Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Mencoba


__ADS_3

Dita tampak sedang bersiap-siap seperti akan pergi. Ia mencari kunci Motornya setelah menerima sebuah telepon. Ia meraih kunci dari atas mejanya, lalu diambilnya Helm berwarna Hitam yang setiap hari ia pakai kerja itu dari atas lemari. Ia harus mengangkat sedikit tumit kaki untuk meraih helm itu. Tingginya yang hanya 153 sentimeter itu tak mampu mengimbangi tinggi lemari yang berkisar 2 meter. Tak lupa ia mengambil jaket juga dari dalam tumpukan pakaiannya yang ada didalam lemari. Ia tak ingin menggunakan jaket kerja dengan jaket diluar kerja, katanya harus sedikit bersih dan wangi diluar kerja.


Dita berjalan menuju parkir motornya yang berada tak jauh dari kamarnya. Disana terdapat banyak sepeda motor, karna hampir semua penghuni kos itu memiliki sepeda motor. Dita memasang helmnya ke kepalanya dan menutupi rambut indahnya yang digerai. Dita melaju dengan kecepatan sedang sampai akhirnya tiba didepan sebuah rumah kontrakan sekitar 10 menit dari kosnya. Ia pun mengetuk pintu yang sebenarnya terbuka itu, Namun tak ada orang didepan teras yang sudah tersedia kursi.


"Kak Lyli, Kak..? Dita sudah datang,!" panggilnya sedikit meninggikan suaranya. Seseorang menjawab dari dalam rumah.


"Ia dik, masuk aja,. kakak lagi dikamar!" jawab Lyli teriak. Dita pun melepas sepatunya lalu membuka helm nya untuk dibawa kedalam rumah. Ia meletakan helm itu diatas TV.


"Kakak baru siap mandi..," kata Lyli sambil ia mengggulung rambut basahnya dengan handuk. Wajah cerah dan bersihnya terpancar.


"Kamu cepet juga ya sampe setelah kakak suruh bantuin kakak" kata Lyli kembali.


"Ia kak, kebetulan tadi lagi santai aja sambil golek-golek kakak." jawab Dita memerhatikan sang Kakak memakai beberapa krim wajah kewajahnya. "Lalu kakak, minta bantuan apa dari aku??"


"Aku mau, kamu suruh Barry datang kesini. Kakak mau ngobrol sama dia tentang Sam." kata Lyli membuat Dita terkejut. Ia mencoba berpikir sejenak.


"Ngobrol gimana maksudnya kak,?"


Lyli mendekat pada Dita dan menatap serius adik angkatnya itu.


"Yah, hanya sekedar ingin mengenalnya saja. Kakak dari dulu pengen banget dekat dengan dia, rasanya tuh selalu penasaran dengan Barry. Tapi kakak gak tahu gimana caranya. Karna sekarang kamu sudah pacarnya, jadi kakak seakan punya jalan buat kenal lebih dekat padanya."


"Aku sih bisa aja kak suruh dia datang sekarang. Cuma gimana sama Kak Sam kalau tahu soal ini? Gimana kalau Kak Sam marah lagi sama kakak?" Dita setuju namun bersamaan merasa kwatir.


"Udah gak apa-apa. Yang penting jangan Sam sampai tahu dulu. Bilang sama Barry untuk datang kesini dengan alasan motor kamu mogok atau apa sejenisnya." usul Lyli serius. Dita menghela nafas, berusaha mempertimbangkan rencana sang kakak.


"Cepet dong Dita, ini udah Magrib. Jam berapa lagi Barrynya datang dan pulang nanti."


"Baiklah, bentar aku kirim dia pesan melalui Whatsapp aja. Biasanya dia cepet balas. Dita mengetikan pesan pada Barry dengan Android yang sedang ia pegang. Beberapa detik saja, nada dering pesan Dita langsung berbunyi. Lyli tampak semangat mendengar bunyi itu.


"Buka,,! buka Dit, apa kata Barry?"

__ADS_1


Dita membuka pesan itu dengan segera lalu ia membacakan pesan itu agar kakaknya tidak semakin penasaran.


"Iya Dit, aku kesana langsung ya,! Aku gerak. Tunggu disitu," begitulah Dita membacakannya. Lyli kagum Dita bisa menaklukan hati adik dari Samuel itu.


"Wah,, nurut banget ya Barry sama kamu Dit. Emangnya kamu bilang apa padanya, sampe Barry langsung bilang gerak kesini?" Lyli dari awal sampe detik itu masih saja menanggapi Dita dengan sangat serius. Sepertinya Lyli sudah tidak sabar melihat dan mengobrol dengan Barry.


"Aku bilang datang kerumah kak Dita, karna motor aku mogok, persis seprri yang kakak bilang."


"Hah, gitu dong, bijak."


"Ia, nanti kan motornya dititip disini aja kak sampe besok. Biar nanti aku pulang diantar sama Barry, trus kakak ikut deh. Kakak nginep di kos aku dulu. Besok sama-sama kita ambil kereta aku kesini, pagi-pagi." Usul Dita spontan membuat kakaknya itu tertawa karna adiknya itu benar-benar bijak.


"Hahahaha..., Kamu bijak banget sih Dik. Kamu merangkai rencana sebagus mungkin."Lyli sedikit geli dengan rencana ribet dari adiknya itu.


"Kan logika aja kak, heheh. Masa ia alasan motor mogok, tapi pulang bisa sampe sendiri ke kos-an sih" Dita ikut tertawa.


"Bagus-bagus. Aku suka usul kamu, hahaha. Walau sedikit ribet, tapi aku suka. Nanti ajak Barry makan malem diluar."


Sekitar 45 menit kemudian, Sebuah mobil berwarna merah sepertinya berhenti didepan rumah kontrakan itu. Dita mulai hafal dengan suara mobil itu.


"Iru suara mobil Barry kak, aku kesana dulu ya," katanya pada sang kakak. Lyli berusaha menghela nafas sedikit gugup, tak tahu apa yang nanti akan dibahasnya dengan adik kekasihnya itu.


"Tenang kak, aku bisa Meng-handle semuanya." Dita tahu kakaknya itu sangat gugup. Karna 2 tahun menjalin kasih dengan Samuel, ia tidak pernah mengobrol dengan Barry. Dita pun menemui Barry diluar. Lyli mengintip mereka dari jendela.


Lyli memperhatikan Dita mengobrol didepan mobil merah itu dengan Barry. Mereka tampak sangat serius mengobrol. Sesekali Dita mengarahkan tangannya menunjuk ke motornya yang terparkir didepan rumah Lyli. Lyli memperhatikan cara bicara Barry yang tak ada miripnya dengan Sam. Bahkan setelah diperhatikan pun, Barry tidak mirip sedikit pun dengan Sam.


"Lebih ganteng adiknya. Kenapa mereka gak mirip yah,??."gumam Lyli menyimpulkan apa yang ia pandang. Lyli sekilas merasa jika Barry itu mirip dengan adik laki-lakinya Valentino. "Ah, apa sih Aku ini..," ia menghancurkan khayalannya. Ia merasa terlalu berambisi untuk menganggap adik dari kekasihnya itu sebagai adiknya juga sehingga merasa jika Barry mirip dengan adik kandungnya.


Lyli menutup kembali gorden berwarna gold sebagai alat menutupi wajahnya agar tak terlihat dari pandangan Dita dan Barry. Tiba-tiba Barry dan Dita melangkah kearah rumah berwarna hijau itu. Lyli berusaha berpura-pura tak terlalu tahu menahu soal mereka. Ia segera duduk dikursi tak jauh dari jendela dan memegangi Androidnya.


"Hai kak Lyli, Barry datang, bolehkan Barry masuk kak??" Sapa Dita tampak biasa saja.

__ADS_1


"Hai kak Lyli, apa kabar?" tanya Barry ramah lalu mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Segera Lyli berdiri lalu mengulurkan kembali tangan kanannya.


"Hai dik Barry, Sehat," balasnya sangat ramah.


"Duduk Barr," Kata Dita mengarahkan Barry untuk duduk dikursi plastik yang sangat sederhana. Kini mereka berhadap-hadapan. Dita duduk disamping Barry. Dita kembali berdiri untuk memberi Barry secangkir air minum.


"Bentar ya Barr, aku bikinin minum dulu."


Lyli berusaha tak terlihat gugup. Ia menghela nafas berusah mengobrol dengan Barry sembari menunggu Dita membawakan mereka minum.


"Ehm maklum lah ya dik Barry, rumah kami disini masih sangat sederhana. Maklum lah kami masih mengontrak dan jauh dari keluarga." katanya.


"Ah Kak Lyli bisa ajah, rumah ini cukup nyaman kok. Lagian apa bedanya aku dengan Kak Sam. Kak Samuel aja udah sering kesini tetap merasa nyaman kan." kata Barry membuat sedikit hati Lyli kagum padanya.


"Ehm, ngomong-ngomong,, Ayah dan Mama kalian sehat??"


"Sehat Kak, Kak Sam pun sekarang lagi ada dirumah. Kok gak ajak Kakak aku juga Kak?" tanya Barry membuat hati Lyli kembali cemas.


"Ehm-mm Gimana yah, Kan tadi Dita tuh yang katanya maunya kamu aja yang bantuin Dita soal Motornya yang mogok." katanya berasalan. Barry menganggukan kepala.


"Ia juga ya kak," ucapnya.


Dita datang dengan alasan dirumah Lyli tidak ada Gula untuk membuatkan Barry minum. Lalu Dita mengusulkan untuk makan malam bersama di luar. Dita juga beralasan jika ia sudah sangat lapar karna belum makan malam. Barry dengan senang hati menuruti pacarnya itu. Barry juga merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama Dita dan Lyli yang sudah mulai berusaha ia dekati.


Rencana Dita dan Lyli berjalan dengan sangat mulus. Setelah makan malam bersama disebuah restoran, Barry juga mengantarkan Dita dan Lyli ke kost. Barry terlihat mulai merasa dekat dan tak seggan untuk bercanda dengan pacar dari Kakaknya itu.


"Yah.., yah, yah,,! benar gitu Kak. Aku tuh emang sering menjahili Dita karna enak aja kak menggangunya." kata Barry tertawa dengan obrolan seru mereka didalam mobil sembari mengantarkan mereka ke kost.


"Hahaha..., Dita emang gitu dik" balas Lyli tertawa.


Lyli tak menyangka ternyata Barry adalah adik yang sangat hangat dan kocak. Ia lega bisa mengenal lebih dekat kekasih dari adiknya Dita itu.

__ADS_1


__ADS_2