Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Minta maaf


__ADS_3

Barry memarkirkan mobil merahnya tepat didepan kost Dita. Ia melihat jam tangannya sudah pukul 17:45 wib dan Dita belum juga kembali. Barry sudah menunggu disana hampir 2 jam lamanya. Biasanya jam 5 sore, Dita udah ngabarin Barry jika ia sudah pulang kerja dan sampai di kostnya.


"Kemana Dita ya,? jam segini belum juga balik ke kostnya? Apa dia masih marah sama aku ya?! Aduh gimana nih.!" Barry benar-benar gelisah.


5 menit kemudian....


Dita datang dengan motornya dan melihat mobil merah berhenti tak hauh dari teras kost nya. " Pasti itu Barry, Ihh, ngapain sih anak itu disana, bikin mood ku hilang ajah!!" Dita menghentikan motornya 10 meter dari gerbang kostnya. Setelah berpikir lama, akhirnya Dita memilih untuk masuk ke gerbang dan pura-pura tak melihat Barry disana. Rasa kesalnya pada Barry masih terasa dihatinya.


"Eh-eh Dita, Dit tunggu!!!" Barry melihat Dita sudah pulang,Ia langsung keluar dari mobilnya dan berlari menuju Dita.


Dita memarkirkan motornya bermaksud langsung masuk ke kamarnya tapi langsung di jegat oleh Barry dengan tangannya.


"Dita tunggu!! Mau kemana??"


"Ada apa Barr,? kamu ngapain kesini!!" Kata Dita kesal tak mau melihat wajah Barry. Ia pun menarik tangannya.


"Kamu tadi liat aku di restoran kan!??"


"Iya!! Kenapa??" tanya Dita menatap tajam.


"Kamu, marah ya!?" Barry bertanya dengan takut.


"Gini ya Barr! aku emang bukan anak orang kaya, bukan juga punya pekerjaan yang bagus, bukan juga wanita yang sesempurna teman-temanmu. Tapi Barr, bukan juga sembarang kamu untuk dekati aku tapi kamu segitunya dengan wanita lain!! Emang dia temen kamu, Tapi masa sih sama temen kamu segenit itu!!" jelas Dita mengeluarkan semua kekesalannya pada Barry. Barry terdiam, menerima Dita begitu marah padanya. Ia bersikap begitu kebeberapa temannya selama ini.


"Ya udah Dit!!! Maafin aku, lain kali gak deh gitu lagi!!" Barry meraih tangan Dita tali Dita merampas tanganya dengan cepat.

__ADS_1


"Apa sih Bar pegang-pegang!! Sekarang cukup Barr, Aku gak bisa lanjutin ini semua. Udah lah Barr, aku tahu kok mana ada orang kaya seperti kamu mau tulus berteman sama orang biasa sepertiku. Kamu gak boleh seperti ini Barr, sebelum makin jauh.., jadi sampai sini aja Barr semuanya.!!" Dita berjalan menuju kamarnya dengan berat hati.


Barry ingin meraih tangan Dita, tapi Dita sudah terlanjur meninggalkan dirinya didepan teras kost itu. Kedua tangan Barry gemetar, hatinya terasa sangat sakit. Ia tak mampu berkata-kata lagi kecuali hanya bisa memandangi Dita masuk kedalam kamarnya dan menutup kamarnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang.., masa ia, hubungan yang masih sebentar ini harus kandas dengan masalah ini. God help me! " Barry benar-benar sedih, dengan berat hati ia berjalan menuju mobilnya dan tak mau beranjak dari sana.


Dita merasa Barry sudah pulang, Ia membuka pintu kamarnya sedikit lalu mengarahkan pandangannya kearah gerbang. Memastikan Barry sudah tidak ada disana. "Aneh, ngapain sih masih disana??!" ucap Dita dalam hati. Sebenarnya tak mudah baginya harus mengambil keputusan yang berat itu. Bagaimana pun ia sudah jatuh hati pada Barry sejak ia sakit beberapa minggu yang laku. Ia suka Barry yang perhatian tapi tak menyangka Barry malah begitu kepada perempuan lain.


"Sampai kapan Barry akan disana!!" Dita mulai kesal dicampur aduk dengan perasaannya ingin menemui Barry tak tega melihat Barry menungguinya disana dan tak mau beranjak pulang. Setelah mempertimbangkan, Dita pun berjalan menuju mobil merah itu.


Melihat Dita menghampirinya, Barry langsung keluar. Meraih tangan Dita dan menekuk kedua kakinya. Barry menundukan kepala. "Dit, maafin aku.., please!! jangan akhiri hubungan ini sekarang. Aku masih perlu kamu dalam beberapa hal di hidupku. Maafin aku membuatmu kecewa hari ini."


Dita menghela nafas panjang, ia tak tega Barry harus bersikap sujud padanya. "Udah, diri dong Bar, malu dilihat orang!"


"Gak mau,, maafin aku dulu.!!"


"Ya ampun Barry!! kamu kok gitu sih,?" Dita terkejut melihat kedua mata indah itu kini sedikit lembab. Membuat Dita semakin tak tega. Ia spontan menyentuh kedua mata yang memandang dirinya dengan syahdu.


"Aku sayang sama kamu Dit, aku gak bisa, kalau orang yang ku sayang menjauhiku dan meninggalkan aku." Barry menundukan kepalanya seakan ingin memeluk kekasihnya itu.


"Ia udah, aku maafin kamu, tapi janji ya, jagain hati aku dong Barr. Aku juga sayang sama kamu, jadi sikap-sikap kamu yang gak cocok kalau sudah punya kekasih itu di kurangin. Sekarang ada hati yang kamu harus jaga." Dita menggenggam kedua tangan Barry dengan lembut membuat hati Barry tersentuh dan seakan terobati.


"Oh benarkah,? Makasih Dita,,"Barry langsung memeluk Dita tapi Dita dengan sigap langsung melepas pelukan itu.


"Barr!! jangan dong. Malu tahu, banyak orang disini." Dita malu tapi sudah mulai tersenyum akan tinglah Barry.

__ADS_1


"Jadi, kalau gak ada orang kamu mau??" Barry tersenyum.


"Ya gak juga!!" Balas Dita membuat Barry menghela nafas lega.


"Ya udah, Ehm Dita, Makasih banyak ya. Kamu memang benar-benar wanita yang sangat baik."


"Yaudah, pulang gih, udah mau jam 7 malam. Kamu udah lama disini. Nanti Mama kamu nyariin."


"Emang anak kecil, masih di cariin!?" Barry seakan masih ingin berlama-lama disana. Ia menyandarkan punggungnya pada mobil yang tepat dibelakangnya.


"Ia, ia juga sih!! Cuma kamu disini lama-lama pun ngapain lagi Barr..?"


"Ehm. Ngobrol sebentar lagi boleh kan??" tanyanya. Dita hanya menundukkan kepala. Barry terdiam beberapa saat mencoba mencari topik obrolan.


"Dit, Kapan-kapan kalau aku ajak kamu kerumah, Mau??"


"Ehm, kan udah pernah. Kemarin pas baru ketemu sama kamu itu."


"Itu bukan resmi, itu namanya singgah aja. Beda dong sama yang ini. Aku mau kenalin kamu ke Mama aku secara resmi."


"Ehm, yakin Barr. Aku belum siap Barr, aku takut mama kamu gak suka sama aku karna aku perempuan biasa, beda sama teman-teman kamu yang lain." Dita menundukkan kepalanya kembali dan memainkan telunjuknya.


"Tuh kan, Selalu begitu,, Kita udah pernah bahas ini sebelumnya. Ayolah Dit. Aku pengen banget Mama aku kenal sama kamu." Barry terlihat membujuk Dita. Dita masih sulit untuk menerima tawaran itu. Lalu Dita mencari keputusan lain.


"Aku mau.., cuma kamu harus lebih dulu kenal keluarga aku. Kapan-kapan kamu aku ajak ke kampung dan ketemu sama ibu dan bapak aku. Gimana??!"

__ADS_1


"Okey!!. Dengan senang hati aku mau. Bagus juga tuh, aku bisa jalan-jalan ke kampung kamu. Pasti disana sangat indah dan banyak sawahnya." Barry tampak senang dengan tawaran Dita.


Dita sengaja memberi Barry tawaran lain untuk mengulur waktu karna belum siap untuk bertemu dengan orangtua Barry. Lebih baik baginya untuk mengenalkan ibu bapaknya seorang pria yang nantinya jika pun ibu dan bapaknya setuju, Dita akan melanjutkan hubungan mereka. Jika tidak, Dita akan berusaha menerima kenyataan dan meninggalkan Barry. Baginya keputusan orangtua nya juga adalah keputusan terbaik sebelum ia melangkahkan hubungan mereka lebih jauh.


__ADS_2