
Dengan wajah yang seakan tak mengalami kesedihan, Lyli kembali ke ruang tamu dimana Sam dan kedua orangtuanya mengobrol. Lyli berusaha untuk tampak biasa saja agar kedua orangtuanya tak mengkhawatirkannya.
Setelah 2 jam mengobrol, Lyli dan Samuel pun pamit untuk kembali ke Kota. Hari mulai sore dan mereka tak ingin tiba di kota larut malam. Apalagi butuh 4 jam perjalanan untuk kembali. Sam merasa cukup puas akan pelayanan yang diberikan oleh kedua orangtua kekasihnya itu. Sam merasa seakan menemukan Ayah dan Mama yang baru yang juga perhatian dan peduli padanya. Keramah tamahan mereka juga membuat Sam kagum, betapa ia beruntung memiliki kekasih yang berasal dari keluarga yang baik.
Ketika di perjalanan, Sam yang fokus pada arah jalannya di goda oleh Lyli.
"Sayang, gimana dengan Ibu dan Bapak aku?? apa tanggapanmu dengan sikap orangtuaku?" tanya Lyli mendekatkan wajahnya pada punggu Samuel agar didengar jelas.
"Ehm! mereka sangat baik, ibu dan bapak kamu sangat ramah dan terlihat orangtua yang penyayang." jawab Sam jujur, karna begitulah yang ia rasakan.
"Wah, makasih Sam atas pujiannya kepada Ibu dan Bapak. Emang sih banyak yang bilang, Ibu dan Bapak adalah orangtua yang rendah hati dan selalu ramah pada semua orang. Di Desa hampir semua beranggapan seperti itu. Itu sebabnya kami juga selalu diajarkan Bapak untuk selalu berbuat baik dan ramah."
"Ia Sayang, aku suka dan bangga kamu seperti Ayahmu."
Lyli memeluk Sam dengan erat karna senang di puji oleh kekasihnya itu. Lyli merasa Sam sudah sangat banyak berubah. Hampir tidak pernah ia keras kepala lagi dan tak mudah marah atau kesal pada sesuatu.
Tiba-tiba Sam berpikir untuk menanyakan apa yang ia lihat tentang salah satu Foto yang ada di dinding rumah keluarga Lyli.
"Ngomong-ngomong, Aku boleh nanya sesuatu gak Ly...?" tanya Sam sembari membagi kosentrasinya antara memperhatikan laju motornya dan mengobrol dengan Lyli.
"Boleh dong!!" jawab Lyli semangat.
"Salah satu foto yang terpajang di dinding rumah kamu itu siapa ya???"
"Foto yang mana Sam, di dinding rumahku sangat banyak foto-foto." jawab Lyli tak tahu jika maksud dari Sam adalah foto Reno dengan sang adik bungsu.
"Foto 2 orang anak laki-laki kecil. Salah satunya kira-kira sudah SD dan satunya lagi foto anak laki-laki disampingnya sekitar umur 3 tahunan gitu..!?"
__ADS_1
Tiba-tiba Lyli tersendak, ia langsung melepas pelukannya yang saat itu masih erat melingkar di perut Sam. Lyli mengusap rambutnya yang sebenarnya tertutup dengan helm. Ia juga seakan menghempaskan pandangannya pada bukit-bukit yang mereka lewati. Lyli tak tahu harus menjawab apa.
Salah satu ketakutannya membawa Pria yang ia sukai kerumahnya Adalah tentang pertanyaan yang akan disampaikan padanya ketika melihat foto yang entah mengapa kedua orangtuanya tak ingin memindahkan foto itu kedalam album.
Dengan Sam bertanya akan foto itu, Lyli merasa menyesal telah membawa Sam ikut ke Desa. Harusnya ia bisa mengajak Dita, karna biasanya Dita lah temannya ketika pulang kampung bersama.
"Kok diam Sayang, apakah pertanyaanku sulit??" tanya Sam kembali.
"Ehm!! gimana ya Sam, aku bingung harus jelasin bagaimana." jawab Lyli masih ragu untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Samuel.
"Bingung kenapa!!?"
"Udah ah..! gak usah nanya soal itu. Kamu boleh menanyakan hal lain, seperti dimana rumah Dita gitu!!"
"Baiklah. Aku mau nanya hal lain lagi saja!" kata Sam menghela nafas.
"Sebenarnya kalian berapa bersaudara Ly...!!?"
Pertanyaan yang benar-benar menjebak. Lyli merasa lemas dan tak berdaya akan pertanyaan itu. Bagaimana ia harus menjawab, sementara pada Kartu Keluarga mereka jelas tertulis anak bungsu di keluarganya bukanlah Reno, melainkan adiknya yang lain, Valentino Dear.
Hal yang di takutkan oleh Lyli juga adalah pertanyaan tentang berapa jumlah keluarga mereka. Yang biasa di ketahui oleh orang banyak adalah mereka hanya 4 bersaudara. Namun, kenyataannya pada Kartu Keluarga, kedua orangtuanya masih selalu mencamtumkan nama Valentino Dear.
Baginya kadang sedikit berdosa jika ia menjawab pertanyaan orang-orang jika mereka hanya 4 bersaudara. Bagaimana dengan sang adik??. Namun terkadang, ketika ia menjawab 5 bersaudara, orang-orang akan bertanya, loh mana saudaranya yang lain, soalnya yang biasa terlihat hanya 4 orang saja??.
Terkadang Lyli menjawab, salah satu saudaranya tinggal dan besar dirumah Nenek. Padahal nyatanya adiknya
Hal itu membuat Lyli dan juga saudaranya yang lain merasakan kebimbangan yang sama.
__ADS_1
"Sayang, kenapa diam lagi. Apakah lagi-lagi pertanyaanku sulit!!?" tanya Sam merasa ada yang aneh pada sikap Lyli setiap ia menanyakan tentang keluarganya.
Sam memang sadar, sekian lama menjalin kasih dengan kekasihnya itu, beberapa kali bertanya soal keluarganya lebih detail, Lyli lebih tertutup dan tak mau bercerita. Alasan Lyli selalu sama, nanti jika waktunya sudah tiba ketika sudah menikah, barulah Lyli menceritakan semuanya.
"Ah sudah lah Sam, kita bahas yang lain saja ya! atau kamu fokuslah pada jalanmu dan berhati-hatilah." jawab Lyli mengalihkan pembicaraan.
Lagi-lagi Sam menghela nafas, ia memang keras kepala, tapi ia juga tak mau memaksakan Lyli untuk bercerita atau tidak. Yang ia tahu, keluarga Lyli adalah keluarga yang baik-baik dan keluarga yang harmonis.
Satu jam sebelum tiba di Kota, Lyli yang masih saja memikirkan pertanyaan Sam tak bisa tenang. Ia melirik kewajah Samuel seakan ingin bertanya juga.
"Ada apa? kok lihatnya gitu banget!?" tanya Sam menoleh.
"Apa pendapatmu tentang "Anak yang Hilang??" tanya Lyli membuat Sam tercengang. Seketika Sam mengingat kisah Barry yang baru saja terungkap. Apakah Lyli tahu tentang kisah Barry?? atau mungkin saja Dita malah membocorkan kejadian itu pada Lyli??
"Kok, sekarang malah kamu yang bengong!!? apakah pertanyanku sulit!?" tanya Lyli penasaran.
"Oh! gak kok!" jawab Sam gugup.
"Lalu, apa pendapatmu!"
"Menurutku, Ehm! anak yang hilang itu ibarat, domba yang hilang. Ketika suatu saat kembali, pasti pemiliknya atau keluarganya sangat bahagia dan membuat pesta penyambutan. Persis seperti di kitab suci." jawab Sam membayangkan Barry juga akan merasakan yang sama. Apalagi Barry bilang jika katanya orangtua kandungnya adalah orangtua yang sangat baik.
"Wah!! benarkah? aku suka dengan jawabanmu. Jika kamu bagian dari keluarga si anak yang hilang itu? apa yang akan kamu lakukan??"
"Ehm! apa ya...? tentu aku akan ikut bersukacita bersama dengan orangtua yang sudah menemukan anaknya yang hilang. Pasti sangat terharu." jawab Sam lagi. Hal itu membuat Lyli sedikit lega. Setidaknya ia mendapat dukungan positif dan ingin berada pada momen yang di ibaratkan oleh kekasihnya itu.
Lyli berharap bisa berada pada kisah yang ada pada kitab suci yang sudah beberapa kali ia dengar kisahnya. Lyli ingin kedua orangtuanya merasakan sukacita ketika bertemu dengan sang adik bungsu yang sudah hampir 20 tahun tidak bertemu.
__ADS_1
Lyli selalu berdoa agar kelak ia bisa mewujudkan keinginan terakhir keluarganya untuk bisa bertemu dengan Valentino Dear sang adik. Kejadian 20 tahun yang lalu memang sangat memilukan bagi keluarganya namun bagaimana pun juga, waktu tak bisa di putar dan yang bisa di harapkan adalah masa yang akan datang bisa dipertemukan dengan anak yang hilang di keluarganya pada waktu yang tepat.