
Barry tak sanggup untuk melangkah masuk kedalam rumah yang sudah didiami Lyli selama 4 tahun itu. Barry seakan tak mampu melangkahkan kakinya melihat dua kakak laki-lakinya yang begitu syahdu menatapnya.
Sepertinya kedua pria yang bertubuh tinggi seperti dirinya itu juga tak sanggup melangkahkan kakinya untuk memeluk Barry. Rasanya terlalu kaku untuk mereka dan merasa seperti mimpi bisa melihat adik mereka yang sudah hilang bertahun-tahun yang lalu itu kini ada dihadapan mereka dengan memandangnya penuh rindu.
Barry yang kini sudah berusia 22 tahun tampak gagah dihadapan mereka. Sangat jauh beda dengan adik mereka yang dulu melambaikan tangan pada mereka ketika hendak berangkat ke kota bersama orangtuanya. Saat itu usia sang adik masih 4 tahun, dimana masih sangat kecil untuk mengingat masa lalunya. Dan siapa sangka itu adalah hari terakhir mereka bertemu dengan adik bungsunya yang saat itu kedua orantuanya kembali dari kota tanpa sosok dirinya
"Ayo Barr, temui kakak-kakakmu. Bukankah ini juga saat-saat yang kamu nantikan." bisik Dita ditelinga kanan Barry.
"Yah Barr, ayo peluk mereka. Mereka adalah kakak laki-laki mu. Lihat mereka yang begitu gagah namun hati mereka penuh dengan rasa rindu padamu." ucap Lyli menyentuh bahu Barry.
Saat Barry melangkahkan kakinya, kedua kakak laki-lakinya juga melangkahkan kaki. Waktu kembali berjalan lebih lambat dan membuat pertemuan mereka tepat ditengah ruangan rumah itu.
"Adikkuu!!!!"teriak histeris sang kakak pertama, Dimas.
"Valentino....!!!" lanjut sang kakak kedua, Reno.
Mereka pun berpelukan layaknya kisah haru yang sudah lama dipendam. Dimas dan Reno memeluk Barry dengan erat. Pelukan itu dibalas olehnya dengan rasa bahagia.
"Aku senang bertemu kalian kak!!!" jawab Barry tak ingin melepas kedua pelukan yang begitu erat memeluknya.
Dimas dan Reno menitikan air mata layaknya seorang anak yang merindukan Ibunya kembali. Tubuh kekar sang kakak tak membuat mereka malu mengeluarkan isi hati mereka. Kerinduan yang terpendam kini tak terbendung yang bahkan sudah membasahi bahu Barry.
Barry juga merasakan hal yang sama, rasa seang dan bahagia tak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Ia tak menyangka jika ia memiliki dua saudara lagi yang begitu mencintainya.
Melihat suasana haru itu, Lyli berlari untuk ikut memeluk Barry.
"Adikku...!!!!" ucapnya dengan menangis. Ia memeluk erat ketiga saudaranya dengan sangat erat.
Sungguh pertemuan yang luar biasa bagi mereka bisa berkumpul kembali sebagai anak-anak orangtuanya yang utuh. Waktu Tuhan selalu yang terbaik bagi mereka setelah sekian lama mereka dengan sabar menantikan momen haru tersebut.
"Kamu tahu Barry, namamu selalu terucap disetiap doa Ibu dan Bapak, begitu juga kami kakak-kakakmu..!!" ungkap jerit tangis Lyli.
__ADS_1
"Namamu Valentino Dear adikku..., kamu tahu nama itu nama terindah yang diberikan Bapak padamu!!" lanjut Dimas.
"Yah, dan kamu tahu.., aku tak suka jika orang-orang memanggilku si bungsu. Karna aku tahu, aku bukanlah anak terakhir Ibu dan Bapak. Tapi, kamu, Valentino Dear itulah anak bungsu Ibu dan Bapak." lanjut Reno.
Kemudian mereka sama-sama menangis dan kembali berpelukan.
"Terima kasih sudah menungguku kak...,kalian luar biasa!!" balas Barry membiarkan ketiga saudara kandungnya memeluknya erat.
Samuel dan Dita saling pandang sekaan ikut serta dalam suasana haru itu. Mereka tersenyum bersama melihat Barry begitu bahagia bisa bertemu dengan saudara kandungnya. Hal yang sudah dinantikan oleh adiknya itu beberapa bulan terakhir.
Sam kini percaya, kekuatan cinta saudara bisa merobohkan segala benteng kebencian. Ia kini tak ingin menyalahkan Barry yang dulu selalu membuatnya kesal. Sam sadar jika cinta Barry membuatnya menjadi lebih baik lagi. Anak itu benar-benar memiliki aura pembawa damai yang kuat.
Sam tersenyum bangga memiliki adik seperti Kristian Barry. Pantas saja jika dirumah Barry lah yang selalu menjadi pendamai ketika saudara laki-lakinya yang lain berkelahi satu sama lain.
Gilang dan Rangga anak pertama dan kedua orangtuanya juga sering berkelahi dirumah, kadang Sam lah yang menjadi korban. Namun, setiap ada Barry kedua kakaknya itu memilih untuk diam dan pergi ketika melerai mereka berkelahi dirumah.
Ayah dan Mama mereka juga seperti itu, jika tak ada Barry mungkin mereka tak akan menjadi orang yang berkecukupan. Setelah Barry hadir dirumah mereka, suasana rumah menjadi lebih baik. Baik itu dalam segi keuangan, rezeki dan kesehatan.
"Apakah kamu bangga Dita punya kekasih seperti Barry??" ucap Samuel memandang Dita yang begitu menikmati suasana didepannya.
"Tentu kak, aku bersyukur sekali bisa menjadi salah satu bagian di hidup Barry." jawabnya sembari ia tersenyum.
"Ehm baguslah. Ngomong-ngomong apakah kamu juga kenal dengan saudara laki-laki Barry itu?" tanya Sam.
"Tentu, yang lebih tua namanya Dimas kak. Anak pertama pak Dimas. Nama panggilan orangtua di Desa sering dipakai dengan nama anak pertama. Trus satu lagi namanya Reno, anak keempat pak Dimas, tepat dibawah kak Lyli."
"Sudah berpacaran dengan Lyli selama 3 tahun, aku merasa masih sangat baru mengenal keluarga mereka. Kamu tahu sendiri Lyli orangnya gimana. Bertemu dengan Reno saja aku hanya beberapa kali. Bahkan kakaknya Dimas itu aku baru ini melihatnya."
"Ada satu lagi kak, dibawah kak Dimas, ada kak Susi, tinggalnya didesa cuma berjarak 1 jam perjalanan dari Desa. Kak Susi sudah berkeluarga."
"Oh benarkah! aku tak tahu soal itu. Aku jadi malu pada diriku karna tak mengenal keluarga kekasihku sendiri. Selama ini Lyli tak banyak bercerita tentang keluarganya. Aku bisa apa selain menerima keputusan hatinya.".
__ADS_1
"Banyak cara seseorang menutupi masalah keluarganya kak. Bukan berarti keluarganya bukan keluarga baik-baik. Saja saja, ada beberapa hal yang harus disembunyikan demi menghindari pertanyaan baru dari orang-orang."
"Kamu benar dik Dita. Ehm-m ini saja tentang Barry. Keluargaku pasti bingung apakah ini harus diberitahukan pada semua orang atau biarlah mereka mengetahuinya dengan sendiri. Dengan masa lalu Barry yang sudah terungkap, apakah Ayah dan Mama dipandang baik atau buruk sama orang-orang. Kakak gak tahu." kata Sam mengeluhkan situasi yang akan terjadi dirumahnya.
"Biarlah waktu yang menjawab kak. Yang penting kita selalu memberikan informasi yang baik dan benar." jawab Dita membuat Sam menghela nafas.
Sepertinya Lyli dan saudaranya yang lain sudah selesai melepas rindunya. Lyli menoleh kearah Dita dan Samuel yang masih saja betah berdiri didekat pintu.
"Kemarilah Dita, Sam..., kita mengobrol disini!" kata Lyli memanggil. Rumah itu hanya tersedia beberapa kursi dan untung saja cukup untuk mereka semua bisa duduk.
Sam dan Dita pun duduk berhadapan dengan Barry dan saudara-saudaranya.
Dimas tampak heran dan terkejut melihat Dita, adik angkat mereka ada bersama dengan Samuel yang diketahuinya adalah kekasih sang adik perempuan.
"Bukankah ini Dita???" tanyanya pada Dita.
"Tentu kak ini Dita. Apa kabar kak??" sapa Dita ramah dan sopan.
"Dita pacar aku kak...," kata Barry tersenyum kepada Dimas yang tepat duduk disamping kirinya. Sementara Reno duduk disamping kanannya, diikuti oleh Lyli lagi.
"Hah!!! pacar kamu dik...?? kok bisa yah!! Dita ini adik kakak kalau di Desa" tanya Dimas lagi. Ia begitu tak menyangka adiknya Dita itu malah kenal dengan adik yang sudah lama ia nantikan kedatangannya.
"Ia kak, Dita pacar aku. Karna dialah aku berusaha mencari keluarga kandungku. Dita yang sudah banyak membantuku dalam menemukan kalian kak."
"Wah...!! gak nyangka sekali ya dik Dita. Ternyata malah dari kamulah jalannya kami bisa bertemu dengan Valentino Dear ini. Wah kamu luar biasa Dita. Terimakasih adikku..!!" kata Dimas ingin jongkok dihadapan Dita sebagai tanda betapa ia berterimakasih karna melaluinya adiknya kembali.
"Eh. Eh. Eh.!! kak jangan gini dong, aku jadi gak enak, ayo bangun kak!!" kata Dita terkejut dan tak ingin Dimas mempertaruhkan harga dirinya hanya untuk berterima kasih padanya.
Dimas pun beranjak dan kembali duduk sembari ia mengusap air matanya yang kembali menetes. Ia tak menyangka ternyata Dita lah yang menjadi jalan bagi sang adik menemui keluarga kandungnya.
"Kakak jangan seperti ini, aku percaya ini semua karna sudah waktunya kalian bertemu kak. Ini waktu Tuhan ditengah keluarga kakak untuk bisa bertemu kembali. Dita hanya bagian kecil dari proses pertemuan ini kak." kata Dita begitu rendah diri.
__ADS_1