Dita, aku pengen kamu jadi pacar aku. Aku udah suka sama kamu sejak pertama kali kamu keluar dari mobil saat kamu menginjakan kaki di kota ini di tempat Les dulu yang disamping kampus aku. Aku sayang sama kamu Dit. Aku gak tau perasaan aku sesuka ini sama kamu. Bagi aku kamu itu berbeda Dit dengan wanita lain. Please mau yah Dita Anggreini,,.?" Jelas Barry tanpa memberi jeda pada ucapanya. Dita hanya memandangi bagaimana expresi Barry mengatakan isi hatinya. Ia tahu Barry menyukainya karna Dita tipe wanita yang tahu expresi tulus seorang Pria dan Barry adalah orang yang tulus.
Dita menghela nafas panjang, meneguk air liurnya sedikit lalu memandang Barry dengan penuh arti. "Iya Bar,,, Aku mau." Ucapnya singkat. Ia tak tahu alasan apa lagi yang bisa ia ungkapkan karna Barry lah Pria pertama yang ia kenal di kota ini dan mau berteman lebih dalam padanya walaupun tahu kondisi nya bukan lah dari keluarga berada.
Dita tahu Barry orang yang berada dan sebenarnya berat harus menyukai Pria seperti Barry. Namun ia tidak tahu bagaimana kelanjutannya jika ia tak mencoba. Dita seakan melihat ada pribadi berbeda dari Barry yang entah mengapa ia tetap harus berhubungan baik dengan Barry.
"Makasih Dita,, aku lega banget sekarang. Aku bahagia banget. Penantian aku setahun belakangan ini membuat aku sangat bersyukur sekarang karna Kamu membuat aku seakan memiliki tujuan baru." lanjut Barry.
Barry tiba dirumah dengan sangat bahagia. Perasaan senang itu tak bisa ia tutupi. Ia bersiul-siul seakan tak memerhatikan ada Ayah dan Mamanya sedang menonton di ruang tamu.
"Seneng banget ya Tian,,? Kenapa..? Skripsi kamu udah kelar?" tanya Ayahnya membuat Barry terkejut.
"Ahmm,,, Udah Yah semuanya udah siap. Minggu depan Sidang..," ucapnya akhirnya setelah menggaruk kepala ia mendekat kearah Ayahnya. Lalu duduk tak jauh dari mamanya. Ruang tamu itu berbentuk persegi dengan TV berada disebelah kiri rumah itu.
" Kamu seharian ngurusin Skripsi kamu atau apa nak??" tanya mamanya balik.
__ADS_1
" Sekalian jumpa temen tadi mah,,"
"Akhir-akhir ini kamu sering keluar jumpain temen ya Bar,, Mama masih berharap loh siap Wisuda nanti kamu langsung pergi ke London. Mama juga udah bicarain ini sama Kakak kamu Dimas. Dia setuju kamu disana, 2 hari setelah Wisuda kamu langsung pesan tiket..," belum selesai mama nya bicara Barry memotong.
"Tapi mah,, sepertinya Barry udah putusin kalau Barry mau stay disini ajah."
Hal itu membuat Ayah dan Mamanya saling tatapan, seakan mencari alasan agar Barry menuruti mereka. Namun bagaimana pun mereka adalah tipe orangtua yang sebenarnya tak ingin memaksakan kehendak sendiri. Dari dulu mereka selalu mendidik anak mereka dengan kasih sayang dan tak pernah memberikan contoh yang buruk pada ke empat anaknya. Itulah sebabnya ke empat anak nya tumbuh dengan segudang prestasi.
"Yaudah Mah,Ayah aku kekamar dulu ya. Mau mandi, gerah banget soalnya" Barry mengerutkan dahinya sebenarnya tak ingin menolak tawaran orangtuanya itu Namun baginya Kebahagiannya kelak dengan memilih wanita yang ia suka adalah hal penting.
"Pah,, bagaimana ini? Barry masih ngotot gak mau ke luar negeri."
" Setelah dipikir-pikir,, Sudah lah Mah. Tidak perlu terlalu was-was atau khawatir. Buktinya selama ini dan Barry sudah sebesar ini, kita masih tetap bisa bersamanya dan gak ada yang berubah di keluarga ini dan tak ada orang lain yang datang kerumah ini untuk menanyakan sesuatu pada kita." jelas sang suami mengelus punggung isterinya itu.
Ternyata Samuel mendengar kembali percakapan orangtuanya itu. Entah mengapa ia selalu ada disaat orangtuanya mengobrol sesuatu yang belum bisa ia simpulkan apa maksud percakapan itu.
"Bahas apa ya,, sampai seserius itu. Sejak kapan Ayah dan Mama punya suatu rahasia." gumamnya lalu ia menghampiri kedua orangtuanya itu seolah tidak mendengar apa-apa.
"Hai Mah, Ayah,," sapanya ramah.
"Eh Sam udah pulang. Tumben lama?" tanya Ayahnya menyodorkan tangan kanannya saat Sam ingin mencium tangan Ayahnya seperti biasanya.
"Ngantar Lyli pulang dulu tadi Yah,," jawabnya duduk berdampingan dengan Mamanya. "Barry mana Mah,"
__ADS_1
"Udah ke kamar,," jawab Mamanya. "Yaudah Nak, Masuk kamar gih, mandi biar segar lalu istirahatlah" kata Mamanya lagi. Sam mengerutkan dahinya dan menghela nafas.
"Hm,, Yaudah deh Yah,Mah aku masuk kamar dulu. Jangan begadang, Ingat Kolesterol Ayah loh" kata Samuel berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Sesekali ia memerhatikan kedua orangtuanya yang tak muda lagi itu. Ia ingin menanyakan suatu hal tapi sepertinya bukanlah waktu yang tepat.