Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Barry lari kerumah Lyli


__ADS_3

Melihat Barry jatuh pingsan, Lyli dan Sam kaget dan langsung menghampiri. Kepanikan tercipta disana, apalagi Lyli tak tahu apa yang sedang diderita Barry.


"Barr....!!! kenapa lagi kamu...??" Sam menepuk-nepuk bahu adiknya itu. Ia sudah tak berpikir untuk memarahi sang adik. Bagaimana pun juga, ia tak sanggup melihat Barry merasakan sakit lagi.


"Barry...!!? kok jadi gini sih!!" keluh Lyli langsung menatap pada Samuel.


"Ini semua karna kamu Sam!!!! adik kamu begini karna kamu selalu menekannya. Lihat Sam...!"Lyli mendorong Sam untuk menjauhi Barry.


Dita terkejut akan sikap sang kakak yang malah menyalahkan Samuel.


"Bukan kak !! ini bukan salah siapa-siapa. Barry hanya tak bisa mengontrol pikirannya. Barry tak bisa menahan aura alam bawah sadarnya jika ia sedang terpojok ataupun merasa memiliki masalah yang tak bisa ia selesaikan sendiri..,"


"Tapi Dita!! kamu lihat sikap Sam tak pernah menyayangi adiknya sendiri." katanya tak percaya. Lyli memandang Sam dengan sinis.


"Gak usah sok peduli dan mengkhawatirkannya Sam!!"


Samuel merasa terpojok. Ia terdiam dan terpaksa menjauhi Barry demi Lyli. Sam menatap Dita dengan sabar.


"Aku tahu kamu bisa membantu Barry Dita, kakak keluar sebentar."katanya beranjak berdiri dan pergi keluar rumah itu.


Melihat Samuep pergi, Lyli menghampirinya sembari memendam kekesalan pada kekasihnya itu.


"Sam!! lihat kan ulah kamu selama ini. Melihat kamu membentaknya saja aku udah gak sanggup Sam. Apalagi Barry yang harus ketakutan melihat kemarahanmu..!!"


"Kamu gak tahu apa-apa soal Barry sayang, Barry sudah mengalami ini beberapa minggu ini. Ia sedang dalam masalah besar...," jelas Sam menatap Lyli dengan penuh pengertian.


"Masalah apa sih maksud kamu Sam....!! masalah apa? kamu menekannya setiap hari dirumah. Itulah sebabnya ia tak mau pulang kerumah. Kamu harus minta maaf padanya.!!" bentak Lyli masih saja merasa kesal.


"Aku udah janji sama diriku sendiri untuk lebih baik padanya. Dan itu sudah aku lakukan. Aku hanya ingin membujuknya pulang kerumah karna ia tak bisa mengendalikan dirinya. Aku ingin bicara baik2 sama dia karna sikapnya sudah mulai kasar sama Ayah dan Mama."

__ADS_1


"Ahh!! aku tak percaya padamu Sam." Lyli terdiam dan duduk dikursi yang ada diteras rumah itu. Ia membuang wajahnya dari hadapan Samuel yang berusaha menatapnya.


"Kamu gak tahu Sam...!!! kamu gak tahu gimana rasanya kehilangan seorang adik..!!" Lyli tiba-tiba menangis dan menundukan kepalanya.


Sam terkejut, ia tak mengerti apa yang dimaksud Lyli. Apalagi sampai harus menangis seperti itu. Sam tak tega melihat kekasihnya itu menangis. Ia pun membungkuk dan menatap Lyli.


"Kehilangan bagaimana maksud kamu Ly...?"


"Kamu gak tahu Sam, aku paling gak suka melihat bersaudara saling membenci sementara aku merindukan saudaraku. Kenapa harus ada kebencian diantara kalian yang bersaudara..?" tanyanya masih saja menangis.


"Aku dan Barry bukan saling membenci sayang.., hanya saja begitulah terkadang jika sesama saudara laki-laki. Jawab aku, salah satu saudaramu pernah ada yang meninggal begitu???"


Lyli terdiam, ia malah tak suka Sam menyimpulkan jika adiknya yang pernah hilang itu sudah meninggal. Lyli merasa takut.


"Bukan.!! bukan meninggal.., adikku belum tentu meninggal. Adikku tentu masih hidup, hanya saja gak tahu dimana." katanya lagi sambil menangis.


Sam malah lebih kaget daripada Lyli. Kok bisa adik kekasihnya itu hilang. Hal yang sama seperti yang dialami oleh adiknya Barry.


"Maaf jika aku gak pernah bilang ke kamu Sam. Ini sebabnya kenapa aku gak pernah ceritakan bagaimana keluargaku. Ini juga sebabnya aku sering membencimu jika melihat kamu kesal sama adikmu Barry. Aku merasakan gimana sakitnya kehilangan seorang adik Sam. Keluargaku sangat menderita karna merindukannya. Dan aku gak mau orang-orang tahu dan memandang aneh terhadap keluargaku."


"Aku belum mengerti, langsung ke intinya saja Ly...??" tanya Sam penasaran, menatap wajah kekasihnya itu dengan kaku.


"Intinya...Huhhhf.., intinya adikku paling bungsu hilang Sam, kejadian itu berpuluh tahun yang lalu. Sebenarnya kami lima bersaudara. Namun, orang-orang tahu kami hanya empat bersaudara saja." Lyli penuh pertimbangan untuk memberitahukan itu pada Sam. Menurutnya, mungkin inilah waktu yang tepat untuk Sam mengetahuinya. Entah mengapa ia tak tega jika Barry selalu ditekan oleh Samuel kakaknya. Lyli merasa jika Barry sudah seperti adiknya sendiri.


Samuel tercengang, entah mengapa yang ada dipikirannya tertuju pada Barry.


"Seandanya adik kamu masih ada, kira-kira umur berapa dia sekarang??" tanya Sam.


"Mungkin.., sama besarnya dengan Barry. Dan mungkin juga sekarang seusia Barry." jawab Lyli mulai menatap Samuel. Ia berharap Samuel menyimpulkan itulah sebabnya ia selalu menyukai adik kekasihnya itu.

__ADS_1


Sam menatap Lyli, ia tak langsung menjawab. Ia menghela nafas lalu bersujud didepan kekasihnya itu.


"Boleh aku melihat foto yang pernah aku lihat dikamar kamu!??"


"Foto yang mana Sam???" tanya Lyli heran mengapa Samuel malah mengalihkan pembicaraan.


"Bawa aku kekamarmu, aku ingat sekali posisi foto itu dimana."


Dengan kesal Lyli menuruti perkataan Samuel. Ia pun berjalan menuju kamarnya bersama Samuel.


Dita masih sibuk mengurut kepala Barry yang kata Barry masih sakit. Namun, sepertinya Barry sudah mulai siuman. Hanya saja ia belum bisa banyak bergerak karna dadanya masih terasa nyeri. Dita sedikit heran melihat Lyli dan Samuel malah masuk kedalam kamar.


"Foto yang mana maksud kamu Sam, lihatlah!!, walaupun aku tak tahu apa tujuanmu menanyakan itu." kata Lyli dalam keadaan terpaksa. Bahkan Lyli memberikan sebuah album foto keluarganya pada Sam. Ia tak tahu jika maksud Samuel adalah ingin membandingkan foto itu dengan foto adiknya Barry.


Sam tak mendengar ocehan Lyli, ia langsung meraih album foto itu. Album foto yang selalu Lyli bawa kemana pun ia pergi. Disana hanya ada satu foto sang adik bungsu yang tersisa. Foto yang sama dengan yang tertempel di dinding rumahnya di Desa. Orangtua Lyli sengaja memperbanyak foto itu setelah setahun kepergian sang adik. Ibu mereka bilang agar selalu dibawa agar tidak lupa dengan wajah sang adik.


Sam terlalu fokus pada album foto yang sebenarnya entah mengapa Lyli memberikan itu padanya.


"Itu foto adik aku yang hilang itu Sam., yah!! yang kamu pegang itu!!"


Sam memandangi foto yang ditunjuk Lyli. Foto yang juga pernah ia lihat di Desa. Foto keluarga yang salah satunya seakan mirip dengan seseorang yang ia kenal. Foto yang sudah ia bandingkan dengan beberapa foto yang ada dirumahnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Barry ataupun orangtuanya.


"Aku benar...!!!???" Sam tercengang menatap foto yang sudah ada di genggamannya. Foto yang begitu mirip dengan sang adik. Salah satu adik Lyli yang bernama Reno itu sangat mirip dengan Barry ketika kecil. Bahkan foto Reno kecil yang bergandengan dengan adik yang dimaksud oleh Lyli telah hilang itu sama persis dengan wajah Barry ketika kecil.


Sam masih ingat sekali foto masa kecil Barry yang memiliki wajah yang sama dengan salah satu koleksi foto yang ada di album Lyli.


"Benar apa Sam...,??" tanya Lyli terkejut karna Samuel berteriak.


Tiba-tiba Samuel memeluk Lyli dengan erat. Ia tak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan. Bahagia, senang, bersyukur atau semacamnya, Sam tak bisa ungkapkan.

__ADS_1


"Sam kamu kenapa..?" tanya Lyli heran sudah berada dipelukan sang kekasih. Sam sangat jarang memeluknya se-erat itu. Sam tak mau melepas pelukannya dan malah semakin erat memeluk Lyli sang kekasih.


__ADS_2