
Dita merogoh tas berwarna merahnya lalu diambilnya teleponnya lalu di geser sampai nama Barry di telepon itu terlihat. Ia masih memberhentikan motornya lalu menaruh telepon itu di telinganya.
"Hallo Bar,,?? Aku udah di daerah kamu. Bar aku kerja dulu ya. Nanti sore Kita ngobrol ya,Gimana!?" tanya Dita setelah Barry mengangkat telepon.
"Eh tunggu Dit, Aku mau kesana,! Jangan kemana-mana dulu. Ini aku gerak kesitu bentar ya!!"
"Tapi Bar, aku mau kerja. Jangan ngobrol sekarang."
"Udah tunggu aja,,! bentar kok. Oke!" Barry mematikan teleponnya sembari ia menuruni anak tangga setelah keluar dari kamarnya. Barry bergegas menuju Garasi. Tidak ada yang tahu jika ia pergi. Ia sedang tidak ingin berpamitan kepada orangtuanya seperti biasa ia lakukan dan juga Samuel lakukan setiap keluar dari rumah. Samuel juga sepertinya sudah pergi bekerja. Ayah dan Mamanya sedang tidak terlihat di dapur ataupun diruang tamu.
Barry menyalakan motor gedenya dan bergegas menuju simpang komplek dimana Dita sudah menunggu. Ia pun sampai dan melihat Dita berdiri pada motornya dan ada barang yang akan ia antarkan ke toko di daerah Barry.
"Hai Dita,, aku gak lama kan!?" tanya Barry.
"Gak kok, ada apa Barr,!? Aku masih ngantar barang loh" Dita terlihat buru-buru tak memahami sikap Barry.
"Bentar ya, Aku titip motor aku di pos Satpam komplek."Barry memutar motor gedenya dan memarkirkan motornya tepat disamping seorang penjaga komplek. "Mas titip motor aku ya, Entar sore aku ambil. Bisa kan!?" kata Barry pada Satpam yang separtinya sangat kenal dengan Barry itu.
"Owh bisa Mas Tian, bisa banget. Tenang Motornya aman kok." balas Satpam itu dengan ramah. Hal itu membuat Dita bingung dan tanda tanya dengan maksud Barry mengapa malah menitipkan motornya. Barry berjalan menuju motor Dita dan tersenyum manis.
"Aku mau bantuin kamu kerja."
"Hah,, Barry kamu ngapain!? Kamu mau bantuin aku gimana maksudnya?" tanya Dita heran.
"Maksudnya, Aku mau habisin waktu seharian sama kamu. Aku mau ikut ngantar barang ini ketoko langganan kamu."
__ADS_1
"Ap-pah Aduh Barr gak usah, Aku bisa kok Barr" Dita mengelak.
"Udah, Awas turun dong..! Wanita tuh duduknya dibelakang, Biar Prianya yang ngeboncengin." kata Barry dari tadi selalu tersenyum semangat. Ia menyuruh Dita turun dari motornya. Dita menurut tapi masih tak ingin Barry bertingkah seperti itu karna itu bukanlah pekerjaan orang seperti Barry.
"Biar barangnya ditaruh di depan ini." lanjut Barry mengangkat barang jualan Dita ketengah motor honda matic itu. Dita menggaruk kepalanya membiarkan Barry melakukannya.
"Nah, Aku yang bawa motornya, Kamu naik, duduk dibelakang aku."lanjut Barry lagi kemudian menaiki motor itu. Dita masih tak habis pikir dengan tingkah Barry. Dita pun naik mengikuti arahan Barry. Satpam yang menjaga komplek itu memerhatikan mereka sambil senyam-senyum. "Cocok Mas Tian, Wanita emang duduk dibelakang." sapanya.
"Tuh kan, Mas satpamnya aja tahu tuh."Barry tertawa pada Satpam itu. "Ia dong Mas, dah Mas, pamit yo.!" Sapa Barry lalu menyalakan motor itu dan mereka pun pergi.
"Kita kemana nih Dit,?" tanya Barry semangat.
"Ehm ke toko Sumber Jaya namanya. Kira-kira 1 KM dari sini. Nanti sebelah kiri, tokonya." jawab Dita.
"Oke Bos.! kali ini, Kamu jadi bos Aku yah,, Kamu cuma nunjukin tokonya saja. Biar aku yang antar semuanya." Barry benar-benar semangat dan bahagia.
"E-e-ehh,,!!" ucapnya iseng, membuat Dita tiba-tiba memeluk Barry karna terkejut. "Hati-hati dong Barr!!" teriaknya. Barry tersenyum mengarahkan pandangannya pada perutnya yang sudah dilingkari oleh kedua tangan Dita.
"Gitu dong, pacarnya dipeluk, kalau lagi di boncengin.!"
"Ihhh,!! Barry! Kamu sengaja ya,, sok nge-rem segala." Dita melepas tangannya kesal namun tersenyum malu. Segera Barry menarik tangan itu kembali.
"Jangan dilepas dong, Aku suka banget kalau Kamu peluk. Rasanya Kamu sayang sama Aku kalau Kamu peluk Aku seperti ini." kata Barry sembari memerhatikan laju motornya, ia menoleh kesamping melihat expresi Dita yang malu-malu menggemaskan. Dita pun menurut, ia membiarkan tangannya dipinggang kekasihnya itu. Dita diam-diam merasa semakin menyukai senyuman indah Kristian Barry itu.
Barry dengan semangat menemani Dita sampai sore hari. Tak ada wajah lelah terlihat padanya, ia bahkan tak menyuruh Dita menyentuh barang jualan nya dan semuanya Barry yang tangani baik itu berbicara pada pemilik toko, menawarkan barang untuk minggu depannya ataupun barang apa saja yang akan di turunkan kedalam toko. Dita hanya berdiri mengajari beberapa hal yang Barry kurang mengerti. Pemilik toko yang kebanyakan sudah mengenal Dita pun banyak yang bertanya-tanya siapa laki-laki yang bersamanya. Barry hanya menjawab jika ia adalah karyawan baru yang membantu pekerjaan Dita agar lebih mudah. "Maklum wanita gak bisa banyak antar barang berat. Jadi harus ada Pria nya" begitulah alasan Barry.
__ADS_1
"Huh...! Akhirnya siap juga ya Dit,!" Kata Barry menghela nafas panjang setelah mereka berhenti untuk istirahat disebuah Warung es kelapa dipinggir jalan. Mereka sudah menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu. Barry sangat bahagia seharian bersama Dita membuat pikirannya tenang dan selalu tertawa. Apalagi Dita wanita yang mudah tertawa ketika Barry mengganggunya dengan hal-hal kecil.
"Tapi Barr, Aku gak enak sama kamu. Kamu kan orang Kaya, gak pernah kerja berat kayak aku ini, kalau mama kamu tahu gimana??" Dita ikut menghela nafas, meneguk air kelapa yang sudah mereka pesan.
"Ah, Kaya apaan Dit, orangtuaku yang Kaya, punya segalanya. Aku mana punya apa-apa. Yang ada padaku saat ini semuanya milik mereka. Aku juga nantinya akan memilih jalan hidupku sendiri." Jelas Barry menatap Dita mencoba meyakinkan kegelisahan kekasihnya itu.
"Tapi Bar,, nanti kita jika hubungan ini berlanjut, Apa Ayah dan Mama kamu setuju sama perempuan kayak aku ini. kata kasarnya aku ini Sales Bar." Dita menunduk merendahkan dirinya tak sanggup menatap mata Barry yang begitu memiliki makna.
Barry menggenggam tangan kiri Dita dengan lembut. Mencoba meyakinkan perasaannya pada Dita yang sejak lama sudah ia sukai itu.
"Dit, Walaupun Ayah aku, Mama aku, atau Kak Sam gak suka, kalau a
Aku suka kamu. Pilih kamu jadi pendamping hidupku, Mereka bisa apa. Aku Dit yang memilihmu. Aku yang tahu Kamu gimana, bukan mereka."
"Tapi Bar, Aku bisa aja jadi bikin keluargamu malu," Dita menaruh tangan kanannya diatas tangan Barry yang sudah menggenggam tangan kirinya itu.
"Percaya sama a
Aku Dit, aku akan membelamu. Aku yang memilihmu, pekerjaan yang kamu lakukan kan halal dan itu adalah pekerjaan hebat bagi wanita seperti kamu. Pekerjaan yang kamu lakukan ini membuatmu mandiri dan bertanggung jawab. Aku suka itu." Barry menatap Dita penuh arti. Dita terdiam tak bisa membantah ucapan Barry yang membuatnya sedikit lega.
"Aku ingin menghabiskan waktuku lebih banyak bersamamu. Aku ingin kamu menjadi satu-satunya alasanku untuk mengenal siapa diriku." Lanjut Barry tak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya. Pemilik warung es kelapa itu pun tidak tahu menahu soal masalah pribadi pelanggannya. Dita memerhatikan sekelilingnya lalu kembali menghela nafas. Tersenyum hangat pada Kekasihnya yang ternyata sangat menghargai pekerjaannya membuat Dita merasa mengenal Barry adalah hal yang patut disyukurinya.
"Terimakasih Bar, sudah membuat hatiku tenang. Jujur dulu aku menjauh darimu karna aku merasa tak pantas menjadi temanmu. Aku tak ingin rasa itu dulu muncul sebelum aku menyesal."
"Ohh Dita, kenapa kamu baru bilang sekarang. Coba aja dulu kamu langsung kasih tahu aku tentang keluh kesahmu ini,, mungkin kita sudah menjalin hubungan ini sejak itu."
__ADS_1
"Maaf,," Lagi-lagi Dita menunduk.
"Sudah lah..., Aku lega, sekarang semua sudah jelas." Barry tersenyum hangat. Dita membalas senyuman itu dengan lembut. Membawa pandangan itu ke jalan raya yang selalu ramai kendaraan berlalu-lalang. Barry masih tetap memandangi Dita dengan senyuman bermakna