Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Malam ke-1


__ADS_3

Barry menyiramkan air ke badan kekarnya. Seketika Barry terkejut, air didalam bak mandi itu ternyata sangat dingin. "Astaga,,!! dingin banget,!!" ucapnya merontah kedinginan, ia memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya. Barry ragu akan melanjutkan mandinya atau tidak. "Tau dingin gini, lebih baik aku gak mandii!!"keluhnya lagi.


Akhirnya Barry pun terpaksa mandi dengan keadaan merontah kedinginan setiap kali menyiram air ke tubuhnya. Ia membungkus pinggangnya dengan handuk lalu melangkah keluar. Dita yang pada saat itu sedang mencicipi masakan sang ibu terkejut melihat Barry.


"Dingin banget!!!"kata Barry mengeluh dan memeluk dadanya. Dita malah bukan terfokus pada keluhan Barry yang kedinginan tapi pada dada bidang Barry yang membuatnya terpana. "Bagus banget perutnya, rata.!" kata Dita dalam hati.


"Hei, kamu lihat apa Dita, aku bilang aku kedinginan.!!"


Dita langsung berkedip salah tingkah. Untung saja ibunya sedang berada didepan rumah.


"Ya udah, cepet ganti baju!! malah berdiri disana!" perintah Dita.


"Tolong ambilkan pakaianku di tas Dit, aku lupa mengambilnya. Gimana aku mau pakaian ini. Dan satu lagi, Aku ganti baju dimana Dit, gak mungkin kan didepan kamu,!" kata Barry masih saja menggoda Dita walau masih merasa kedinginan.


"Pikiran kamu, ih!!" kata Dita kesal. Ia pun bergerak mengambil tas ransel yang berisi semua pakaian Barry lalu memberikannya pada Barry.


"Nih, ambil sendiri pakaian kamu dari dalam, Kamu bisa ganti pakaian dikamar adik aku, Frank. itu disana!!" kata Dita menunjuk kamar yang berada ditengah antara dapur dan ruang depan itu.


"Ayok, ikut,,!?" kata Barry bermaksud membuat Dita kesal.


"Barry!!! awas kamu,,!"kata Dita mengepal jarinya lalu mengarahkan kepada Barry yang sudah menjauhinya dengan cepat.


Barry dengan santai masuk kedalam kamar, seketika jantungnya berdetak cepat. Ia terkejut, ada seseorang disana yang tak pernah ia lihat.


"Oh astaga!! ada orang,,?" ucapnya spontan.

__ADS_1


"Eh!! Hai Kak Barry,!? Namaku Frank, aku adik Dita. Aku baru pulang sekolah, jadi ganti pakaian juga." kata sosok anak remaja yang tampan membuat Barry lega.


"Oh Hai, senang bertemu denganmu Frank. Boleh Kakak pinjam kamar kamu buat ganti pakaian??"


"Boleh dong Kak, malam ini pun kita akan tidur bareng disini." kata Frank sangat ramah. Frank tertuju pada tubuh kekar Barry. Tubuh kekar itu bembentuk beberapa kotak diperut Barry. "Wah,,! Bagus banget badan kakak ya, gimana tuh bikinnya kak.!?" tanya Frank terpukau. Maklum saja, Frank sama dengan anak remaja lainnya yang sedang berada di fase mengagumi dirinya.


"Ah masa sih Frank, emang sih kakak suka olahraga. Hmm-m badan kamu juga bagus Frank." kata Barry balik memuji adik kekasihnya itu sembari ia memakai pakaiannya. "Kamu gak mandi??"


"Gak kak, heheh, Dingin! udah malam gini, airnya makin dingin. Disini jarang mandi dimalam hari." jawab Frank lalu bermaksud keluar dari kamar itu.


"Mau kemana,??" tanya Barry.


"Mau bantuin Bapak, mau ambil sayuran untuk dijual besok ke pekan." jawaban itu membuat Barry heran, ia pun mengikuti Frank.


"Kemana Frank,!? boleh kakak ikut bantu??"


"Kalau kakak mau ikut, ayok naik." kata Frank memerhatikan Barry malah berdiri didepan pintu teras dan memandanginya. Segera Barry bergerak dan naik pada sepeda motor itu. Frank sudah termasuk bertubuh tinggi dibanding usianya yang masih 14 tahun. Tingginya sudah hampir sejajar degan Barry yang memiliki tinggi 175 CM.


Dita melihat jam dinding yang masih saja awet bertengger di dinding ruang tengah rumah itu. "Pukul 19:30 Wib" gumamnya. Makan malam keluarga itu sudah selesai dimasak. Sang Ibu sudah menyiapkan segala peralatan makan di meja makan. Dita sadar Barry tak ada disekitar rumah begitu juga dengan adiknya Frank. Menurutnya Frank pasti sudah mengajak Barry jalan-jalan.


Dita pun mandi menggunakan air hangat yang sudah ia panaskan pada kompor gas, alat memasak mereka. Ia terpaksa menggunakan itu karna walaupun besar di daerah dingin, ia tetap tak tahan dengan air yang seakan membeku dimalam hari. Masyarakat disana biasanya selalu mandi sebelum magrib agar tidak merasakan dinginnya air dimalam hari.


"Kemana mereka semua Dita?? makanan sudah siap, kok pada sepi?" tanya sang ibu.


"Mungkin bentar lagi juga muncul Bu," jawab Dita menghampiri ibunya setelah selesai mandi.

__ADS_1


Benar saja, terdengar suara sepeda motor yang sangat khas artinya Barry dan Frank pulang. Frank datang dengan membawa sayuran yang dibungkus plastik bening berbentuk bulat. Dengan sangat kuat dan ahli, Frank meletakkan sayuran hijau yang masih segar itu diteras mereka. Barry dengan sigap ikut membantu menurunkan sayuran lain dan mengikuti Frank meletakkan diteras.


"Aduh, jadi bikin kakak repot dan capek aja." kata Frank eggan. Ia kagum ternyata pacar sang Kakak sangat baik. Padahal menurut cerita Dita, Barry tak pernah susah dan sudah menjadi anak orang kaya sejak lahir.


"Ah gak kok Frank, kakak senang melakukannya. Ini pengalaman yang sangat menyenangkan." jawab Barry semangat. Entah mengapa tak ada rasa lelah lagi baginya, karna semangat Frank sudah membuat lelahnya hilang. Diam-diam Barry sangat mengagumi adik Dita itu, masih remaja sudah sangat kuat dan bisa mengangkat barang melebihi biasanya.


"Wahh, Barr. Kamu berbakat juga ya dibidang mengangkat barang,?!" Tiba-tina Dita datang menghampiri mereka. Dita terpukau dengan sikap Barry yang langsung mau ikut campur tangan pada kegiatan rutin setiap malam di keluarga itu.


"Ini masih ringan bagiku," jawab Barry sedikit sombong. Tiba-tiba mobil kuno menghampiri halaman rumah Dita. Mobil kuno berwarna hitam itu memiliki bak dibelakangnya. Disana sudah ada beberapa palstik besar yang dipenuhi sayuran hijau.


Bapak Fredy keluar dari mobil itu lalu memanggil Frank untuk membantunya menurunkan sayuran itu. Semua sayuran yang akan dijual terlebih dahulu disirami air, agar tetap segar sampai besok pagi.


Frank langsung naik ke bak mobil dan bermaksud mengangkat sayuran itu sendirian. Barry datang menghampiri dan mengulurkan tangannya.


"Berikan padaku, biar Kakak yang bawa ke teras. Bagianmu hanya memberikan pada kakak saja." katanya. Frank menurut lalu melakukannya.


"Aduh nak Barry, jadi merepotkan saja. Maklumlah nak, kita gak jadi mengobrol karna beginilah setiap malam keadaan disini."kata Bapak Dita sembari mengangkat sayuran yang lain.


Dita memperhatikan Barry yang sangat semangat melakukan pekerjaan yang tak pernah sama sekali ia lakukan. Dita sangat mengagumi kekasihnya itu. Walaupun Barry anak orang berada, ia bisa menyesuaikan tempat pada saat bersama keluarga Dita.


Setelah selesai menurukan semua sayuran, ketiga pria tangguh bagi Dita itu pun masuk kedalam rumah dan menuju dapur, disanalah sudah tersedia hidangan makan malam yang lezat.


"Ibuku terkenal dengan masakan lezatnya Barr, kamu pasti suka!!" kata Dita setelah semuanga duduk di meja makan. Barry tersenyum tak menjawab, ia merasa apa yang dikatakan Dita benar, tampilan hidangan itu tampaknya sangat menggugah selera. Apalagi Barry sudah sangat lapar.


Setelah berdoa bersama yang dipimpin sang Ibu, keluarga itu menyantap makan malam itu dengan lahap. Tak ada obrolan saat makan. Itu sudah diajarkan oleh Pak Fredy pada keluarganya. Baginya tak baik makan sambil membahas suatu hal, itu bisa merusak selera makan.

__ADS_1


Barry sangat kagum dengan keluarga Dita. Dengan kesederhanaan, rasa kasih sayang jelas terasa di keluarga itu. Semua menerima Barry dengan baik. Ditambah masakan ibu Dita sangat lezat, masakan ayam yang luar biasa. Ia tak pernah memakan masakan ayam selezat ini di kotanya. Rasanya Barry ingin berlama-lama di desa itu.


__ADS_2