
Dita memenuhi keinginan Barry setelah Barry menerima pesanan dari Dita. Dita tampak senang dan lega. Ia kini bisa melapor ke kantornya tanpa harus mengecewakan bosnya nanti. Hari hampir magrib Dita berjalan bersama dengan Barry menuju rumah Barry yang tak jauh dari tempat mereka bertemu.
"Gak apa-apa kan Dit kamu pulang agak malam hari ini. Aku hanya ingin mengobrol dengan kamu. Kan udah lama kita gak ketemu." Kata Barry.
"Ia Bar gak apa-apa kok,ini pesanan terakhirku. Jadi udah bisa langsung pulang kerumah. Eh, rumah kamu jauh lagi??"
"Gak kok tuh udah dekat!. Itu yang warna hijau. Kamu udah capek ya??"
"Gak sih Bar,,, penasaran aja." Dita terbelangak. Yang ditunjuk oleh Barry adalah Rumah yang sangat mewah. Menurutnya, rumah itu sangat indah dan luas. Ada 4 mobil terparkir disana. Ada 4 sepeda motor juga disana yang salah satunya yang dulu sering dilihat oleh Dita dipakai Barry ke kampusnya.
Barry tiba dirumahnya lalu membuka gerbang berwarna Emas itu. "Masuk dulu Dit!."
"Ahm,,, gak usah Bar. Disini aja, biar cepet Bar. Soalnya keburu malem banget nanti." kata Dita hanya berdiri didepan pagar itu. Ia tak berani masuk kerumah mewah seperti itu. Dalam hatinya rumah besar seperti itu biasanya memiliki Mama yang galak. Dita merasa Mamanya Barry tentu seperti itu.
"Yaudah deh. Bentar ya, ambil kunci motor dulu!." kata Barry berlari kedalam rumah.
Mereka pun Bergerak dan keluar dari Komplek Alam Hijau itu. Sebenarnya Dita eggan untuk diantar oleh Barry. Namun sebagai bentuk terimakasihnya, ia menurut saja. Mereka tiba disebuah Restoran yang cukup sering di kunjungi oleh Barry bersama teman-temannya. Namunk karna Dita tak biasa makan disana, ia pun berusaha tidak menunjukannya.
"Dita!. Eh-mm,, maaf ya tadi sempat usil sama kamu dengan mengikutimu dari belakang di komplek itu." kata Barry membuka obrolan setelah memesan makan malam untuk mereka berdua.
"Hmm, sebenarnya tadi itu, aku mau lempar kamu pakai batu kalau kamu gak cepat kasih tau nama kamu."
"Wah,,, lebih serem kamu dong!. Pasti sakit tuh."
"Lagian, kamu kan bisa panggil nama aku langsung, sapa aku baik-baik. Gak harus mengikuti ku kayak orang jahat yang mau culik aku gitu."
__ADS_1
"Hahah,, maaf deh ya Dita."
"Hm-mm." balas Dita tersenyum. Senyuman itu meluluhkan hati Barry saat itu juga.
Barry membuang pandangannya. "Ademnya senyumanmu Dita!." gumamnya.
"Hah. Apa Bar..?!"
"Owh gak kok Dit!!. Nguping aja ya!"Kata Barry gugup karna Dita mendengar itu.
Barry tak menyangka bisa bertemu dengan Dita wanita yang sempat ia sukai itu namun menghilang setelah libur semester ke 5 dikampus Barry. Barry yang saat itu libur pergi bersama keluarganya tak tahu jika Dita juga pindah pekerjaan karna tak nyaman dengan sikap pemilik Les tersebut. Setelah masuk kuliah semester 6, Barry kembali ke kampus dan mengetahui bahwa Dita sudah tidak disana lagi. Dita saat itu mengganti nomor ponselnya tanpa memberitahu Barry. Barry sudah beberapa kali mencari alamat Dita namun tidak ada yang tahu, sehingga waktu pun berjalan dan Barry tak mencarinya lagi.
"Bar, udah semester berapa?!."tanya Dita yang melihat Barry diam saja menyantap makanan yang sudah dimeja mereka.
"Owh, gitu ya." kata Dita tak bertanya lagi. Dita tak ingin membahas masa lalu yang sempat ada diantara mereka. Dita hanya kembali menyantap makanan yang menurutnya sangat enak.
"Dit,, Kamu udah berapa lama kerja disitu?, ditempat pengantar barang ya atau apa namanya?" tanya Barry.
"Ehm,, sales maksud kamu. Ehm setelah dari Les itu aku langsung kerja disini Bar. Bareng sama kakak sepupu aku. Kalian sih enak,, kuliah dan terlahir dari orang yang berada."
"Ah, jangan berkata begitu Dit. Kita semua sama kok. Itu kan harta orangtua aku. Bukan milikku. Jadi aku juga gak punya apa-apa kok."
"ia deh!. Hanya kamu yang berbeda Bar. Hanya kamu anak kuliahan dan bahkan kuliah di Universitas ternama disini mau berteman sama orang seperti aku ini."
"Astaga Dita!. Jangan bilang gitu dong. Udah deh kita pulang aja daripada kamu nantinya selalu ngerendahin diri. Yang jelas aku seneng banget ketemu sama kamu lagi." Barry beranjak dari kursinya bermaksud memanggil pelayan restoran untuk membayar makan malam mereka. Dita hanya bisa menggaruk kepala, jika pun ia ingin membayar makanan itu, tentu uangnya tak akan cukup. Makanan itu sepertinya menu makanan yang mahal di tempat itu.
__ADS_1
Mereka pun bergerak dari restoran itu dan Barry mengantar Dita pulang kerumahnya. Selama perjalanan, rasa senang sangat terpancar diwajah Barry. Ia beberapa kali memerhatikan Dita melalui kaca spion motornya. "Mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengannya lagi,,, seneng banget rasanya!!." ucap Barry dalam hati.
Dita sepertinya memikirkan hal yang sama, ia sadar jika Barry memerhatikannya dari kaca spion motornya. Setiap kali Barry melakukan itu, ia hanya bisa menundukkan kepala, sedikit tersenyum dan kadang ia merasa salah tingkah. "Kok bisa ya ketemu sama anak ini lagi?!. Tumben banget bisa ketemu lagi. Bakal sering ketemu lagi apa gak ya nanti?!." ucap Dita dalam hati. Ia pun membuang pikirannya sembari menikmati jalan raya yang cukup ramai selama perjalanan menuju rumahnya.
Barry tak tahu jika pertemuan itu adalah salah satu jalan baginya untuk melihat siapa dirinya sebenarnya. Pertemuan itu akan menjadi kisah mendalam baginya. Melalui gadis yang bersamanya ketika itu akan menjadi orang penting yang akan ia butuhkan ketika ia tak bisa mengontrol dirinya.
"Sampai,,,," ucap Barry lega. Mereka tiba didepan rumah kontrakan dimana Dita tinggal. Setelah beberapa kali bertanya soal arah jalan pada Dita, Barry akhirnya mengingat alamat Dita.
"Oke Barr..., makasih ya udah capek-capek nganterin aku malam-malam begini. Aku jadi gak enak sama kamu. Kamu dua kali membantuku hari ini." kata Dita setelah turun dari motor Barry.
"Ah, gak apa-apa kali Dit, aku senang melakukannya. Aku akan ingat alamat kamu ini." ucap Barry tersenyum.
"Kenapa harus di ingat?."
"Ia harus dong, biar lain kali kalau kamu butuh bantuan, aku bisa datang kesini. Atau, kalau mau ketemu sama kamu, aku bisa saja mengunjungimu."
"Owh, gitu," jawab Dita menggaruk kepalanya.
"Boleh?!."
"Ehm, boleh." jawab Dita sedikit malu. Ia tak biasa mendapat tawaran seperti itu dari laki-laki. Ia merasa gugup dan berusaha tidak terlihat senang akan pertanyaan itu.
"Makasih Dit, kalau begitu aku pamit pulang. Senang bertemu denganmu lagi Dit." kata Barry tersenyum hangat.
"Ia Bar, sama-sama. Hati-hati dijalan ya Barr." jawab Dita akhirnya tersenyum. Mata mereka beradu pandang beberapa detik. Lalu Barry pun pergi meninggalkan Dita yang menungguinya sampai tak terlihat.
__ADS_1