Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Nyeri yang aneh


__ADS_3

Kicauan burung yang berasal dari balik gedung itu menandakan pagi sudah tiba, suasana disana masih tampak sepi. Kicauan burung dan petugas kebersihan yang memulai kegiatan pagi itu tak membuat tidur Samuel terganggu. Sepertinya ia masih membutuhkan waktu untuk matanya yang sudah terjaga sampai pukul 04:00 WIB.


Sam menggeser sedikit posisi tidur yang sebenarnya baru pertama kali ia rasakan yaitu tidur dikursi yang tebuat dsri besi memanjang itu. Biasanya ia merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk dan suasana yang nyaman.


Tiba-tiba seorang petugas kebersihan menyapa Sam dengan menepuk punggungnya.


"Mas..! Mas?? Bukankah yang ada di dalam di ruang ICU itu keluarga Mas? sepertinya Dia sudah siuman." katanya membuat Sam tersentak. Ia langsung terbangun dan mengusap matanya dengan cepat mendengar ucapan si petugas kebersihan yang baru saja melakukan pekerjaannya dengan membersihkan seluruh ruangan itu. Si petugas melihat Barry seperti sudah membuka matanya dan menggerak-gerakan tangannya.


"Eh ia dok, kenapa!!?" jawab Sam belum sepenuhnya sadar dari tidurnya, mengira dokterlah yang membangunkannya.


"Mas, saya bukan dokter." sipetugas kebersihan itu sedikit tertawa.


"Oh! maaf. Ehm ada apa tadi??" kata Sam sedikit malu dan tersadar.


"Itu, saudara Mas kek nya udah siuman. Silahkan dilihat Mas."


"Owh benarkah, terimakasih Mas!" kata Sam terkejut tanpa pikir panjang langsung melirik kearah ruangan dimana Barry terbaring. Ia menepuk bahu si petugas dengan lembut dan dengan cepat ia masuk kedalam ruangan itu.


Samuel terkejut, Barry sudah duduk di atas tempat tidurnya. Ia seperti seorang yang baru bangun dari tidurnya. Barry tampak sibuk membuka selang infus yang melekat di punggung tangan kirinya.


"Loh..loh..loh Bar..!!? apa yang kamu lakukan???" tanyanya menghampiri adiknya itu dengan panik. Samuel mengira sesuatu telah merasuki pikiran adiknya itu sehingga melakukan hal diluar kendalinya.

__ADS_1


"Sejak kapan aku disini Kak!!? kenapa aku bisa ada diruang ICU seperti ini.??"Barry sepertinya sadar akan apa yang ia lakukan. Ia sepertinya tak merasakan jika sesuatu terjadi pada tubuhnya. Yang ia rasakan adalah seperti baru bangun dipagi hari. Hal yang membuatnya heran dan aneh, ia bisa bangun pagi dengan keadaan sudah berada diruang yang penuh dengan alat-alat medis dan bahkan tangannya dipenuhi selang infus. Samuel memerhatikan Barry dengan seksama.


"Kamu semalaman gak sadarkan diri, seluruh tubuhmu kaku dan dingin. Wajahmu pun pucat dan kamu gak mendengar Ayah dan Mama yang begitu panik dan histeris dengan keadaanmu. Dan sekarang kamu malah siuman seakan tak terjadi apa-apa denganmu. Kok bisa!!?" Sam bertanya pada Barry yang sebenarnya juga tak paham apa yang sudah terjadi pada dirinya. Rasa sedikit lega namun kesal jelas terlihat pada raut wajah Samuel yang sudah bela-belaan tak tidur demi menunggu sang adik.


"Apa??? yang benar saja Kak,!! apakah aku mengalami seperti yang kakak bilang. Tapi pagi ini aku malah tak merasakan apa-apa.!" Barry malah balik bertanya. Mereka berdua sama-sama heran dengan apa yang sudah terjadi. Mereka terdiam beberapa saat dan Samuel duduk disamping Barry.


Barry menghela nafas panjang. Kini sepertinya ia sedikit mengerti. Ia tahu ada sesuatu telah terjadi pada dirinya. Ia sadar jika ada aura yang tak bisa ia jelaskan tentang dirinya ketika Ia sedang dalam keadaan sedih dan kecewa. Ia teringat apa yang sudah terjadi pada dirinya bahwa ia tak bisa lari dari kenyataan jika ia bukanlah anak bungsu kedua orangtuanya. Bahkan bukan adik kandung dari pria yang sedang berada disampingnya yang sudah menunjukan bahwa Samuel menyayanginya dengan rasa khawatirnya.


"Ehm, kak?? Ayah dan Mama dimana sekarang?" Setelah hampir 15 menit mereka terdiam, Barry membuka obrolan.


"Mereka mungkin masih tertidur didalam mobil. Mereka semalam juga tak tidur hanya karna merasa begitu panik dan khawatir sejak kamu gak sadarkan diri dikamar kamu." jawabnya. Barry terkejut, bagaimana ia bisa menerima kenyataan bahwa ia bukanlah anak dari orangtua yang begitu menyanyanginya.


"Benarkah, harusnya aku tak membuat mereka panik." jawab Barry terdiam dan menunduk.


Sam lega adiknya itu siuman diluar dugaannya. Namun ia masih heran mengapa sang adik siuman dengan cara yang aneh. Malah sehat seperti sedia kala. Bukan karna Sam tak senang akan cara Tuhan yang dengan cepat mengabulkan doa yang terucap diluar sadarnya. Namun hal itu sangat mengganjal dipikirkannya.


Tiba-tiba kedua orangtua mereka datang menghampiri bersama dengan dokter yang menangani Barry diruang IGD. Mereka benar-benar terkejut melihat Barry sudah dengan santainya mengobrol dengan Samuel. Mereka tak menyangka Barry pulih secepat itu. Bahkan dokter terpana dengan keanehan yang kedua kalinya melihat pasiennya itu. Dokter tersebut awalnya heran dengan keadaan Barry yang tak sadarkan diri padahal tak ada kondisi penyakit parah ataupun kejanggalan ditubuh pasiennya itu. Dan kini malah sudah sehat kembali padahal sudah nerada diruang ICU.


"Baru ini saya melihat pasien luar biasa selama 5 tahun saya bekerja sebagao dokter."


"Bar...!!? Barry?!! kamu sudah sadar Nak?" sang Mama berlari dan langsung memeluk Barry. Baginya tak perlu bagaimana bisa anaknya itu bisa pulih seperti sedia kala. Yang penting ia melihat Barry sudah tampak sehat dan Ia tak harus berpikir akan kehilangan anak yang begitu ia sayang itu.

__ADS_1


Sang Ayah terdiam tak ikut menyambut anaknya yang sudah sadar itu. Ia malah tersungkur kedinding, memerhatikan Barry yang sudah tampak sehat. Sang Ayah seperti sedang memikirkan sesuatu, ia sangat tahu anak bungsunya itu. Sesuatu tak bisa sudah terjadi pada anak bungsunya. Sang Ayah tahu jika Barry sepertinya sudah menemukan sesuatu yang berbeda dari dalam dirinya. Itulah mengapa Barry bisa sampai tak sadarkan diri demi untuk berusaha memahami dirinya. Barry anak yang berbeda dari anak lainnya, ketika Barry berpikir dengan keras, hal-hal aneh akan muncul dari dalam dirinya.


"Anak ini bisa saja merusak masa tua ku, anak itu akan membuat kenyataan yang tak ku inginkan. Barry akan menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh setelah ia kembali kerumah." ujar sang Ayah dalam hati.


Samuel memerhatikan tingkah aneh sang Ayah yang malah tak menyambut Barry setelah pulih. Ia memerhatikan Barry yang sedang diperiksa oleh dokter agar memastikan bahwa Barry sudah pulih total. Samuel pun berjalan menemui sang Ayah.


"Ayah kenapa??"


"Ehm! gak apa-apa Sam." jawab Pak Anwar singkat dan berusaha menyembunyikan kegelisahannya.


"Ayah yakin??"


"Ia yakin Sam, ayo temui Barry dan Mama kamu." kata Beliau menarik punggung Samuel menemui Mamanya.


Setelah melakukan pemeriksan, hasilnya Barry sudah bisa pulang dan tak perlu melakukan jadwal check up kembali. Barry benar-benar sehat, hal itu membuat dokter bahkan tak meresepkan obat yang harus diminum Barry untuk dibawa pulang. Dokter hanya menyarankan Barry untuk istirahat yang cukup dan minum vitamin yang juga bisa dibeli di Apotik.


"Kamu ya Bar! hampir aja membuat semua orang panik. Lain kali jangan nge-prank gini lagi dong.!" kata Samuel menepuk bahu kanan adiknya itu ketika masuk kedalam mobil. Ayah dan Mamanya tersenyum lega dan ikut masuk kedalam mobil.


"Jangan dipukul dong Sam, adik kamu baru di suntik dibagian tangan kanan. Nanti terasa sakit dibekas suntikan itu." bela sang Mama.


"Ellleh, dia gak rasain apa-apa kok Mah."

__ADS_1


"Udah ah, ayok pulang." potong sang Ayah memerhatikan tingkah Sam pada Barry. Samuel melakukan itu karna lega melihat Barry kini baik-baik saja. Ia hanya sedikit bergurau agar suasana tidak terlalu kaku melihat semuanya masuk mobil dengan serius.


__ADS_2