
Dimas dan Reno sedang berada di perjalanan. Dimas sangat merindukan desanya itu. Sudah hampir satu tahun lebih ia tidak kembali karna pekerjaannya yang jauh. Desa itu masih sama, setiap pinggir jalan masih ditumbuhi pepohonan yang rindang.
"Dik, kurangi kecepatan motornya. Kakak mau memandang dan menikmati suasana desa kita." kata Dimas kepada sang adik yang sedang menyetir motor. Kini mereka sudah tiba di Desa setelah 4 jam perjalanan dari kota.
"Oh! ia kak." jawab Reno mulai mengurangi kecepatan motornya. Ia ikut memandangi suasana desa yang begitu indah dan sejuk. Tak ada kebisingan kendaraan roda empat atau kendaraan umum disana. Suasana desa itu sangat adem dan indah. Siapa pun yang berkunjung kesana tentu sangat terkagum-kagum. Desa itu tak terpengaruh dari suasana kota walaupun banyak pemuda-pemudinya yang merantau ke kota dan kembali lagi ke desa.
Dimas begitu merindukan Ibu dan Bapaknya. Terasa berbeda dengan saat ini yang dirasakannya. Kali ini ia membawa kabar baik dan sukacita kepada orangtua yang begitu mencintai anak-anaknya. Dimas tak tahu bagaimana harus memulai ucapannya nanti. Ada ketegangan dalam dirinya karna mengatakan kabar baik pun tenyata sulit diucapkan.
"Kak! kita hampir sampai..., kira-kira Ibu dan Bapak dirumah gak ya?!" tanya Reno mengingatkan jika mereka sudah hampir sampai. Reno mengatakan itu karna selalu melihat sang kakak melamun selama perjalanan. Bahkan obrolan pun tak ada karna Dimas lebih menyukai menikmati perjalanan dengan melamun dan mengkhayal.
"Oh! ia ya. Ah, Ibu dan Bapak pasti dirumah. Kakak yakin!" jawab Dimas semangat.
"Kak! aku takut...!"
"Loh kok takut!!?" tanya Dimas heran akan pertanyaan sang adik.
"Ehm-m, sebenarnya bukan takut kak. Cuma, sedikit tegang saja, tak kuat melihat reaksi Ibu dan Bapak nanti jika kita kasih tahu soal Valentino."
"Oh itu!. Sama Ren, kakak juga merasa gugup. Kakak gak tahu gimana cara ngasih tahunya nanti." jawab Dimas merasakan hal yang sama.
"Aku serahin ke kakak aja deh. Aku gak pandai merangkai kata. Kakak kan ahlinya!" kata Reno.
"Ahmm.., baiklah! doakan aja yang terbaik menghampiri kita." jawab Dimas berusaha tegar.
Mereka pun tiba, Reno memperlambat laju motornya dan mengarahkan motornya kerumah mereka. Rumah berwarna hijau yang kini sudah lebih cantik itu. Rumah itu kini berbahan beton dan memiliki pagar. Tentu sangat jauh sekali perbedaannya sebelum direnovasi. Sebelum menikah, Susi adik perempuannya mendapat rezeki. Seluruh rezeki itu ia gunakan untuk merenovasi rumah mereka agar lebih indah dibanding rumah sebelumnya yang hanya terbuat dari papan dan kayu.
Rumah itu tampak tertutup rapat namun pagarnya tak terkunci. Dimas dan Reno melepas helmnya dan memarkirkan motor itu didepan teras rumah.
Mendengar seperti ada suara sebuah sepeda motor matic didepan terasnya. Ibu mereka berlari dari arah dapur yang ketika itu sedang memasak untuk makan malam bersama suami tercinta.
"Sepertinya ada tamu...!" gumamnya da meninggalkan sejenak pekerjaannya.
TOK...!TOK...! TOK!!
__ADS_1
Reno mengetuk pintu rumah, sementara Dimas bersembuyi disudut teras. Ia bermaksud memberikan kejutan kepada sang Ibu.
Ibu Wani pun membuka pintu dan sangat terkejut melihat Reno ada di hadapannya.
"Ibu...!! Reno pulang...!!" ucap Reno begitu semangat.
"Reno.....!!! anak Ibu...!!!" teriak sang Ibu begitu senang melihat anaknya pulang kampung. Spontan saja Ibu Wani langsung memeluk Reno.
"Kok gak bilang-bilang kamu pulang kampung nak??. Kamu yaaaa!!! selalu mengejutkan Ibu!!" cerutu sang Ibu karna begitu bahagia salah satu anaknya mengunjungi rumahnya.
"Heheh sekalian kasih kejutan buat Ibu. Bapak mana Bu??!"
"Itu didapur, lagi ngasih peliharaan ayamnya makan sore." jawab sang Ibu.
Reno tak mau langsung masuk kedalam rumah karna masih harus memberikan kejutan kepada sang Ibu.
"Ayo masuk!! kok dipintu terus sih nak??" tanya sang Ibu polos.
TADDDAAAHHH....!!
"DIMAASS....!!!!" teriak sang Ibu kegirangan. Beliau tak menyangka anak pertamanya juga pulang.
"Ibu sayang....!!" ucap Dimas dan langsung memeluk sang Ibu. Dimas sering memberikan kebahagian kecil kepada sang Ibu dengan selalu memberikan senyuman setiap kali melihatnya.
"Kalian kok gak ngabarin Ibu kalau kalian pulang kampung!! kalian yahhh...!!" cerutu sang Ibu dengan manja menepuk-nepuk punggung kedua anak lajangnya yang kini sudah jauh lebih tinggi darinya.
"Namanya juga kejutan Bu..., ya gak dikabarin dong!." kata Reno tertawa.
"Ia, Ibu gimana sih! kalau dikabarin, itu gak kejutan namanya Bu." lanjut Dimas.
"Ya..ya..! ya..., kalian bisa ajah. Biar ibu panggilkan Bapak ya!" kata sang Ibu.
"Eh! eh!. Gak usah Bu, biar Dimas aja yang manggil. Ibu mau cuma ibu aja yang kaget melihat kami pulang?!" kata Dimas tertawa.
__ADS_1
Segera Dimas melangkah kearah dapur. Ia melihat Bapaknya sedang memberi makan ayamnya yang berjumlah 10 ekor. Sebenarnya itu sudah berkurang, sebelumnya ada sekitar 15 ekor ayam peliharaan Pak Dimas, namun beberapa ayamnya gak pulang saat pergi mencari makan ke kebun milik tetangga-tetangga.
"Bapak...!!! Serius sekali ngasih makan ayamnya." teriak Dimas menghampiri sang Bapak. Tentu hal itu sangat mengejutkan Bapaknya dan langsung menoleh.
"Oh astaga!! DIMASS....!!!" teriak Bapaknya juga merasa girang.
"Ia Pak...!! Dimas pulang." kata Dimas langsung memeluk Bapaknya itu.
"Oh, Bapak sangat merindukanmu Nak!. Apa kabar, kamu sehat-sehat aja kan Nak?!" tanya sang Bapak memerhatikan Dimas dari atas kepala sampai keujung kakinya.
"Ia Pak, Dimas juga rindu Bapak. Dimas baik-baik aja Pak." jawabnya tersenyum bahagia.
"Ayo! ayo kita masuk kerumah dan mengobrol. Kamu datang bersama siapa Nak?? sama calon menantu Bapakkah??" tanya sang Bapak bergurau dan merangkul anak pertamanya masuk kedalam rumah.
"Ah Bapak bisa aja!. Aku datang sama Reno Pak...," jawab Dimas membuat Pak Dimas kaget lagi.
"Hah! Reno, kalian pulang bersama?. Kok bisa?!" tanya sang Bapak semakin senang.
"Bisa dong Pak. Dimas pulang kerumah Lyli dulu, terus udah kabarin Reno juga. Jadi setelah ketemu dirumah Lyli, kami sama-sama kesini." jawab Dimas dengan jelas.
Ibu Wani dan Reno sudah berbincang di ruang tamu. Dimas dan Bapaknya ikut bergabung.
"Wah!! tiba-tiba rumah ini jadi ramai ya Bu...!" ucap sang Bapak begitu bahagia melihat dua orang anaknya pulang kampung. Tentu itu akan membuat rumah itu berbeda dengan biasanya. Biasanya menjelang magrib Bapak dan Ibu mereka sudah mencari kesibukan masing-masing. Pak Dimas biasanya duduk didepan televisi dan Bu Wani pergi kekamar untuk istirahat.
Dimas dan Reno saling pandang seakan memiliki pemikiran yang sama. Bagaimana bahagianya sang Bapak jika kelima anaknya berkumpul dengan utuh. Bagaimana reaksi sang Bapak ketika melihat tiga anak lajangnya yang sudah dewasa. Bagaimana ramainya rumah itu ketika Valentino, si adik bungsu menunjungkan dirinya didepan Ibu dan Bapaknya.
"Iya, iya Pak. Hm,kalian mengobrol saja dulu. Ibu lagi memasak. Terpaksa Ibu harus masak lebih banyak buat makan malam kita nanti!" kata sang Ibu begitu semangat dan langsung beranjak kedapur.
"Masak kesukaan Dimas ya Bu...! usul Dimas. Ia merindukan masakan khas buatan sang Ibu yaitu Ayam gulai ala Ibu mereka.
"Ia Nak!! Ibu akan masakkan itu. Tenang saja." ucap Ibu tertawa.
"Nanti siap ini Dimas dan Reno bantu deh!!" kata Dimas lagi agar sang Ibu semangat.
__ADS_1
Dimas dan Reno duduk sebentar saja hanya untuk mengistirahatkan badan mereka yang lelah selama perjalanan. Mereka mengobrol bertiga bersama sang Bapak. Hal yang biasa dilakukan keluarga itu ketika salah satu anaknya pulang ke desa.
Pak Dimas begitu bahagia memandang dua anak laki-lakinya yang kini sudah lajang. Bahkan Dimas sudah hampir berumur 30 tahun, kadang terbesit di hatinya akan adik bungsu mereka. Namun Pak Dimas tak mau terlalu larut dalam kesedihan dan membuang pemikiran yang menurutnya kini sangat mustahil jika bisa bertemu.