Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Tak kuasa


__ADS_3

Barry memerhatikan kedua foto yang ada di genggamannya. Pada foto yang berasal dari kotak kubus itu terdapat tanggal foto itu diambil. Tertulis disudut kanan paling bawah 10:15, 25-12-2004 itu artinya foto itu diambil sekitar 16 tahun yang lalu. Foto seorang anak kecil itu yakin jika ia adalah Barry. Ia bandingkan foto tersebut dengan foto yang ada pada galeri handphonenya, memang berjarak dua tahun pengambilan foto yang berbeda. Barry memerhatikan seluruh tampilan foto itu. Benar saja, banyak kesamaan wajah diantara keduanya. Mulai dari bentuk rambut yang lurus hampir menutup alis Barry kecil, bola mata sedikit coklat dan bulat. Alis tebal dibagian kiri dan pipi yang tak terlalu berisi. Bentuk wajah oval dengan menampakan sedikit gigi yang rapi. Kedua foto itu membuat Barry menyimpulkan bahwa keduanya adalah dirinya.


Seketika Barry lemas, tubuhnya kembali merasakan hal yang sama yaitu tangannya gemetar, aliran darahnya mengalir dengan cepat, semakin ia berusaha menetralkannya semakin banyak keringat keluar dari beberapa sisi tubuhnya, dari pelipis wajahnya,dahinya bahkan telapak tangannya mulai terasa lembab.


Barry tersungkur di lantai, tak menyangka ia ternyata bukanlah anak kandung orangtua yang selama ini ia sebut Ayah dan Mama. Orangtua yang selama ini sangat menyayanginya lebih dari segalanya. Orangtua yang bahkan tak pernah menunjukan sedikit pun keganjalan bahwa ia bukanlah anak bungsu.


Barry lega sudah tahu kenyataan bahwa ia bukan darah daging Mama yang sangat ia cintai. Namun disatu sisi, hatinya terasa sakit karna mengetahui ini semua sekarang. Ia seakan putus asa, tak tahu bagaimana ia bisa menjalani harinya setelah ini.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang!!


Bagaimana aku bersikap biasa aja sama Ayah dan Mama setelah aku tahu bahwa aku bukanlah anak kandung mereka." Barry terdiam, ia menarik lututnya dan memangkukan kedua tanganya pada lututnya, lalu ia membungkuk dan menutup matanya. Ia seakan tak tahu apa yang harus ia lakukan, ternyata kenyataannya hasilnya lebih menyakitkan dari mencari jawabannya.


"Tapi, kenapa Ayah dan Mama mengambil aku??"


"Dari mana asalku sebenarnya!!?" "Benarkah aku anak dari pak Anwar, orangtua kak Lyli!!?"


"Oh Tuhan!!? bagaimana ini semua bisa terjadi!! kenapa ini bisa terjadi..! kenapa!!?" Barry tiba-tiba marah dan tak bisa mengontrol dirinya. Ia mengacak-acak semua barang yang ada didekatnya. Ia melemparkan handphonenya hingga benar-benar pecah. Ia lalu menyimpan foto masa kecilnya itu kembali. Disimpan pada dompetnya dan kotak kubus itu ia simpan pada sudut lemari dimana banyak buku-buku disana. Ia mulai tak bisa mengendalikan dirinya. Disembunyikannya kotak itu sampai benar-benar tak terlihat. Ia melemparkan dirinya ketempat tidur. Seketika saja ia langsung tertidur. Air mata bisa mengalir dengan sendirinya pada saat ia sudah menutup mata, bermaksud jika terlelap semua akan menjadi mimpi.


Sang Ayah mulai heran karna jam menunjukan pukul 21:00 wib dan Barry tak ada keluar kamarnya sejak mereka tiba dirumah pukul 16:00 wib. Sang Ayah pun menghampiri istrinya yang sedang menonton didepan televisi.


"Mah, Barry kok sejak pulang dari kemahnya gak ada turun kebawah. Anak itu sepertinya jarang betah dikamar seharian." kata beliau lalu duduk disamping sang istri.


"Mungkin masih kecapean Pah, kan kalau kemah 2 hari itu capek loh!!. Biar aja, besok pagi aja kita tanya. Biarkan Tian istirahat." kata sang istri seakan memahami sang anak. Namun, ayah emapat anak laki-laki itu merasa tidak enak, seakan merasa sesuatu terjadi pada anak bungsunya.


"Ehm!! kayaknya papah mau liat ke kamarnya aja. Mungkin dia belum makan malam." katanya, lalu Pria bertubuh tinggi namun tak terlalu gemuk itu pun beranjak meninggalkan istrinya dan berjalan menuju kamar Barry.


"Oh yaudah pah!! baguslah, bilang Tian makan dulu, baru lanjut istirahatnya lagi setelah makan."


Pak Dimas itu pun menaiki tangga berjalan menuju kamar Barry mengetuk pintu kamar itu.


Tok..! tok..tok..!

__ADS_1


"Barr...?? Barry!!?" seru sang Ayah. Namun tak ada jawaban.


Hal itu membuat sang Ayah khawatir lalu beliau pun bergerak turun menemui sang istri untuk memberitahukan bahwa Barry tak membuka kamarnya dan bahkan tak menyahut sedikit pun.


"Mah, itu Tian gak mau buka kamarnya.!kayaknya mama deh yang harus ke atas manggil dia. Mungkin mama lebih bijak membujuknya daripada Papah."


Hal itu membuat sang istri khawatir lalu dengan sedikit cemas, Ibu Salma langsung berdiri lalu mereka pun berjalan bersama menuju kamar Barry.


"Kok, gak biasanya Tian seperti ini Pah.!?" kata beliau gelisah.


"Bangun Bar!!? kamu makan malam dulu baru nanti kamu tidur lagi. Awas loh nanti asam lambung kamu kambuh." teriak sang Mama memanggil setelah tiba didepan pintu. Namun tak ada jawaban dari kamar tersebut.


Mereka pun berpindah ke kamar Samuel dimana Samuel juga sudah berada di kamarnya sedari pulang kerja.


Sebenarnya Sam sudah mendengar kedua orangtuanya mengetuk-ketuk pintu kamar Barry. Namun ia mengabaikannya.


"Sam,! tolong bantu Ayah untuk membukakan pintu kamar adikmu ini!" kata sang Ayah berteriak kearah kamar Samuel.


"Ia Sam,! mama khawatir ada apa-apa dengan adikmu."


"tolong bukakan kamar Barry, soalnya dia gak ada mendengar panggilan mama."lanjut sang Mama yang jelas raut khawatir


"Apa sih ma! tumben khawatir banget. Paling dia masih capek. Lagian masa sih dia gak bangun-bangun, kayak anak kecil aja dibangunin untuk makan aja." cerutu Sam.


"Sam, jangan kayak gitu dong. Soalnya Tian udah gak ada keluar dari kamar dari tadi siang. Ayah sangat khawatir" jawab Ayahnya. Samuel memalingkan pandangannya seakan tak mendengar alasan sang ayah yang menurutnya berlebihan.


Samuel pun mengetuk pintu itu dengan nada tinggi. Ia tahu Barry terkadang sedikit tuli. Ia juga pernah beberapa kali mengetuk pintu adiknya itu namun alasan Barry selalu tidak mendengar.


" Barr!! bangun, jangan kayak anak kecil aja dibangunin. Cepet makan dulu sana!"


Namun tak ada jawaban juga. Hal itu membuat kedua orangtua itu semakin cemas. Kecuali Sam yang masih tampak biasa saja.

__ADS_1


Akhirnya setelah berpikir lama, dengan usulan sang Ayah untuk membuka kamar Barry dengan kunci cadangan yang berada didalam gudang.


Dengan keadaan malas, Samuel pun turun ke bawah menuju gudang. Gudang tersebut berada tak jauh dari garasi mobil mereka. Setelah diambil Sam pun kembali ke atas dan membuka pintu kamar itu.


Tiba-tiba saja mereka semua terkejut. Awalnya Sam kesal melihat Barry seakan tertidur pulas padahal Ayah dan Mamanya sangat khawatir, Namun ternyata anggapan mereka semua salah.


"Woi!! Bangun, kamu baik-baik aja kan!?" kata Sam. Ayah dan Mamanya memerhatikan dengan seksama. Ternyata seluruh tubuh Barry sudah kaku dan dingin. Raut wajah Samuel yang terkejut dan tiba-tiba panik membuat Mamanya penasaran.


"Gimana Sam, Barry sakit?"


Samuel menghela nafas panjang tak sanggup menjawab pertanyaan Mamanya. Ayahnya dengan sigap menyentuh dahi Barry yang sudah terkulai lemas.


"Mah, tubuh Tian dingin sekali!!! jangan-jangan Tian??" teriak sang Ayah. Teriakan itu membuat Mama histeris dan berteriak.


"Kamu kenapa Tian!!!" beliau langsung memeluk anak bungsunya itu. Ternyata Barry sudah tak sadarkan diri. Mamanya memegang lengannya ternyata sangat dingin begitu juga dengan seluruh tubuhnya. Wajahnya sangat pucat.


Mereka semua panik, Samuel ikut tak kuasa melihat kedua orangtuanya panik seperti itu. Walaupun Ia membenci adik bungsunya itu, ternyata Ia juga merasa seakan tak mau sesuatu terjadi pada Barry.


"Yaudah, jangan panik dulu Ayah, Mama.! Ayo kita langsung bawa ke rumah sakit aja" seru Samuel ketakutan.


"Baiklah Biar Ayah siapkan mobil. Kamu bawa Barry ke mobil ya Sam!! cepat." perintah sang Ayah langsung keluar dari kamar dan turun kebawah menuju garasi dan menyiapkan mobil.


"Cepat Sam!! jangan sampai terjadi apa-apa pada adikmu!!" kata Mamanya terus merangkul Barry yang sudah tak berdaya.


"Ia Mah!!" kata Samuel langsung menggendong Barry, menaruhnya dipunggung belakangnya dan ia pun mengatur kekuatannya dan membawa Barry keluar dari kamar itu menuju garasi. Sang mama pun bersiap-siap membawa perlengkapan Barry untuk dibawa kerumah sakit.


Samuel pun menuruni tangga dengan beban adiknya di pundaknya. Sekilas Samuel teringat ketika mereka kecil, Ia pernah menggendong adiknya itu pada keadaan yang sama. Ketika itu juga Barry tiba-tiba pingsan karna kelelahan disekitar komplek mereka dan bergegas membawa Barry kerumah.


Ternyata jauh di lubuk hati Samuel paling dalam, bagaimana pun ia membenci adiknya itu, ia tetap tak ingin Barry sampai kenapa-kenapa. Rasa panik dan ketakutan akan sesuatu yang tak diinginkan, membuat Sam menggelengkan kepalanya sembari ia membawa Barry kedalam mobil.


Barry pun dibaringkan di dalam mobil dengan menaruh kepalanya di paha sang mama. "Sam!!! cepat!" seru sang Mama tak sabar.

__ADS_1


Ayahnya memandang Barry dengan lemas. "kenapa Barry bisa sakit seperti ini,!" gumamnya.


Mereka pun bergerak menuju rumah sakit yang hanya berjarak 10 menit jika menggunakan mobil yang dibawa oleh Samuel. Beberapa kali Samuel menoleh kepada Barry melalui spion yang terletak dibagian atas kepalanya. Jelas terlihat Barry yang belum sadarkan diri. Namun ia pastikan jika denyut nadi adiknya itu masih berjalan. Mamanya juga terlihat sangat panik dan ketakutan. Mamanya merangkul Barry dengan erat, seakan memberikan kehangatan dari tubuhnya kepada Barry.


__ADS_2