Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Ayah dan Mama Barry akhirnya jujur


__ADS_3

Barry menatap Samuel dengan kecewa. Ia tak tega melihat Dita yang sudah tertunduk menangis. Jika saja Dita tak ada direncana ini, Dita tak harus mengalami kesedihan. Namun bagaimana pun hal ini sudah terjadi. Mau tak mau Barry harus bijak bertindak demi Dita.


"Bisa tidak Mama jangan berkata seperti itu! mama bisa menyakiti hati Dita." bantah Barry.


"Biar saja! mama tak peduli. Kamu lagi semakin hari semakin melawan saja!! Entah apa yang merasukimu sekarang jadi anak yang keras kepala." kata Bu sarah menatap Barry.


"Berapa kali aku bilang Mah! Barry mau kalian jujur sama Barry. Percayalah Mah! Barry tak akan mengubah rasa hormat dan sayang Barry ke kalian. Barry hanya ingin bertemu sama kedua orangtua kandung Barry, ayolah Mah! Yah!" bujuk Barry memohon.


Kedua orangtua itu saling tatap, namun mereka masih tak ingin memberitahukannya.


"Kamu tak ada bukti apa-apa tentang ungkapan anak tiri atau anak angkat Barr!! jadi jangan mengada-ada. Aku rasa gadis inilah yang sudah menghasutmu!! gadis ini ingin merebutmu dari Ayah dan Mama karna tahu kamu itu spesial...!"


"Hahh....!!! ya ya ya! Aku benarkan Barr...! lihat Ayah dan Mama tak sadar baru saja mengatakan sesuatu!" tiba-tiba Samuel menyimpulkan kata-kata yang baru saja Bu sarah ungkapkan salah satu bukti yang kuat. Kata "spesial" itu sama dengan kata yang dikatakan oleh Kakek yang beberapa waktu lalu mereka temui.


"Apa maksud kamu Sam!!" tanya sang Ayah dengan cepat. Kedua orangtua itu kembali saling menatap.


"Dan!! Mama mau bukti. Oke! tunggu sebentar, aku mau nunjukin sesuatu sama Mama dan Ayah." lanjut Barry langsung beranjak berdiri.


Ia segera berlari menuju kamarnya. Barry mencari kotak hitam yang ia sembunyikan dibalik lemari buku-bukunya. Kotak yang berisi foto-foto masa kecilnya. Barry juga merogoh tas kecil yang kemarin ia bawa kerumah Lyli. Saat Lyli mengetahui semuanya, Lyli memberikan beberapa bukti foto pada Barry. Hal itu pasti akan menguatkan bukti pada kedua orangtuanya.


Barry baru teringat saat Mamanya meminta bukti. "Harusnya aku menujukan ini dari awal...! kenapa aku bisa lupa memberikan ini pada Ayah dan Mama." gumamnya semangat mengumpulkan foto-foto tersebut.


"Nanti Mama dan Ayah akan heran dan gak menyangka apa yang akan ditujukan oleh Barry." kata Sam pada Ayah dan Mamanya sembari menunggu Barry turun dari kamarnya.


Kedua orangtua paruh baya yang masih tampak sehat itu tak henti menoleh kearah kamar Barry, seakan tak sabar apa yang akan ditunjukan oleh anak bungsunya.

__ADS_1


Barry pun keluar dari kamarnya dan dengan cepat ia kembali menghampiri semuanya di ruang keluarga.


Barry menyembunyikan foto-foto itu dibalik punggungnya.


"Bukti apa yang akan kamu tunjukan Tian, jangan kayak anak kecil lagi." seru sang Mama sangat penasaran begitu juga dengan sang Ayah.


"Ini Yah! Mah...!" kata Barry lalu mengeluarkan foto itu dan meletakkan di atas meja.


Barry hanya ingin Ayah dan Mamanya memberikan penjelasan padanya, bukan bermaksud untuk membenci orangtua yang sudah merawatnya dengan baik.


"Foto apa ini??" tanya sang Ayah mengambil foto itu lalu memerhatikan.


Waktu tiba-tiba saja seakan berhenti ketika kedua pasang mata kedua orangtua mereka saling bertatapan. Mereka seakan kaget dan tak menyangka Barry bisa mengetahui semuanya dengan baik dan benar.


Mereka tak bisa mengelak lagi, raut wajah mereka tak bisa menutupi ketidakjujuran yang mereka lakukan. Bagaimana bisa Barry tahu semuanya dan menyelidiki masa lalunya sendiri. Itulah yang menjadi pertanyaan yang sama-sama terucap dihati Ayah dan Mama mereka.


Kedua orangtua itu belum bisa menjawab, mereka masih terfokus pada foto yang ada di tangan kiri dan kanan mereka. Foto Barry yang tersimpan didalam kotak dibanding dengan foto yang berasal dari Lyli, kakak kandungnya.


"Ayah dan Mama tak harus membohongi ini semua, Barry hanya ingin ungkapan jujur dari Ayah ataupun Mama. Bagaimana pun kalian tetaplah orangtua Barry. Maafin Barry jika akhir-akhir ini membuat kalian pusing. Barry hanya ingin mencari tahu kehidupan Barry yang dulu. Barry masih tetap akan sayang sama Ayah dan Mama yang udah sangat baik merawat dan membesarkan Barry." ungkap Barry menundukan kepala berharap hati kedua orangtuanya itu luluh.


Benar saja, tiba-tiba kedua orangtua itu menghampiri Barry dan memeluknya dengan erat bercampur air mata.


"Maafin Mama Tian....!! maafin Mamahhh..., Mama terlalu sayang sama kamu nak!! mama tak ingin kamu ninggalin mama!!" sang Mama menangis dengan sangat keras.


"Ayah juga minta maaf nak..! kamu terlalu berarti buat Ayah, kamu anak yang baik dan spesial nak!! Ayah tak bisa jika harus jauh dari kamu!!" lanjut sang ayah. Tak ada lagi kemarahan diwajah mereka selain penyesalan dan minta maaf pada sang anak yang merupakan anak angkat.

__ADS_1


"Jadi, benar Barry bukan anak kandung Ayah???" tanya Barry tetap membalas pelukan hangat orangtuanya itu. Barry terasa lega dan rasanya hatinya sangat tenang melihat kedua orangtuanya itu memeluknya dan mengakui apa yang sebenarnya.


"Maafin Ayah nak..! benar kamu bukan darah daging Ayah dan Mama kamu. Tapi, rasanya jiwa Ayah ada pada kamu sehingga merasa kamu tetap akan jadi anak kandung Ayah. Maafin Ayah nak karna sudah menyembunyikan masa lalumu dari kamu." tatap sang ayah pada Barry yang juga sudah ikut menangis.


"Mama terpaksa harus menyembunyikannya karna tak ingin kamu akan meninggalkan kami setelah kamu tahu yang sebenarnya Tian...Mama sayang sekali sama kamu anak Mamahh..." kata sang Mama mencium kening Barry dengan lembut. Air mata sang Mama terasa hangat di pipi Barry. Hal itu membuat Barry tak tega untuk meninggalkan mereka.


"Barry janji gak akan ninggalin kalian Yah! Mah! percayalah!" kata Barry menghibur mereka.


Dita dan Samuel memerhatikan keharuan itu seakan ikut senang dan bahagia. Sam lega ternyata orangtuanya menyembunyikan itu semua dari Barry karna begitu menyayangi Barry.


Sam jadi merasa bersalah karna sudah menerka-nerka jika orangtuanya itu tipe orangtua pembohong.


Sam mendekat pada Ayah dan Mamanya, lalu memeluknya.


"Maafin Sam ya Mah, Yah!! sudah ngomong-ngomong kasar dan egois sama kalian. Sam mengaku salah.!!"


"Gak papah Sam, Ayah yang minta maaf sama kalian telah menyembunyikan hal ini bertahun-tahun." sang Ayah membalas pelukan Samuel dengan tulus.


"Jadi, apakah kamu juga mencari tahu siapa orangtua kandungmu Tian??" tanya sang Mama membuat pandangan Barry yang tertuju pada Dita yang masih cuek padanya terhenti.


"Ehm! ya Mah. Tenang saja, Barry sudah tahu siapa orangtua kandung Barry." jawabnya lembut.


"Bagaimana bisa kamu mengetahui semuanya ini dengan sempurna Bar!!?" tanya sang Mama heran.


Ayah dan Mamanya tak menyangka Barry bisa mengungkap siapa dirinya bahkan sampai tahu siapa orangtua kandungnya.

__ADS_1


Kedua orangtua itu sebenarnya tahu jika Barry punya kemampuan untuk mengungkap kebenaran. Itu sebabnya walaupun tak di setujui untuk mengambil jurusan hukum ketika pemilihan jurusan setelah tamat SMA, Barry tetap bersikeras untuk tetap pada jurusan yang entah mengapa sangat ia sukai.


Kedua orangtua itu juga sebenarnya tahu jika suatu hari nanti ketika Barry dewasa, anak itu akan mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Hanya saja, saat ini disaat mereka belum siap, malah Barry sudah siap untuk mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


__ADS_2