Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Kesal


__ADS_3

Dita mendapat kabar dari Barry jika ia sudah menyelesaikan skripsinya dan merayakan bersama beberapa beberapa teman sekelas dari kampusnya. Dita sangat memercayai Barry akan kata-katanya itu. Barry juga berjanji jika Dita selesai pulang kerja, Barry akan mengajaknya makan malam untuk merayakan bersama.


Dita kembali melanjutkan pekerjaannya dibawah terik matahari yang membuat keringatnya cukup banyak bercucuran. Sebenarnya Jadwal kunjungan Dita tak jauh dari lokasi yang diberitahu oleh Barry dimana mereka merayakan makan siang bersama teman-temannya.


"Panas banget, sumpah,!!" keluh Dita mengibas-ibaskan kertas tebal kewajahnya. Ia berhenti disebuah warung makan dan bermaksud untuk makan siang disana. Tak sengaja mata Dita mengarah kesebuah mobil merah. Terlintas dibenaknya jika mobil itu mirip dengan mobil Barry.


"Kita makan disini aja ya, karna ini giliran skripsi aku yang udah beres, jadi aku yang traktir,!" Terdengar nada bicara yang menurut Dita mirip dengan suara Barry. Restoran itu hampir berdampingan dengan warung makan yang ditempati Dita. Ia menoleh memastikan suara itu.


"Astaga, emang Barry!!?"Ucapnya terkejut langsung memalingkan badannya agar tak terlihat.


"Kenapa Mba?" pemilik warung makan itu ikut terkejut lalu mencari apa yang sedang dilihat oleh Dita.


"Eh gak ada apa-apa Pak, hanya merasa jika temen saya tadi lewat." balasnya malu. "Pak, aku langsung duduk ya, Nasi putih dan lauknya Lele aja ya pak, pedes.!" kata Dita lalu berjalan kesudut warung itu dan duduk disana.


Dita memandangi Restoran yang berada disebelah kanannya. Kaca restoran itu memantul kearah Warung makan. Sekilas Dita mencari sosok yang ingin dilihatnya. "Yah, itu emang Barry!" tanya lagi memastikan. Kebetulan Barry dan kedua temennya duduk mengarah dinding dan Dita bisa memerhatikan mereka.


Dita tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dari gerak gerik itu hati Dita tiba-tiba sakit.


"Kompak juga Barry dengan teman wanitanya," gumamnya. Barry duduk berdampingan dengan seorang wanita dan seorang pria yang duduk berhadapan dengan mereka. Dita sangat detail memerhatian wanita itu.


"Cantik, putih, rambutnya indah, bajunya bagus dan gayanya, aduh..., Perfect banget!!" ucapnya dalam hati.


Makanan pun datang, dengan cepat Dita melahap makanan itu. Matanya tetap tertuju pada Barry dan teman-temannya. Barry tak akan bisa melihat kearah Dita karna pantulan kaca itu hanya bisa terlihat dari luar ruangan. Jadi Dita tak perlu sembunyi agar tidak terlihat.


Dita pun selesai makan dan beranjak dari tempat duduknya. Menuju kasir dan membayar makan siangnya. Dita memakai helmnya dan menyalakan motornya. Pandangan Dita mengarah untuk terakhir kalinya kearah Barry dan tiba-tiba saat ia pandang, Barry merangkul teman wanitanya itu. "App-apah??" katanya Heran. Seketika itu Dita kesal. "Dasar laki-laki terlihat baik ternyata genit!!!"


Dita membuka helmnya bermaksud agar Barry melihatnya, ia mengarahkan motornya tepat didepan restoran itu. Benar saja, Barry yang duduk mengarah jalan raya, Barry pun melihat Dita. Ia terkejut lalu langsung beranjak dari tempat duduknya. Belum juga Barry sampai ke depan restoran, Dita menancapkan gas motornya lalu pergi dengan wajah kesal.


"****** aku,!!!" kata Barry gelisah menepuk jidatnya.


"Barr,,!! Ngapain!!!?" tanya Gobi temannya.

__ADS_1


"Dita, barusan aku lihat Dita, Bi!!" jawabnya. Gobi temannya sejak awal kuliah pun terkejut.


"Masa sih, Mana!?" tanya Gobi yang merupakan teman dekat Barry.


Barry berjalan kembali ke tempat duduknya dengan sangat gelisah. Ia tahu jika Dita pasti marah padanya karna tahu apa yang baru saja ia lihat.


"Dita siapa??" tanya Winda teman wanitanya itu.


"Ada deh..!" balas Gobi menjawab.


"Seriusan, aku nanya serius?? kok bisa Barry sampai gelisah begitu!!" kata Winda lagi.


"Udah ah, ayok kita balik aja!!" kata Barry kehilangan selera makannya.


"Hah, balik. Makanan baru datang gini masa balik?" Winda sedikit kesal, begitu juga dengan Gobi.


"Aku udah gak konsen Bi. Aku takut Dita tadi liat aku ngerangkul kamu Win!!"


"Owh, Wanita tadi yang didepan itu Pacar kamu sekarang Barr,,? yang bawak motor tadi? yang kayak Sales gitu!!" Winda menunjukan rasa tak sukanya pada Dita yang sempat sekilas ia lihat Barry menghampirinya tadi.


"Kamu sih, udah tahu punya pacar, masih aja deketin aku, Huhhh!!" kata Winda lalu berdiri. Gobi ikut berdiri dan menarik tangan Winda.


"Jadi pulang gak nihh!!"


"Jadi!! Kamu yang nyetir!!" Barry melemparkan kunci mobilnya pada Gobi. Dengan sigap Gobi menangkap dengan baik.


"Ehm!! Ia deh!!" ucapnya sedikit malas walaupun Gobi sudah biasa mengendarai mobil sahabatnya itu.


"Sayang banget makanannya, padahal aku lapar loh,!" kata Winda melirik hidangan makan siang mereka yang tak hadi mwreka makan. Barry meletakkan 3 lembar uang berwarna merah diatas meja dan memanggil pelayan untuk mengambilnya.


Barry dan kedua temannya pun meninggalkan restoran dan mengantar mereka kembali ke kampus karna kedua temannya masih ada urusan di kampus. Barry pamit untuk menemui Dita. Ia mengambil Android nya dari tas kecil yang melingkari dada bidangnya.

__ADS_1


"Angkat dong Dit,,!!" gumamnya gelisah setelah menelpon nomor telepon Dita.


"nomor yang anda tuju sedang tidak aktif dan berada diluar jangkauan!!"


" Astaga dimatiin lagi teleponnya. Gimana mau nanya cobak!!!" Barry memukul setir mobilnya melampiaskan kekesalannya. Ia melihat jam tangannya, " Masih jam 3 lagi, pasti dia belum pulang kerja, Gimana Nih!!?" Barry benar-benar takut dan khawatir akan dipandang buruk oleh kekasih hatinya itu.


"Telepon Kak Lyli aja deh??!" Sekilas Barry teringat jika Lyli bisa membantunya.


"Hallo Kak, Ehm,, Bisa minta tolong hubungin nomor telepon Dita gak??"tanyanya setelah Lyli mengatakan "hallo" dari seberang sana.


"Emang kenapa dik,,? bentar aku telepon ya!" tanpa pikir panjang Lyli menelpon Dita sesuai yang disuruh oleh Barry. Barry pun menunggu beberapa saat, lalu Lyli menelpon kembali.


"Gak diangkat juga dik, kayaknya sih, Teleponnya dimatiin deh. Emangnya ada apa Barry??"


"Ehm, gak apa-apa sih kak, hanya kwatir aja. Udah ya kak. Aku matiin dulu."kata Barry lalu menekan tombol merah di Androidnya. Barry benar-benar bingung dan tak tahu harus bagaimana lagi. Sebenarnya ia ingin bilang pada Lyli jika Dita mematikan teleponnya karna Dita melihat dirinya merangkul teman satu kuliahnya Winda. Winda memang wanita yang selalu mendekati Barry sejak dulu. Mereka semakin dekat ketika Barry beberapa kali menggodanya dengan kata- kata manis. Barry suka memuji-muji Winda sehingga Winda semakin mengejarnya.


Tiba-tiba telepon Barry berbunyi, ia segera mengecek Androidnya berharap itu adalah Dita, ternyata salah.


"Ia Win, kenapa??" tanyanya setelah melihat nama kontak tersebut adalah Winda.


"Udah kelar urusannya,,? Balik kesini dong. Temen-temen nungguin kamu."


"Gak lah Win, Lanjut aja, aku masih ada urusan." jawab Barry singkat.


"Owh yaudah deh,!! Udah gak usah dipikirin lah Barr, Ntar cerita deh sama aku.!!"


"Haha, Gak ah, ini urusan pribadi banget, jadi gak perlu deh cerita sama kamu." Barry berusaha menguasai pikirannya.


"Yakin nih, Aku bisa jadi pendengar yang baik loh."


"Ah ntar kamu jadi cemburu, ngejek-ngejek aku dan cewek yang tadi."

__ADS_1


"Lagian kamu sih!! Banyak yang cantik dan baik diluar sana malah sukanya sama yang gituan. Haha" Winda tertawa sedikit mengejek. Tapi Barry hanya menganggap itu candaan dan cara Winda menghibur dirinya.


"Tuh kan, belum juga cerita aja kamu udah ngejek duluan. Udah ah aku mau jalan nih!" Barry pun memutus sambungan teleponnya dan menaruh Androidnya ke tempat semula. Barry menghela nafas panjang. Kali ini ia bermaksud menemui Dita ke kost nya dan jika Dita belum pulang, ia akan menunggunya disana.


__ADS_2