
Barry merasa sudah berada di puncak kepenatannya. Ia tak ingin berlama-lama lagi menutup masalahnya dari keluarganya, baik itu dari Ayah dan Mamanya ataupun pada sang kakak, Sam. Barry bermaksud meminta bantuan Dita untuk membantunya menjelaskan pada Samuel. Rasanya Barry ingin sekali memeluk orangtua kandungnya. Apalagi ia tahu orangtua kandungnya adalah keluarga yang baik-baik.
Barry menemui Dita setelah kekasihnya itu pulang kerja.
"Dita..? kamu udah dirumah?" tanya Barry sembari ia mengetuk pintu kamar Dita.
Segera Dita membuka pintu mendengar ada yang mengetuk.
"Eh! hai Barr.., kok tumben datang gak bilang-bilang??. Ada apa?"tanya Dita.
"Mau ngobrol aja Dit. Kamu gak lagi sibuk kan!?" tanya Barry melirik kearah kamar Dita apa ada pekerjaan yang sedang Dita lakukan ketika ia mengetuk pintu.
"Gak sih. Yaudah, ayo ngobrol di teras depan saja." kata Dita dengan santai. Karna ia juga sedang memiliki suasana hati yang tenang dan merasa setelah selesai mandi.
Mereka pun berjalan menuju teras rumah itu dan duduk di kursi yang disediakan ibu kos untuk tamu yang datang.
"Ngobrol tentang apa Barr.?"
"Biasalah Dit, tentang diriku ini. Aku udah penat memendam ini semua Dit. Aku ingin berterus terang sama Ayah dan Mama, juga pada Sam dan juga pada kak Lyli." kata Barry merenungkan nasibnya.
Dita memandang Barry dengan penuh kasihan. Ia tak tega melihat Barry seakan frustasi seperti itu. Ia tahu bagaimana Barry akhir-akhir ini berusaha menutupi semuanya dari orang-orang terdekatnya.
"Yakin Barr??. Kamu udah pertimbangin apa tanggapan dan respon mereka nanti?. Kamu udah siap dengan konsekuensinya sayang!??" Dita meyakinkan Barry apakah pilihannya mengungkapkan semuanya pada keluarganya adalah pilihan yang tepat atau apakah harus menunggu beberapa saat lagi di waktu yang tepat.
"Entah lah Sayang. Yang aku tahu, selama kamu bersamaku, aku yakin aku bisa. Kamu mau kan bantu aku!!??" tatap Barry memohon pada Dita dengan meraih tangan kiri Dita.
"Aku bisa saja membantumu Barr. Cuma, aku mungkin hanya bisa membantu memberitahukan pada kak Lyli dan kak Sam. Kalau untuk berbicara pada Ayah dan Mama kamu...., aku gak yakin Barr." Dita menelan air ludahnya mengingat bagaimana pahitnya perlakukan orangtua Barry padanya saat ia memberanikan diri kerumah Barry.
"Tapi Dit, orangtuaku lah yang lebih utama diberi penjelasan. Aku yakin kamu bisa meyakinkan mereka bahwa aku ini siapa. Kamu kan udah dengar dari Kakek soal bagaimana orangtuaku menemukanku. Kamu bisa jelasin pada mereka apa yang Kakek bilang."
"Gak semudah itu memberi penjelasan pada orangtua yang awal bertemunya tidak menyenangkan."
"Tapi Dit, kamu bisa mencobanya dulu. Ayolah Dita..., hanya kamu yang tahu semua tentang aku." mohon Barry menggenggam jemari Dita.
__ADS_1
Dita merasa tak bisa melakukan apa yang Barry pinta. Namun jauh di lubuk hatinya, ia ingin sekali membantu meringankan beban sang kekasih. Tapi, ia takut sikap Ayah dan Mama Barry malah menyakiti hatinya kelak.
Dita terdiam, ia tak bisa menjawab Barry walaupun Barry menatapnya berkali-kali merasa yakin Dita bisa melakukannya.
"Aku percaya sama kamu Dit. Ini semua kualami setelah aku mengenalmu. Itu artinya, Tuhan kirimkan kamu untukku agar bisa membantuku menemui orangtua kandungku. Apalagi orangtua kandungku berada di Desamu. Orangtua dari kakak angkatmu."
"Tapi, sayangnya Barr..., orangtua kandungmu adalah orangtua dari kekasih kakakmu sendiri. Bagaimana kita bisa memberitahukan kak Sam soal ini..!!"
Barry terdiam, sebenarnya ia tahu Sam akan kecewa padanya dan akan berusaha membujuknya agar jangan sampai Lyli tahu soal siapa orangtua kandung Barry, jika ternyata orangtua kandungnya adalah orangtua kekasihnya juga.
"Kamu saja terdiam Barr..., kamu juga gak tahu kan gimana kita mengungkapkan ini." tanya Dita balik dan merasa bukan saat ini waktu yang tepat untuk memberitahukannya.
"Jadi, jika bukan sekarang...,kapan lagi Dita.? aku udah cukup lelah berusaha santai dirumah dengan mereka yang bukan keluarga kandungku."
"Barr...! kamu kok jadi gini sih...? bukan berarti jika kamu sudah mengetahui siapa orangtua kandungmu, kamu akan melupakan orangtua yang sudah merawat dan membesarkan kamu dari kecil." Dita tak suka Barry menjadi pria yang egois ketika merasa keluarga nya saat ini bukan lagi keluarganya.
"Bukan begitu maksud aku Dita, hanya saja aku tak bisa bohongi diriku sendiri yang ingin sekali memeluk orangtua kandungku. Mungkin saja mereka juga merindukanku." Barry menunduk merasa sedih.
"Kalau begitu begini saja..,biar aku cari tahu dulu soal berita kehilanganmu di keluarga kak Lyli. Aku akan cari tahu bagaimana bisa kamu hilang dari keluarga mereka bertahun-tahun yang lalu. Bila perlu, aku akan tanyakan juga pada Ibu dan Bapak apakah mereka tahu kisah keluarga kak Lyli pada saat itu.
"Dita.....!!! kamu memang luar biasa.!" katanya tampak semangat.
"Hah!! masa sih...?" tanya Dita malah heran.
"Makasih selalu ada untukku. Janji ya Dita kamu bantu aku cari informasi tentangku di keluarga kak Lyli. Kamu memang yang terbaik...!!"
Barry memeluk kekasihnya itu dengan spontan, hal itu membuat Dita terkejut dan terbelangak...
"Barr.....! aku gak bisa nafas.."
"Oh ia!! maaf Dita... aku terlalu semangat." Barry melepas dekapannya pada Dita yang membuat Dita tak bisa bergerak.
"Kamu memelukku terlalu kuat. Tentunya itu gak bisa!!. Lagian seggan tahu disini bukan hanya kita saja yang mengobrol. Banyak teman se-kos ku yang juga mengobrol disini." bisik Dita sedikit kesal.
__ADS_1
"Ia deh!! maaf...," Barry mengaruk kepalanya tersipu malu saat teman Dita yang juga menghabiskan malam di teras kos itu memerhatikannya dengan geli.
"Tuh kan!!" ejek Dita semakin membuat wajah Barry memerah dan tersenyum pada teman Dita.
Rani yang kebetulan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju teras mulai mengejek.
"Hmmmm!! kemarin marahan... sekarang baikan lagi."
"Ah Mba!... biasalah kalau pacaran seperti itu." jawab Barry semakin malu.
"Ia deh!! gak papa! aku juga gitu sama pacarku...,"
Dita malah tertawa, ia tak percaya jika Rani sahabatnya itu memiliki kekasih.
"Sejak kapan kamu punya pacar!!! hahaha dasar ya kamu Ra...!"
"Ada dong.. hm!! mau tahu aja." jawab Rani malah berlagak sombong.
"Ia deh!!! ntar kasih tahu aku ya Ra...!"
Mereka pun sama-sama tertawa. Barry tampak bahagia dan merasa kepenatannya sedikit berkurang.
Setelah itu Barry pun pamit pulang karna melihat jam sudah pukul 21:00 Wib.
Sepanjang jalan ia selalu mengkhayal. Ia tak pernah terpikir untuk mencari tahu bagaimana keluarga Lyli yang menurutnya adalah keluarga kandungnya. Dita benar, dengan ia mengetahui seluk-beluk keluarga Lyli, itu artinya ia bisa lebih meyakinkan diri jika ia adalah adik kandung Lyli.
"Semoga saja aku benar adik kandung kak Lyli. Aku sudah merasakan kontak batin sejak pertama kali bertemu dengan kak Lyli. Aku semakin merasa dekat dengannya ketika beberapa kali mengobrol secara langsung padanya."
"Andai saja 3 tahun yang lalu, saat awal mula kak Sam menjalin hubungan dengan kak Lyli, aku bisa langsung dekat dengannya. Mungkin sekarang aku sudah menjadi bagian dari keluarga kak Lyli. Hah..... dulu sih!! aku dan kak Sam gak pernah akur. Jadi tidak mungkin aku dengan mudah mengenal kekasihnya kala itu."
"Ah!! mungkin juga, harus pada saat ini saat aku sudah menjalin kasih dengan Dita yang kebetulan adik angkat kak Lyli barulah aku mulai terhubung dengan masa laluku. Mungkin aja Dita lah jalanku dipilih Tuhan agar aku bisa semakin bisa melihat masa laluku."
Hingga akhirnya, Barry tak sadar ia sudah tiba di sekitar komplek. Lamunannya membuat waktu berjalan dengan santai.
__ADS_1
"Wah! udah sampe komplek aja...," gumamnya. Ia pun melaju menuju rumahnya dan seperti biasa, ia memarkirkan motornya dan masuk kedalam rumahnya. Kedua orangtuanya sepertinya sudah tidur begitu juga dengan Sam.
Barry masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia langsung tertidur.