Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Ngobrol di Kafe


__ADS_3

Barry tampak sangat senang ketika mendapat pesan melalui akun whatsapp nya jika Lyli mengajaknya untuk bertemu diluar. Barry bersiap-siap untuk menemui kekasih dari sang kakak. Barry bergegas mengganti celana pendek yang sedang ia pakai ketika santai-santai menonton televisi bersama dengan makanan yang selalu ia sediakan didepan televisi. Sam tak mengetahuinya karna ia sedang dikamar. Barry melihat jam tangannya berada pada pukul 12:15, artinya diluar pasti panas. Ia mengambil jaket beserta dengan helmnya.


Barry menuju garasi lalu menyalakan motor gedenya. Hitungan 15 menit, Barry tiba di Kafe tempat Lyli menentukan lokasi.


Lyli sudah tiba disana terlebih dahulu karna Lyli menentukan Kafe yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Hanya berkisar 5 menit jika menggunakan ojek online.


Lyli memesan meja yang langsung berhadapan dengan jalan raya. Sehingga ia bisa memerhatikan Barry memarkirkan motornya.


"Barr,!!??"Lyli memanggil Barry sambil melambaikan tangan melihat Barry mendorong pintu kaca Kafe tersebut. Barry menoleh lalu berjalan beberapa langkah menghampiri Lyli.


"Udah lama sampainya kak??" tanya Barry duduk sembari melepas jaket abu-abunya.


"Gak kok dik, baru beberapa menit. Kamu mau pesan apa??" tawar Lyli langsung. Barry menghela nafas masih merasakan hawa panas dari luar mengendap di badannya.


"Apa aja kak, sama-in ajah."


"Kakak sih sukanya Jus Alpukat. Kamu??" tanya Lyli memerhatikan menu yang tersedia dimeja mereka. Mata Barry tertuju pada apa yang Lyli lihat.


"Ehm, kalau soal Jus sih, aku doyannya Markisa, asem manis gitu. Enak," kata Barry. Sekilas Lyli terkejut, mengingat kesukaan Bapaknya di kampung. Bukan hanya Bapaknya, saudaranya laki-laki paling besar menyukai buah yang sama, begitu juga dengan Reno adik laki-lakinya. Lyli mengedipkan matanya beberapa kali untuk kembali pada pesanan Barry.


"suka Markisa juga?"


"Suka banget kak. Kenapa kak??"


"Gak apa-apa dik Barry. Kebetulan aja, laki-laki di keluarga kakak juga menyukai apa yang kamu suka." katanya berusaha santai. Barry terkejut, seakan merasakan perbedaan pada dirinya. Sekilas ia mengingat jika tak banyak menyukai buah markisa, sementara keluarga Lyli menyukai itu.


"Wah, Kok bisa kebetulan ya Kak." jawabnya.


Lyli hanya tersenyum berusaha tak menganggap penting hal itu. Ia pun memesan sesuai permintaan mereka. Sembari menunggu, Lyli berusaha mencari pertanyaan untuk mengobrol.


"Ehm, ngomong-ngomong, gimana hubunganmu sama Sam dik?"


"Hem, ya gitulah Kak. Mungkin kakak tahu banyak dari Sam."

__ADS_1


"Ia sih, tapi aku kebanyakan tidak setuju sama cara pandangnya terhadapmu. Menurut kakak pribadi, kamu adik yang baik." puji Lyli membuat Barry tersipu malu, ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Ah, Kakak bisa ajah, baik apanya cobak??"


"Ehm, gimana yah bilangnya. Menurut kata hati aku sih gitu. Kakak lebih suka pribadimu dibanding dengan Samuel. Kalau Sam, ego nya tinggi. Kadang suka kesel lihat sikapnya yang keras kepala."


"Kan pribadi tiap orang berbeda-beda kak, Tapi gimana pun dia, Kakak kan masih tetep mencintainya." kata Barry membuat Lyli terdiam sejenak. Ia hanya mengangggukan kepala. "Lalu, apa alasan kakak masih mencintainya jika kakak tahu ada beberapa hal yang tidak kakak sukai darinya??"


Lyli merasa pertanyaan itu cukup sulit untuk dijawab. Ia berusaha mencari jawaban yang tepat.


"Mungkin begitulah Cinta, ketika masih kita tahu bahwa ia memiliki beberapa kekurangan, dan kita masih bertahan bersamanya. Sam memang keras kepala, tapi ia sangat mencintaiku. Ia memang memiliki ego yang tinggi, tapi ia Pria yang setia. Selama bersamanya, Sam tak pernah selingkuh ataupun menyukai orang lain atau bahkan berbohong kepadaku. Sam pria jujur. Sangking jujurnya, semua diceritakan padaku."


Barry sangat terkesan dengan jawaban pacar dari Kakaknya itu. Barry spontan tepuk tangan akan ungkapan yang jarang ia dengar tentang cinta.


"Wow, diam-diam Kak Sam punya nilai plus yang sangat bagus ya kak,,! Kakak memberi ku semangat untuk meniru beberapa hal dari Kak Samuel."


"Contoh yang bagusnya aja, yang lain jangan."


"Bersyukurlah, karna Dita melebihi segalanya dari Kakak. Ia wanita yang sangat baik. Kamu akan beruntung jika bersamanya. Dita juga wanita yang sangat tulus. Bersyukurlah karena, Dita juga sudah memberikan hatinya untukmu."


Barry terdiam, Ia menundukan kepala. Ia mengingat beberapa hal yang sebenarnya tak ingin ia beritahukan kepada Lyli. Jika soal Asmara, Barry bukan pria yang cukup baik dibandingkan Sam. Barry masih merasa sering mendekati wanita lain di kampusnya,walaupun itu hanya untuk senang-senang. Barry masih sering membuat beberapa wanita cantik baper akan dirinya dan mengharap lebih dari Barry.


"Kenapa diem Barry, Apa ada kendala di hubungan kalian??" Lyli memerhatikan tingkah Barry yang membuat Barry mencari alasan.


"Ehm gak kok kak, kami baik-baik aja. Hanya saja, Dita lebih sering sibuk, jadi aku sedikit menunggu waktunya. Tapi aku menghargai pekerjaannya. Jadi aku menunggu Dita dan Aku siap sedia aja ketika diajak kemana yang Dita suka."


"Ehm gitu ya dik, sebenarnya sih kakak maunya Dita berhenti kerja disana dan cari pekerjaan baru untuknya. Mau ngajak Dita untuk tinggal bersama kakak juga dirumah kontrakan kami. Hanya saja, Dita tak mau. Katanya tak ingin merepotkan orang lain. Selama pekerjaannya masih halal. Ia tetap lakukan."


"Ya udah deh, ntar aku tanya temen-temen, kali aja ada yang tahu lowongan yang sesuai untuk Dita. Nanti aky diskusikan lagi deh dengannya." kata Barry sembari menyantap Jus markisa yang sudah dari tadi ada dihadapannya. Padahal Jus alpukat untuk Lyli sudah lebih dulu habis dalam hitungan menit setelah pelayan meletakkan dimeja mereka.


"Ehm, ngomong-ngomong. Kakak seneng banget bisa ngobrol banyak sama kamu Bar."


"Ia kak, Barry juga." balas Barry meneguk sisa Jus Markisanya.

__ADS_1


"Ehm, kalau gitu kita pulang aja yuk.??" Lyli merasa sudah cukup puas bisa menghabiskan 1 jam bersama dengan adik kekasihnya itu.


"Loh, baru juga 1 jam Kak, apa gak cepet banget nih??" Barry memerhatikab jam tangan hitam ditangan kirinya.


"Sekarang udah hampir jam 3 Bar, Nanti habis Magrib Sam datang kerumah"


"Owh gitu ya kak, ya udah deh. Kalau gitu aku antar Kakak pulang yah,! Gimana??" tanya Barry semangat.


"Ehm, ia deh." jawab Lyli juga senang. Mereka pun beranjak berdiri, Barry memanggil pelayan yang kebetulan lewat dari meja mereka.


"Mas, Meja 3 ini, totalnya berapa??" Barry mengeluarkan dompetnya bermaksud membayar. Lyli memerhatikan itu merasa tak ingin Barry yang membayar minuman mereka.


"Ah Mas, dari sini aja!! berapa Mas??" Lyli mempercepat tangannya mengambil selembar kertas uang berwarna merah dari dompetnya dan memberikan langsung pada pelayan tersebut.


"Aduh, yang mau bayar mana nihh!?" tanyanya bingung.


"Dari sini aja..!" kata Barry memaksa.


"Ah, jangan diminta Mas, dia adik saya, jadi biar saya yang membayar." ucap Lyli membuat pelayan itu menerima uang dari Lyli, bermaksud melangkah ke kasir untuk mengambil kembaliannya.


"Kak Lyli, Kan bikin aku seggan aja deh" ucap Barry menggaruk kepalanya.


"Udah, kembaliannya buat Mas aja,!" ujar Lyli pada pelayan tersebut. Lyli menarik tangan Barry meninggalkan tempat itu. " Udah Bar, Yuk pulang" katanya lagi.


Barry terpaksa mengikut saja. Lalu mereka pun keluar dari Kafe itu menuju parkiran tanpa membahas soal pembayaran lagi. Lyli senang melakukan hal itu. Namun Barry masih merasa tak enak terhadap Lyli.


"Kak, harusnya aku yang bayarin minuman tadi!" Kata Barry setelah menjalankan motornya.


"Ah udah, Kakak kan udah kerja. Wajar dong. Lah, kamu masih anak kuliahan, masih pakai uang jatah dari Ayah dan Mama kamu. Nanti kalau kamu udah kerja, Baru bayarin makanan Kakak yahh!!" jawab Lyli semakin membuat Barry bangga seandainya ia memiliki kakak perempuan seperti Lyli.


"Ia deh, heheh. Ajaran kakak masuk juga ke otak aku."


"Ia gitu dong. Baru kakak seneng." Lyli tersenyum melihat tingkah polos Barry, yang kini sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2