Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Sam tiba di Desa


__ADS_3

Samuel masih saja menikmati pemandangan kampung halaman Lyli sambil ia memperlambat laju motornya. Lyli menatap jauh dan rumahnya sudah mulai terlihat.


"Sam...!! Sammm!!! itu rumah aku..!" katanya menepuk pundak samuel dan menunjuk kesebuah rumah yang berwarna hijau. Rumah yang sudah banyak mengalami renovasi.


Sam pun tertuju pada rumah yang ditunjuk Lyli. Segera Sam melaju menuju runah itu. Dengan semangat namun bercampur gugup Sam berhenti tepat dirumah berpagar coklat itu.


"Sampai deh..!"ucap Lyli semangat lalu turun dari motor. Ia pun membuka helmnya dan merapilan rambutnya. Ia siap-siap mengetuk rumah yang udah beberapa bulan tak ia singgahi.


"Ayo Sam..! masuk.!" kata Lyli lagi heran melihat Samuel masih saja duduk di motornya.


"Iah. Sebentar," jawab Sam menghela nafasnya. Ia berusaha untuk tidak gugup. Ia lepas helmnya dan merapikan rambutnya begitu juga ia mengusap wajahnya agar tidak tegang. Namun rasanya ia masih harus memikirkan beberapa kata untuk menyapa kedua orangtua Lyli.


Mereka berdua pun tiba didepan pintu rumah itu. Lyli dengan semangat mengetuk pintu. Ia sudah mengabari kedua orangtuanya jika ia akan pulang bersama dengan kekasihnya Samuel.


"Bu....? Bapak!!? Shalom.???" teriaknya memanggil.


"Ia...! sebentar..!" jawab seorang laki-laki paruh baya dengan nada pelan. Lyli yakin jika itu adalah suara sang Bapak.


Pintu pun terbuka, Lyli langsung terlihat senang dan bahagia.


"Hai Bapak...! selamat siang...! Lyli pulang Pak..." ucapnya langsung memeluk sang Bapak. Terlihat jelas raut wajah senang sang Bapak dan menyambut pelukan itu Rasa rindu pada anak gadisnya tersampaikan.


"Kamu sehat nak..? Bapak senang sekali kamu pulang.!!" jawabnya.


Sam tersenyum saat pak dimas meliriknya.


"Nak Samuel ya!!??" tanyanya menyapa.


Segera Sam mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Ia Om, saya Samuel. Apa kabar Om??" tanya Sam ramah dan sopan.


"Yuk, silahkan masuk dulu!."

__ADS_1


Mereka pun duduk disofa dan dengan sigap Lyli pergi kedapur untuk memanggil sang Ibu yang belum kelihatan.


"Kau kedapur ya Pak, sekalian mau bikin minum." katanya.


Sam dan pak Dimas pun duduk berhadap-hadapan. Pak Dimas duduk dengan hati-hati mengingat tubuhnya yang cukup gemuk dan terkadang merasa sendi-sendinya nyeri.


" Jadi Nak, kamu masih kerja satu kantor sama Lyli??" tanya pak Dimas membuka obrolan. Sam yang masih kaku menjawab dengan gugup.


"Ia Om, masih satu kantor." jawabnya tersenyum.


" Kamu udah cukup lama ya berteman sama Lyli. Dan baru ini ya kamu datang ke Desa ini."


"Ia Om, Ini kali pertama Sam kesini. Desa ini sangat indah dan sejuk Om. Saya suka sekali ketika pertama kali sampai disini tadi."


"Ia begitulah. Banyak yang bilang memang desa kami desa yang indah."


Pak anwar melirik kearah dapur merasa Lyli dan Ibunya sangat lama muncul. Padahal Beliau juga sudah merasa haus dan ingin minum kopi. Pak Dimas pun beranjak berdiri bermaksud menemui anak dan istrinya itu kebelakang.


"Sebentar ya Nak. Kenapa ya Lyli lama sekali membuatkan minum untuk kita." katanya.


"Kamu lihat-lihat aja dulu rumah Om ya. Sekalian istirahat saja dulu. Kamu kan sudah lelah menyetir motor dari kota kesini." kata Pak Dimas meninggalkan Sam sendirian.


Sam pun menunduk menjawab dengan sopan. Posisinya berhadapan dengan dinding yang berisi begitu banyak foto. Sam penasaran ingin melihat seluruh foto itu.


Ada foto saat Lyli wisuda juga, ada foto keluarga mereka saat Natal. Sudah hampir seluruh foto Sam perhatikan.


Hingga akhirnya mata Sam tiba-tiba sampai pada sebuah foto yang sama dengan yang pernah Barry lihat. Awalnya Sam biasa saja melihat foto itu. Ia bahkan melewatkan foto itu dua kali. Namun karna masih merasa ingin melihat-lihat, ia kembali lagi melihat foto itu.


"Kayak pernah lihat foto anak kecil ini." gumamnya. Ia mencoba mengingat, namun belum menemukan dimana dan saat kapan melihat foto itu.


"Ah perasaanku aja kali!!" ucapnya.


Sam melirik kearah belakang dimana Lyli dan orangtuanya belum juga muncul kedepan. Sam memutuskan untuk melihat-lihat foto tersebut.

__ADS_1


"Sebenarnya Lyli ada berapa bersaudara ya?? kok disini mereka ber-empat, trus foto disebelah sana lagi ada anak kecil yang juga cukup mirip dengan adik bungsunya??" Kata Sam membandingkan beberapa foto yang ada di dinding itu dengam foto seorang anak kecil yang juga merupakan foto yang sama dengan yang dilihat adiknya Barry.


"Maaf ya Sam!! kamu jadi nunggu lama." tiba-tiba Lyli datang bersama dengan kedua orangtuanya. Sam sedikit kaget karna fokus pada foto-foto yang dipandanginya.


"Oh, gak apa-apa Lyli, aku menikmatinya." jawab Sam kembali duduk di kursinya semula.


"Silahkan diminum kopinya Nak!" kata Bu Asti, ibunya Lyli.


"Oh ibu, terimakasih. Salam Bu." jawab Sam ramah dan mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Ibunya Lyli. Segera Bu asti menyambut Sam dengan ramah juga.


"Kalau gitu, Ly.., ambilkan berkas-berkasmu. Nanti jangan sampai lupa loh!!" kata sang Bapak menyuruh Lyli mengambil izajahnya yang ada didalam lemari.


Lyli pun beranjak dan masuk kedalam kamar orangtuanya. Sudah kebiasaan mereka menyimpan berkas-berkas penting didalam lemari yang terdapat di kamar orangtuanya. Ibu dan Bapak Lyli juga gak pernah melarang ataupun menyembunyikan sesuatu dari anak-anaknya apa yang mereka simpan didalam kamar. Jadi, mereka bisa sesuka hati masuk kedalam kamar. Dan tentunya tak akan berani mengambil sesuatu yang bukan milik mereka.


Lyli membuka lemari dan fokus mencari dimana izajah asli terakhirnya disimpan oleh sang ibu.


"Dapat!!" jawab Lyli senang karna dengan mudah ia menemukan izajah itu yang sudah disimpan dalam map dan semua berkasnya tersusun rapi didalam map tersebut.


Namun setelah mendapatkan apa yang di carinya dengan mudah, Lyli berpikir untuk melihat beberapa foto lama yang disimpan oleh sang Ibu dalam sebuah album. Sekalian untuk melepas rindu. Begitulah maksud hatinya. Lyli pun mengambil album itu dan duduk di tempar tidur orangtuanya.


Ia membuka album yang berisi foto-foto semua masa kecil saudara-saudarinya yang tersimpan indah. Lyli membuka satu persatu foto itu,


"Ihh ini aku kecil cantik juga ya!! gemes!" gumamnya senang. Ia buka lagi lembar per lembar foto itu, hingga tiba pada satu foto dimana foto itu merupakan foto terakhirnya bersama adik bungsunya, Valentino.


Valentino adalah adik bungsu di keluarga pak Anwar, adik yang sudah belasan tahun tak mereka lihat bahkan tak tahu keberadaannya. Kisah yang sangat memilukan bagi keluarga pak anwar.


"Jadi sedih..!" gumam Lyli menitikan air mata. Ingin ia menutup foto itu,namun rasa rindunya belum terbalaskan.


Ia mengusap dan memeluk foto itu, merasakan seakan memeluk adiknya sendiri.


"Kamu dimana dik..,? kakak sangat merindukanmu!! pulanglah...., kami semua ingin menghabiskan waktu bersamamu. Ibu dan Bapak selalu meunggumu kembali!! cobalah merasakan kerinduan dan cinta yang selalu kami panjatkan demi kamu. Aku sangat merindukanmu adikku.....!!" Lyli tak bisa membendung air matanya. Rasanya sudah tak kuat dan harus menahan rindu ingin bertemu dengan adik bungsunya itu.


"Coba saja waktu itu Ibu dan Bapak gak ke kota membawamu....! mungkin saja kakak akan melihat tumbuh kembangmu sampai saat ini."

__ADS_1


"Adikku...? kamu dimana!!. Mungkin kamu sekarang sudah dewasa juga, udah jadi pria tampan dan gagah seperti Kak Satrio dan kakakmu Gilang." keluhnya. Lyli masih saja memeluk erat foto sang adik. Bahkan air matanya sudah membasahi plastik foto itu.


__ADS_2