Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Persiapan


__ADS_3

Barry masih terbaring didalam tidurnya walaupun jam sudah menunjukan pukul 08:00 Wib. Samuel memerhatikan posisi tidur Barry yang begitu pulas. Sam sudah berdiskusi dengan sang Ayah jika hari ini adalah hari dimana mereka akan pergi kerumah orangtua kandungnya. Samuel juga sudah membicarakan hal itu pada Dita dan kekasihnya Lyli.


"Woii!!! bangun...! jam segini belum bangun..!" teriak Sam mengejutkan Barry dan langsung melompat.


"Ia!! ia...ia!! ada apa?!" jawab Barry spontan.


"Ayo!!. Kita akan pergi hari ini. Ini kejutan untukmu!!" ucap Samuel menarik tangan sang adik yang masih setengah sadar.


"Hah! kejutan apa Kak?!" tanya Barry.


"Hari ini kita akan menemui orangtua kandungmu. Jadi, bersiap-siaplah!." ucap Sam membuat Barry terkejut dan langsung berdiri. Seketika wajahnya cerah.


"Serius kak?!!"


"Ia loh!!. Buruan, didepan udah ada Lyli dan Dita. Ayah dan Mama juga udah siap, semua tinggal menunggu dirimu." Sam tertawa, ia sengaja memberi kejutan kepada Barry sesuai ide yang diberikan oleh Lyli dan Dita. Mereka sudah merencanakan itu kemarin sore ketika Barry menceritakan semua tentang sikap sang Ayah yang sudah mau berangkat ke Desa.


Barry langsung berlari keluar kamar bermaksud memastikan ucapan sang Kakak. Ia pun memandang kebawah dari pintu kamarnya. Benar saja, Dita, Lyli beserta Ayah dan Mamanya sudah mengobrol di ruang tamu lengkap dengan beberapa barang yang akan dibawa ke Desa.


"Kok gak bilang-bilang sih!!!" cerutu Barry kembali lagi ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


"Namanya kejutan!!." ujar Samuel tertawa melihat wajah panik sang adik.


"Ia kan, masa baru ngabarinnya sekarang!. Aduh!! aku jadi bingung mana yang harus aku kerjakan terlebih dahulu?!." cerutunya lagi mondar mandir dihadapan Samuel.


"Udah, mandi aja dulu!!. Apa yang perlu disiapkan biar aku panggil Dita kesini membantuku menyiapkan pakaianmu." kata Samuel pergi meninggalkan kamar adiknya itu. Barry menurut dan langsung masuk ke kamar mandi.


Samuel berjalan menuruni anak tangga lalu menemui Dita.


"Dik Dita, temani kakak menyiapkan pakaian Barry dong!." bisik Sam pada Dita yang duduk disamping Lyli.


"Hah, nyiapin dimana kak?" tanya Dita bingung.


"Dikamarnya. Kakak gak tahu apa saja yang dibawa."


"Tapi kak....


"Udah gak papah...," kata Sam. Dita pun akhirnya menurut saja. Ia melirik ke arah Bu Sarah. Sepertinya Bu Sarah mendengar pembicaraannya dengan Sam, Bu sarah menunduk tersenyum.

__ADS_1


"Kakak menyusul," ucap Sam membuat Dita enggan bergerak kelantai dua rumah itu.


Dita perlahan tiba didepan pintu kamar Barry yang tak tertutup. Ia berjalan masuk kedalam kamar dengan ragu.


"Apa yang harus disiapkan coba?!" gumamnya.


Tiba-tiba Barry keluar dari kamar dan mata Dita spontan kearah Barry yang kaget melihat Dita ada didepannya.


"Astagaaaa!!! Heiii....! Dit-tta???!!" teriaknya sambil memperbaiki posisi handuk yang hampir lepas dari pinggangnya karna rasa kagetnya.


"Ba...ba, baaryyy?!!!!" teriak Dita langsung menutup matanya lalu membuang wajahnya kearah pintu.


"Kamu ngapain masuk kamar aku Dita?!"


"Kak Sam yang menyuruhku...!" ucap Dita kesal.


"Ngapain Kak Sam menyuruh kamu, oh! astaga apa Sam sedang usil padaku?!." jawab Barry ikut kesal. Segera ia masuk lagi ke kamar mandi. Ia tak pernah memakai pakaian dikamar mandi, semua pakaiannya ada didalam lemari Dan jarak kamar mandi ke lemarinya sekitar 5 meter.


"Baiklah, kalau begitu aku keluar saja!" cerutu Dita kesal.


"Jangan!! jangan...! tunggu disana,!" cegah Barry.


"Tunggu aku selesai pakaian!. Kamu ambilkan saja pakaianku dilemari dan berikan padaku. Aku tunggu dari kamar mandi." Barry malah tersenyum, jika Sam bermaksud usil, ia coba menikmatinya.


"Hah! Aku mana tahu pakaian mana yang akan kamu pakai Barry!!. Jangan bercanda deh!" Dita kesal namun menurut tak pergi dari tempatnya berdiri.


Barry tersenyum mencari alasan agar Dita tidak meninggalkan kamarnya.


"Pilih saja yang mana kira-kira kamu yakin jika aku memakainya aku akan terlihat tampan!"


Dita menepuk jidatnya mendengar kepedean kekasihnya itu. Walau kesal tapi Dita malah senyam-senyum.


"Dasar!!."gumamnya. Lalu Dita pun berjalan ke lemari yang dimaksud oleh Barry.


Dita membuka lemari yang cukup besar dan tinggi itu. "Waah! banyak sekali pakaiannya?!."


Dita tercengang melihat seisi lemari yang begitu penuh dengan pakaian itu. Pakaian milik Barry sangat banyak dan isinya tertata begitu rapi. Dita tercengang dan tak menyangka ternyata Barry tipe laki-laki pembersih dan rapi. Berbeda sekali dengan laki-laki pada umumnya. Dita tersenyum memandangi seluruh isi lemari itu. Ia membayangkan jika apapun pakaian yang digunakan oleh Barry tentulah akan selalu terlihat tampan dimatanya.

__ADS_1


"Dita?! mana pakaianya, udah dipilih belum!?. Kita buru-buru loh!" tiba-tiba Barry mengejutkan lamunannya.


"Ia, ia, ia...! ini lagi memilih!." jawab Dita dengan cepat memilih pakaian untuk Barry. Dita asal mengambil salah satu dari sekian banyak pakaian didalam lemari itu.


"Nah...!" kata Dita berdiri tepat didepan pintu kamar mandi. Namun ia sengaja menjauhkan wajahnya.


"Cuek amat!!" Barry membuka pintu kamar mandi dan meraih pakaian dari tangan Dita. Namun ia sengaja menggangu Dita, ia menyukai sikap Dita yang cemberut tapi sayang.


"Cepet dong Barr! gak usah bercanda. Aku seggan disini sendirian sama kamu!. Kak Sam juga, ngapain nyuruh aku kesini."


"Mungkin, karna Sam mau membuatku seneng!"


"Ihh! udah ah, ayo buruan!. Kamu apa gak mau cepet sampe ke Desa. Udah jam 9 loh Barr, jam berapa lagi sampe disana. Kamu kan tahu kesana butuh waktu 4 jam!."


Belum selesai Dita mengomel dibalik pintu, Barry langsung keluar dari kamar mandi dan memegang pipi kekasihnya itu.


"Cerewet banget sih..!!" katanya dengan gemas. Barry tersenyum dan menatap tajam Dita agar hati Dita luluh. Benar saja, Dita langsung terdiam dan tak kuat membalas tatapan indah kekasihnya. Dita salah tingkah dan mengusap pipinya yang memerah akibat cubitan Barry.


"Barry..!!" ucapnya kesal namun dibalik itu ia menyukai sikap itu.


"Ayo, ambil beberapa pakaian lagi dari dalam lemari. Aku akan tinggal dirumah orangtuaku beberapa hari kedepan. Jika Mama mengizinkan aku ingin berlama-lama di desa yang indah itu.


Barry mencari tas ransel yang cukup untuk memuat pakaiannya. Dita menurut dan memilih pakaian untuk Barry. Dita tahu jika di desanya sangat dingin. Jadi, ia memilih pakaian yang tebal dan hangat. Tak lupa ia mengambil beberapa jaket untuk dipakai oleh Barry ketika tidur dimalam hari.


"Hah! banyak banget sayang?!." tanya Barry heran. Dita memberinya hampir segunung pakaian. Tentu ranselnya tak akan memuat itu semua.


"Desaku sangat dingin Barr, kamu kan udah pernah kesana, masa lupa sih!. Ini semua akan kamu perlukan disana."


"Ta-tapi.., gimana bawa ini semua?! apak kata Mama jika nanti ia melihat semua pakaian ini?"


"Kamu ganti saja dengan koper, jadi tak merepotkanmu membawanya. Bukankah kamu sudah meyakinkan Mama kamu jika kamu akan tinggal disana beberapa hari?!."


"Udah sih!. Ya oke deh! masukan semuanya ke dalam koper saja." kata Barry mengambil koper yang tersimpan diatas lemari.


Dita pun sibuk memasukan pakaian yang sudah dipilihnya kedalam koper yang cukup besar. Barry memerhatikan kesibukan kekasihnya itu, dengan sangat seksama dan rapi Dita menyusun pakaian-pakaian itu kedalam koper. Barry merasa sangat kagum, merasa Dita cocok sekali menjadi bagian dari kehidupannya.


"Udah cocok jadi ibu dari anak-anakku kelak!." gumam Barry pelan namun ia tahu Dita mendengar ucapanya.

__ADS_1


Dita menoleh dan menatap Barry. Lagi-lagi Barry mengganggunya dengan gombalan-gombalan kecil. Dita kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia juga merapikan kamar Barry yang berantakan. Sikap-sikap kecil seperti itu membuat Barry terus merasa jatuh hati setiap bersama Dita.


__ADS_2