
Barry tiba dirumah dan langsung melajukan motornya ke garasi disamping teras rumahnya. Suasana hatinya cukup baik karna masih membayangkan wajah Dita. Barry melihat Mamanya sedang asyik duduk di teras sambil membaca majalah kesukaannya. "Majalah Selebritis Terbaru" begitulah judul majalah itu dibaca oleh Barry. Hal itu adalah kebiasaan Mamanya disore hari setelah selesai mandi. Katanya enak sekali duduk diteras pada sore hari sambil membaca majalah sambil sesekalikoteras itu. Walau di rumah itu dipagari besi setinggi 2 meter, rumah itu masih bisa dikunjungi oleh tetangganya karna mamanya sangat akrab dengan tetangga.
"Sore ma..! Asyik sekali bacanya ma. Awas loh nanti cepet katarak. Jangan dekat-dekat baca bukunya mama" kata Barry kemudian duduk disamping mamanya dan melepas ransel yang dari tadi masih bertengger di punggungnya.
"Eh Sibungsu mama udah pulang,, mandi dulu gih..., Bau keringatnya sampai kesini. Mama ikut-ikutan merasa bau padahal kan mama baru siap mandi!"
"ia ia mah...! Ah mama,, keringat anaknya sendiri juga,, gak apa-apa dong dicium mamanya" balas Barry malah memeluk mamanya agar mamanya semakin kesal. "Kristiaan Barryyyy...!!" Teriak sang mama membuat Barry melompat menuju kedalam rumah dengan tertawa berhasil membuat mamanya kesal. Mamanya hampir saja memukul kepala Barry namun Barry sudah menghilang. Mamanya masih menciumi badannya yang sudah bercampur dengan keringat Barry. Barry tersenyum geli melihat expresi sang mama.
Dirumah itu Barry lebih sering disebut Tian karna nama lengkapnya adalah Kristian Barry. Hanya Dita yang masih lancar menyebutnya Barry. Karna kali pertama menyapa Ia memberitahu jika namanya adalah Barry.
Barry merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang cukup luas itu. Didalam kamar itu semuanya lengkap. Mulai dari Televisi,DVD,PS, meja belajar yang unik dengan rak buku yang selalu rapi seperti lemari Buku mewah tepat disamping meja itu. Ada juga kamar mandi dan gitar yang baru dibelinya 2 bulan lalu karna untuk ke 3 kalinya Ia harus membeli gitar baru karna gitar sebelumnya rusak dibuat oleh sang Kakak akibat berkelahi hanya karna masalah gitar. Kakaknya selalu mengambil gitar Barry tanpa permisi. Ia tidak pernah aku dengan sang Kakak laki-laki nya itu. Namanya Samuel yang hanya terpaut usia 3 tahun darinya. Samuel tidak pernah berdamai dengannya. Berbeda dengan Kakak-kakaknya yang lain yang sangat menyayanginya. Namun karna ke 2 kakaknya sudah tak lagi tinggal dirumah, tak ada lagi yang membela dirinya saat harus beradu mulut dengannya.
Tiba-tiba Barry tersadar jika pintu kamarnya sedang di gedor-gedor seseorang. Suara itu sudah ada sejak tadi. Secepat kilat Barry melompat daro tempat tidurnya untuk membuka pintu.
"Eh Sam,, Ada apa??" Suara itu berasal karna Samuel mengetuk dengan keras pintu kamarnya.
"Lama banget sih bukainnya.!! ngapain aja didalam baru buka sekarang??" Samuel langsung masuk kedalam kamar itu tanpa tau apakah Barry mengizinkannya apa tidak. Ia selalu begitu kadang marah-marah tak jelas pada Barry.
"Ia kan gak harus teriak juga,, Pakai gedor-gedor lagi. Kayak ada maling aja!" jawab Barry kesal.
"Emang kalau pelan kamu dengerin apa.., Itu di gedor-gedor aja gak dengar dan lama buka pintunya!" Samuel duduk dimeja belajar Barry yang sebenarnya Barry tak suka dengan tingkah itu. Ia curiga dengan sang Kakak apa alasannya kali ini datang ke kamar nya.
"Pinjem gitar ya. Eh sekalian pinjem buku lagu yang kemarin Ayah kasih ke kamu. Ayah bilang lagunya terbaru."
"Pinjem gitat lagi,,?"
__ADS_1
"Ia..., Pelit amat sih. Bentar aja kok. Nanti juga aku balikin. 2 jam aja deh" Kata Samuel sudah berhasil memegang gitar Barry yang kebetulan tak jauh dari meja belajar itu. Hal itu membuat Barry tak sempat untuk menolak.
"Jangan dong. Malam ini aku juga mau pakai. Besok juga aku mau bawa ke kampus"
"Astaga pelit amat. Ntar juga aku balikin. Lagian jurusan Hukum kok bawak gitar ke kampus sih..!" Samuel tak menghiraukan Barry. Ia lalu berdiri bermaksud meninggalkan kamar Barry.
"Lagian kenapa gak beli aja sih.. Uang banyak juga!!"
Samuel tak menghiraukan ocehan adiknya itu malah meninggalkan kamar Barry dengan cuek. Barry menghela nafas mencoba menetralkan kekesalannya. Ia ingin membalas tapi jika ia lakukan yang ada mereka akan berkelahi dan rumah itu akan pecah. Karna terakhir kali mereka berkelahi,Samuel hampir saja meninju pipi Barry sebelum akhirnya sang Ayah menghampiri mereka dan menghukum keduanya dengan Samuel tidak boleh memasuki kamar Barry dan sebaliknya. Awal nya Barry lega dengan keputusan itu Namun seiring berjalannya waktu hal hukuman itu pupus juga. Ayahnya seakan lupa akan keputusan itu. Samuel masih saja memasuki kamar Barry.
"Sabar.. Sabar. Awas aja tuh gitar nanti rusak. Ntar disengaja lagi alasan minjem tapi malah dirusak" Barry mengelus dadanya. "Ntar kalau rusak. Berantem aja deh lagi. Kesel" lanjut Barry. Ia kembali merebahkan Tubuh kekarnya di tempat tidur dan membayangkan wajah Dita sebagai alasan agar ia tak mengingat sikap sang Kakak.
Bagi Barry tak mudah untuk menyukai seorang wanita. Ia termasuk pria yang susah jatuh cinta. Hanya Dita yang menurutnya wanita berbeda. Walau masih 2 kali bertemu dalam seminggu ini, Barry merasa ia masih menyukai wanita mandiri itu.
Barry akhirnya tertidur, wajar saja sudah pukul 23:30 ketika ia melihat jam ditangannya. Besok pagi ia harus lebih cepat bangun karna besok adalah hari Minggu. Namun kebiasaan Barry tidak akan bisa bangun jika tak dibanguni oleh mamanya. Ia memilih bermalas-malasan sampai mamanya berteriak memanggil.
"Kristiaaaaan!!!"
"Samueeeeell!!!"
Benar saja Mamanya sudah berteriak. Itu artinya sudah pagi dan mereka harus cepat-cepat turun kebawah untuk sarapan yang sudah disiapkan mamanya. Lagi-lagi tak ada sahutan dari mereka.
"Iaaan..!!? Samuelll!!? payah emang 2 anak ini. Setiap hari minggu habis tenggorokanku memanggilnya. Kenapa coba hari minggu mereka malah susah dibangunin." Omel sang mama sambil menyiapkan sarapan. Suaminya yang ikut mendengar ocehan itu sedikit kesal.
"Udah lah ma,, mereka kan udah besar. Ntar juga turun sendiri,, atau perlu aku panggilkan?? Kata sang Ayah.
__ADS_1
"Biar aku saja Pah" Balas sang mama. Mamanya menghela nafas, ia tau jika sudah Ayahnya yang memanggil keduanya, bisa-bisa mereka loncat dari lantai 2 rumah itu dimana kamar mereka ada dilantai 2 rumah itu. Mereka bisa-bisa tidak melewati tangga hanya untuk menuruti sang Ayah karna sudah tau Ayahnya akan marah.
"Sam..! Iaaan!! Ayo sarapan!! Udah jam 8 lewat loh. Kita masih harus ibadah. Cepaat..!"
Masih belum ada balasan akan teriakan itu. Mamanya melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai 2 bermaksud mengetuk pintu kamar mereka masing-masing. Sang Mama masih saja mengoceh sebelum akhirnya sampai diatas. Ayahnya memerhatikan Istrinya sudah kelelahan menaiki tangga belum lagi tubuh istri nya yang cukup gemuk itu.
Akhirnya Ayahnya buka suara juga. "Iaaan.! Samuel.! Turun.! Jangan sampai mama kalian mengetuk pintu kalian dan kalian belum juga menyahut ya.! Mama kalian itu capek naik keatas hanya untuk manggil kalian sarapan. Sadar gak.!" Tangan sang ayah keduanya di pinggang dan teriakan itu bergema diseluruh rumah itu.
"Ia Pah....!!!" Samuel dan Barry serempak menjawab. Barry yang masih mengantuk melompat dari tempat tidur mengira mamanya jangan sampai mengetuk pintu kamarnya. Begitu juga samuel melakukan hal yang sama. Mereka bersamaan membuka pintu kamar tepat setelah mamanya menginjakan kaki di tangga terakhir nya.
"Makan,,"Ucap mamanya mengelus-elus dadanya yang sesak karna kelelahan.
Barry bermaksud melangkahkan kakinya untuk mendekat pada mamanya itu. "Ouuchh" Teriaknya kesakitan karna baru saja menendang gitar yang tepat dibawah pintu kamarnya.
"Bodoh,,"gumam Samuel senyum. Barry memandang kesal Samuel. "Apaan sih. Ngapain gitar aku ditaruh disini!!"
"Kan aku semalam mau balikin tuh gitar tapi kamar kamu terkunci. Kamu di teriakin gak denger. Yaudah aku taruh disitu" Jawab Samuel cuek.
"Sakit tau gak sih..!"
"Eh. Aku nepatin janji ya.. Ntar kamu nuntut lagi balikin gitar aku,, balikin gitar aku,," balas Samuel tak mau kalah.
"Berantam terus..," Kata mamanya yang dari tadi memerhatikan sikap keduanya.
begitulah hampir setiap hari Barry dan Samuel adu mulut membuat mamanya pusing.
__ADS_1