Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Lanjutan....


__ADS_3

Siapa sangka, lambaian yang baru saja dilakukan Dimas dan ketiga adiknya adalah lambaian terakhir mereka pada sang adik bungsu. Dimas beberapa kali menyalahkan dirinya karna tak bisa mendapat kepercayaan dari ibunya untuk menjaga sang adik bungsu agar tak harus dibawa kerumah Neneknya yang sakit.


Setelah sehari kepergian Ibu, Bapak dan adik bungsu mereka. Tiba-tiba pada malam hari setelah magrib, seseorang mengetuk pintu mereka.


TOK...TOK..TOK...!!


Dimas yang sedang bermain petak umpet bersama ketiga adiknya, terpaksa harus menyudahi persembunyiannya. Hal yang sudah dilakukan mereka bertiga setelah Ibu dan Bapaknya pergi. Dimas melakukan itu agar mereka tidak kesepian dimalam hari. Jadi mereka memilih bermain agar tidak terasa jika orangtuanya tidak ada dirumah.


Dimas berlari kearah pintu depan dan membuka pintu.


"Bapak...???" tanya Dimas heran ternyata yang mengetuk pintu itu adalah Bapaknya.


"Yah nak, Bapak pulang." jawab sang Bapak dengan lemas dan tak bersemangat.


Dimas heran kenapa Bapaknya pulang sendirian, Ia melirik disebelah kiri dan kanan Bapaknya, namun Ibu dan adik kecilnya tidak ada. Tentu hal itu membuat Dimas bertanya-tanya. Apalagi sang Bapak berjalan kedalam rumah dengan selalu tertunduk dan seakan ingin menangis.


"Ibu dan adik mana Pak!??" tanya Dimas tak mau menutup pintu dan mengikuti langkah Bapaknya. Namun tak ada jawaban satu katapun sampai akhirnya si Bapak duduk di meja belajar anak-anaknya dan terdiam terpaku.


Reno dan Susi keluar dari kamar dimana mereka juga bersembunyi disana. Lyli datang dari arah dapur karna berusaha mencari saudaranya dalam permainan petak umpet.


"Pak, Dimas nanya..., Ibu dan adik mana?. Kenapa cepat sekali kembalinya pak, bukankah Ibu bilang kalian akan menginap dirumah Nenek selama tiga hari??"


Sang Bapak tak mampu menjawab dan memilih untuk membisu. Air matanya tak bisa ia bendung mengingat apa yang sudah terjadi kepada mereka di Kota. Hal itu membuat keempat anak-anaknya memandanginya dengan sangat penasaran. Pertanyaan yang diajukan kakak pertamanya mewakili rasa penasaran.


"Pak, Ibu dan adik mana? kenapa gak pulang bersama mereka!!?" Dimas menekan ucapannya.


"Bapak..., Ehm-m...," Bapak Dimas tak mampu membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan anak pertamanya yang mulai beranjak remaja itu.


"Apa Pak..,jangan bikin kami takut! Dimana Ibu dan adik???" tanyanya lagi. Dimas pun menyuruh Susi untuk memeriksa kembali keadaan didepan rumah apakah Ibu dan adiknya datang menyusul.


"Susi, cek didepan apakah ada Ibu dan adik disana??" katanya memerintah.


Susi dengan sigap berlari kedepan rumah. Suasana malam diluar yang gelap membuat Susi sedikit lama melihat ke sekeliling halaman. Susi menutup pintu rumah dan kembali lagi kedalam.


"Gak ada kak, diluar sepi sekali. Rumah tetangga pun semuanya sudah tutup." kata Susi mulai merasa takut.

__ADS_1


"Pak..? jawab Pak! Ibu dan adik mana??" tanya Dimas mulai kesal.


"Ia pak. Ibu dan adik mana??" tanya Reno malah menangis. Lyli dan Susi saling pandang.


"Ia pak, Ibu kenapa gak pulang bersama Bapak?" tanya Susi.


Pertanyaan-pertanyaan keempat anaknya semakin membuat Bapak mereka tertekan dan semakin merasa terpukul. Sang Bapak tak sanggup menceritakan kejadian sebenarnya karna anak-anaknya akan sedih dan menangis.


Sang Bapak mencoba mencari alasan, namun Beliau tak menemukan alasan yang bagus untuk itu. Apalagi keempat anaknya adalah anak yang cerdas dan bijak. Tentu mereka akan lebih banyak bertanya lagi.


"Maafin Bapak nak...!! maafin Bapak....!!" Bapak Dimas tiba-tiba langsung memeluk keempat anaknya lalu menangis sejadi-jadinya.


"Apa yang terjadi Pak...??" Dimas tak sanggup melihat sang Bapak menangis begitu keras.


Sang Bapak belum bisa memberi penjelasan karna nafasnya tersendak-sendak karna terus menangis dan memeluk mereka. Keempat anaknya juga membalas pelukan itu dan malah ikut menangis.


"Bapak....!!" ucap mereka serempak.


Setelah beberapa menit, Si Bapak pun menghela nafas dan menyuruh keempat anaknya duduk diruang tengah. Mereka semua duduk di tikar yang sudah dibentangkan. Ruang itu adalah ruang keluarga mereka walaupun beralaskan tikar dan tak banyak perabotan disana.


"Apa Pak?" tanya Dimas.


"Adik kalian, Hm-m...., Valentino untuk saat ini belum bisa ditemukan karna pas di..., Hm-m pas di stasiun kota, pada saat Ibu kalian jatuh sakit, Valentino lepas dari genggaman Bapak...." jelas sang Bapak sudah berusaha menahan rasa perihnya namun tetap saja beliau meneteskan air mata. Merasa jika semua itu adalah kesalahan terbesarnya. Ia tak menyangka kejadian itu begitu cepat terjadi. Ia sudah berusaha mencari disekitar stasiun kota bersama dengan petugas dan sopir Bus, namun hasilnya nihil. Anak bungsunya tak dapat ditemukan.


"Apa Pak...!!! kok bisa!!!" teriak Dimas menangis begitu keras.


Melihat kakak pertamanya menangis keras, ketiga adiknya itu ikut menangis.


"Bapak, jadi bagaimana dengan Tino pak? dia masih kecil. Kenapa bisa terjadi.....!!!" ucap Dimas sambil menangis, berusaha mengusap air matanya yang terus membasahi pipinya.


"Maafin Bapak nak...! Bapak gak tahu lagi bagaimana menghadapi ini, apalagi Ibu kalian masih sakit. Bapak kembali karna mengkhawatirkan kalian....," kata Bapak mereka dan lagi-lagi memeluk mereka semua dengan erat.


"Tapi Ibu pasti sembuh kan Pak..?" tanya Dimas lagi.


"Doakan saja nak..."

__ADS_1


"Dan Tino juga pasti kembali kan Pak?" tanya Reno kecil begitu polosnya.


"Ia ia nak..., doakan saja ya. Kita harus rajin berdoa." jawab Bapak mereka berusaha menenangkan keempat anaknya.


***


Pagi pun tiba, si Bapak bangun lebih awal. Beliau memasak nasi dan memasakan sarapan untuk anak-anaknya sarapan sebelum pergi sekolah. Beliau juga menyapu rumah, mencuci pakaian dan memberi makan ternak. Kali ini, semuanya dilakukan tanpa bantuan Ibu anak-anaknya. Mau bagaimana lagi, semua itu harus dilakukan.


"Bapak kenapa gak bangunin Dimas buat bantu-bantu..?" tanya Dimas saat pagi mulai terang.


"Oh, gak apa-apa nak, Bapak udah menyelesaikan semuanya. Banguni saja adik-adikmu yang lain, supaya kalian sarapan." kata Sang Bapak yang masih tampak sibuk mengurusi ternak dibagian belakang rumah paling ujung.


"Baik Pak." jawab Dimas kembali kedalam rumaah dan membangunkan ketiga adiknya.


Mereka pun makan sarapan bersama di lantai yang beralaskan tikar. Setelah semua selesai sarapan, mereka bersiap-siap untuk sekolah. Mulai dari mandi, berpakaian dan menyusun buku pelajaran yang akan dibawa ke sekolah.


"Baik-baik belajar ya nak, rajin berdoa dan selalu berbuat baik nak." pesan yang hampir setiap pagi didengar oleh keempat anaknya. Semua menjawab dengan menundukan kepala dan mencium punggung tangan sang Bapak.


Keempat anaknya pun pergi kesekolah bersama-sama dengan berjalan kaki. Sang Bapak melambaikan tangannya sampai keempat anaknya tak terlihat lagi. Hal itu pertama kali ia lakukan. Tetangga yang juga baru selesai memberangkatkan anaknya sekolah memandangi Pak Dimas.


"Eh, Bapak Dimas udah kembali?. Mana Ibu mereka, kok dari pagi gak kelihatan?" tanya Bu Sri membuat Pak Dimas menunduk.


"Apa yang harus saya jawab.," ucap Pak Dimas dalam hati. Padahal Bu sri sudah dianggapnya saudara dekat sang isteri. Apalagi Bu sri sangat baik kepada keluarganya.


Terpaksa Pak Dimas Berjalan kearah Bu sri dengan maksud akan menceritakan semua yang telah terjadi di Kota. Hal itu ia lakukan agar memiliki teman bercerita dan penghiburan dari tetangganya itu.


"Apa??? Oh, Astaga..., Saya ikut prihatin Pak Dimas." Bu sri begitu kaget mendengar cerita Pak Dimas. Pada saat itu juga suami dari Bu sri, Pak Abdul terkejut dan tak menyangka hal itu bisa terjadi.


"Oh, astaga Mas Dimas, kok bisa kejadian seperti itu Mas...," tanyanya prihatin..


"Entahlah, saya juga bingung dan sangat pusing dengan ini semua. Ini Ujian yang sangat berat di keluarga saya." kata Pak Dimas dengan sedih.


"Yang sabar dan tabah ya Pak, kita doakan Ibu anak-anak segera sembuh dan Tino ditemukan. Nanti kami akan bantu mencarinya lagi. Nanti Suami saya akan menemani Pak Dimas mencari Tino." kata Bu Sri begitu prihatin melihat keadaan Pak Dimas.


"Terimakasih Mas, Mba." balas Pak Dimas. Setidaknya ucapan itu membuatnya sedikit mendapat penghiburan.

__ADS_1


__ADS_2