
Barry tiba dirumah satu jam setelah Ayah dan Mamanya tiba. Barry memerhatikan orangtua nya sedang mengobrol di ruang keluarga. Barry
langsung menghampiri mereka.
"Abis dari mana Tian?!" tanya sang Mama dengan santai.
"Dari rumah temen Mah. Mama sibuk ngapain?" tanya Barry memerhatikan Mamanya sedang memerhatikan majalah kesukaannya.
"Biasa. Santai saja, bukan sibuk kok." jawab sang Mama.
"Ayah, Barry mau nanya boleh,!" tanya Barry pada sang Ayah yang fokus pada televisi.
"Ya, nanya apa Tian?!"
"Kapan kita akan pergi kerumah orangtuaku??"
"Minggu ini belum bisa nak, minggu depan saja ya."
"Loh, Ayah gimana sih, selalu menunda-nunda. Padahal Ayahlah yang membuat ide ini. Kak Lyli sudah beberapa kali menanyakan aku tentang kepastian ini Yah. Kak Dimas juga udah di desa menunggu kedatangan kita." kata Barry sedikit kecewa.
"Siapa Dimas?" tanya sang Ayah mengarahkan pandangan pada Barry.
"Kakak laki-laki pertamaku Yah. Aku juga sudah bertemu mengobrol dengannya."
"Orangtua kandungmu punya anak berapa Bar??" tanya sang Mama penasaran.
"Ada lima Mah, aku anak bungsu mereka."
"Jadi, kamu juga ternyata anak bungsu di keluargamu. Kok bisa kebetulan sama seperti disini ya?" jawab sang Mama kaget.
__ADS_1
"Ia Mah! Barry juga gak tahu kenapa bisa sama seperti itu. Barry punya dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuan.
"Banyak juga ya?. Pantes saja mereka tak mencarimu selama ini, buktinya mereka masih memiliki empat anak selain kamu."
Ucapan itu benar-benar membuat Barry sakit hati. Perkataan sang Mama sangat tidak sopan. Orangtuanya bukanlah seperti itu. Barry tak suka ucapan sang Mama.
"Mama kok bilangnya gitu sih..! Orangtua aku mencariku kok, mereka selalu membawaku dalam doa dan selalu berharap bisa menemuiku."
Sang Mama terdiam, ia pikir jika berkata begitu, Barry akan kesal dan tak mau lagi menemui orangtuanya. Ternyata Barry malah membela mereka.
"Yah, kamu udah sebesar ini masa gak di cariin sih!. Yah, Mama jujur aja, kalau saja dulu mereka mencarimu, Mama akan memberitahu mereka. Tapi, kenyataannya malah kamu yang mencari mereka.
"Benar Barr, Ayah rasa orangtuamu tak terlalu mengharapkan kamu kembali lagi. Kisah itu sudah terlalu lama dan mereka tentu sudah melupakan kamu." lanjut sang Ayah berusaha mengubah pikiran Barry.
Namun Barry tak terpengaruh, karna kenyataannya Lyli dan keluarganya begitu merindukannya. Expresi Lyli ketika bertemu dengannya sangat menyentuh hatinya, begitu juga kakak pertamanya Dimas yang begitu terharu dan begitu bahagia bertemu dengannya. Sikap yang ditunjukan oleh tiga saudara yang sudah ia temui sangatlah luar biasa.
"Tidak!!! tidak!! Ayah dan Mama salah besar. Kalian hanya mencoba mempengaruhi aku!." ucap Barry mengungkapkan kekesalannya.
"Gak Mah!! Mama salah, Keluarga kandungku sangat merindukan kepulanganku. Mereka sangat ingin menemuiku. Mereka sangat bahagia bisa bertemu denganku. Aku lihat itu dimata kak Lyli, kak Dimas dan kak Reno. Mereka semua sangat menyayangiku. Mereka tak pernah lupa denganku Mah..., Yah...,"
Ayah dan Mamanya terdiam, mereka saling tatap dan menundukan kepala. Usaha mereka mengubah pikiran Barry gagal. Mereka tak mudah mempengaruhi Barry yang sudah jelas melihat bagaimana sikap saudaranya ketika bertemu dengan dirinya.
"Maaf kalau begitu nak...," ucap sang Ayah pelan.
"Cukup Yah, Ayah selalu memiliki sikap tak menentu. Aku bukan memaksa Ayah ataupun Mama. Tapi, jika kalian masih berlama-lama dan menunda-nunda untuk ke desa. Barry akan pergi sendiri dan akan tinggal disana beberapa waktu."
"Jangan...! jangan!!! jangan dong Barr, kamu mau ninggalin Mama gitu ajah..,"
"Jadi, kenapa di lama-lamain lagi Mah, rasanya itu bukanlah hal yang sulitkan!?" tanya Barry memandangi raut wajah orangtuanya.
__ADS_1
"Mama kamu gak ikhlas jika kamu harus jauh dari rumah ini Kristian Barry...," ucap Pak Anwar dalam hati. Sikap sang Ayah yang tak tetap pendiriannya kadang memilih untuk tidak mempersulit keadaan sang anak. Namun, sang Mama yang sudah terlanjur menganggap Barry darah dagingnya dan anak itu bagian penting dalam kehidupan rumah tangganya membuat rasa ingin melepas Barry sangat susah.
"Pokoknya, kamu janji dulu. Nanti kalau udah ketemu sama mereka, kamu harus balik lagi kerumah ini dan jangan tinggal disana selamanya."
"Ia Mama, percaya sama Barry, Barry sayang sama kalian. Barry hanya ingin merasakan gimana bertemu dengan orangtua yang melahirkan Barry. Bagaimana pun hati ini akan tetap merindukan hal itu Mah. Mama cobalah untuk mengerti." Barry mendekat pada sang Mama berusaha kembali menenangkan rasa khawatir yang dirasakan oleh Mamanya itu.
Tentu hati orangtua mana yang tak luluh setiap kali merasakan genggaman tulus dari sang anak. Bu Sarah menghela nafas merasa sedikit lega.
"Baiklah nak, maaf Mama sering bersikap seperti ini. Semua itu Mama lakukan karna Mama sayang sama kamu nak. Mama tak bisa jika tak melihat kamu sehari saja."
Barry memeluk sang Mama dengan erat dan tersenyum. Sang Ayah memerhatikan dengan haru, betapa anak bungsunya itu sangat baik.
"Mungkin sikapmu ini yang membuat Mama kamu gak mau jauh darimu nak. Kamu selalu mendekapnya dengan tulus." ucap sang Ayah menepuk bahu Barry yang masih saja memeluk Mamanya.
Barrt terdiam, sebelum ia mengetahui jika Mamanya bukanlah wanita yang melahirkannya, Barry sangat mencintai wanita yang tak bisa ia gantikan dengan Ibu lain manapun. Ia berusaha untuk tidak mengubah prinsip itu walaupun kini ia tahu jika ternyata bukan Mamanya itu yang melahirkan dirinya.
"Yah, Barry mau ke kamar dulu!." ucap Barry beranjak berdiri.
"Ia nak, jangan lupa mandi sore." ucap sang Mama tersenyum.
Barry mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka.
Barry pergi hanya karna tak sanggup melihat kedua orangtuanya itu jika nanti ia pergi ke Desa. Barry bahkan berencana tak kembali lagi.
Melihat kasih sayang Lyli dan saudaranya yang lain, Barry sangat yakin jika Ibu dan Bapaknya adalah orang baik. Barry ingin sekali merasakan kasih sayang mereka. Merasakan dekapan mereka yang tentu lebih kuat dibanding dekapan saudaranya.
Air mata yang mengalir di pipi Lyli membuat hati Barry ter-enyuh begitu dalam. Sikap itu belum pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Bahkan Mamanya yang katanya begitu mencintainya tak pernah mengeluarkan bentuk tetesan mata yang terpancar di pipi Lyli ketika tahu jika ia adalah adik kandungnya.
Barry melihat tetesan mata yang sama di wajah kakak laki-lakinya Dimas dan Reno. Tetesan itu hanya ada di keluarga kandungnya. Tentu Barry tak mau jauh lagi dari mereka lagi. Bahkan dekapan dari seorang kakak laki-laki yang begitu dalam memeluk dirinya ketika itu membuat hati Barry tersentuh sampai ke alam bawah sadarnya.
__ADS_1
Aliran darahnya mengalir begitu indah seakan ikut bahagia merasakan dekapan kerinduan sang kakak. Saat itulah Barry bertekad akan menetap bersama keluarga kandungnya apapun yang terjadi. Bahkan apapun yang mengahalangi niatnya. Baginya sudah cukup kerinduan keluarganya yang bertahun-tahun ditahan demi menunggu waktu indah rencana Tuhan.