
Dita menatap Barry dengan penuh sayang, bagaimana pun ia kesal atas sikap orangtua kekasihnya itu, ia tak bisa membohingi perasaannya jika ia menyayangi Barry. Matahari yang masih cerah diluar membuat Dita merasa tak enak jika harus bersama Barry didalam kamar. Dita membuka lebar pintu kamarnya agar siapa saja yang berlalu-lalang bisa melihat mereka tidak menjadi pandangan yang buruk bagi teman satu kontrakan itu.
"Biar udaranya masuk."kata Dita
"Bilang aja kamu takut di pandang buruk karna ada laki-laki disini." kata Barry menerka. Dita menghela nafas dan mengerutkan keningnya.
"Apakah masih pening??"
"Gak Dit, udah mendingan." jawab Barry tersenyum sembari ia masih memegang gelas berisi teh hangat yang belum ia habiskan.
Dita tiba-tiba menuduk, ia meremas-remas jari-jarinya dan memainkan pergelangan tangannya sebagai tanda ia ingin memberitahukan Barry apa yang sedang ia pikirkan.
"Barr, bagaimana dengan sikap Mama kamu? apakah kamu yakin harus melanjutkan hubungan ini, sementara Mama kamu gak ngizinin kamu berpacaran."
Barry tak menyangka Dita menanyakan hal itu, ia pikir Dita tidak akan membahasnya lagi. Barry terdiam sejenak mencoba mencari jawaban.
"Maafin aku ya Dit, sebelumnya gak cerita soal apa yang Mama bilang, tapi aku juga tak harus mendengarnya. Karna aku sudah dewasa dan bagaimana pun aku tetap akan jatuh cinta seperti orang muda lainnya dan itu hal yang biasa."
"Tapi Barr, haruskah kamu melanggar perintah orangtuamu yang sudah membesarkanmu selama ini!!?"
"Aku gak tahu apa alasan dibalik Mama harus melarang aku seperti itu, padahal kakak-kakak diatasku semuanya banyak yang sudah pacaran bahkan ketika masih SMA. Sementara aku, aku gak pernah melanggarnya selama ini karna aku menghargainya. Aku gak melanggarnya karna aku belum pernah jatuh cinta. Dan ketika aku jatuh cinta, apakah Mama masih harus melarangku..?"
Dita terdiam, ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia senang atas jawaban Barry, namun ia juga tahu restu orangtua juga berperan dalam menjalani sebuah hubungan. Akan sulit menjalin hubungan jika salah satu keluarga diantara keduanya ada yang tidak setuju.
"Tapi Bar, gak baik menjalani hubungan jika orangtuamu gak setuju sama kita. Kamu akan sering terkena ocehan dan amarah orangtuamu nantinya. Dan aku gak suka itu Bar...,"
__ADS_1
"Sudahlah Dita, jangan khawatir.., aku janji itu tidak akan mempersulit hubungan kita. Dan aku pastikan itu bukan jadi alasan buat aku tidak mencintaimu."
"Apakah menurutmu kisah kita akan bertahan dengan keadaan ini!? atau apakah hubungan ini akan berjalan dengan...," belum selesai Dita berkata, tiba-tiba Barry melangkah mendekat pada Dita yang duduk dilantai tepat di pintu kamarnya.
"Kecuali kalau kamu berhenti mencintaiku, baru ini akan berakhir Dita." ucap Barry menatap Dita seakan ingin memberi bukti jika ia serius dengan hubungan mereka.
"Jangan tatap aku seperti itu..!?" kata Dita membuang pandangannya keluar.
"Apakah kamu ingin bukti jika aku serius denganmu!???" Barry menatap Dita dengan tajam.
"Tak perlu.! Cukup buktikan dengan sikap dan tanggung-jawabmu akan kata-katamu." Dita beranjak berdiri sembari membuang kegugupan yang jelas tak bisa ia sembunyikan.
Barry mengerutkan keningnya, menghela nafasnya dan menarik tangan Dita dengan lembut.
"Baik,,! akan aku buktikan."
"Dan, aku juga mau bilang sama kamu Dit, aku udah buktikan kalau aku benar-benar bukan anak kandung dari Mama dan Ayahku."
Dita terkejut dan menoleh Barry, ia kembali duduk disamping Barry yang masih duduk bersandar didekat pintu.
Tempat Itu adalah tempat mengobrol yang tersedia dikamar Dita. Karena ia hanya menyewa satu kamar untuknya dan memang begitulah seluruh kamar disana. Namanya juga kos-kosan, hanya memuat paling banyak 2 orang. Jadi, setiap ada tamu atau teman Dita datang, ia selalu duduk dipintu agar temannya yang datang juga duduk dekat dengannya. Karna, 2 meter didepan pintu sudah langsung tempat tidur.
"Yakin!!? tahu dari mana???"
"Aku cek foto masa kecilku. Ternyata mirip dengan foto anak kecil yang ada dirumah kak Lyli. Siapa lagi Dit, kalau bukan aku!!?" Barry tiba-tiba mengerutkan keningnya merasa pasrah.
__ADS_1
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang Barr..!?" Dita merasa prihatin, ia tak menyangka itu ternyata benar-benar nyata. Ia seakan tahu perasaan kekasihnya itu. Tiba-tiba Dita mendekat dan memeluk Barry.
"Sabar ya Barr, jangan kecewa. Percayalah Tuhan tahu apa yang terbaik didepanmu setelah kamu tahu semua ini. Tuhan udah siapkan hal yang lebih indah daripada sebelumnya." kata Dita bermaksud tak ingin aura alam bawah sadar Barry keluar karna itu akan menyiksa dirinya.
"Makasih sayang, aku lega, ternyata kamu benar-benar membawa berkat bagiku. Setelah mengenalmu, banyak hal baru terjadi dihidupku diluar kendali dan diluar pemikiranku. Dan lebih beruntungnya aku, diatas semua penderitaanku, malah kamulah obat dari segalanya. Aku mencintaimu..!" Barry menatap bola mata Dita yang terpusat padanya. Ia menaruh tangan kanan dan kirinya ke pipi Dita lalu memeluk Dita dengan lembut.
Dita tersenyum lalu melepas pelukan itu, ia merasakan kehangatan dan sayang yang ada pada Barry terasa mengalir dari pelukan itu dan berpindah padanya.
"Ehm...! ehm...!"tiba-tiba Rani yang entah mengapa bisa lewat dari pintu kamar Dita datang merusak suasana itu. Dita tersipu malu sedangkan Barry senang melihat Dita tersipu.
"Apa sih Rani..,"kata Dita
"Biarin ajah temanmu melihat, supaya jika ada yang mendekatimu, ia bisa melapor padaku. Ia kan Mba..!?" kata Barry pada Rani.
"Tenang Mas, Aman. Lanjut aja deh. Aku hanya lewat ajah, mau angkat jemuran..!" kata Rani lalu pergi.
"Lalu apa yang akan kita lakukan Barr..?" Dita kembali ke topik sebelumnya.
"Aku juga lagi berpikir Dit, aku belum menemukan solusinya bagaimana. Tapi aku udah ceritakan ini semua sama kak Sam.., dan dia bersedia membantuku juga."
"Hah, kamu bilang ke kak Sam...!? lalu bagaimana jika ia tahu ternyata kamu adik dari kekasihnya..!? gimana tangggapan orangtuamu nantinya.!!?"
"Itulah aku gak tahu Dit, aku belum bisa menemukan solusi untuk hal itu. Itulah yang lagi aku pikirkan. Saat ini Sam mendukungku, aku gak tahu dia masih akan mendukungku atau gak ketika tahu bahwa, aku adik dari kak lyli. Kamu kan tahu Kak Sam tipe temperamental tinggi."
"Ia juga Barr, kadang aku bepikir untuk pura-pura tidak tahu akan semua ini. Aku gak mau merusak keadaan yang sudah bagus malah rusak tapi setelah aku mengungkap siapa aku, malah semuanya berantakan. Aku gak mau Dit, hanya saja Aura alam bawah sadarku malah merontah menolak dan itu menyakitkan Dit.
__ADS_1
"Baiklah, kita diskusikan lagi hal ini beberapa hari lagi. Sama-sama kita mencoba mencari solusi. Sekarang kamu pulanglah dulu. Sudah magrib, kamu juga perlu mengistirahatkan dirimu. Tuhan tak akan memberikan suatu hal diluar kendali kita Barr, dan aku yakin setelah kamu lalui ini semua, kamu akan tersenyum bangga telah mampu melewatinya."
"Makasih Dit, dukunganmu membuatku tak patah hati. Semangatmu membuatku lebih berpikir positif. Aku sayang kamu." Barry mengusap kepala Dita lalu ia berpamitan untuk pulang. Dita mengantarkan Barry sampai ke gerbang lau ia melambaikan tangan kanannya pada Barry yang sudah mulai menghilang mengedarai motornya.