Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Lyli akhirnya tahu


__ADS_3

Sam masih saja memeluk erat kekasihnya itu. Beberapa saat Lyli menikmati pelukan itu. Bagaimana kesalnya pada Sam, ia masih tetap mencintai pria yang dikenalnya punya ego yang tinggi. Lyli menghela nafas lalu melepas pelukan itu.


"Kamu kenapa memelukku..?"


"Kamu ingin tahu kenapa???" kata Sam seakan tak sanggup mengatakannya.


"Ya..???"


Sam mendekatkan wajahnya pada wajah Lyli, menghela nafasnya lalu kembali memeluknya.


"Sayang, adik yang kamu maksud itu masih hidup dan ia baik-baik saja...!!"


Lyli kaget dan langsunh melepas pelukannya. Ia belum sepenuhnya percaya apa yang dikatakan oleh Sam. Menurutnya Sam hanya ingin menghiburnya dengan mengatakan yang tak bisa dipercaya.


"Sam!!! apa maksudmu, kamu gak harus menghiburku dengan berbohong."


"Gak sayang..., aku gak bohong. Aku tahu siapa adik yang kamu maksud. Kamu tahu adikmu selama ini tak pernah jauh darimu."


Lyli terdiam ia buarkan Sam kembali memeluknya.


"Bary...., Kristian Barry adik ku itu.., dia.., Hmmm...!!" Sam masih saja terpaksa mengulur waktu karna tak sanggup mengatakannya.


Lagi-lagi ia memeluk Lyli, hal itu membuat Lyli tidak bisa bernafas.


"Kamu sudah memelukku untuk kesekian kalinya. Aku tak bisa bernafas!!"


"Yah!!! aku hanya ingin bilang , Barrry adik aku itu adalah.... ADIK KANDUNGMU SENDIRI YANG KAMU RINDUKAN sayang...,"


"Sam kamu jangan bercada, kumohon!!" kata Lyli tiba-tiba menangis. Ia terkejut seakan mulai percaya apa yang dikatakan oleh kekasihnya.


"Yah. Aku gak bercanda Ly, Barry bukanlah adik kandungku. Ayah dan Mama ku mengambilnya dari suatu tempat. Aku dan Barry baru mengetahuinya 2 minggu ini. Percayalah aku benar, Barry adalah adik kandung kamu."


Lyli menangis, seketika saja air matanya membanjiri mata berwarna cokelat itu. Bola mata yang sama dengan Barry yakni berwarna cokelat. Lyli tak sanggup mengucapkan apa-apa selain menangis. Sekarang malah ia yang memeluk Sam dengan sangat erat.


"Menangislah sayang, aku tahu perasaanmu. Barry sekarang ada didepan. Mungkin dia butuh pelukanmu juga."


"Ya.., hiks..hiks..., aku gak kuat Sam..," jawab Lyli merasakan betapa bahagianya ia mengetahui hal ini.


Tak bisa ia bayangkan bagaimana Ibu dan Bapaknya mengetahui kabar ini.

__ADS_1


"Tapi, kamu benar kan Sam..!! Barry adik aku??. Pantes saja setiap kali aku melihatnya, rasanya ada kontak batin yang merasa seakan dekat dengan adik sendiri. Seakan ingin selalu bersamanya."


"Kamu kenapa gak pernah cerita padaku kalau kamu pernah kehilangan seorang adik. Mungkin kita mengetahui ini lebih cepat."


"Aku gak mau menjawab pertanyaan yang tak bisa ku jawab ketika kamu bertanya soal keluargaku Sam."


"Kalau begitu, sudah ah.., hapus air matanya. Kamu mau ketemu sama Barry kan??" kata Samuel membantu menghapus air mata Lyli yang masih saja mengalir deras di pipinya.


Lyli menghela nafas, memegang tangan Samuel dengan erat. Berharap ia siap menemui Barry sang adik kandung. Sam mendampingi kekasihnya itu dan bersama-sama keluar dari kamar. Tak lupa Sam mengambil foto bersama album yang terletak di meja.


Dita tampak baru saja memberikan air putih pada Barry yang masih saja terkulai lemas. Ia masih bisa berusaha mencoba mengontrol pikirannya selama Dita masih ada disampingnya dan selalu menggengam tangannya. Setidaknya perasaannya merasa tenang ketika bersama Dita.


Dita tak ingin mengganggu obrolan antara Sam dan kakak angkat. Ia tahu mereka sedang membahas hal penting tentang urusan pribadi.


Namun, Dita menoleh dan melihat Sam muncul dari kamar bersama Lyli yang menangis menatap kearah Barry.


Dita mengerutkan keningnya dan menyuruh Barry untuk melihatnya.


Barry dan Lyli saling bertatapan, sementara Sam menghampiri Barry dengan cepat.


"Barr...!! kamu yakin tahu siapa orangtua kandungmu??" bisiknya. Bahkan Dita pun tak mendengar apa yang diucapkan Sam pada Barry.


Tiba-tiba Lyli berlari menghampiri Barry, seketika Dita dan Sam memberi ruang.


Lyli langsung memeluk erat Barry. Dan saat itu waktu seakan berhenti sejenak, waktupun ikut merasakan haru didalam rumah itu.


"Valentino Dear......!!! Kakak sangat merindukanmu...!!!!"


Barry terkejut, awalnya ia tak memahami maksud sang kakak. Ia juga menatap Sam dengan penuh tanda tanya. Bagaimana bisa Lyli tahu jika dirinya adalah adik kandungnya. Darimana Lyli tahu semuanya, padahal Sam tak tahu apa-apa soal siapa keluarga kandungnya.


"Kakak...,tahu siapa aku??" tanya Barry


"Yah..., kamu adikku Barry, kamu adik kandungku yang hilang berpuluh tahun itu dan..., kamu sekarang ada dihadapanku. Oh!!! betapa bahagianya aku." Lyli tak melepas pelukannya dan semakin memeluk erat sang adik kandung.


Dita sangat terharu dan ikut menangis melihat keduanya dipertemukan kembali. Sedangkan Sam, ia tersenyum merasa lega. Jika, Barry ternyata bukanlah adik kandungnya setidaknya Barry masih bisa menjadi adik iparnya kelak. Itu artinya hubungan mereka tidak akan terputus begitu saja.


"Jadi, kakak udah tahu aku siapa...?? Ohh!!! aku sangat bahagia kak...!!! aku juga sangat merindukan kakak. Aku sudah tahu kakak adalah kakak kandungku." Barry membalas pelukan itu dengan erat. Ia sudah menunggu momen itu setiap kali melihat Lyli.


Waktu masih saja seakan enggan untuk berjalan. Rasanya tak ingin suasana itu cepat berlalu.

__ADS_1


Samuel terharu melihat sang kekasih begitu merindukan adiknya itu. Sam turut merasakan kebahagian kedua sosok yang sedang melepas rindu itu.


Barry tak merasakan sakit lagi. Tubuhnya terasa ringan, tak ada nyeri didadanya bahkan ia juga tak merasa pusing lagi. Pelukan persaudaraan itu membuatnya seakan pulih total. Kekuatan dekapan itu lebih besar dibanding Dita kekasihnya.


"Kamu sudah sebesar ini sekarang...?? oh!! aku merasa luar biasa!" kata Lyli memerhatikan Barry dengan teliti.


"Yah kak..., aku besar dengan sehat. Aku sangat merindukan kalian..," jawab Barry ternyata ikut menangis. Ia tak ingin menahan air matanya mengalir. Ia biarkan air mata itu mengalir dengan sendirinya.


Sam menepuk jidat Barry karna kekesalannya tak langsung memberitahukan apa yang sebenarnya padanya ketika tahu dia bukan anak kandung orangtuanya.


"Kamu kok gak bilang dari awal kalau ternyata keluargamu adalah Lyli, pacar kakak sendiri hah...!!" kata Sam namun ia sambil tersenyun mengejek.


"Maaf kak..., aku takut kakak malah akan marah padaku." jawab Barry mengelak namun ia juga akhirnya ikut tersenyum.


"Aku marah kenapa coba...!! pikiran kamu tuh!!! aku malah senang dong, kalau emang kamu bukan adik kandung aku setidaknya kamu jadi adik ipar aku.., pikir dong!!" kata Sam tertawa mencoba menghangatkan suasana.


Dita langsung menangkap arti dari ucapan Samuel, dan langsung tertawa.


"Bener juga ya kak.., wah kok bisa kebetulan sekali ya...!"


Barry dan Lyli saling menatap dan ikut tertawa.


"Hmmm!!! baiklah, udah jangan sedih lagi. Sekarang kita pikiran saja gimana setelah ini. Apa yang harus kita lakukan untuk memberitahukan Ayah dan Mama soal ini. Dan juga, gimana caranya mengenalkan Barry pada Ibu dan Bapak kalian di Desa." kata Sam tampak semangat.


Mereka ber-empat saling tatap lalu menganggukan kepala tanda setuju dengan ide yang Sam ucapkan.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan kak..??" tanya Barry semangat.


"Sebenarnya sih aku belum tahu, aku menunggu usulan dari kalian." jawab Sam mengaruk kepala.


Mereka kembali saling menatap satu sama lain.


"Gimana kalau kita simpan saja dulu rahasia ini sampai Barry Wisuda. Aku khawatir nanti Barry malah meninggalkan kuliahnya karna memikirkan ini. Yang penting kan kita sudah saling tahu yang sebenarnya." Usul Dita.


Barry langsung menyanggah usulan itu.


"Tidak!! tidak!! tidak.., aku malah berharap dan memimpikan jika Ibu dan Bapak ada di acara wisudaku nantiny. Aku ingin keluarga kandungku melihatku wisuda dan berfoto bersamaku." kata Barry.


Mereka akhirnya setuju, mereka lalu berdiskusi untuk menemukan jalan agar bisa saling memberitahu tanpa harus saling menyakiti antara Ayah dan Mama Barry dan juga orangtua kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2