Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Bertemu dengan saudara yang lain


__ADS_3

Hari Minggu pun tiba, dimana saat ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh Barry. Sesuai janji sang Ayah, mereka akan pergi kerumah orangtua kandung si anak bungsu. Sang Ayah melakukan ini tak lain karna sudah terlanjur Barry mengetahui semuanya sebelum orangtuanya memberitahukan yang sebenarnya.


Barry bangun lebih cepat, padahal sebelumnya ia sudah tidur larut malam karna menyelesaikan bahan skripsinya.


Jam di dinding menunjuk kearah angka enam, waktu yang masih terlalu pagi jika harus berangkat ke Desa.


TOK...TOK..TOK..!!


Barry mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya untuk bertanya kepastian mereka pergi atau tidak. Sebenarnya Barry ingin menanyakan itu sehari sebelumnya, namun karna ia begitu sibuk, ia tak sempat menanyakannya.


"Ayah..., Mah, Barry mau nanya apakah kita jadi pergi ke Desa kak Lyli atau gak?"tanyanya sedikit berteriak.


Kedua orangtua yang masih mengantuk dan sebenarnya belum betul-betul ikhlas jika Barry harus bertemu orangtua kandungnya terlihat sedikit malas untuk bangun pagi. Kedua orangtua itu sudah sepakat untuk mengulur waktu paling lama seminggu kemudian. Mereka sudah menemukan alasan yang tepat agar dapat mengulur waktu pertemuan antara Barry dan orangtua kandungnya.


"Yah...? ada apa Barr??" tanya sang Mama keluar sembari ia mengusap-usap matanya yang masih tak ingin diganggu. Tentu sikap itu membuat Barry bingung dan kesal.


"Loh bukannya pagi ini kita akan pergi Mah!?? kok gak siap-siap sih!" tanya Barry memandangi sang Mama.


"Itulah Tian, kita belum bisa pergi hari ini. Kamu harus tanya dulu sama kakak kamu Lyli, apakah Ibu dan Ayahnya tidak sibuk atau apakah Lyli bersedia ikut ke Desanya bersama kita."


"Ya, tentu kak Lyli bersedia Mah, kan kak Lyli udah tau jika aku adalah adik kandungnya." jawab Barry masih saja kesal. Ia tak suka alasan yang dibuat oleh sang Mama.


"Ia tetap aja nak! kamu harus diskusikan ini dulu dengannya. Kita gak bisa asal pergi aja Barr." ucap sang Mama membuat Barry terdiam sejenak.


Barry memerhatikan sikap sang Mama dengan seksama. Manakala mungkin saja Mamanya sedang merencanakan sesuatu. Atau mungkin saja sedang mengulur waktu agar lebih lama dan belum siap untuk mempertemukannya dengan orangtua kandungnya.


Barry akhrinya menghela nafas, ia mencoba untuk mengikuti keputusan orangtuanya.


"Baiklah, jika itu yang terbaik,Barry ikutin saran Mama." jawabnya singkat.


"Ia nak. Gih, balik ke kamar kamu. Masih bisa kamu tidur sampai jam 8 pagi." kata sang Mama lalu berbalik badan dan meninggalkan Barry yang masih saja memandanginya.


Barry kembali ke kamarnya dengan perasaan kecewa. Memang nyatanya Barry pun belum mengabari Dita atau pun Lyli soal kepastian keberangkatan mereka.


***


Malam pun tiba, akhirnya Barry bermaksud menemui Lyli dan Dita untuk mendiskusikan bagaimana rencana yang baik agar bisa datang ke desa dengan persiapan yang matang.


Barry keluar dari kamarnya sudah dengan penampilan rapi dan segar. Ia lalu mengunci kamarnya.

__ADS_1


Mendengar suara pintu, Sam yang sedang asyik bermain gitar dikamar langsung berlari menemui Barry.


"Wah, mau kemana Barr!!?" tanya Sam penasaran.


"Mau kerumah Kak Lyli kak, tapi aku ajak Dita kok. Ayok...!?" kata Barry sudah berencana mengajak Samuel.


"Wah, Ayok..!" kata Samuel semangat. Segera ia kembali masuk kekamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Mereka pun bergerak menuju garasi. Barry memilih untuk membawa mobil karna masih harus menjemput Dita terlebih dahulu sebelum kerumah Lyli.


Sam memerhatikan Barry yang kadang melamun, kadang menikmati musik yang dipasang olehnya.


"Barr, sadar gak sih kalau kamu minggu ini gak ada ngeluh dan merasa sakit didadamu atau sejenis gitu...,


Belum juga Barry menjawab karna mencoba memikirkan hal itu, Sam kembali bertanya.


"Dan, kemarin juga saat kamu berusaha meyakinkan Ayah tentang dirimu yang sebenarnya. Kamu gak tumbang dan gak tiba-tiba tersungkur. Apakah ini ada pengaruh karna kamu sudah dekat dengan Lyli, kakak kandung kamu??"


Barry terdiam, ia menoleh pada Sam dan kembali memerhatikan laju mobilnya sambil berpikir.


Sang kakak benar, pada saat memberitahukan pada orangtuanya minggu lalu, Barry tak merasakan rasa nyeri atau sesak dibagian dada lagi. Walau pun juga saat itu Barry begitu terpukul mendengar jawaban kedua orangtuanya, namun ia benar-benar tak merasakan sakit dalam bentuk apa pun.


Barry yakin jika kekuatan cinta sang kakak kandung begitu besar padanya.


"Ah, semoga lah..." ucapnya dalam hati.


Tiba-tiba Sam memanggil


"Hei!! aku bertanya loh, kok diam aja gak mau jawab."


"Eh ia, ehm! aku sependapat dengan kakak. Sepertinya bertemu dengan kak Lyli menghapus rasa sakit itu. Sepertinya penyakit yang tiba-tiba muncul itu hanya sementara kak." jawab Barry.


"Yah benar sekali. Mungkin rasa sakit itu muncul karna fisikmu gak kuat untuk menahan rasa penasaranmu setelah kamu tahu bahwa kamu bukan anak Ayah dan Mama.


"Ia kak. Tapi aku bersyukur karna sekarang rasa nyeri itu udah hilang. Semoga gak muncul lagi. Aku capek merasakannya kak."


"Amin." balas Samuel.


Mereka pun tiba didepan rumah Dita. Barry keluar dari mobil untuk memanggil Dita yang sudah terlebih dahulu ia kabari melalui telepon genggam.

__ADS_1


Barry masih didepan teras kamar, Dita sudah muncul. Lagi-lagi Barry tercengang, menurutnya Dita selalu terlihat cantik setiap ia mengunjungi rumahnya.


"Ayok Barr..," kata Dita sembari ia mengecek beberapa hal yang penting yang selalu dibawanya didalam tas kecilnya, namun tak melihat bagaimana expresi Barry menatapnya.


"Ehm ia, kamu cantik Dit!" gumamnya.


"Hah!" jawab Dita menoleh seakan mendengar ucapan itu.


"Ahmm! gak, gak ada Dita. Ayo!" kata Barry menutupi expresinya.


Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Lyli.


Sam sudah terlebih dahulu mengabari Lyli jika ia bersama dengan Dita dan Barry akan mendatangi rumahnya.


Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba dirumah Lyli.


Saat Barry memarkirkan mobilnya didepan rumah kontrakan berwarna hijau itu, Sam melihat seakan rumah Lyli kedatangan tamu. Ada beberapa sepatu dan sandal di samping teras rumah yang tertutup banyak pot bunga itu.


"Kok rame ya?? apa didalam ada tamu??" Sam bertanya pada Barry dan Dita yang juga memikirkan hal yang sama.


"Entahlah kak, mari kita lihat saja." jawab Barry.


Barry pun menyapa dengan ramah dan berhenti didepan pintu yang di ikuti oleh Sam dan Dita.


Benar saja, disana tampak ramai karna ada beberapa tamu datang kerumah itu. Namun sepertinya ada dua orang yang mungkin di kenal oleh Samuel dan Dita.


"Loh, itu kan Kak Reno dan Dimas, saudara laki-lakinya kak Lyli." tunjuk Dita kepada dua pria yang asyik mengobrol dengan Lyli. Namun saat itu kedua laki-laki itu membelakangi pintu rumah.


Lyli menoleh dan langsung menghampiri Barry, Dita dan Sam yang masih saja berdiri didepan pintu.


"Shalom kak, kami datang." kata Barry juga menoleh kedalam rumah.


Kedua pria itu pun menoleh dan berbalin badan.


Barry melihat kedua pria itu dan mata mereka beradu pandang.


"Ayo masuk dik Barry...., lihat disana!!! mereka adalah saudaramu laki-laki!!" tunjuk Lyli membuat Barry tersentak.


Barry kaget mengetahi kedua pria yang dilihatnya adalah saudara kandungnya yang lain. Kembali waktu berpihak pada situasi itu.

__ADS_1


Rasanya waktu kembali berhenti, seakan ikut juga merasakan haru pertemuan itu. Waktu seakan berjalan lebih lambat agar saudara yang sudah terpisah bertahun-tahun itu merajut rindu.


Lyli sepertinya sudah memberitahukan semuanya kepada saudara laki-lakinya, jika adik mereka yang sudah kembali. Lyli juga sudah menyatakan jika Barry akan datang. Saudara laki-lakinya yang bernama Dimas itu rela pulang dari Kalimantan hanya untuk melihat adik kecilnya yang kini sudah dewasa.


__ADS_2