
Pak Anwar dan Bu laras terlihat mempercepat langkahnya berjalan ke garasi rumah. Barry yang pada saat itu baru selesai makan siang dimeja makan heran memerhatikan sikap buru-buru kedua orangtuanya.
"Mau kemana Ayah dan Mama? kok kayak buru-buru?!." gumamnya penasaran. Sepertinya kedua orangtuanya tidak tahu jika Barry berada di meja makan.
Barry pun melangkah dengan diam-diam dan memerhatikan Ayah dan Mamanya melalui jendela kaca rumah. Mobil yang dikendarai oleh orangtuanya pun meninggalkan garasi dan keluar dari pagar rumah. Karna merasa penasaran, Barry berencana mengikuti jejak orangtuanya. Baginya sikap kedua orangtuanya itu cukup berbeda dari biasanya.
Barry berlari kekamar dan mengambil jaket hitam yang jarang ia gunakan. Ia juga memakai masker berwarna hitam agar Ayah ataupun Mamanya tidak mengenalinya nanti ketika dijalan.
Segera Barry menyalakan motornya dan memakai helmnya. Ia melintasi komplek dengan buru-buru berharap mobil orangtuanya belum jauh. Ia pun berhenti di pos satpam komplek untuk bertanya.
"Pak, Ini Barry! lihat mobil Ayah aku gak kearah mana??!" tanya Barry dari sepeda motornya kepada satpam yang sudah lama bertugas disana.
"Oh! Pak Anwar ya Mas...! Hm-m tadi kayaknya lewat kanan Mas..!" jawab satpam itu dengan lantang.
"Oke Pak! makasih infonya ya!!" ucap Barry sedikit berteriak karna jarak mereka yang cukup jauh.
Barry segera melaju kearah kanan dari simpang komplek. Barry mempercepat laju motornya agar bisa secepatnya mengenali mobil Ayahnya.
"Putih!! putih!! putih!!" ucapnya setiap kali melihat mobil yang di laluinya. Mobil sang Ayah bermerek Fo***ner itu belum juga terlihat. Barry mencoba lebih fokus lagi dan mempercepat laju motornya.
"Ahhhh!! itu diaaa..!!" teriaknya dibalik masker mulutnya. Barry melihat mobil sang Ayah tak jauh didepannya. Tentu ia sangat hafal model mobil milik Ayahnya itu.
Barry pun mengatur jarak laju antara mobil sang Ayah dengan motornya. Barry tak mau ketinggalan jejak mobil itu. Ia selalu mengikuti arah mobil itu berjalan. Jika kekiri,Barry membelokan motornya kekiri juga begitu seterusnya.
"Lolololo...lohhh!! ini kan jalan mau kerumah Kakek?!" gumamnya menyadari jalur perjalananya mobil orangtuanya mengarah kerumah Kakek Rudi.
Benar saja, mobil sang Ayah berhenti tepat didepan sebuah rumah yang memiliki halaman itu. Rumah mulai kusam dimakan waktu. Ayah dan Mama Barry keluar dari mobil dan mulai mengetuk pintu. Sementara Barry memerhatikan dari seberang yang tak terlalu jauh. Ia bersembunyi dibalik sebuah pohon dipinggir pasar.
"Apa yang dilakukan Ayah dan Mama disini. Apakah mereka akan menanyakan sesuatu pada Kakek?!" tanyanya dalam hati. Hatinya mulai bergejolak, ia mulai merasa ada ungkapan yang tak bisa ia ucapkan.
"Aduh! gimana kalau sakitku kambuh lagi!! gimana inii??"
Barry dengan sigap menetralkan pikirannya. Ia menarik nafas sedalam mungkin lalu membuangnya. Ia lakukan itu berulang kali sembari menunggu Ayah dan Mamanya kembali muncul dari dalam rumah.
"Kok dadaku terasa cukup ringan ya, gak terasa sakit!. Apakah perasaan was-was ku ajah yang terlalu takut jika aku akan merasakan sakit lagi." gumamnya lagi. Banyak sekali kata-kata yang diucapkan Barry sembari ia menghabiskan waktu siangnya memerhatikan gerak gerik Ayah dan Mamanya.
__ADS_1
"Hmm!! aku ingat!. Aku kan gak sakit lagi karna udah ketemu sama kakak kandung aku!. Rasa sakit itu sudah perlahan hilang karna kak Lyli begitu menyayangiku. Begitu juga dengan kak Dimas dan kak Reno. Mereka sangat baik." ucapnya lagi.
Barry hampir 30 menit dibalik pohon itu hingga akhirnya kedua orangtuanya keluar dari dalam rumah si Kakek.
Setelah melihat Ayah dan Mamanya pergi meninggalkan rumah itu, Barry langsung bergerak menuju rumah sang Kakek. Rasa penasarannya sangat besar dan itu membuatnya mempercepat langkahnya.
"Eh Mba...Mba!!" teriak Barry ketika salah satu anak dari sang Kakek yang sebelumnya sudah pernah ia temui itu hampir saja menutup kembali rumahnya.
"Eh dik Barry?!" katanya terkejut.
"Ia Mba, masih ingat Barry ternyata.. !" kata Barry lega.
"Baru saja Ayah dan Mama kamu pergi, kok bisa kebetulan sih kamu kesini lagi?"
"Justru itu Mba, Barry udah lihat Ayah dan Mama kesini. Barry malah mau bertanya soal alasan mereka kesini." jawab Barry.
"Mba kurang dengar tadi Kakek kamu yang mengobrol dengan Ayahmu. Tanya saja langsung pada Kakekmu." kata Wanita yang selalu mengurusi orangtuanya dimasa tuanya.
"Baiklah, biar kutemui Kakek dulu ya Mba." ucap Barry dengan sopan dan masuk kedalam rumah. Barry berjalan menemui sang Kakek di ruang tengah rumah itu. Tempat yang sama seperti beberapa waktu lalu Barry menemui Kakek Rudi.
"Tahu aja Kek kalau aku Barry!."
Sang Kakek tersenyum lalu menghela nafas panjang. "Hmm, Kakek tahu kamu mengikuti jejak Ayahmu kesini, itu sebabnya setelah mereka pergi, kamu muncul dihadapan Kakek."
"Ah! Kakek bisa aja nebaknya...," jawab Barry tersipu malu.
"Tadi Ayah dan Mama kamu bertanya, dari mana kamu tahu semua masa lalumu. Mereka juga bertanya apakah kamu pernah kesini apa tidak."
"Wah benarkah!! jadi, Kakek jawab apa?!" tanya Barry kaget.
"Kakek hanya jawab, sudah waktunya bagi kamu untuk mengetahui masa lalumu. Semakin disembunyikan, semakin kamu akan lebih keras mencari tahu. Kakek juga bilang kalau kamu benar, pernah kesini Sebelumnya."
"Wah! kakek sangat jujur." kata Barry mengangguk.
"Tentu Kakek punya alasan menyatakan itu. Lalu Kakek pun menasehati mereka agar mempermudah langkahmu bertemu dengan orangtua kandungmu. Kakek tahu mereka akhir-akhir ini menunda-nunda kepergianmu ke kampung halaman Ibu kandungmu.
__ADS_1
"Kok Kakek tahu?!!" tanya Barry tak menyangka jika Kakeknya itu tahu segalanya. Memang benar, lagi-lagi sudah hampir satu minggu berlalu, Ayahnya selalu menunda pertemuannya kepada orangtua kandungnya dengan alasan pekerjaan.
Apalagi sang Ayah berkata, setelah beberapa kali proyek pekerjaannya mengalami kendala, kini sudah mulai membaik. Jadi Ayahnya begitu meyakinkan dirinya jika pekerjaannya juga adalah hal penting. Merasa pekerjaannya sudah kembali normal, Pak Anwar merasa tak perlu lagi mempertemukan Barry kepada orangtua kandungnya.
"Kakek tentu tahu, kan Kakek mengetahui semua tentang Ayah dan Mama kamu." jawab sang Kakek sedikit membanggakan dirinya.
"Apa lagi yang Kakek tahu soal Ayah dan Mama yang Barry gak tahu."
"Ehm-m itu hal yang sulit Kakek katakan, bagaimana pun Kakek tak mau kamu nantinya akan membenci mereka. Kakek tak mau memberikan informasi yang buruk."
"Tentu tidak akan Kek, Barry sayang sama Ayah dan Mama. Bagaimana pun mereka merawat Barry dari kecip sampai saat ini dengan kasih sayang. Barry sangat menghormati mereka. Barry hanya kecewa mereka menutupi hal penting hidup Barry terlalu lama. Tapi, bukan berarti Barry membenci mereka. Barry hanya ingin bertemu orangtua kandung yang melahirkan Barry."
"Oh hatimu sangat mulia nak. Itu sebabnya kamu dipilih merasakan ini karna kamu tentu akan tetap mengasihi orang yang sudah menyakitimu. Kamu luar biasa.
"Ah kakek bisa ajah, Barry hanya mengatakan yang benar dan dari hati Barry." Barry tersipu malu. Sepertinya obrolan mereka melebihi waktu obrolan sang Kakek dengan Ayah dan Mama Barry.
"Ya nak, kamu benar. Berlakulah seperti kehendak positif hati kita. Sebisa mungkin teruslah berbuat baik dan menganggap semuanya demi kebaikan. Tak ada kebencian didalam sukacita mereka yang mengasihi sesama.
"Ternyata Kakek sangat pandai memberi nasehat. Barry bahagia dikenalkan dengan kakek."
"Semoga harimu menyenangkan nak!" kata sang Kakek.
Barry pun beranjak berdiri bermaksud untuk pulang.
"Kalau begitu, Barry pulang ya kek. Makasih informasinya Kek. Barry sangat senang bisa kesini lagi. Barry janji, nanti kalau Barry udah ketemu sama orangtua kandung Barry, mereka akan saya ajak bertemu dengan Kakek."
"Wah, ide yang bagus nak. Kakek ingin sekali bertemu dengan mereka." jawab Kakek Rudi tersenyum sembari membalas jabat tangan dari Barry.
"Salam Kek." kata Barry mencium tangan Kakeknya yang sudah keriput itu. Barry pun beranjak lalu berjalan keluar rumah.
"Barry pamit Mba." ucap Barry melihat anak bungsu sang Kakek sibuk mengambil pakaian kering dari jemuran yang ada di halaman rumah.
"Ia dik!! hati-hati." teriaknya.
Barry pun kembali dengan rasa lega, walaupun sedikit kecewa dengan sikap orangtuanya. Barry selalu berusaha untuk tidak menyalahkan mereka tentang kehidupannya yang begitu rumit.
__ADS_1