
Samuel tiba dirumah sudah cukup larut malam setelah mengantarkan Lyli kerumah kontrakannya, ia juga masih istirahat sambil mengobrol bersama Lyli sebelum kembali kerumah.
Samuel memarkirkan motornya pada Garasi, ia melihat mobil sang Ayah belum ada disana. Itu artinya, kedua orangtuanya belum kembali.
"Apakah mereka nginap!?" gumamnya lalu ia masuk kedalam rumah. Suasana rumah yang sepi dan hening membuat Samuel fokus untuk langsung berjalan menuju lantai dua rumah itu. Namun sebelum sampai pada kamarnya, ia melirik kamar Barry.
Ia mencoba mengetuk dan memastikan Barry belum tidur.
"Barr!! kamu udah tidur!!??"
"Belummm! masih ngobrol dengan Dita di telepon. Kakak baru pulang??" katanya sembari ia melirik pada pintu kamar. Barry pun meminta izin pada Dita melalui telepon untuk mengobrol dengan Samuel.
" Dita, besok kita lanjut ya, kak Sam udah pulang. Aku mau ngobrol sebentar ya!"katanya menutup sambungan telepon dari Dita. Dita menurut lalu menutup saluran teleponnya.
Samuel pun masuk kedalam kamar Barry dan melemparkan dirinya pada kasur.
"Gimana suasana di Desa kak Lyli??" tanya Barry sangat penasaran. Ia sengaja membiarkan Sam bergolek di kamarnya. Hal yang jarang dilakukan oleh kakaknya itu. Sepertinya Sam juga ingin bercerita pada adik yang sudah ia ketahui bukanlah adik kandungnya.
"Yahh, lumayanlah Barr. Cukup memuaskan!!. Hanya lelah di perjalanan saja." kata Sam sepertinya menyukai perjalanannya.
"Cerita dong kak..!! aku mau tahu" Barry tak sabar mendengar cerita Sam tentang orangtua kandungnya itu. Ia ingin melihat bagaimana reaksi sang Kakak tentang orangtua Lyli yang merupakan orangtua kandungnya juga. Jika Sam menyukai sikap kedua orangtua kekasihnya, itu artinya Barry memiliki peluang yang baik jika suatu hari nanti Sam tahu apa yang sebenarnya.
"Ya intinya itu Barr, kedua orangtua Lyli sangat ramah dan baik. Mereka menyambut aku dengan rasa perhatian. Pas ngobrol juga sudah cukup menunjukan mereka keluarga yang sangat harmonis. Beda sih sama Ayah dan Mama disini." jelas Sam sembari menutup matanya membayangkan suasana saat dirumah Lyli.
"Terus!! terus gimana lagi Kak..? masa langsung tiba ke intinya sih..,"
"Kamu kan tahu Barr aku gak pandai berkata-kata. Intinya saja langsung, tapi.....!!" jawab Samuel tiba-tiba terbangun dan menatap tajam sang adik seakan ingin memberitahukan hal yang sangat penting.
"Tapi apa kak!!! coba jelaskan..,"tanya Barry tambah penasaran.
"Ada satu hal yang mengganjal dari rumah itu. Disana banyak foto yang terpajang di dinding, dan ada foto anak kecil yang sepertinya aku pernah lihat..! tapi, entahlah dimana..."
__ADS_1
Barry tersentak, ia tak menduga jika ternyata Samuel melihat foto yang sama dengan foto yang ia juga lihat. Dan foto itu adalah dirinya sendiri. Barry terdiam, tak tahu harus berkomentar apa untuk menanggapi.
"Dan, tahu gak Barr!! sebenarnya setelah sekian lama berpacaran dengan Lyli, aku gak tahu persis gimana keluarga mereka, atau seluk-beluk keluarganya. Lyli selalu tertutup tentang hal itu."
Lagi-lagi Barry tersentak, ia tercengang. Ia seakan tahu mengapa dan apa penyebab Lyli tak ingin semua orang tahu tentang keluarganya. Mungkin saja karna masa lalu tentang dirinya yang membuat keluarga Lyli kala itu terpukul dan merasakan kesedihan yang mendalam. Dan gak ingin orang lain mengungkit-ungkit kesedihan itu.
"Barr!!! kamu dengerin aku cerita apa gak nih! diem-diem aja dari tadi? komen kek apa kek...!"kata Sam.
"Ia, denger kok! cuma lagi ngebayangin aja." jawab Barry.
"Ngebayangin apa...??" tanya Sam heran.
"Ohhh! gak-gak! maksudnya ngebayangin gimana Desa Itu, desa yang juga merupakan tempat tinggal Dita. Jadi pengen...!!"kata Barrry berusaha mencari alasan. Karna tak ingin Sam curiga padanya.
"Pengen apa...!!?" tanya Sam lagi. Barry semakin kebingungan merasa ucapannya mempersulit dirinya sendiri.
"Yahhh.. Emmmm!!?"
"Hah!! gak dong, kan kakak duluan.!" jawab Barry tertawa lega merasa Sam tidak mencurigainya.
"Jadi, pengen apa...?"
"Yah. Pengen tahu gimana keluarga Dita juga dong kak. Biar dari awal bisa di bicarakan baik-baik tentang keluarga masing-masing." jawab Barry.
"Oh!! itu maksudnya...,"
Barry mengangguk lalu terdiam, mereka saling menatap.
"Ngomong-ngomong soal foto yang aku maksud, entah mengapa aku masih penasaran..., kenapa bisa aku seakan mengenal wajah anak kecil yang berada di foto itu. Padahalkan aku baru pertama kali kesana dan Lyli juga tak ada hubungan keluarga dengan kita. Hmm...!!!" gumam Sam lagi lalu membayangkan wajah yang ada difoto tersebut.
Barry tak ingin menjawab dan bermaksud menyudahi obrolan mereka.
__ADS_1
"Ah...! sudahlah kak.., ngapain bahas yang tidak ada hubungannya dengan kita. Mungkin hanya kebetulan mirip dengan seseorang yang pernah kakak lihat. Kakak tidurlah gihhhh!!!" kata Barry menghampiri Sam ke kasurnya dan berbaring disamping sang kakak.
"Ah sebentar lagi!!" Sam malah tak ingin berpindah kekamarnya.
"Lihat jam kak...!! kamu butuh istirahat setelah perjalanan jauh. Apalagi kakak besok kerja kan!!"
"Oh ia juga ya!!. Okelah kalau begitu. Aku balik ke kamar." jawab Sam akhirnya beranjak dan keluar dari kamar sang adik. Barry pun merasa lega dan bermaksud untuk menutup kamarnya.
"Eh! ngomong-ngomong Ayah dan Mama belum pulang ya!!?" Sam malah berbalik lagi.
"Apalagi sih kak..., mungkin saja mereka menginap. Atau mungkin aja mereka liburan bersama teman Ayah itu. Aku ngantuk loh,," jawab Barry sedikit terpaksa.
"Baiklah. Aku masuk kamar...!" kata Sam mengakhiri obrolannya.
Barry merebahkan dirinya pada kasur dan menatap langit-langit kamarnya yang bermotif batik.
Ia memikirkan apa yang telah ditemukan Samuel di rumah sang kakak kandung. Sepertinya akan dekat waktunya semuanya akan terungkap.
Barry merasa cemas dan takut. Bagaimana jika nantinya semua tak seindah yang ia pikirkan yakni keluarga Lyli akan menerima dirinya kembali sebagai anak dan Ayah dan Mamanya saat ini dengan penuh pertimbangan menerimanya juga sebagai anak bungsu seperti sedia kala.
Barry merasa sulit membayangkan apa yang akan terjadi dihadapannya. Namun,ia berserah pada Tuhan bahwa semuanya akan indah pada waktunya.
"Bagimana caranya memberitahukan Ayah dan Mama soal ini!!?. Bagaimana menjelaskan pada kak Lyli bahwa aku adalah adik kandungnya!. Bagaimana mereka bisa percaya sama apa yang aku katakan. Apakah dengan mudah mereka akan percaya? dan apakah dengan mudah Ayah dan Mama melepaskanku???. Sementara sesuai perkataan Kakek kalau aku adalah pembawa rezeki bagi Ayah."
Barry semakin pusing membayangkan segalanya. Ia meremas-remas kepalanya. Namun, ia masih bisa mengontrol aura alam bawah sadarnya agar ia tidak sampai jatuh sakit lagi.
Barry meyakinkan dirinya sendiri untuk lebih berusaha mencari dan mendapatkan bukti kuat tentang dirinya. Ia berencana lebih fokus pada jati dirinya terlebih dahulu dibanding kuliahnya yang sudah berada di semester akhir.
"Bagaimana pun aku gak akan bisa kosentrasi kuliah jika aku masih memikirkan tentang masa laluku. Aura alam bawah sadarku selalu bergejolak jika aku tak segera menyelesaikan semua ini. Aku yakin,kisah ini sekarang dihadapkan padaku karna aku telah mampu menghadapinya."
Barry pun melipat tangannya dan berserah diri pada Tuhannya. Barry berusaha memberi dirinya semangat agar hal-hal positif lebih menguasai pikirannya dibandingkan rasa khawatir yang sewaktu-waktu bisa saja menghampiri hati dan pikirannya.
__ADS_1