
Barry juga mendapat pelukan hangat dari orangtua Dita. Mereka datang bersama Dita dan Frank. Walaupun masih cukup terkejut, Ibu dan Bapak Dita tetap harus ikut berbahagia atas kepulangan anak dari keluarga yang sudah sangat dekat pada mereka. Walaupun anak itu ternyata adalah teman dekat Dita, anak gadisnya.
"Selamat datang di Desa ini lagi ya Nak. Om ikut senang atas kepulanganmu. Ibu dan Bapak kamu adalah orangtua yang luar biasa dan mereka pantas
mendapat penantian ini sekarang." Pak Fredy memeluk Barry begitu erat. Begitu juga dengan Bu Luis dan Frank.
"Selamat ya Kak,,, gak nyangka. Pacar kak Dita adalah anak bungsu Om Dimas yang selama ini diceritakan oleh Ibu padaku." ucap Frank memeluk Barry dengan bangga.
"Hehe, begitulah Frank, kakak cukup terkejut. Tapi, kakak senang kalian dekat dengan kakak sekarang.
Begitulah mereka mengobrol beberapa jam dan masih saja ada warga yang datang ingin melihat Barry.
"Bapak akan membuat pesta syukuran atas kepulangan kamu nak..," kata Pak Dimas didepan seluruh keluarga besarnya. Disana berkumpul seluruhnya baik itu paman dan bibi dari Ibu dan juga dari Bapak Barry. Semua menyambut kepulangan Valentino dengan sukacita.
"Hal bagus Pak, Dimas setuju!." ucap Dimas semangat.
"Ya Pak, Susi dan Lyli juga setuju!."
"Kami juga setuju..!" jawab serentak dari pihak keluarga Bu Wani.
"Kami sangat setuju!. sambung dari pihak keluarga Pak Dimas.
"Terima kasih atas semangat kalian, saya sangat senang. Baiklah acara syukuran ini kita buat besok, setelah ibadah minggu pagi. Beritakan kabar ini pada semua penduduk agar datang makan siang bersama dengan kita." ucap Pak Dimas sangat semangat.
__ADS_1
Barry memerhatikan kebahagian yang terpancar di mata sang Bapak. Ia sangat senang, ternyata ia dilahirkan ditengah keluarga yang sangat berbeda dari yang biasa ia lihat. Padahal Ayah dan Mamanya jarang membuat syukuran jika memiliki rezeki ataupun hal lainnya. Keluarganya juga bukan keluarga yang dekat satu sama lain. Itu sebabnya Barry tak terlalu dekat dengan Paman dan Bibinya baik itu dari Ayahnya ataupun dari sang Mama.
***
Keesokan harinya
Semua tampak sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu. Semua keluarga itu bergotong-royong memasak dan menyiapkan bumbu didapur. Rumah itu tampak sangat ramai padahal masih sangat pagi. Barry terheran-heran melihat kesibukan mereka yang dengan semangat dan kompak memasak. Ada yang memasak dibagian nasi,bagian lauk dan bagian pauk. Para pemuda desa berdatangan membantu membentangkan tikar dibagian teras dan halaman rumah. semua dibersihkan sebaik mungkin. Bahkan ada Dita disana yang sibuk bersama dengan teman-temannya membantu Ibu-ibu memasak.
Barry terpana akan kebaikan dan kerajinan yang terpancar diwajah Dita. Lagi-lagi Barry merasa hatinya tenang melihatnya. Dita memandang Barry lalu tersenyum. " Uhhh, senyumanmu sangat indah Dita!!." ucap Barry dalam hati sembari ia membalas senyuman itu.
Barry bermaksud ingin membantu apa saja yang bisa ia kerjakan. Karna hanya dialah yang berdiri disana tanpa melakukan apapun.
"Eh.., gak usah nak. Kamu berdiam diri saja, gak usah ikut bantu. Kami saja,," ucap Ibunya melarang Barry memegang sapu karna ingin membersihkan bagian yang menurutnya harus disapu.
"Jangan nak, biar teman-teman Dita yang melakukannya. Disini seperti itu kebiasaannya nak. Kamu mandi saja dulu, berpakaian rapi dan bersih, lalu kamu sarapan. Nanti kita akan ada acara penyambutanmu. Jadi, disanalah nanti kamu akan berperan." jelas sang Ibu. Barry menganggukan kepala lalu menuruti kata-kata sang Ibu. Barry memeluk Ibunya sebentar lalu bersiap-siap.
Setelah semuanya selesai, keluarga besar itu ikut bersiap dan memakai pakaian rapi dan bersih. Mereka telah siap menyambut tamu siapa saja yang datang memberi selamat kepada mereka. Pak Dimas tersenyum bangga melihat dekorasi rumah yang dibuat pemuda desa. Juga memerhatikan hidangan makanan yang sudah tertata rapi diatas meja.
Tiba-tiba air matanya mengalir, ia tak sanggup lagi menahannya. Pak Dimas tak menyangka apa yang di harapkannya selama ini menjadi kenyataan. Ia selalu berdoa jika kelak sang anak bungsu kembali ia akan membuat acara syukuran yang bagus demi anaknya yang kembali. Banyak harapan yang dulu selalu ia doakan jika kelak sang anak kembali. Dan saat ini satu persatu harapan itu menjadi kenyataan.
"Bapak kenapa menangis?." tanya Lyli yang sangat memerhatikan wajah Bapaknya.
"Ehm, gak apa-apa nak. Bapak hanya terharu dan merasa ini seperti mimpi. Bapak gak nyangka ternyata masih bisa melewati masa tua dengan melihat wajah adik kamu, dan membuat acara syukuran ini demi dia." jawab Pak Dimas sembari berusaha menghapus air matanya.
__ADS_1
Lyli memeluk erat sang Bapak. Ia semakin terharu atas apa yang dikatakan oleh Bapaknya. "Benar Pak, ini seperti mimpi. Lyli tak menyangka ternyata masih bisa melihat adik Barry, Lyli sempat berpikir jika ini semua tak mungkin terjadi karna sudah bertahun-tahun tak pernah ada mujizat. Ternyata ini semua nyata dan waktu Tuhan selalu ada diwaktu yang tepat ya Pak,,,."
"Ada apa Pak?!. Kenapa menangis??." tanya Barry menghapus air mata dipipi sang Bapak.
"Oh, hanya terharu nak. Bapak sangat bahagia saat ini karnamu. Melihat acara ini Bapak sangat bahagia."
"Oh benarkah Pak. Barry tak akan kemana-mana dan akan bersama bapak terus." kata Barry memeluk Pak Dimas.
"Terimakasih nak kamu anak yang luar biasa. Kamu bisa menemukan kami dengan waktu sebaik ini. Nanti kita berfoto keluarga ya...," bujuk sang Bapak memandang Barry.
"Ia Pak, tenang saja. Kita akan ke studio foto di kota setelah Barry wisuda. Minggu depan Barry wisuda Pak dan Barry pengen kalian semua hadir disana. Barry pengen teman dan keluarga Barry disana juga tahu jika kalian adalah orangtua kandung Barry...,"
Pak Dimas terkejut, ia semakin tak bisa berkata-kata lagi. Ia tak menyangka hal luar biasa didalam diri anaknya itu membuatnya selalu terharu.
"Be-benarkah!!?. Ka-kamu akan bawa Bapak ke acara Wisudamu??" ucap Pak Dimas gugup.
"Ia Pak,,, Bapak harus tetap sehat ya!." ucap Barry tersenyum.
Orang-orang pun berdatangan dan memberi ucapa selamat pada Pak Dimas dan keluargannya. Bahkan dari penduduk desa seberang pun berdatangan karna ingin melihat kisah yang sangat jarang terjadi di dunia nyata. Melihat Barry yang tampan dan gagah, banyak gadis-gadis desa yang jatuh hati padanya.
Namun Barry bersikap menjaga diri karna ia tak mau Dita yang kecewa ataupun cemburu melihatnya dekat dengan gadis-gadis desa yang juga cukup cantik. Barry tak henti memandang pada Dita setiap kali ada wanita yang menjabat tangannya. Dita hanya tersenyum, merasa yakin jika Barry tak akan membuatnya cemburu.
Antusias masyarakat disana sangat luar biasa. Ada beberapa tetangga yang bahkan membawa bingkisan kepada pak Dimas atas kenmbalinya sang anak bungsu. Kisah keluarga Pak Dimas telah memberi banyak inspirasi kepada mereka jika penantian dan kesabaran melakukan kebaikan akan mendapat berkah yang indah.
__ADS_1