
Ibu wani menyuruh Dita dan Barry untuk duduk di sofa baru itu sambil ia bermaksud memanggil sang suami, pak anwar. Hari hampir menjelang magrib Ibu wani bermaksud juga agar suaminya memberhentikan pekerjaan yang dilakukannya sejak siang sampai saat ini. Ibu wani tiba di tempat paling belakang rumah itu. Sebuah tempat yang terdapat beberapa pohon mangga sudah berbuah dan pohon jeruk yang masih tampak hijau.
"Hei, pak Dimas...! didepan ada tamu. Sudahi pekerjaanmu, lihat hari sudah hampir magrib!" kata wanita paruh baya itu pada suaminya yang bertubuh gemuk itu.
"Ia bu, sebentar lagi. Tanggung!." jawabnya mempercepat pekerjaannya memotong beberapa bilah kayu yang sudah kering. " Siapa emang bu yang datang??"
"Nak Dita pak, dia datang bersama temannya. Kasihan mereka menunggu lama."
"Baiklah, Bapak bersihkan tangan dulu." kata pak anwar lalu ia beranjak berdiri. Tubuhnya yang berat membuatnya membutuhkan beberapa detik untuk berdiri.
Sembari pak Dimas membersihkan tangannya kembali ke dapur. Barry masih sangat fokus pada foto-foto yang terpajang rapi di dinding. Dita sedikit bingung memgapa Barry bertingkah seperti itu. Barry beranjak berdiri lalu melangkah kesebuah foto yang sudah dilihatnya, lalu ia bertanya pada Dita.
"Dit, kamu tahu gak foto yang ini, siapa ajah??" katanya menunjuk foto yang terdapat 2 bocah kecil berdiri tegap sambil tersenyum menghadap kamera kamera.
Dita berpikir sejenak, ia teringat jika ia juga pernah menanyakan hal yang sama pada Ibu wani, Bibinya itu.
"Ehm, anak kecil yang paling tinggi itu sih, Hm-m kayaknya kak Reno."
"Trus, yang paling kecil disampingnya itu siapa Dit?? anak pak Dimas juga??" kata Barry sangat penasaran. Ia lebih berfokus pada foto anak kecil tersebut karna foto itulah seakan memberinya sebuah keanehan pada dirinya.
"Hmm-m aku sudah lupa Bar, kayaknya sih adik bungsu mereka. Cuma sudah lama tak tinggal bersama keluarga ini, entahlah kenapa, yang jelas begitulah yang aku tahu. Hampir semua orangtua di desa ini mengetahui kisah itu. Aku saja tahu dari Bapak."
Seketika saja Barry terdiam, ia tiba-tiba seakan terjatuh mendengar perkataan Dita. Tangannya tiba-tiba kaku dan gemetar, aliran darahnya mengalir cepat. Barry seakan merasakan sesuatu dalam dirinya terkait foto itu. Dita terkejut dengan keadaan Barry. Barry tak bisa mengontrol dirinya. Ia benar-benar seakan menyimpulkan sesuatu.
"Barr!! kamu kenapa??" tanya Dita panik.
"Gak!! gak papah Dit,!? aku mau balik kerumahmu dulu!!" kata Barry menggeleng-geleng kepalanya. Ia beranjak berdiri kembali lalu ia pergi keluar dari rumah itu. Wajahnya mulai berkeringat dan ia berusaha menghapusnya. "Gak!! gak mungkin?? benarkah ini!!?" gumamnya lalu berlari menuju rumah Dita.
"Barr!!! kamu kemana??" kata Dita ingin mengejar namun terhalang, karna pak anwar sudah datang dari arah dapur. Pak anwar masih sempat melihat Barry berlari dari pintu rumah.
__ADS_1
"Loh nak Dita?? temannya kemana?" katanya menghampiri Dita yang sudah berada dipintu rumah itu.
"Ehm-m itu Paman, Dita juga gak tahu kenapa tiba-tiba teman Dita pergi." Dita kembali kedalam rumah dan duduk di sofa. " Gimana kabar Paman!? sehat??" tanya Dita mengalihkan pembicaraan.
Pak Dimas pun duduk disofa itu dengan berhadapan dengan Dita, namun dipisah oleh meja yang terbuat dari kaca itu.
"Yah begitulah nak, kadang sehat, kadang kolesterol paman naik,"
"Paman rajinkan minum obat, pola makannya dijaga kan paman?" kata Dita kawatir.
"Ia nak, Bibi kamu rutin kok memberikan makanan sehat buat paman. Ngomong-ngomong temanmu tadi dari mana nak?"
"Owh itu, teman saya itu dari kota Medan paman, dia datang bersama Dita kemarin siang."
"Tumben nak Dita membawa teman laki-laki. Siapa namanya nak?"
"Kristian Barry paman, tahu tidak paman, Barry itu anak orang yang berada. Tapi, Barry gak sombong dan masih mau berteman dengan Dita."
"Gak lah paman, aku melihat Barry dari kebaikannya kok bukan karna yang lain." kata Dita tersenyum. Ia tahu pamannya begitu menyayangi nya sehingga menasehatinya seperti anaknya sendiri.
"Baguslah nak, lalu kapan kamu balik lagi ke Kota?"
"Besok pagi paman, itu sebabnya Dita singgah kesini sebelum Dita balik."
"Owh begitu ya nak, mana nih Bibi kamu, kok gak dibuatin minum buat kamu." pak dimas menoleh kearah dapur mencari sosok sang istri.
"Eh, gak usah paman. Ini Dita mau langsung pulang kerumah kok. Kasihan ibu menyiapkan makan malam sendirian." Dita langsung beranjak berdiri. Ia mencium tangan pamannya itu lalu pamit untuk pulang. Pak Dimas hanya tersenyum senang melihat Dita sudah tumbuh dewasa dan sudah memiliki teman pria.
Dita berjalan dengan cepat mengarah kerumahnya. Ia masih penasaran akan sikap Barry yang langsung meninggalkan rumah pamannya itu.
__ADS_1
Dita tiba dirumah, ia memerhatikan seluruh rumah, bapak dan ibunya sedang didapu dan Frank sepertinya masih dirumah temannya. Dita berjalan menuju kamar adiknya dan merasa disanalah Barry.
Dita terkejut, Barry masih melamun, ia sepertinya memikirkan sesuatu yang tidak ia mengerti. Raut wajah Barry pucat, bahkan sepertinya Barry pun tak tahu Dita sudah berdiri didepan pintu kamar.
"Barr, kamu kenapa!?" tanya Dita dengan lembut lalu duduk disamping kekasihnya itu.
"Gak papah Dit, cuma aku lagi di posisi gak tahu siapa aku sebenarnya."
"Maksud kamu gimana Barr, cerita dong sama aku, mungkin aku bisa membantumu mencari solusinya." Dita menyentuh tangan Barry, namun tangan itu terasa dingin dan gemetar. Dita semakin merasa mengkhawatirkan adik dari Samuel itu.
"Dit, entah mengapa aku merasa foto yang disamping Reno kecil itu adalah aku...! bayangin Dit, pertama kali menginjakan kaki dirumah kak Lyli itu aku merasa sesuatu yang berbeda terjadi padaku!!?"
"Baiklah, apa-apa yang ingin kamu ketahui lagi dari masa lalu keluarga kak Lyli. Mungkin aku tahu beberapa hal lain.!" tanya Dita berusaha mengurangi beban pikiran Barry. Ia tak tega Barry selalu ditakuti rasa penasaran.
"Gini Dit, aku mau nanya! apakah ada lagi foto anak yang bersama dengan Reno itu? ehm, bagaimana! bagaimana bisa anak itu pergi entah kemana sesuai perkataanmu tadi?" Barry tak tahu dari mana ia harus memulai pertanyaan tentang hal itu.
"Baiklah, yang aku tahu adik kak Lyli itu namanya Valentino sedaya. Lahirnya tahun 1999, pas hari kasih sayang dibulan februari. Makanya dibuat namanya Valentino. Lalu, sesuai kata Bapak, anak kecil itu pernah dibawa kemedan saat berkunjung kesebuah pesta pernikahan salah satu keluarga mereka. Namun setelah itu pas mereka pulang dari sana, anak kecil itu sudah gak ada."
Barry kembali merasa tersentak, tangannya kembali gemetar, wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Ia tidak bisa mengontrol pikiran dan hatinya. Rasanya seluruh tubuhnya merasa sakit.
"Barr, kamu kenapa!? jangan bikin aku kwatir dong. Barry!!?" kata Dita panik.
"Gak papah.,, gak papah Dit. Aku gak papah..,"kata Barry lemas.
"Dita, bantu aku mencari tahu soal ini, aku sudah gak kuat sama kejadian ini. Keadaan ini menyiksaku." Barry menggenggam tangan Dita dengan kuat sehingga Dita semakin merasakan dinginnya kedua tangan itu.
"Baiklah Barr, percaya sama padaku. Aku akan bantu kamu dan akan selalu bersamamu. Tapi, janji dulu. Kamu harus bisa mengontrol hati dan pikiranmu Barr. Jangan seperti ini!?" kata Dita meraih kedua tangan itu lalu menggenggamnya didepan bola mata yang terlihat lembab itu.
Barry menundukan kepala. Ia menghela nafas panjang. Dita seakan tahu apa yang dirasakan oleh Barry. Walaupun ia tak tahu pasti tentang jawaban dari semuanya. Dita harus meyakinkan diri untuk bisa membantu Barry. Rasa sayang yang tersimpan dihatinya menunjukan bahwa ia tak bisa melihat orang yang disayang tersakiti seperti itu.
__ADS_1
Dita mengajak Barry keluar dan menyuruh Barry bersikap biasa saja didepan kedua orangtuanya agar kedua orangtuanya tidak ikut merasakan kekhawatiran baru karna Barry. Mereka pun makan malam bersama setelah semua selesai disiapkan.