Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Tiba di desa Dita


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan selama 4 jam, Barry dan Dita tiba di desa. Hanya saja butuh waktu 10 menit lagi untuk tiba dirumah Dita. Rumah Dita berada didesa terpencil daerah itu. Itulah sebabnya Dita melarang Barry membawa mobilnya karna tidak akan bisa masuk. Jalan yang dilewati mereka hanya memiliki luas 2 meter, tentu tidak aman untuk dilalui kendaraan roda empat. Selama besar di desa, Dita selalu menjadi bunga desa karna kecantikannya. Walaupun tinggal didesa terpencil bersuhu dingin, Dita sudah memiliki kulit putih dari sang Ibu. Ibu Dita adalah cucu dari seorang bule yang pernah tinggal didesa itu.


"Wah indah dan sejuk banget desamu Dita,!!" Decak kagum Barry tak bisa ia sembunyikan.


"Yah,,,! emang, sebenarnya aku sangat betah tinggal disini. Cuma Bapak selalu bilang untuk cari pengalaman di kota."


"Jadi, dari semua rumah yang berderet ini, manakah rumah kamu Dit??" tanya Barry menoleh pada Dita. Dita pun menunjuk sebuah rumah yang sudah tak jauh dari mereka. Rumah berwarna putih dan beratap sederhana. Banyak bunga menghiasi halaman rumah mereka.


"Itu disana!! yang warna putih Bar!!" jawabnya mendekatkan suaranya pada telinga Barry. Dengan semangat Barry mempercepat laju motornya. Tak sabar ingin bertegur-sapa pada kedua orangtua Dita.


"Hei,!! gak usah buru-buru Barry!!" teriak Dita terkejut.


Mereka pun tiba tepat didepan rumah yang ditunjuk oleh Dita. Disana sudah ada dua pasang mata menyambut kedatangan mereka. Ibu dan Bapak Dita sudah tahu jika Dita akan membawa seorang teman pulang kampung. Anak kedua dari tiga bersaudara itu pun turun dari motor dan menyambut senyuman kedua orangtuanya.


"Salam Bu, Pak, Dita pulang." ucapnya mencium kedua telapak tangan orangtuanya.


"Ia nak, sini masuk, kalian pasti udah capek!! Dita ajak temanmu masuk kerumah!" kata Ibunya memandang kearah Barry yang sedang tersimpu malu tak tahu mau berbuat apa.


"Barr!! ayok?!" kata Dita menoleh pada Barry. Segera Barry beranjak dari motornya lalu memarkirkan motor itu dengan baik. Ia membawa ransel dan beberapa oleh-oleh yang sengaja mereka beli untuk diberikan pada orangtua Dita. Dengan sangat eggan dan kaku, Barry melangkahkan kaki untuk pertama kalinya kerumah orangtua seorang wanita.


"Gak usah sungkan-sungkan nak, anggap aja rumah sendiri." Kata Bapak Dita yang biasa disebut Bapak Fredy itu. Pak Fredy mencoba membantu membawa barang bawaan yang sedang diangkat oleh Barry.


"Ehh, pak, gak usah pak. Barry bisa sendiri." ucap Barry sungkan. Setelah meletakkan barang tersebut, Barry membersihkan tangan kanan dengan mengusapkannya pada celana hitamnya dan mengulurkan tangan itu pada kedua orangtua Dita.


"Salam pak, bu, nama saya Kristian Barry, ehm saya teman Dita." ucapnya sambil menunduk.

__ADS_1


"Gak usah kenalan, Dita sudah banyak bercerita tentang kamu nak Barry." balas Ayah Dita. Barry tersipu malu memandang Dita, tak tahu jika ia sudah menceritakan tentangnya pada keluarga Dita. Ibu Dita tersenyum, namun tak sengaja rasanya ia seperti melihat sosok yang berbeda dari Barry. Ia melihat Barry seperti mirip pada seseorang yang tak asing baginya. Seketika Ibunya menghempaskan pikiran itu. "Ah ada-ada saja!!" ucapnya dalam hati.


"Maaf ya Bar, rumah aku sederhana. Gak seperti rumah kamu yang luas dan besar." Dita merendahkan diri mempelihatkan seisi rumah yang tak sebanding dengan tempat tinggal Barry.


"Silahkan duduk dulu nak Barry. Istirahat dulu ya, kamu pasti sangat capek mengendarai motor selama 4 jam lebih." kata Ibu Dita yang biasa disebut Ibu Luise di kampungnya itu. Wajah yang ibu sangat mirip dengan Dita, paras cantik sang ibu benar-benar turun pada Dita, anak perempuan satu-satunya dirumah itu. Dita memiliki satu kakak saudara laki-laki yang pergi merantau ke Jakarta, sedangkan adik laki-laki Dita berusia 14 tahun sedang sekolah dan akan pulang pada saat Magrib karna sedang mengikuti extrakulikuler disekolahnya.


Barry pun duduk di sofa sederhana yang sudah tampak tua. Rasanya ia ingin segera merebahkan tubuh lelahnya disana, namun karna merasa eggan, ia tak jadi melakukannya. Dengan sigap Dita langsung pergi kedapur untuk menyiapkan minum untuk Dita dan kedua orangtuanya agar lebih santai mengobrol.


"Jadi, nak Barry ini, asli orang Medan ya??" tanya sang Ibu membuka obrolan yang duduk berdampingan bersama sang suami.


"Iah Bu, saya asli orang sana," jawab Barry ramah.


"Sudah kasih tahu ke orangtua kamu kan kalau kamu datang main-main kerumah Dita?" pertanyaan itu membuat Barry sedikit tersentak. Ia bingung harus mengatakannya.


"Ehm-m sudah bu, mereka tahu saya kesini." jawabnya berbohong. Dita mendengar jawaban itu dari belakang. Dita menghela nafas atas kebohongan kecil itu. Ia tahu Barry sedang berbohong, tentu Mamanya belum mengetahui tentang Dita karna Barry belum pernah membawanya kerumah mereka.


"Ini minumnya Bar, Bu, Pak" kata Dita meletakkan tiga gelas minuman hangat berwana hitam, minuman khas daerah disana. Dita pun duduk disamping ibunya, bermaksud untuk ikut mengobrol.


"Ya sudah, kalian mengobrol dulu ya, udah sore. Ibu mau siapin makan malam buat kita nanti." Ibu Luise beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur. Dita pun ikut menghampiri ingin membantu sang ibu. Barry memandang Dita seakan berkata "Duduk disini sebentar saja, temani aku menjawab pertanyaan Bapak kamu" tapi Dita malah tersenyum tak mengacuhkan gerak-gerik mata Barry seakan berkata "Udah, temani Bapak mengobrol. Bapak akan mengajukan banyak pertanyaan padamu. Selamat menjawab." Dita berjalan kedapur dengan senyuman.


Barry menghela nafas meyakinkan detak jantungnya agar kembali normal. Bapak Fredy memandang dirinya seakan mencari pertanyan.


"Sudah kenal berapa lama nak sama Dita??"


"Su-sudah 3 tahun lebih Pak, cuma baru dekatnya tahun ini Pak." Barry sedikit gugup seakan berharap tidak memberi pertanyaan sulit padanya. Pak Fredy menganggukan kepala, memerhatikan Barry dengan seksama. Kini apa yang sedang dipikirkan oleh Ibu Dita sama terhadap apa yang dipikirkannnya.

__ADS_1


"Nak Barry punya sanak saudara di daerah sini??"


"Ehm-m kebetulan tidak ada Pak. Keluarga dari Ayah atau pun dari Mama saya, asli orang Medan Pak!?" jawab Barry.


"Masa sih nak, rasanya saya melihat kamu mirip dengan seseorang." kata Pak Fredy membuat Barry benar-benar terkejut. Baru pertama kalinya ada orang lain yang mengatakan bahwa ia mirip dengan seseorang.


"Ah masa sih Pak!!? Ehm-mm mirip dengan siapa ya maksud Bapak?" tanyanya penasaran.


"Ini, sama anak tetang kami. Sekitar 3 rumah dari sini. Mirip bukan berarti se-usia kamu Nak. Hanya saja rasanya kamu mirip sama Reno. Ya, sangat mirip,!" Ayah Dita meyakinkan pendapatnya bahwa apa yang dilihatnya benar dan tak salah.


"Reno itu siapa Pak??" Barry benar-benar sangat penasaran. Bahkan ia tak merasakan lagi tubuhnya yang sebenarnya remuk karna tak biasa melakukan perjalanan jauh menggunakan sepeda motor.


"Reno nama anak teman Bapak. Anaknya juga ada yang tinggal di Kota. Cukup dekat juga sama Dita. Udah Dita anggap kakak angkatnya disana." jelas Bapak Dita namun belum jelas bagi Barry.


"Siapa namanya Pak..??" Barry terbelangak mengarahkan wajahnya lebih dekat, seakan tahu siapa yang dimaksud oleh pak Fredy.


"Lyli Andriani, namanya Nak,!" Pak Fredy menjawab dengan santai namun bagi Barry itu seakan jawaban yang sangat mengejutkannya. Ia tak menyangka jika ia mirip dengan salah satu keluarga Lyli, kekasih kakaknya itu. Memang sebelumnya Dita pernah mengatakan jika mereka didesa tak berjauhan.


"Owh Lyli, itu saya juga mengenalnya Pak. Dita memang pernah bilang kalau rumah kakak Lyli berdekatan dengan rumah ini."


"Owh jadi kamu kenal dengan Lyli."


"Ya Pak,! Boleh kasih tahu saya rumahnya yang mana Pak??" tanya Barry tak sabar ingin tahu. Ia menoleh kearah pintu yang masih terbuka lebar. Namun obrolan serius mereka dipotong oleh Ibu Luise yang membawakan Handuk di lengannya.


"Pak, nak Barry baru datang, jangan lama-lama diajak ngobrol. Nak Barry mandi dulu gih! Biar segar. Kalau nak Barry udah siap mandi, kita akan makan malam bersama. Sebentar lagi juga adik Dita, Frank akan pulang."

__ADS_1


Barry menghela nafas sebenarnya ingin menunggu jawaban Ayah Dita. Namun Pak Fredy langsung berdiri mendengarkan perintah sang Istri. Artinya Ayah Dita harus bergerak menjemput anak bungsunya ke sekolah yang berjarak 2 KM.


"Ia Nak, mandi dulu. Bapak mau jemput Frank. Pasti dia sudah pulang sekarang. Barry ikut memandang pria yang sudah sedikit ber-uban itu. Maklum saja, pekerjaan mereka sehari-hari membutuhkan tenaga extra untuk membutuhi keperluan sehari-hari.


__ADS_2