Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Menemui si Kakek


__ADS_3

Samuel sudah seminggu lebih tak menghabiskan waktu bersama kekasihnya Lyli. Setiap kali Lyli mengajak makan bersama atau mengajak Sam untuk datang kerumahnya, Sam selalu beralasan. Semua itu demi menyelesaikan masalah adiknya Barry. Entah mengapa Sam bisa berubah drastis menjadi lebib baik pada adik bungsunya itu. Sam seakan senang membantu Barry dan malah lebih memilih bersama Barry daripada Lyli. Padahal dulunya, Lyli adalah prioritas pertama Samuel. Hal itu membuat Lyli penasaran lalu ia bermaksud menghubungi Barry tentang perubahan sang kekasih.


Handphone Barry berbunyi, dengan sigap Barry langsung merogoh kantongnya saat baru saja selesai mendapat tanda tangan dari dosen terakhirnya.


"Ia kak Lyli..? sudah lama gak menelepon?" tanya Barry senang lalu ia duduk ditaman kampus.


"Ehm, apa kabar Barry..?"


"Baik kak, kakak sendiri gimana, apa kabar kak!?"


"Baik juga dik Barry. Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Samuel. Apakah sudah lebih baik??"


"Syukurlah sudah kak. Sekarang kak Sam tidak pernah membenciku lagi."


"Benarkah.., kakak ikut senang. Tapi kenapa gak pernah ngabarin ke kakak. Kamu dan Dita juga gak pernah main kerumah kakak lagi..,"


"Akhir-akhir ini Barry sibuk dengan skripsi kak. Maaf ya...," jawab Barry sudah berusaha tampak biasa saja mengobrol dengan Lyli yang sebenarnya udah jelas merupakan kakak kandungnya.


Ingin rasanya Barry menemui langsung sang kakak. Namun ia merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat. Jika ia sudah berhasil mengungkap masa lalunya didepan orangtuanya, barulah Barry berterus terang pada Lyli. Apalagi Lyli adalah kekasih Samuel, tentu akan berantakan semuanya jika ternyata kakak kandungnya adalah orang yang menjadi kekasihnya.


"Hallo dik Barry..., apakah kamu masih disana.!?" tanya Lyli karna tak mendengar suara Barry.


"Oh ya kak, hallo...!?" Barry malah melamun memandangi dedaunan di taman yang dihembus angin tepat didepannya.


"Owh baguslah dik..," belum selesai Lyli berbicara,Barry memotong pembicaraan.


"Hallo kak, ehm, udah dulu ya kak..! nanti kita mengobrol lagi. Barry mau nemuin dosen dulu. Kebetulan dosennya tepat didepan Barry." segera Barry memutus sambungan telepon.


Ternyata seseorang juga menelpon saat sedang mengobrol dengan Lyli


Ternyata itu adalah Dita, segera Barry menelpon kembali nomor Dita.


"Yah, hallo Sayang..? ada apa.?" jawabnya ramah.


"Jemput aku kalau kamu sudah siap kuliah, biar kita pergi kerumah kakek yang kita bicarakan kemarin."

__ADS_1


"Ia sayang, sekalian aku jemput kak Sam dulu yah. Aku sengaja bawa mobil biar kita bisa berangkat sama."


***


Setelah menjemput Samuel didepan kantornya, Barry bergerak menuju kos Dita. Lalu mereka pun bergerak menuju rumah kakek yang dimaksud. Selama perjalanan Barry sudah merasa gelisah dan gugup. Ia membayangkan kakek itu adalah salah satu jalan mendapatkan bukti akan masa lalunya. Tak ada obrolan selama perjalanan, membuat Barry sangat serius membayangkan bagaimana nanti kakek itu memberikan keterangan padanya.


Mereka puntiba disebuah rumah yang sudah terlihat kusam. Barry memarkirkan mobilnya di halaman rumah tersebut.


"Barr, ini rumah kakek yang kamu maksud??" tanya Dita setelah keluar dari mobil dan memandangi rumah berwarna coklat itu. "Yakin masih ada tang tempati??" tanya nya lagi.


"Kita coba cek aja dulu. Mungkin saja masih ada yang tinggal dirumah itu." jawab Barry.


"Yaudah, tunggu apa lagi. Ayo!!" ajak Sam. Mereka pun berjalan kedalam rumah itu. Rumah itu tampak masih bersih, itu artinya masih ada yang tinggal dan membersikan rumah itu.


"Permisi....? Shalom...!?" sapa Dita sambil mengetuk.


TOK.. TOK... TOK..!!


"Ia sebentar...!" seseorang menyahut dari dalam rumah. Mereka pun lega dan saling bertatapan. Namun suara itu belum jelas terdengar.


"Ia, siapa..., yah??" sapanya heran dan bingung. Merasa tidak mengenal salah satu dari mereka. Dengan sigap Barry memperkenalkan diri.


"Saya Barry Mba..., saya anaknya Pak Anwar, yang dulu pernah tinggal disamping rumah ini. Tapi, rumahnya sudah tidak ada sih...," jawab Barry menggaruk kepalanya, sedikit bingung menjelaskan identitasnya karna rumah mereka ketika kecil sudah tidak ada lagi karna sudah dijadikan Perumahan. Dan tembok besar telah menutupi rumah yang mereka temui itu.


"Mba anaknya Kakek Rudi yah???"terka Samuel mengingat jika anak gadis bungsu kakek yang dimaksud ketika itu saat masih SD, si anak bungsu kakek itu sudah SMP.


"Ia, saya anak beliau paling bungsu."jawab wanita yang sudah memiliki 2 orang anak itu.


Barry lega ternyata mereka tidak salah alamat. Barry melirik kedalam rumah dari pintu yang terbuka namun terhalang si wanita itu.


"Kakek Rudinya ada gak Mba??" tanya Barry.


"Oh! kebetulan ada didalam, baru mandi sore. Kebetulan Ayah saya sedang sakit, jadi jam segini harus sudah mandi." kata wanita yang bernama Ningsih itu.


"boleh kami masuk Mba? kami ingin bertemu dengan beliau." kata Dita dengan sopan. Dengan senang hati Ningsih mempersilahkan mereka masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Bentuk rumah itu masih sama seperti yang ada dalam benak Barry. Hanya beberapa posisi barang perabot didalam itu yang berubah posisi. Rumah yang tidak terlalu lebar namun disetiap dinding terdapat foto-foto pernikahan anak-anaknya dan foto cucu-cucu sang kakek.


Barry ingat sekali, dulu ia dan teman-temannya sering bermain didalam rumah itu karna Kakek Rudi seorang pedagang jajanan yang sangat diminati oleh anak-anak SD yang tak jauh dari rumah Kakek Rudi.


Samuel juga sering kesana ketika ia duduk dibangku kelas 5 SD. Walaupun dulu Barry dan Samuel tidak sering bersama, tapi Ia juga sering membeli jajanan si kakek.


Kakek Rudi dulu seorang yang ramah, mengenali setiap anak-anak yang datang membeli jajanannya bahkan mengenal semua orangtua murid SD yang dekat dengannya. Salah satunya adalah orangtua Barry yang sering datang mampir karna Barry selalu ingin jajan disana sebelum pulang kerumah.


Barry dan Samuel terkejut, kakek yang dulu terlihat sehat, kuat dan lincah itu kini sudah duduk di kursi roda. Sepertinya penyakit tua telah menghampirinya. Belum lagi penyakit penyerta seperti Diabetes dan Struk ringan menimpanya. Begitulah cerita dari Ningsih.


"Shalom Kek... apa kabar??" tanya Barry memberi salam dengan mencium tangan kanan si Kakek. Dita dan Samuel ikut tersenyum menyapa.


"Kakek masih kenal dengan aku...?" Barry mencoba bertanya apakah si kakek mengenalnya atau tidak.


Si Kakek memerhatikan Barry dengan seksama setelah membalas berjabat tangan dengan mereka.


"Kamu, Barry anak bungsu pak Anwar kan???" kata si Kakek langsung dapat menebak Barry. Ternyata ingatan si kakek masih kuat. Dita dan Samuel tersenyum lega.


"Wah..., ternyata kakek masih ingat saya..!?" jawab Barry senang.


"Ia, wajahmu sulit dilupakan oleh kakek karna kisahmu membuat kakek selalu ingat.


"Kalau sama Samuel masih ingat gak kek..?" giliran sam bertanya.


Si kakek memerhatikan Samuel dan malah menggeleng. "Aduh, kalau kamu saya lupa. Hmm, siapa ya? kenal dari mana sama Kakek??"


"Yah. Kakek, masa Barry dikenal, saya gak sih, saya anak pak Anwar juga loh." kata Samuel cemberut.


Barry dan Dita tertawa melihat expresi kesal Samuel.


"Kok bisa ya, malah Barry yang di ingat oleh kakek ini dibandingkan Samuel yang jelas saudara lebih tua daripada Barry.?" kata Dita heran.


Si kakek menghela nafas lalu tersenyum. Ningsih anak bungsu si kakek datang menghidangkan 3 gelas teh hangat untuk mereka.


Si Kakek memandang Barry dari ujung rambut sampai ujung kaki. Masih jelas di ingatan si kakek bagaimana Barry ketika kecil. Si kakek adalah salah satu orang yang bisa melihat sisi mencolok dari penampilan Barry kecil hingga sekarang sudah beranjak dewasa.

__ADS_1


Sepertinya Barry, Dita dan Samuel menemui orang yang tepat. Bahkan sebelum Barry menceritakan apa maksud dan tujuan mereka datang kerumahnya pun, si Kakek sudah tahu terlebih dahulu.


__ADS_2