
Suasana malam menyita waktu mereka diruang IGD. Setelah dokter memeriksa kondisi Barry, dokter pun memutuskan jika Barry sudah bisa dibawa pulang dan melakukan perawatan di rumah.
Dokter pun memberikan beberapa obat untuk dikonsumsi oleh Barry. Ibu Wani dan Pak Dimas sedikit lega karna tak sang anak tak harus dirawat di Rumah Sakit.
"Jaga kesehatanmu ya Nak, jangan seperti ini lagi. Ibu,Bapak juga dengan saudaramu sangat mengkhawatirkanmu." ucap Pak Dimas.
Barry menundukan kepala karna melihat raut kekhawatiran diwajah sang Bapak. Walaupun Ayah dan Mamanya juga sebegitu khawatir ketika ia sakit, namun rasanya sangat berbeda jika diperhatikan oleh orangtua kandungnya langsung. Rasa sayang itu begitu terasa di hatinya. Sementara Ayah dan Mamanya menyayanginya tidak tulus. Selalu menyakiti perasaannya dengan rahasia-rahasia yang ditutup-tutupi.
Barry dan keluarganya pun kembali kerumah. Barry langsung beristirahat dikamar milik sang kakak laki-laki. Yang lain semuanya tidur dibentangan tikar diruang tengah.
***
Kabar tentang kembalinya seorang anak dikeluarga Pak Dimas tersebar dengan cepat. Hanya hitungan malam ke pagi hari, seluruh desa sudah tahu jika anak yang bertahun-tahun hilang itu kini telah kembali.
Tiba-tiba saja banyak penduduk desa mendatangi kediaman Pak Dimas dan keluarganya. Semua masyarakat sudah memadati halaman rumah mereka. Lyli terkejut ketika ia membuka pintu depan rumahnya.
"Oh! astaga...," gumamnya.
"Nak Lyli, apakah benar adik kamu yang hilang berpuluh tahun yang lalu itu sudah kembali??" tanya salah satu dari mereka. Belum juga Lyli menjawab pertanyaan, salah satu yang lain sudah mengajukan pertanyaan lagi.
"Ia nak Lyli, adik kamu itu katanya udah dewasa ya??. Ceritakan pada kami bagaimana bisa ia kembali. Sungguh mujizat sekali ya,,,"
__ADS_1
"Dimana sekarang adik kamu itu, Ibu sangat penasaran ingin melihat wajahnya,,,"
Lyli menghela nafas panjang, ia merasa bingung bagaimana bisa penduduk desa begitu cepat mendapat kabar akan kembalinya sang adik. Ia menoleh kedalam rumah, lalu kembali menghela nafas panjang.
"Ehm, terimakasih sudah penasaran ingin melihat adik saya. Cuma, adik saya kebetulan sedang kurang sehat. Kalian bisa datang lagi nanti ya Ibu dan Bapak-bapak." jawab Lyli dengan sopan. Ia tak tahu harus menjawab apa lagi.
Pak Dimas yang mendengar ada keramaian didepan rumahnya pun turut menghampiri. Ia termasuk warga yang cukup dikenal karna keramahannya pada semua orang.
"Silahkan masuk dulu Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Nanti biar saya panggilkan anak saya,Valentino namanya." kata Pak Dimas dengan ramah.
Orang-orang pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah Pak Dimas. Mereka duduk dibentangan tikar yang sudah dirapikan oleh Dimas,Reno dan suami dari Susi. Jam masih menunjukan pukul 08:30 pagi hari. Bentangan tikar pun sudah dibuat di teras rumah mereka. Warga duduk disana dengan rasa penasaran mereka ingin melihat seperti apa wajah anak kecil yang dulu hilang itu kini telah kembali dengan usia yang sudah dewasa.
Lyli mendatangi kamar dimana Barry masih ditutupi selimut. Sepertinya suhu dingin di Desa itu membuatnya tidur nyenyak sekali. Lyli tak tega harus membangunkan sang adik untuk menemui penduduk desa yang begitu ingin menemuinya.
"Bu, aku gak tega harus bangunin Barry, kayaknya ia masih capek jadi ia terlihat nyenyak sekali tidurnya." ucapnya.
"Aku udah bangun kok kak,,, aku udah gak capek lagi. Aku juga udah sehat kak." tiba-tiba Barry muncul dan berdiri di belakang sang kakak.
Barry mendengar percakapan Bapaknya bersama Dimas sebelum Lyli mendatangi kamarnya. Barry tahu jika diluar sana sudah banyak orang-orang ingin melihat dirinya.
"Eh nak Barry udah bangun. Itu, ehm,,, diluar banyak tamu yang ingin melihat kamu nak. Maklum saja, semua penduduk desa tahu kisah tentang keluarga kita dan tentang kamu. Jadi berita tersebar begitu cepat nak...," ucap Pak Dimas dengan menepuk jidatnya. Ia tak menyangka tetangga dan penduduk desa begitu antusias kepada mereka.
__ADS_1
"Gak apa-apa Pak. Aku udah tahu itu semua dari Dita. Dita udah ceritain gimana Bapak, Ibu dan Kakak-kakak lainnya ketika itu dan semua orang menyimpan kisah ini dihati mereka. Jadi, makluk saja jika mereka sangat penasaran." jawab Barry membuat mereka sangat kagum dan bangga. Anak bungsu mereka memiliki pola pikir yang sangat pengertian.
"Peluk Bapak sekali lagi nak,,,," Pak Dimas mendekat dan memeluk Barry sangat erat. Ia begitu bangga memiliki anak seperti Barry yang saat ini. Sikap yang dimiliki oleh Barry melebihi apa yang ia bayangkan selama ini tentang akan bagiamana nantinya sikap anak bungsunya.
Bu Wani tak bisa menahan keharuannya. Ia tak menyangka Barry didik sama orang yang tepat. Walaupun ia begitu kecewa akan sikap Ayah dan Mamanya yang menyembunyikan anaknya ketika itu, ternyata mereka mendidik Barry dengan baik.
"Ibu bangga sekali nak melihatmu seperti ini. Walaupun mereka sudah membuat Ibu kecewa ketika itu, tapi ternyata mereka adalah sosok orangtua yang baik dan sempurna untukmu. Mungkin rasa sakit ibu yang terlalu berlebihan pada mereka." kata sang Ibu mendekap Barry dengan erat. Barry tersenyum lega dan senang Ibunya kini tak harus memendam kekecewaan lagi.
"Ia Bu, terimakasih Ibu bisa menerima mereka. Barry juga seperti itu, terkadang Barry tak suka dengan sikap Ayah dan Mama. Tapi setelah Barry pertimbangkan, mereka seperti itu karna mereka sangat menyayangi Barry. Mungkin Barry juga yang terlalu berlebihan bersikap tak suka pada mereka."
"Oh, anakku. Ibu sangat bangga memilikimu,," ucap sang Ibu.
Kemudian, Barry pun bersiap-siap untuk menemui penduduk di desa. Mereka semua begitu takjub melihat seorang anak yang gagah yang berdiri didepan mereka. Barry tersenyum ramah dan sopan untuk menyapa mereka.
"Tampan sekali...," sebut salah seorang dari mereka. Barry keluar dengan pakaian rapi dan bersih setelah mandi. Ia sengaja membawa pakaian terbaiknya.
"Ia, gagah dan sangat berwibawa. Pasti anak Pak Dimas ini diasuh oleh orang yang disegani." ucap salah satu yang lain. Tentu saja mereka berkata seperti itu. Barry dikenal di kota sebagai anak dari Kontraktor yaitu Pak Anwar. Barry juga tinggal di Perumahan yang elit yang dilengkapi pengawasan oleh Security, 24 jam.
Barry tumbuh dengan gagah karna selalu diberi makanan yang sehat oleh Mamanya. Selalu diperhatikan pendidikannya. Barry anak yang cerdas, ia juga banyak mendapat piagam penghargaan selama ia sekolah. Barry rutin olahraga untuk menyehatkan tubuhnya. Kini, ia sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikannya di salah satu Universitas terbaik ketiga di Indonesia yang terletak di kota Medan.
Pak Dimas dan semua keluarganya hanya bisa tersenyum tipis. Mereka senang atas apa di ungkapkan oleh penduduk desa. Biarlah mereka tahu dari apa yang mereka lihat saja. Untuk masalah bagaimana kisah dibaliknya yang begitu mendalam, biarlah hanya keluarganya yang tahu.
__ADS_1
Barry mendapat beberapa pelukan hangat dari tetangga-tetangga terdekat oleh Ibu dan Bapaknya. Banyak juga yang mengajak Barry berfoto untuk di bagikan disosial media mereka. Barry cukup lega dan puas karna penduduk desa itu tak ada yang berpikir negatif tentangnya. Semua menunjukan rasa kagum dan takjub atas kisah hidupnya. Hidup dengan rasa kekeluargaan didesa itu sangat kental, hal itu membuat penduduk desa terbiasa bangga atas apa yang dicapai oleh tetangga atau pun penduduk lainnya.